Cetak sejarah Perempuan Parlemen: Dulu Ditolak, Kini Jumlahnya Mayoritas Di Selandia Baru

Ditelusuri dari sejarahnya, perempuan sebelumnya tidak diizinkan menjadi anggota parlemen sampai tahun 1919 di Selandia Baru.Hingga saat ini, perempuan justru bisa mendominasi untuk menduduki posisi strategis di parlemen Selandia Baru.

Seisi ruangan parlemen tampak memberikan penghormatan terhadap Soraya Peke-Mason, yang baru saja dilantik menjadi anggota parlemen di Selandia Baru pada Selasa, 25 Oktober 2022. Mereka serempak berdiri beriringan dengan dinyanyikannya lagu kebangsaan.  

Politikus perempuan dari Partai Buruh itu pun tersenyum. Di tengah deretan kursi parlemen yang selang-seling diisi anggota parlemen yang kini mayoritasnya adalah perempuan. Soraya menjadi perempuan ke-60 yang menjadi anggota parlemen, sementara laki-lakinya berjumlah 59 orang. 

“Meskipun ini adalah hari yang istimewa bagi saya, saya pikir ini adalah hari yang bersejarah bagi Selandia Baru,” ujar Soraya yang dikutip Konde.co dari media nasional di Selandia Baru, TVNZ. 

Ditelusuri dari sejarahnya, perempuan memang sebelumnya tidak diizinkan menjadi anggota parlemen sampai tahun 1919 di Selandia Baru. Baru kemudian, Elizabeth McCombs berhasil menjadi anggota parlemen perempuan pertama pada 1933. Hingga saat ini, perempuan justru bisa mendominasi untuk menduduki posisi strategis di parlemen. 

UN Women dan Inter-Parliamentary menyebut, pencapaian ini menjadikan Selandia Baru termasuk di antara 6 negara di dunia yang dapat mengklaim paling tidak 50% keterwakilan perempuan di parlemen mereka. Adapun negara-negara lainnya adalah Kuba, Meksiko, Nikaragua, Rwanda, dan Uni Emirat Arab. 

Menonjolnya peran perempuan dalam politik juga ditunjukkan oleh terpilihnya Perdana Menteri Selandia Baru sekarang ini, Jacinda Ardern. Dia adalah perempuan perempuan ketiga di negara itu. Selain posisi Perdana Menteri, berbagai peran strategis perempuan di Selandia Baru juga mengisi jabatan Ketua Hakim di Mahkamah Agung dan Gubernur Jenderal. 

“Saya sangat senang karena putri-putri saya tumbuh besar di negara di mana keterwakilan perempuan setara dalam kehidupan publik merupakan hal normal,” kata Deputi Ketua Partai Nasional berhaluan konservatif, Nicola Willis dalam VOA Indonesia. 

Pemimpin bersama partai hijau yang liberal, Marama Davidson, lebih berterus terang. “Sudah waktunya,” katanya. 

Berjuang Di Tengah Ketimpangan 

Soraya yang dilantik menggantikan Trevor Mallard, menyampaikan pidato perdananya untuk mengadvokasi reformasi air bersih. Serta melindungi keberlanjutan sumber daya alam (SDA) itu. 

Perempuan yang dibesarkan di Whanganui itu menceritakan kisah hidupnya yang tumbuh di pinggiran kota. Ibunya adalah janda di awal tahun 1920-an. Dia seorang diri membesarkan Soraya dan lima saudara kandungnya. 

Ibu Soraya adalah perempuan pekerja keras dan bekerja sampai malam. Hidup mereka tak mudah dan penuh perjuangan. 

“Hidup adalah perjuangan, kami hanya punya sedikit uang,” kata Soraya dilansir NZherald. 

Di kehidupan yang seperti itu, dia melihat betapa pentingnya sumber air yang bersih. Dimana Ia mengalami pengalaman yang menyedihkan dengan ketidaklayakan pasokan air. 

“Pasokan kota berubah warna, jelek untuk diminum, menjijikkan untuk memandikan bayi laki-laki saya, dan membuat pakaian lebih buruk untuk dipakai,” katanya. 

Semangatnya untuk memperjuangkan air bersih itulah, yang ternyata bisa membawa Soraya menuju awal dari perjalanan politiknya. Hingga kini dia menjadi anggota parlemen dan berencana menginisiasikan perubahan Undang-undang Pengelolaan Sumber Daya untuk memastikan air bisa terjangkau diakses dan layak. 

Singkatnya, tak ada ketimpangan akses dalam penyediaan air bersih.  

“Kita harus melindungi aset ini (SDA) dengan segala cara,” katanya. 

Sosok Pemimpin Perempuan di Selandia Baru

Menyinggung soal kuatnya posisi perempuan di parlemen Selandia Baru, tentu saja tak bisa dilepaskan dari sosok berpengaruh pemimpin Selandia Baru saat ini. Sejak kesuksesan dalam menangani kasus Covid-19, Jacinda Ardern, perdana menteri Selandia Baru yang didukung Labour Party (Partai Buruh) pun banyak disorot. 

Melansir laman labour.org.nz, Jacinda ini lahir pada 26 Juli 1980 di Hamilton. Dia tumbuh di wilayah rural Waikato, Selandia Baru. Latar belakang pendidikan Jacinda pernah bersekolah di Morrinsville College dan melanjutkan kuliahnya di Universitas Waikato. Dia mengambil jurusan sarjana Ilmu Komunikasi pada relasi internasional dan komunikasi profesional hingga lulus pada tahun 2001. 

Perempuan yang jadi perdana menteri termuda di Selandia Baru itu, pernah punya pengalaman di berbagai sektor dalam pemerintahan dan bisnis. 

Dikutip dari kids.britannica, dia pernah bekerja sebagai staf Perdana Menteri Helen Clark. Lalu, dia pergi ke Inggris kemudian bekerja pada kantor kabinet Tony Blair, yang merupakan Perdana Menteri Inggris tahun 2005. 

Tak berselang lama, Jacinda menjadi Presiden International Union of Socialist Youth dan menjadikannya bisa bepergian ke berbagai wilayah di dunia. Seperti, India, Lebanon, dan China. Hingga pada tahun 2008, dia kembali ke Selandia Baru dan menjadi anggota parlemen. 

Selama menjabat sebagai anggota Parlemen di Selandia Baru itu, Jacinda banyak berkontribusi pada gerakan kuat mendukung advokasi pada perempuan, anak, dan hak masyarakat. 

Saat berusia 37 tahun, Jacinda yang menjadi pemimpin Partai Buruh kemudian terpilih menjadi pemimpin Selandia Baru per 2017. Selang tiga tahun kemudian, dia kembali terpilih menjadi Perdana Menteri Selandia Baru untuk kedua kalinya. 

Tak hanya dinilai berhasil dalam kebijakan penanganan pandemi, Jacinda juga berperan penting dalam memberlakukan undang-undang senjata yang lebih ketat. Hal itu terjadi usai adanya pembunuhan terhadap puluhan jemaah muslim dan penembakan massal Christchurch. 

Satu yang menarik dari sosok Jacinda, dia pernah mendapatkan banyak perhatian karena pertama kali membawa bayinya saat menghadiri majelis umum PBB. Bayinya yang kala itu berusia tiga bulan, Neve Te Aroha, bahkan diajaknya bermain sesaat sebelum memberikan pidato di KTT perdamaian Nelson Mandela. 

Selama di New York itu, Jacinda juga terus menyusui bayinya selama enam hari perjalanan dinas. 

“Tidak ada aturan tetap yang akan dijalankan, hanya apakah dia cukup tidur atau tidak, kapan dia lapar. Mungkin saya dan Neve akan selalu bersama, tetapi bisa juga dia di hotel dan saya ada di sebuah pertemuan,” ujar Jacinda dilansir The Guardian.

Nurul Nur Azizah

Bertahun-tahun jadi jurnalis ekonomi-bisnis, kini sedang belajar mengikuti panggilan jiwanya terkait isu perempuan dan minoritas. Penyuka story telling dan dengerin suara hujan-kodok-jangkrik saat overthinking malam-malam.

Let's share!