4 Siklus KDRT: Hati-Hati Pada Siklus Bulan Madu, Pelaku Bisa Jerat Kembali Korbannya

Jika kamu atau temanmu menjadi korban KDRT, kamu harus tahu, ada 4 fase yang harus kamu lalui. Fase bulan madu ini fase yang paling ‘berbahaya’ karena pelaku bisa menjerat kembali korbannya.

Jika kamu lagi dalam masa relasi yang rusak atau break your heart karena kamu menjadi korban kekerasan, lalu tiba-tiba pasangan atau suamimu ingin balikan lagi, pahami 4 siklus ini yang selama ini dihadapi para korban.

Siti Aminah Tardi, Komisioner Komnas Perempuan pernah di wawancara Konde.co menyebutkan, bahwa 4 siklus yang terdapat Kekerasan Dalam Rumah Tangga/ KDRT  atau Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) ini akan terpola sebagai berikut: korban dan pelaku akan mengalami masa tension (ketegangan) – insiden (kekerasan) – reconciliation (memaafkan) dan calm (damai).

Dr Yuniar, SpKJ (K), M.MRS menuliskan bahwa dinamika yang melatarbelakangi terjadinya KDRT dijelaskan sebagai suatu siklus yang dikenal sebagai Cycle of Violence oleh Lenore Walker pada tahun 1979

Lalu apa saja siklus ini dan mengapa kita semua harus belajar soal siklus ini?

1.Siklus Ketegangan

Siklus ketegangan adalah situs dimana pasangan sedang mengalami ketegangan, ada perbedaan pendapat,  yang berujung pada kekerasan yang dilakukan pelaku terhadap korban. 

Dr. Yuniar menuliskan di situs rsjlawang.com, pelaku biasanya mulai dengan melakukan ancaman-ancaman. Lalu selanjutnya muncul kekerasan-kekerasan lisan seperti berteriak, mengumpat, dan memaki, atau kekerasan fisik ringan seperti mendorong penyintas hingga hampir terjatuh. Pada kondisi ini biasanya penyintas atau korban berusaha menenangkan pelaku. Sayangnya acapkali upaya ini tak berhasil, sehingga penyintas menarik diri untuk menjauh, kemungkinan kekerasan lebih lanjut. Situasi ini makin membuat pelaku merasa lebih superior sehingga akhirnya terjadilah fase kedua.

2.Siklus Insiden/ Kekerasan

Siklus ini ditandai dengan terjadinya kekerasan atau abuser yang dilakukan pelaku pada korban. Di fase ini, terjadilah kekerasan yang merupakan ledakan dari ketegangan-ketegangan yang sebelumnya tertahan. Dalam konteks ini pelaku biasanya menyatakan memiliki tujuan untuk memberikan pelajaran kepada penyintas, namun selanjutnya kehilangan kendali. Ada berbagai jenis kekerasan yang dapat terjadi dalam fase ini; meliputi kekerasan fisik seperti pukulan, tendangan, tusukan, tembakan, cekikan, kekerasan seksual dan sebagainya;  serta kekerasan emosional seperti penghinaan yang sangat kasar atau umpatan memalukan yang sangat nyaring sehingga dapat didengar orang lain. Pada Sebagian besar kasus, setelah fase akut ini mereda, pelaku meminta maaf dan menyatakan penyesalan kepada penyintas, serta berjanji tak akan mengulangi lagi perbuatannya.

3.Siklus Rekonsiliasi 

Ketika korban hendak ‘melawan’ ini, pelaku (abuser) di tahap ini akan meminta maaf, memohon-mohon untuk dimaafkan dan membanjiri korban dengan berbagai macam hadiah.

“Sering permintaan maaf bukan karena pelaku menyesali perbuatannya, tetapi bisa juga manipulasi karena dia khawatir akan menanggung konsekuensi hukum akibat perbuatannya, seperti dicerai atau dipidana,” ujar Siti Aminah Tardi.

Tahap inilah yang sering membuat korban KDRT luluh hatinya sehingga mau berbaikan, memaafkan dan kembali ke pelaku sehingga tercapai tahap rekonsiliasi. 

4.Tahap Tenang atau Bulan Madu

Usai tahap rekonsiliasi ini, maka akan ditandai dengan masa tenang (calm). Tahapan calm atau masa damai ini biasa disebut honeymoon atau bulan madu. 

Namun, Siti Aminah mengingatkan, dalam banyak kasus begitu masa ini sudah lewat, pelaku berpotensi untuk kembali mengulangi perbuatannya. Mirisnya, siklus ini akan terus berputar dengan frekuensi yang semakin cepat dan bentuk kekerasan yang bisa semakin memburuk sejalan dengan makin lamanya korban bertahan dalam kondisi itu. 

“Siklus ini hanya dapat dihentikan jika pasangan mengakui dan mengenali siklus ini dan mencari bantuan psikolog untuk membantu memahami akar persoalan dan memutus siklusnya,” ujarnya

Namun mewujudkan hal ini tak semudah mengucapkannya. Perlu kemauan dari kedua belah pihak untuk mengurainya. Selain itu masing-masing korban memiliki pengalaman dan kondisi yang berbeda. Sehingga penanganan dan penyelesaian perkara KDRT tidak bisa digeneralisir dan harus disesuaikan dengan kasus per kasus.

Dr. Yuniar menuliskan, lalu apa yang membuat perempuan berkali-kali memaafkan pelaku dan tetap bertahan dalam relasi yang toxic tersebut? Ganley (2008) menyatakan  bahwa ada beberapa faktor yang membuat penyintas bertahan dalam KDRT, antara lain adanya perasaan takut kepada pelaku, bertahan agar tetap bersama anak, adanya faktor budaya dan agama untuk mempertahankan rumah tangga, serta adanya harapan dan keyakinan pelaku akan berubah. KDRT menjadi sebuah siklus yang harus diputus perputarannya. Bila kamu menjadi korban KDRT, jangan tunggu hingga perbuatan tersebut menjadi siklus berulang

Untuk itu Siti Aminah mengingatkan, sebelum memutuskan menikah pasangan harus mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. Tak hanya persiapan fisik dan materi, tetapi juga persiapan mental.

(Dari berbagai sumber)

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!