Dilupakan dan Tak Diperhitungkan: Cerita Perempuan Pekerja Seni di Belakang Panggung

Ada banyak perempuan pekerja seni yang bekerja di balik layar atau di belakang panggung. Mereka adalah para penjaga buku tamu pameran, para pembuat poster, mbak yang bertugas nyapu-nyapu dan bebersih ruangan. Nama mereka tak pernah ditulis dalam brosur acara. Mereka sering menjadi pekerja yang terlupakan.

Konde.co menyajikan ‘Liputan Khusus Perempuan Pekerja Seni’ dari 4-5 Oktober 2022. Dalam edisi ini kami menampilkan problem kerja-kerja yang menguras emosi para perempuan pekerja seni. Liputan ini kami bagi 2, yaitu kerja emosional di atas panggung dan kerja emosional di belakang panggung

Jika kamu datang ke satu pameran atau pertunjukan, kamu akan melihat para pekerja yang ada di depan pintu yang bekerja sebagai penjaga buku tamu, atau pekerja yang tugasnya melayani tamu masuk ke ruang pameran, atau yang bertugas nyapu-nyapu saat panggung sudah tutup layar.

Siapakah para pekerja ini? mereka adalah para pekerja seni di balik layar. Nama mereka tidak tertulis di brosur pameran, atau karya seni yang dihasilkan para senimannya.

Ternyata dalam kerja-kerja seni, tersembunyi para pekerja yang jarang disebut namanya dalam perhelatan acara.

Problem mereka sungguh banyak, namun sayangnya mereka jarang diperhatikan karena tidak berada dalam hingar-bingar kerja-kerja di depan layar. Para pekerja ini bekerja sangat keras, namun seperti tak diakui keberadaannya. Mereka tersembunyi diantara gemerlap panggung. Padahal kerja sembunyi ini aslinya rentan mendapat eksploitasi.

Simak pernyataan Ana Rosdianahangka, Wakil Ketua Serikat Pekerja Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dalam diskusi yang digelar Serikat Sindikasi, 5 Februari 2022.

“Para pekerja ini seperti para pembuat poster, manager, grafis designer, humas, admin sosial media, pekerja yang mengurus media partner, penyapu dan staf bersih-bersih pertunjukan, orang yang menyediakan konsumsi, orang yang suka fotocopy, sekretaris, dan lain-lain.”

Mereka adalah orang-orang yang setiap hari harus memastikan bahwa proses kesenian harus berjalan lancar.

Cecil Mariani, dosen dan peneliti seni menyatakan, para pekerja ini memang seperti sembunyi dalam hingar-bingar. Hal ini disebabkan karena orang masih menganggap bahwa dalam suatu perhelatan seni, yang dianggap penting adalah sebuah karya, atau artisnya. Sutradara, produser, atau artisnya yang kadang disebut punya mahakarya atau diperlakukan sebagai diva. Padahal ada banyak pekerja yang di berada di belakang panggung yang harus memastikan bahwa perhelatan tersebut berjalan lancar

“Ada manager, ada juga orang bersih-bersih dan hanya disebut sebagai tukang bersih-bersih, tukang beli konsumsi, orang-orang yang setiap hari harus memastikan pertunjukan berjalan lancar, tapi mereka tidak disebutkan namanya, tidak tertulis namanya,” kata Cecil Mariani yang diwawancara Konde.co pada 3 Oktober 2022.

Ana Rosdianahangka menyatakan, dalam kondisi inilah pekerja seperti mereka jadi rentan eksploitase. Salah satunya hal ini ditunjukkan dengan mereka yang kerap mengerjakan beberapa pekerjaan sekaligus, seperti misalnya desainer grafis yang harus merangkap sebagai desain website, pembuat katalog yang merangkap sebagai pembuat poster, dan lain-lain.

“Di bagian ini kita bisa jadi humas, lalu nyambi menjadi admin sosmed, juga sambil mengurus media partner. Selama ini kerja kita secara multitasking, saya bisa merangkap sebagai HRD juga, harus memilih tim, mengelola keuangan dan cari funding juga,” kata Ana.

Lebih-lebih selama pandemi, mereka jadi mengerjakan apa saja untuk pertunjukan seni, sampai jadi admin dan kerja-kerja broadcast yang bukan bidang mereka, juga harus mereka kerjakan, seperti palugada: apa yang lu mau, gua ada (gua kerjakan).

Penasaran karena kondisi ini, Cecil Mariani bersama Anggraeni Widhiasih kemudian melakukan penelitian tentang kondisi pekerja seni di belakang panggung. Riset ini mereka beri judul “Paranormal Baru: PENAMPAKAN” sebuah proyek seni untuk Jakarta Biennale yang berupaya mengumpulkan dan menampilkan jejaring pekerja seni budaya yang kerap bekerja di balik layar presentasi

Cecil Mariani dan Anggraeni Widhiasih menemukan, ternyata di dalam seni ada pekerja yang dianggap produktif, dan ada pekerja yang dianggap tidak produktif atau yang disebut pekerja domestik.

Pekerja produktif umumnya yang bekerja di atas panggung, dan pekerja domestik umumnya di belakang layar.

“Kondisi ini secara konstruksi sosial sama dengan kondisi kehidupan kita sehari-hari, orang yang dianggap berproduksi dianggap penting, sedangkan kerja-kerja domestik di balik layar seperti yang dilakukan para ibu di rumah, tak dianggap penting. Ini artinya konstruksi berpikir masyarakat ini kemudian menjalar ke seni,” kata Cecil Mariani.

Padahal mereka adalah orang yang bekerja dengan tekun dan tersembunyi. Ada juga kondisi dimana para pekerja ini harus menghadapi relasi informal yang kadang punya relasi kerja dengan teman, suka gak enak karena kerja dengan teman. Ada juga yang kadang bekerja tanpa kontrak karena sifatnya hanya sementara, hanya kerja untuk berapa hari, atau berapa bulan saja.

Penelitian yang dilakukan Cecil Mariani dan Anggraeni juga menyebut, banyak pekerja seni di balik panggung ini yang posisinya diremehkan, seperti dibentak-bentak misalnya.

“Hal ini disebabkan karena secara umum, orang masih melihat seni sebagai sebuah karya, belum melihat kerja-kerja di balik panggung. Belum pada konteks pengetahuan atau bagaimana menghargai kerja-kerja para pekerja yang harus mendapatkan penghargaan. Maka kemudian banyak pekerja seni di balik panggung yang sering diremehkan, tidak dianggap kerja. Perspektif orang rata-rata hanya melihat bahwa karya seni harus berkualitas, tapi tidak dalam konteks pendukung pekerja seni, dimana harusnya pekerja ini juga dihargai, bisa mandiri, bisa berpikir, buat karya sendiri,” kata Cecil Mariani.

Padahal para perempuan pekerja seni di balik panggung ini banyak menghadapi kerja-kerja emosional. Bentuk kerja emosional itu bisa berupa ketika mereka dituntut untuk menampilkan sesuatu yang maskulin, seperti harus selalu menjaga reputasi, menghadapi perundungan, menjaga citra di media sosial, dan di satu sisi kita harus berinteraksi sosial, tidak boleh mengeluh, harus bisa mengelola psikologi atau emosional dalam tim. Berat memang. Makanya kerja emosional ini sering memicu kelelahan fisik, depresi, paranoia, kelelahan mental, dan sakit kepala.

“Yang di belakang panggung ini kadang-kadang harus menghadapi senimannya yang marah-marah, dibentak-bentak.”

Secara umum pikiran orang masih maskulin, seperti orang yang punya gagasan, punya konsep, dianggap gagah, dianggap keren. Orang yang diam dan tekun dianggap bukan siapa-siapa.

Selain itu kondisi ini hampir mirip dengan industri, ada adu keren di depan pemilik duit, pendonor, dan funding yang bisa didapatkan oleh orang di atas panggung. Sedangkan yang di belakang panggung hanya dianggap sebagai pelaksana tugas teknis.

“Padahal jika tidak ada orang di belakang panggung, senimannya tidak bisa pameran, karyanya tidak bisa dipamerkan.”

Cecil Mariani menyatakan, penyebab ini semua, karena pertama ada persoalan feodalisme, sehingga ada yang merasa ingin dilayani dan yang lain punya peran harus melayani.

Power relation terbentuk ketika kita butuh uang, jadi membentuk diri dengan power relation,” kata Cecil Mariani.

Terpaksa Memilih Kerja di Belakang Panggung

Perempuan lain yang memilih bekerja di belakang panggung adalah, sebut saja namanya B. B adalah seorang pebalet. Karena badannya sekarang agak gemuk, maka ia kemudian diminta untuk secara ketat menguruskan badan agar kelihatan langsing di atas panggung. Sejak itu ia memutuskan untuk tak mau lagi jadi pebalet dan memilih bekerja di belakang panggung

Kondisi kerja di balik panggung juga dialami transpuan. Anggun Pradesha, adalah seorang transpuan yang juga mengalami beratnya menanggung kerja-kerja emosional di film. Karena sering ditolak untuk bekerja di depan panggung, maka ia kemudian memilih bekerja di balik panggung atau di belakang layar

Awalnya Anggun pernah bercita-cita ingin jadi artis film, namun ternyata di film dia melihat penilaian fisik masih jadi pengakuan sendiri, seperti jika secara fisik dianggap  cantik, maka mereka akan diberikan peran, tapi jika mereka adalah seorang transpuan, dianggap tak cantik dan tidak layak. Mereka bisa saja dapat penghinaan dengan dipanggil sebagai banci.

Para transpuan memang banyak yang menjadi bahan tertawaan, ini fakta yang banyak didengar Anggun Pradesha dari para transpuan lainnya sesame pekerja film. Kondisi inilah yang membuat ia berpikir ulang untuk mewujudkan cita-citanya menjadi artis film. Maka Anggun kemudian memilih bekerja di belakang panggung.

Anggun mengatakan, selama ini transpuan belum mendapatkan tempat di industri film. Meminjam istilah temannya, Dena Rachman, transpuan harus berangkat dari minus, bukan lagi nol di industri film. Ini berkaitan dengan stigmatisasi bahkan transphobia yang masih melekat di ekosistem perfilman.

“Kelompok trans jarang ada di industri (film) ini, kalaupun ada, dia ada di posisi-posisi yang sudah distigmakan masyarakat. Bahwa posisi mereka pantasnya semisal wardrobe, make up–tanpa mengecilkan posisi mereka ya. Padahal sebenarnya teman-teman trans banyak yang mau jadi pemeran utama (di depan layar–red), director-nya,” ujar Anggun saat berbincang khusus dengan Konde.co, Kamis, 18 Agustus 2022

Anggun bisa dikatakan termasuk salah satu transpuan yang bisa mendobrak situasi itu. Setidaknya, dia bisa menjadi sutradara yang kemudian banyak menyuarakan isu-isu transpuan. Meskipun bukan di industri perfilman yang besar, melainkan secara independen (indie).

Awal mula karir Anggun Pradesha saat dia mendapatkan fellowship pembuatan film dari Production House Nia Dinata. Dalam produksi film indie ini, Anggun merasa mempunyai ‘ruang aman’ yang lebih baik. Sebab dia relatif bisa memilih ekosistem yang memang lebih sensitif gender. Di sisi lain, support system yang dia dapatkan selama ini juga bagus. 

“Karena mungkin aku tim kecil, aku bekerja sama dengan tim pilihanku, untungnya aku dapat kebebasan memilih tim yang menurutku nyaman. Meskipun pernah juga dapat tim, yang menurutku masih agak seksis misalnya suka goda-goda perempuan,” kata dia. 

Untuk mencegah hal serupa, ia selalu berupaya memastikan background dari kru dan talent dalam project film yang dia kerjakan itu. Dia juga amat detail dengan tindakan yang mereka lakukan seperti bagaimana memasang clip on atau cara menyorot yang tidak mengobjektifikasi seksualitas perempuan (male gaze).

“Untuk antisipasi karena hal-hal kayak gitu sering terjadi aku dengarnya.. kayak ‘kaki Lo kayak gini deh bagus, dadanya kebuka gini bagus deh’,” imbuhnya. 

Dalam konteks industri perfilman, Anggun mendesak production house (PH) harusnya memiliki dan menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) yang melindungi para pekerja film dari pelecehan dan kekerasan di dunia kerja. Selanjutnya mesti ada sosialisasi dan training sebagai pencegahan. 

“PH untuk memastikan dia harus arrange lebih banyak waktu, semua kru baik staf harian atau kontrak paham dengan hal-hal yang jangan seksis, misoginis, male gaze apalagi pelecehan, kadang-kadang orang gak paham verbal pun bisa jadi pelecehan,” ujarnya. 

Selain itu mereka seringkali dilarang untuk mengekspresikan gender mereka di tempat kerja. Para transpuan harus mengingkari identitas asli mereka dan berpenampilan sebagai lelaki agar bisa mendapatkan pekerjaan.

Aturan yang dibuat Komisi Penyiaran Indonesia melalui Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) tahun 2012 melanggengkan transfobia ini. P3SPS diterbitkan bersama artikel di situs KPI yang menyatakan larangan penyiaran konten yang memiliki unsur LGBT, yang mencakup transpuan.

Salah seorang penulis dan penyunting lepas di Bandung, sebut saja namanya A, juga orang yang bekerja di belakang layar. Ia tidak mendapat kontrak kerja, jaminan sosial, kepastian karir hingga diupah murah. Lengkap sudah penderitaannya sebagai pekerja

Di pekerjaannya yang terakhir, ia diupah begitu minim. Dia yang awalnya meminta kepada klien agar diupah per jam, “mau tak mau” menerima tawaran pengupahan kliennya secara per halaman pengeditan. Alasannya, perusahaan klien kini tengah seret akibat pandemi. 

“Dia minta satu halaman itu Rp 40 ribu. Gue (harusnya) Rp 40 ribu itu per jam, Rp 40 ribu sampai Rp 50 ribu. Kalau per jam harusnya kali dua (halaman), sekitar Rp 100 ribu. Satu setengah bulan kerja (cuma) dibayar Rp 1,4 juta, salah satu kendalanya feedback-nya lama,” ujar Musisi, Rara Sekar, menyampaikan wawancara A dalam risetnya bersama tim bertajuk Flexploitation (2020) secara daring, Senin (8/11/2021).     

Tidak hanya memangkas upah, klien A juga tak jarang ‘suka-suka sendiri’ dalam memberikan perintah revisi. Semisal, sudah diberi tahu maksimal editing 3 kali, yang di luar itu ada tambahan biaya. Tapi, si klien selalu ada saja alasannya seperti pura-pura atau sengaja lupa. 

Kerja Emosional Yang Tak Dihargai

Riset yang dilakukan Koalisi Seni tentang kondisi perempuan pekerja seni yang tak diperhitungan sisi emosionalnya sebagai pekerja pernah dipaparkan Koordinator Peneliti Kebijakan Koalisi Seni, Ratri Ninditya, pada saat peluncuran survei pada Kamis, (16/12/2021).

“Hal ini membuat wadah berkarya transpuan yang berkegiatan di bidang akting makin terbatas,” imbuh Ratri.

Di tengah rezim ketidaksetaraan ini, para pekerja perempuan bertahan karena rasa cinta pada seni dan cita-cita untuk mengembangkan tempat kerja menjadi lebih baik. Mereka memandang kerja seni sebagai panggilan hidup dan “kerja untuk kebaikan.”

Kerja seni emang masih jadi blankspot bagi para pembuat kebijakan. Sektor kerja seni dapat dikatakan sama sekali luput dari kebijakan publik mengenai ketenagakerjaan yang mengandung bias manufaktur dan bias kerja formal.

Meski telah lahir Undang-undang (UU) Pemajuan Kebudayaan dan UU Ekonomi Kreatif, keduanya belum secara spesifik mengatur hak-hak pegiat seni dan pelaku kreatif sebagai pekerja.

Kaburnya relasi kerja dan sikap-sikap bias gender yang berlaku luas dalam sektor seni yang patriarkis, membuat kondisi kerja pekerja seni perempuan masih buruk. Imbasnya, beban kerja emosional yang sangat besar dengan implikasi yang sangat dirasakan adalah akses terbatas pada sistem pendukung.

Secara garis besar, jenis kerja emosional yang dialami dibagi dua: kerja emosional yang dilakukan untuk menjalankan deskripsi kerja, dan kerja emosional sebagai efek samping dari kondisi lingkungan kerja yang patriarkis. Pada hakikatnya, kedua jenis kerja emosional ini dapat muncul dalam bentuk sama. 

Hal ini juga sejalan dengan hasil survei yang menunjukkan tingginya motivasi kerja. Sayangnya Motivasi yang begitu kuat ini dihadapkan pada budaya kerja bias gender dan relasi-relasi kerja yang kabur. Pekerja seni perempuan pun menjadi lebih rentan saat tidak dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan, hingga mengakibatkan beban dan risiko kerja makin tak tampak dan minim perlindungan.

Kerja emosional yang dilakukan, ujar Ratri, tidak diakui sebagai jenis pekerjaan tersendiri di tempat kerja dan tidak disebutkan secara eksplisit di deskripsi pekerjaan. Lebih buruk, definisi pekerjaan emosional belum dipahami.

Keseluruhan pekerjaan, termasuk kerja emosional di dalamnya, dilakukan tanpa pelatihan atau bahkan penjelasan singkat tentang hal ini. Dukungan untuk melakukan kerja emosional juga sangat minim. Pelatihan, anggaran, ataupun jenis-jenis bantuan lainnya hampir gak ada.

Pada beberapa kasus, responden harus membiayai perlengkapan yang dibutuhkan untuk mengerjakan kerja emosional dari dana pribadi mereka. Ini karena kerja pemberi kerja belum menganggap kerja emosional sebagai satu bentuk kerja, tapi dianggap sebagai bagian pekerjaan sehingga tidak dihargai di lingkungan profesional.

“Hal ini membuat narasumber kerap kurang dihargai oleh pemberi kerja karena sebagian pekerjaannya dianggap bukan kerja profesional,” tulis laporan survei.

Rendahnya penghargaan akan kerja emosional memicu beban berlipat: mereka dituntut untuk bisa mengidentifikasi kerja emosional, menjalankannya, dan mengembangkan kapasitas mereka secara mandiri tanpa dukungan yang memadai.

Gak semua pekerjaan emosional ini dilakukan untuk mencapai target kerja, tapi demi bisa bertahan di tempat mereka bekerja. Dilihat dari kondisi kerja seni yang kerap tak memiliki batas jelas antara hubungan personal dan profesional, batasan antara kerja emosional dan regulasi emosi pun melebur.

Cecil Mariani dan Anggraeni Widhiasih punya pertanyaan penting atas kondisi ini, mestinya di komunitas seni sekarang mulai bertanya: siapa-siapa saja yang bekerja di balik layar seni budaya Indonesia? Apa saja kepakaran mereka? Dengan apa mereka menopang penghidupan mereka untuk bisa bekerja? Dan apa saja gagasan dan aspirasi yang tak terdengar untuk seni dan budaya? Pertanyaan ini bisa digunakan untuk menjawab agar tak ada pekerja di belakang panggung yang tertinggal.

Apakah mereka betul-betul berharga, di saat kemampuan seperti itu dianggap sebagai jenis kemampuan yang bisa ‘sekali pakai’ dan ‘mudah digantikan’ karena mengerjakan ‘hal yang teknis’?.  Di sisi lain, kerja yang teknis  ini, yang kadang disertai kerja perawatan (bahkan sesepele mendengarkan curhat) adalah ranah yang merawat praktik produksi kesenian juga.

Survei yang dilakukan Cecil dan Anggraeni di tahun 2021 mendapatkan data, para pekerja ini juga ingin gagasan aspirasinya dihadirkan dalam karya, karena kerja bukan hanya berbasis kemampuan, tapi juga kepercayaan, kesetiaan, kerelaan dan solidaritas.

Cecil Mariani menambahkan, mengabaikan kondisi kerja yang sehat sebetulnya lambat laun akan mengancam juga produksi presentasi seni itu sendiri di saat orang-orang yang bekerja di dalam industri itu sendiri terus berada dalam kondisi kehidupan yang genting

(Tulisan ini merupakan bagian dari program Deepening Impact for Women Activators (DIWA) Media Fellowship yang diselenggarakan oleh ASHOKA)

Nurul Nur Azizah dan Luviana

Nurul Nur Azizah dan Luviana, Redaktur dan Pemimpin Redaksi Konde.co

Let's share!