Dulu Laki-laki, Sekarang Perempuan, Bisakah Aku Jadi Diriku Sendiri?: Cerita Transpuan

Namanya Hendrika Mayora. Banyak yang bicara di belakang dan mengatakan bahwa dulu Hendrika Mayora ini laki-laki, dan sekarang perempuan. Bisakah transpuan jadi dirinya sendiri?

Hendrika Mayora sering mendengar bisik-bisik orang yang bicara tentang tubuhnya. Dulu laki-laki, kog sekarang perempuan. Ia kerap mendengar bisik-bisik ini.

“Lihatlah biarawan yang dulu laki-laki itu, sekarang telah menjadi pengemis di Jogja,” demikian bisik tetangga di kampung 

Hendrika Mayora adalah seorang transpuan. Ia memutuskan untuk lari dari rumahnya karena tak tahan mendengar bisik-bisik yang hampir tiap hari menyerangnya. 

Waktu itu, Hendrika Mayora atau yang akrab dipanggil bunda Mayora akhirnya memutuskan meninggalkan biarawan atau tempat pelayanan Tuhan di Gereja Katolik karena ia perlu memutuskan suatu hal yang penting dalam hidupnya

Bunda Mayora kecil dibesarkan dengan ajaran Katolik dan keluarga orang Timur yang patriarki pada umumnya. Ia harus taat dengan aturannya dengan menjadi laki-laki maskulin. Dari kecil dibentuk oleh lingkungan, agama, sama seperti anak laki-laki yang lain, tapi dalam perjalanan Ia merasa berbeda. 

“Dari kecil orang selalu bertanya kenapa saya suka mainan perempuan, kenapa gerakan saya seperti perempuan,” ujar Bunda Mayora dalam diskusi Rekam Inspiratif Transpuan Di Indonesia oleh Perempuan Hari Ini yang diikuti Konde.co, Selasa (27/9).

Tidak ingin dianggap beda, Bunda Mayora kecil pun mengikuti apa yang orang-orang ‘inginkan’ dari seorang anak laki-laki. Laki-laki dikonstruksikan sebagai orang yang harus berani berantem, dirinya pun pernah berantem. Ia bahkan sempat mengikuti latihan bela diri dan belajar jurus-jurus karate. 

“Saya juga menunjukkan prestasi sejak kecil. Semua itu hanya untuk membuktikan bahwa saya laki-laki,” tambahnya. 

Namun ternyata, Ia tak bisa memungkiri dirinya. Meski dia sudah berupaya berjuang “menjadi seperti laki-laki”. 

Saat dalam perjalanan hidup mencari jati dirinya sendiri di sela pilihannya menjadi biarawan saat itu, Bunda Mayora meyakini penuh bahwa yang terjadi pada dirinya ini adalah bagian dari rahmat pemberian Tuhan. 

“Ketika saya coming in menerima diri saya, menghargai tubuhku, kewariaanku, aku berkata, Tuhan terimakasih aku menjadi trans dan itu tidak salah.” 

Lalu ia meninggalkan kampung halamannya untuk memulai hidup menjadi dirinya sendiri. 

Pergi dari Rumah, Mencari Jati Diri

Saat usia 32 tahun, dia lari dari rumah ke Jogja menjadi pengamen, Satpol PP menangkapnya. Ia menerima perlakuan ketidakadilan dari masyarakat yang melihatnya dari Timur, seorang transpuan, tidak ada pekerjaan formal. 

“Saya mengalami down dari segi ekonomi, namun saya bersyukur karena saya bahagia menjadi diri sendiri walau harus lelah ngamen keliling kota. Di tengah perjuangan itu Tuhan mengajarkan aku untuk mengontrol emosi dan menguasai diri sendiri dari proses ketranspuananku,” kisahnya. 

Ketika kembali ke keluarganya, Bunda Mayora bercerita semua orang stres dan menertawainya saat dirinya kembali ke Maumere. Untungnya, kala itu dia sudah bisa memanajemen dirinya sendiri. Dia tidak marah dan justru menunjukkan kebaikan. 

Dia kemudian mulai membangun perspektif orang-orang di sekelilingnya terhadap dirinya. Dimulai dengan menjadi relawan di gereja, membantu ibu-ibu di desa, sampai memasak di dapur.

“Sebagai waria saya menunjukkan kepada mereka bahwa saya bisa mengerjakan apa saja. Akhirnya keluarga saya melihat itu dan sadar.” 

Setelah berhasil mendapatkan penerimaan, Bunda Mayora pun mengumpulkan teman-teman waria. Ia mulai membangun ruang-ruang perjumpaan dengan teman-teman waria di sana. Mereka pergi ke gereja bersama, yang dulu lama sekali mereka tidak mau pergi gereja karena ragu, tapi dia bisa yakinkan mereka bahwa tidak ada yang salah dari keberadaan kita di hadapan Tuhan. Akhirnya mereka pun bisa menerima dirinya. 

Bunda Mayora beserta teman-teman waria terjun membangun support system untuk lansia dan disabilitas, akhirnya masyarakat melihat kami sebagai manusia berkualitas. 

“Saya ikut pemilihan BPD (Badan Permusyawaratan Desa) di daerah saya, dan saya terpilih. Sebagai transpuan saya hadir di ruang publik dan dapat menyuarakan kelompok rentan, seperti petani misalnya, mereka juga termasuk kelompok rentan. dan puji Tuhan masyarakat akhirnya menerima kita,” katanya.

‘Keluarga Saya Harmonis, Tak Ada Trauma’ 

Keenan Abraham yang akrab dipanggil Ungek menjelaskan proses penerimaan diri menjadi transpuan adalah proses yang sangat kompleks dan majemuk. Bisa dibilang, dirinya juga mematahkan anggapan bahwa identitas dan orientasi seksual “non-normatif” selalu diidentikkan dengan kondisi keluarga yang tak harmonis atau trauma tertentu. 

“Saya masuk menjadi anggota Cangkang Queer, kami berdiskusi, berdebat, dari situ saya berproses dan menelusuri bahwa saya seperti ini tidak bisa menyalahkan tubuh saya, tidak bisa menyalahkan keluarga saya, karena toh keluarga saya harmonis, tidak ada trauma apapun yang membuat saya seperti ini,” ujar Ungek. 

Ungek berlatar belakang dari keluarga yang begitu fundamentalis. Orang tuanya merupakan tokoh agama dan masyarakat di lingkungannya. Mereka juga dikenal sebagai keluarga yang harmonis dan bahagia. 

Pada saat SMP, Ungek merasa dirinya sangat “berbeda”. Rasanya saat itu sangat menyakitkan baginya. Fase itu dirinya masih menolak apa yang Ia rasakan (denial).

“Sampai saya mencoba bunuh diri 3 kali, minum obat, menjatuhkan diri ke sungai, dan menjatuhkan diri dari lantai dua. Fase itu saya marah dan denial, lalu saya memutuskan mondok selama 2 tahun. Namun tidak ada perubahan apa-apa. Lalu saya keluar pondok dan masih terus bergumul dengan diri sendiri meyakinkan diri bahwa saya tidak berbeda,” lanjutnya. 

Pada saat itu, Ungek menyadari bahwa sebagai transpuan merupakan bagian yang sulit untuk berada di tengah masyarakat. Dia tidak tahu harus bercerita ke siapa. Pun saat menjalani kesehariannya sebagai transpuan di lingkungan sosial masyarakat. Stigmatisasi, diskriminasi dan persekusi tentu saja rentan dialami. 

“Tidak ada yang mengadvokasi kami saat ditangkap Satpol PP, misalnya. Lalu kami membentuk Petrasu, komunitas sebagai rumah aman buat kami,” katanya.  

Atas semua proses yang dia telah alami, Ungek kemudian berpesan bahwa kepada siapapun yang juga mengalami hal sama dengannya: merasakan hal ‘berbeda’. Hal itu valid. 

“Tapi jangan dipendam sendiri, karena ketika merasa sendirian, akan memunculkan perasaan bingung yang akan mengakibatkan mencelakakan diri sendiri. Terima dulu tubuhnya, setelah itu baru jika teman-teman mau coming out silahkan” tambahnya. 

Seperti halnya Ungek, Cut Shofie dari Tarena juga mengalami hal serupa. Namun perjuangannya menjadi transpuan di Aceh, rasanya berat sekali. Tekanan sosialnya kencang. 

“Mau beli makan malam keluar saja kita takut dicemooh, takut ditangkap Satpol PP,” katanya. 

Shofie pun bercerita, Satpol PP pernah menggedor pintunya pukul 2 dini hari. Ia sempat mempertanyakan dasar hukum polisi menggedor pintunya. Dan kemudian Ia tahu, Satpol PP itu tak punya dasar. Sebab setelah ditelusuri oleh teman-temannya di Lembaga Bantuan Hukum, Satpol PP itu ternyata asal saja menggunakan peraturan tentang kendaraan bermotor saat menggedor kediamannya.

Jelaslah itu bentuk intimidasi dan diskriminasi terhadap diri Shofie, yang memiliki ragam gender dan seksualitas yang dimarginalkan. 

Sementara dalam proses di internal keluarganya, Shofie bercerita, keluarganya pada awalnya memang menolak. Namun seiring waktu, keluarga intinya sudah bisa menerima.

“Orang tua saya berkata yang penting tidak maling, tidak mengganggu orang. Mereka bilang, walau apapun aku tetap anaknya,” ucapnya. 

Mengenai proses penerimaan di keluarga, Shofie berpesan “Beri waktu keluarga kalian untuk berproses karena wajar saja keluarga itu shock menerima perubahan kita.”

Mengenai stigma transpuan yang salah, Shofie juga menjelaskan bahwa banyaknya orang yang berpikir bahwa transpuan harus feminin, mengerjakan peran domestik, dan lainnya. Tapi, sebetulnya tidak begitu. Transpuan juga bisa melakukan pekerjaan yang dianggap berat dan maskulin juga. Seperti, mencangkul. 

“Kalian tidak harus berdandan atau berambut panjang untuk diakui, menjadi transpuan itu tidak seperti yang kalian lihat selama ini. Aku tidak akan bisa menjadi Luna Maya atau Pevita Pearce sampai kapanpun, aku ya aku. Yang penting itu bukan menjadi cantik tapi bagaimana kalian memiliki tubuh yang merdeka, punya kebaikan, jangan membandingkan dirimu dengan yang lain,” kata Shofie.  

Lusty Malau founder Perempuan Hari Ini menyelenggarakan diskusi publik kali ini dengan tujuan menunjukkan transpuan dari luar pulau Jawa tidak kalah banyak menginspirasi. Diskusi ini juga diharapkan bisa menjembatani relasi dengan teman-teman transpuan di manapun berada.  

“Karena masih banyak di antara kita yang menganggap transpuan bukan bagian dari kita,” Ujar Lusty.

Ika Ariyani

Aktivis Arek Feminis, Surabaya

Let's share!