Hancur Lebur, Mental Kena: Begini Rasanya Bertahan Dalam Pernikahan Toksik!

Waktu pacaran, semua keliatan indah dan menyenangkan, tapi setelah menikah, suaminya selingkuh, ini toksik banget bagi Safa. Mentalnya kena!

Safa (Bukan nama sebenarnya, red) merasa hancur lebur saat menerima kenyataan bahwa suaminya melakukan perselingkuhan dengan perempuan lain. Perselingkuhan ini bukan cuma sekali. 

Kendati begitu, Safa masih terus berdoa agar suaminya berubah dan kembali menyayangi dirinya seperti awal pernikahan. Safa berharap suaminya sadar akan perbuatannya dan kembali menjalani kehidupan yang berbahagia seperti yang mereka pernah inginkan dulu.

Banyak kawan-kawan Safa yang mempertanyakan sikap Safa yang membiarkan saja si Suami yang telah berselingkuh berkali-kali. Safa menyatakan, ia akan bertahan demi ketiga anaknya yang masih kecil. 

Suami Safa adalah seorang manajer perusahaan swasta yang tidak membuat Safa dan anak-anaknya kekurangan secara ekonomi. Tapi bukan untuk kekurangan psikis. Jangan ditanya betapa sakitnya mendapatkan fakta suaminya sudah selingkuh berkali-kali. Mental Safa kena!

Jika ditanya, adilkah itu buat Safa dan Putra Putrinya? Jawaban Safa.”Tidak!, Pengkhianatan adalah kejahatan terhadap kemanusiaan,” kata perempuan bertitel Sarjana Ekonomi ini.  

Tapi konstruksi berpikir di lingkungan Safa yang membuat Safa mau tidak mau harus meyakini jika perceraian bukan jalan yang mesti ia ambil, yang penting ia bertahan untuk anaknya. Tentu saja ini bukan pilihan, tapi Safa dihadapkan pada sesuatu yang buruk yang dia harus mengambil jalan ini. 

Betapa gelapnya jalan hidup Safa, harus hidup dengan suami yang melakukan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) demi anak.

“Di situasi pandemi saat ini, sulit untuk mencari kerja, lapangan kerja bagi ibu beranak tiga sulit,” katanya saat ditemui Konde.co.

Alasan Safa bertahan selama 8 tahun dalam perkawinan yaitu demi tiga anaknya, karena ini adalah pilihan yang sulit. Akan tetapi Safa bersyukur, banyak pihak yang mendukungnya, baik orang tua maupun mertua yang membelanya ketika dirinya mengetahui suami selingkuh atau ketika ia dalam kondisi terburuk dalam hidupnya.

Waktu Pacaran Menyenangkan, Tapi Setelah Itu Toxic

Safa bercerita waktu awal ketemu suaminya. Baru setahun lulus kuliah dan pacaran selama 3 tahun, lalu langsung menerima lamarannya. 

“Saya tidak berpikir panjang, karena sudah menjalin hubungan 3 tahun dengan pacar yang sekarang menjadi suami, tidak ada alasan untuk menolak, karena merasa cocok dan keluarga sangat mendukung hubungan kami,” beber dia.

Safa cerita, setahun pernikahan ia merasakan hal yang indah dalam hidupnya. Di pernikahan tahun kedua, Safa mengaku suaminya berubah terutama saat dirinya hamil anak pertama. Saat itu ia menemukan chat suami dengan perempuan lain.

”Mulai berubah di tahun kedua, saya tidak mau mencari tahu lebih dalam, karena mungkin saya pikir dia cuma bosan, saya juga berusaha mencari kesibukan bersama agar dia tak bosan, tetapi setelah kelahiran putra pertama, saya menemukan chat mesra sang suami dengan perempuan lain di ponselnya,” ujarnya.

Safa mulai tidak nyaman dengan kondisi itu, ia berupaya mencari tahu penyebab suaminya melirik perempuan lain. Ini yang membuat Safa overthinking, merasa bersalah, sampai-sampai berpikir karena berat badannya naik saat mengandung dan melahirkan menjadi biang keladi persoalan rumah tangganya. 

Hal buruk seperti ini banyak dialami perempuan lain: yaitu menyalahkan dirinya sendiri. 

”Saya pikir karena saya naik berat badan sampai 20 kilogram saat itu, saya terus saja menyalahkan diri sendiri, saya memutuskan untuk berdiet, tapi gagal karena saya sedang memberi ASI putra pertama saya,” katanya.

Safa terus saja menyalahkan dirinya sendiri hingga belum berusia 2 tahun dirinya rela kembali hamil anak keduanya untuk menyenangkan suaminya.

”Saya berpikir terus agar suami saya bisa terus bersama saya, saya faham itu salah, dorongan menyalahkan diri sendiri terus saja menjerat, saya sekalipun tak pernah menyalahkan suami atau siapapun, saya tanggung semua ketidaknyamanan ini sendirian, jangan sampai orang lain ikut menderita mendengar cerita saya,” ujarnya sambil sesekali menyeka matanya yang basah.

Bagi Safa yang menikah di usia 23 tahun, definisi pernikahan saat itu masih sebatas mimpi indah, terlepas dari pernak- pernik cobaan yang harus Safa lalui dengan penuh kedewasaan karena orangtua dan guru ngajinya selalu mengatakan bahwa perkawinan itu adalah ibadah dan perempuan harus menurut apa saja kata suami. 

”Orangtua dan guru ngaji saya selalu bilang, pernikahan itu ibadah dan tidak ada ibadah yang mudah, semua berujung menjadi cara untuk mendewasakan diri sendiri, begitu yang saya yakin soal pernikahan, tapi saya berharap tidak ada perempuan manapun yang mengalami yang saya alami karena ini sangat menyiksa saya, terkadang anak-anak saya menjadi sasaran kemarahan saya, saya akui hal ini karena saya membiarkan keadaan yang tidak ideal ini, karena saya yakin ujung dari pernikahan adalah kebahagiaan dan ketenangan,” tuturnya.

Hingga saat ini, Safa tidak pernah membahas ataupun mencoba menyelesaikan persoalan yang membuatnya kerap sesak nafas dan kurang bahagia kepada sang suami.

”Saya berulangkali mengajak bicara untuk menyuarakan rasa sakit hati yang saya alami, dan mencari solusi atas ketidaknyamanan ini, suami saya menganggap hal itu tidak perlu, karena suami saya menganggap setiap lelaki wajar berselingkuh,” ujarnya.

“Ini bikin saya kadang menyinggung sebagai sebagai cara berkomunikasi, sulit sekali suami saya diajak berkomunikasi, setiap diajak berkomunikasi, dia selalu menghindar dan memilih pergi, terkadang itu yang membuat hati saya terluka, akhirnya saya memilih untuk tidak pernah membahasnya lagi,” ungkapnya.

Hindari Pernikahan dengan Jeratan Toxic Relationship

Konsultan Pernikahan Hani Hendayani mengungkapkan ada beberapa tanda dasar ketika hubungan suami istri sudah mulai beracun, yaitu perasaan tersakiti dan terjadinya hambatan komunikasi.

”Ada ketidaknyamanan, muncul prasangka buruk, Trust Issue, ada yang tersakiti, hambatan komunikasi, dan sulit beraktivitas bersama,” jelasnya kepada Konde.co.

Soal perempuan yang terus bertahan meski sakit, Hani menegaskan bahwa relasi dalam rumah tangga bisa terjerat toxic relationship.

”Pernikahan adalah pilihan sadar dari kedua insan untuk berkomitmen bersama dalam bahtera rumah tangga dengan menerima seutuhnya keadaan pasangan sejiwa. Relasi yang terbangun tentunya saling mendukung dan melengkapi untuk mencapai tujuan bersama. Toxic relationship muncul bila salah satu atau keduanya sudah tidak saling mendukung bahkan menimbulkan ketidaknyamanan pada salah satu pihak atau keduanya,” jelasnya.

Konde.co sempat mencatat,  toxic relationship  masih terjadi di mana-mana. Hubungan toksik adalah hubungan di mana salah satu pasangan secara emosional, bahkan fisik, merusak fisik dan psikis pasangannya. Hubungan toksik sama sekali bukan tempat yang aman. Iklim dalam hubungan ini penuh dengan ketidakamanan (insecurity), keegoisan (self-centeredness), dan dominasi atau kontrol.

Lalu sehatkah jika perempuan dalam ikatan pernikahan memilih terus bersama suami yang sudah berselingkuh atau melakukan Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) agar tidak mengalami kejatuhan secara finansial? 

Hani meminta agar para istri menggunakan akal sehatnya, bila seorang perempuan mampu tetap menggunakan akal sehatnya dan secara mental spiritual bila bertahan justru akan mengancam jiwa serta fisik seorang perempuan, maka terbuka kesempatan untuknya memilih jalan hidup yang lain untuk keberlangsungan hidupnya.

Hani mengungkap bahaya buruk bagi anak yang orang tuanya terjerat toxic relationship.

”Kondisi ini menjadi contoh yang buruk bagi anak, lalu akan timbul hutang atau luka pengasuhan yang sulit disembuhkan,” ujarnya.

Namun demikian, Hani mengungkap tidak semua anak mengalami dampak dari orang tua yang terjerat toxic relationship

Dalam beberapa kasus, banyak juga anak yang tidak merasakan dampak langsung dari orang tua yang terjerat toxic relationship, misalnya orang tua yang mampu membedakan perannya sebagai pasutri dan orang tuanya, maka anak bisa belajar dan ketidaksempurnaan orang tuanya. 

Maka dalam kondisi ini, yang penting yang harus diingat adalah selamatkan perempuan agar ia dan anaknya tidak mendapatkan kekerasan dan terlepas dari relasi toksik.

Devi P. Wiharjo

Beberapa tahun jadi jurnalis, sempat menyerah jadi manusia kantoran, dan kembali menjadi jurnalis karena sadar menulis adalah separuh napas. Belajar isu perempuan karena selama ini jadi perempuan yang asing pada dunia perempuan, eksistensialis yang hobi melihat gerimis di sore hari.

Let's share!