Vagina Tertusuk Sejarah: Dikutuk dan Disembunyikan, Dihargai Ketika Dibutuhkan

Semua yang keluar dari vagina selalu dianggap sebagai sesuatu yang mengerikan, kecuali bayi mungkin. Orang-orang umumnya mengutuk darah menstruasi dari vagina. Seolah semua harus disembunyikan dan hanya boleh dibicarakan secara bisik-bisik.

Guru sejarah setidaknya akan setuju bahwa belajar sejarah akan membantu kita memahami sesuatu. Apalagi dengan kapasitas kita untuk mengingat yang semakin lemah, karena kita terlalu mempercayakan kerja mengingat ini pada gadget. Kita bahkan tidak peduli lagi apakah tubuh kita mengingat sesuatu, karena kita menolak untuk melihat, apalagi merasakan. 

Tulisan ini akan lebih relevan bagi para pembaca perempuan, meski laki-laki yang memahaminya pasti akan menjadi pacar teladan nasional. Berapa kali kita harus berusaha merasakan apa yang sedang terjadi dengan vagina perempuan?

Plato di Yunani kuno, sekitar 2300 tahun yang lalu dengan manual tentang tubuh menyebut apa yang kita sebut uterus atau sekarang sebagai monster kesurupan yang ingin selalu beranak, yang jika keinginannya tidak terpenuhi, maka akan melampiaskan emosinya dengan cara yang mengerikan. 

Maka dokter-dokter zaman itu kemudian menasihatkan supaya para perempuan agar hamil sesering mungkin supaya mereka ada kesibukan. Pikiran ini sepertinya belum lama berubah. Kita pasti masih ingat cerita nenek, yang hamil setiap tahun dan saudara kandungnya berjumlah 13 atau 14, diselubungi dengan slogan bahwa banyak anak banyak rejeki, atau sekedar supaya jumlah pemilih salah satu partai bertambah. Apalagi dengan poligami, empat istri dan masing-masing 14 anak. 

Hari ini perempuan yang ingin mengekspresikan seksualitasnya juga seringkali langsung dipandang rendah atau abnormal atau kesurupan kuntilanak.

1800 tahun kemudian, Realdo Colombo, yang sedang magang di ruang bedah, di Milan tahun 1516, setelah bertahun-tahun melakukan ekspedisi di antara selangkangan perempuan, akhirnya menulis tentang klitoris sebagai pusat kenikmatan bagi perempuan, sebuah identifikasi pada bagian yang dianggap sama sekali tidak berguna (oleh laki-laki). 

Hal yang perlu dipahami adalah ketakutan bahwa ketika perempuan dapat memperoleh kenikmatannya secara swasembada (perpaduan antara swadaya dan swalayan), yang adalah jargon Pemerintahan Orba, maka perempuan tidak lagi membutuhkan laki-laki.

Lalu pada masa yang sama, terciptalah celana dalam yang terbuat dari besi, untuk mencegah laki-laki dan terutama perempuan sendiri untuk mengenal dan memberdayakan klitorisnya. Mereka yang merdeka dengan klitorisnya kemudian dianggap memiliki gangguan mental atau histeris.

Tahun 1870-1880, operasi sterilisasi yang dianggap dapat menyelesaikan masalah emosional akibat menstruasi dilakukan pada lima ribu perempuan di Amerika Utara, dan 30% nya berakhir di kamar mayat. Praktek yang sama dilakukan pada klitoris sampai hari ini dengan masih adanya sunat perempuan bahkan di Indonesia.

Langkah besar manusia abad kedua puluh bukanlah pergi ke bulan, namun penemuan mesin cuci kulkas dan kontrasepsi, yang memberi peluang pada setidaknya separuh umat manusia, terutama perempuan  untuk tidak hanya berada di sumur, kasur dan dapur saja, tapi di gedung DPR, istana negara dan tempat kekuasaan lainnya yang biasanya steril dari perempuan. Jika kita mengingat kongres nasional sebuah partai berbalas lempar kursi, adakah perempuan disana? Hanya sedikit yang bisa sampai kesana tanpa bekal keturunan dan hubungan keluarga.

Penemuan menghebohkan abad kedua puluh lainnya adalah yang dinamakan titik G (dari nama penemunya Grafenberg) sebagai sumber orgasme perempuan. Ernst Grafenberg adalah seorang ginekolog yang membaktikan dirinya kepada vagina, di New York tahun 1950. Ia juga menyatakan 80% perempuan tidak  mengalami orgasme. Apakah anda termasuk dalam 80% tersebut?

Semua yang keluar dari vagina ini dianggap mengerikan kecuali bayi mungkin. Maka manusia mengutuk darah menstruasi dalam semua agama milik laki-laki. 

Suku-suku pribumi Amerika utara dan selatan mencemaskan bahwa menstruasi yang tidak terkendali pada perempuan dapat menyebabkan kekacauan semesta, karena menstruasi mengikuti siklus bulan. Perempuan dijauhkan dari segala ritual yang dianggap suci. 

Satu kelompok di India bahkan melarang perempuan memasak sampai melarang dekat-dekat hewan ketika sedang menstruasi. Mungkin laki-laki menganggap sedang mengasingkan perempuan, padahal mungkin perempuan menganggap waktu ini sebagai liburan. Kapan lagi bisa berhenti diperbudak kecuali saat menstruasi. Begitu tidak pentingnya hidup perempuan dan menstruasinya, maka tentu saja hal yang membuat perempuan merasa lebih baik tidak akan terpikirkan. 

Ide pembalut datang dari pembalut luka dalam perang di tahun 1888, dan pembalut seperti yang kita kenal sekarang, baru tiba di Indonesia tahun 1976, tujuh tahun setelah manusia pertama mendarat di bulan. Dan bahwa pembalut sama pentingnya dengan masker, yang seharusnya dibagikan gratis, diantara pemerintah seplanet ini, di dunia, ini baru disadari oleh  Skotlandia pada bulan November 2020.

Dan sesungguhnya, saat menstruasi memang perempuan harus meliburkan dirinya, sesuai UU Ketenagakerjaan no 13 tahun 2013 pasal 81, pekerja perempuan tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua haid. Atau kemudian mendapatkan penggantian uang jika tetap bekerja. 

Lalu cerita apa yang dulu disampaikan para orangtua untuk menjelaskan menstruasi pertama? Atau kita hanya mendengar, ‘berarti kamu sekarang bisa hamil’ seolah-olah hanya itulah tujuan perempuan ada di dunia ini.

Sulit sekali sepertinya menyatakan bahwa perempuan bebas memilih untuk menjadi ibu atau tidak, dan bebas memutuskan kapan ia ingin menjadi ibu, jika memang menginginkannya. 

Penolakan dan penyangkalan pada kebebasan ini menyebabkan kematian sepanjang sejarah perempuan karena kehamilan. Jika setiap telur yang  dibuahi harus dihukum, kenapa tidak ada pembatasan pengeluaran sperma? Haloooo? Tentu saja tidak ada jawaban karena perempuan dihukum sepanjang sejarah kemanusiaan karena kehamilan yang tidak diinginkan. Karena kata ‘suka sama suka’ sepertinya juga belum lama diciptakan. Tanpa alat kontrasepsi, mungkin perempuan yang melakukan hubungan seksual bisa hamil setahun sekali.

Kita berhutang budi pada Margaret Sanger, penggerak Keluarga Berencana/ KB pertama di Amerika Serikat, yang melihat ibunya mengalami kehamilan sepuluh kali, pada awal 1900. Dan baru pada 9 Mei 1960, pil KB pertama bernama Enovid dilegalkan pertama di Amerika Serikat. 

Pil ini ditemukan atas bertahun-tahun pengorbanan perempuan yang melakukan uji coba dengan vertigo dan mual bahkan kanker. Dan setelah program KB berjalan puluhan tahun di Indonesia, baru terpikir, untuk menggalakkan KB laki-laki, sebagai bagian dari pertanggungjawaban kemanusiaan.

Maka sebagai perempuan, sudah pernahkah setidaknya mempelajari anatomi vagina, apa yang terjadi disana, dan melihat sendiri kebawah dan mengerti apa yang diinginkannya?

(Sumber data : La Chair Interdit Oleh Diane Ducret, Albin Michel, France 2015)

Gracia Asriningsih

Penulis, penerjemah lepas, pembaca tarot dan meditator

Let's share!