Era Baru Film ‘Black Panther Wakanda Forever’: Feminisme Superhero Perempuan

Film “Black Panther Wakanda Forever” disebut-sebut sebagai film era baru black panther yang menggambarkan superhero perempuan. Film ini membuktikan bahwa bukan cuma laki-laki yang bisa jadi pemimpin di Wakanda, tapi juga perempuan.

Jika di film Black Panther sebelumnya selalu menonjolkan pemimpin laki-laki, kali ini Black Panther menghadirkan kegigihan para pemimpin perempuan

Marketwatch.com dalam ulasannya menulis, film Black Panther Wakanda Forever ini telah menghapus salah satu narasi palsu yang sering diabadikan oleh Hollywood yang mengatakan bahwa film yang dibintangi laki-laki kulit putih akan selalu laku, dan film yang dibintangi perempuan yang bukan orang kulit putih, akan kehilangan ceruk uangnya. Ini juga menghancurkan kesombongan yang telah lama dipegang selama 15 tahun terakhir, yang menempatkan laki-laki sebagai pusat dari semua cerita pahlawan super.

Film Black Panther: Wakanda Forever bercerita tentang pahlawan-pahlawan super perempuan. Film yang baru saja dirilis minggu lalu,bercerita soal kondisi bangsa Wakanda setelah satu tahun meninggalnya T’Challa, pemimpin mereka.

Film ini dimulai dengan dunia luar yang mulai mencoba merebut vibranium dari Wakanda. Mereka menilai bangsa Wakanda menjadi lemah karena Black Panther telah tiada.

Jadi film ini secara garis besar mengisahkan tentang Wakanda yang baru saja kehilangan sosok raja T’Challa atau Black Panther yang harus mendapatkan tantangan dari orang-orang yang ingin merampas vibranium.

Percobaan serangan kepada Wakanda ini akibat dari anggapan bahwa bangsa Wakanda sudah pasti lemah pertahanannya sejak kepergian T’Challa sebagai pemimpin laki-laki atau sebagai simbol pelindung Wakanda.

Kondisi ini membuat berang Ratu Ramonda. Sambil membawa serta tawanan yang berhasil dilumpuhkannya dengan mudah oleh prajurit-prajurit perempuan Wakanda, di hadapan peserta Sidang PBB, Ratu Ramonda membuktikan bahwa dugaan jika Wakanda rapuh tanpa pemimpin laki-laki, adalah salah besar. Sistem militer dan pertahanan Wakanda masih tidak mudah tersentuh.

Kehadiran film Black Panther: Wakanda Forever ditunggu-tunggu karena cukup membuat penasaran, bagaimana jalan cerita sejak Chadwick Boseman cast Black Panther di Wakanda pertama meninggal dunia pada Agustus 2020. Superhero yang terlanjur melekat pada sosok Chadwick Boseman ini telah mencuri hati penggemar Marvel.

Namun absennya kehadiran superhero pada film sekuel Wakanda ini tidak menyurutkan penonton setia Marvel untuk mengikuti bagaimana kelanjutan nasib bangsa Wakanda setelah kepergian rajanya. Artinya, film ini tidak bertumpu pada satu sosok superhero laki-laki, namun juga mencakup keseluruhan karakter lainnya yang sama kuatnya, seperti Shuri, Nakia, dan Okoye, termasuk keunikan cerita tentang negeri Wakanda itu sendiri.

Beberapa pemain seperti Letitia Wright berperan sebagai Shuri Letitia Wright. Shuri merupakan adik kandung dari T’Challa (Chadwick Boseman). Lalu Angela Bassett sebagai Ramonda. Ramonda adalah Ratu Wakanda sekaligus ibu dari T’Challa dan Shuri. Danai Gurira sebagai Okoye. Okoye adalah pemimpin Dora Milaje, pasukan militer yang siap bertarung mempertahankan Wakanda.

Di film ini juga muncul tokoh baru dalam sekuel ini yaitu Namor, pemimpin bangsa Talocan yang tiba-tiba muncul di hadapan Ratu Ramonda dan Shuri. Belakangan diketahui Talocan memiliki hal yang sama dengan Wakanda, yaitu sama-sama memiliki vibranium. Talocan yang khawatir vibraniumnya direbut dan disalahgunakan, mengajak Wakanda untuk bekerjasama.

Bangsa Talocan merupakan orang dengan ras berbeda dengan Wakanda. Mereka diceritakan sebagai orang Mesoamerika yang tinggal di laut negara Meksiko. Bangsa Talocan menjadi manusia yang bisa hidup di dalam air sejak tetua mereka mencari cara untuk terhindar dari epidemi yang diperkirakan adalah penyakit cacar yang ada di zaman penjajahan Spanyol. Mereka harus meminum sari tumbuhan biru langka yang menyebabkan fisik mereka berubah sehingga berpindah hidup ke laut.

Talocan kemudian membangun peradaban baru di kerajaan bawah laut, yang disembunyikan dari manusia selama ribuan tahun. Suatu kejadian menyebabkan Shuri putri kerajaan Wakanda, terpaksa ikut Namor ke kerajaannya di bawah laut.

Di situ Namor mengajak Shuri untuk memerangi bangsa-bangsa di dunia permukaan. Namor membenci manusia di daratan sejak melihat langsung bagaimana perbudakan dan kekejian kepada sesama manusia.

Walau sudah hidup lama selama ratusan tahun, namun Namor tidak kunjung menjadi pribadi yang dewasa dan masih ingin memerangi manusia-manusia daratan yang dianggapnya jahat ditambah Ia melihat sendiri orang-orang Amerika yang ingin menguasai vibranium di wilayahnya.

Shuri yang tak kunjung pulang dari bawah laut membuat Ramonda, ibunya khawatir dan meminta bantuan Nakia yang telah bekerja dan tinggal di luar Wakanda untuk menjemput Shuri.

Yang paling menarik adalah tokoh Nakia. Lupita Nyong’o berperan sebagai Nakia Nakia adalah mantan kekasih T’Challa yang sudah muncul dari film pertamanya. Sosok perempuan bebas namun selalu bisa diandalkan saat keadaan genting. Nakia digambarkan cerdas dan kuat memilih hidup di luar Wakanda walau negaranya itu merupakan negara terkuat dan maju di dunia.

Meskipun ia adalah kekasih raja T’Challa yang dengan mudah dapat memberinya jaminan tahta, namun ia tidak tertarik dan memilih jalan hidupnya sendiri. Nakia memperjuangkan apa yang menjadi keyakinan dan panggilannya, tanpa melepaskan jiwa pelindungnya terhadap keluarga dan bangsanya.

Sebagian besar film ini banyak menggambarkan peperangan batin dan emosional, terutama pada sosok Shuri, sang adik yang memiliki hubungan sangat dekat dengan kakak laki-lakinya, T’Challa. Relasi abang adik ini mungkin jarang dibahas dalam hubungan antar keluarga. Shuri besar dengan kasih sayang dan dukungan dari abangnya T’Challa yang selalu melibatkannya sebagai partner dalam perjuangan Black Panther tanpa meremehkan posisi Shuri sebagai adik. Ia sangat terpukul dengan kematian T’Challa. Shuri lalu menunjukkan kemampuan beraktingnya yang emosional, sisi lain dari kepribadiannya yang ceria dan selalu asyik dengan proyek-proyek teknologinya.

Perjalanan kedewasaan Shuri dari seorang remaja Princess Wakanda yang polos, menjadi sosok yang berbeda, ditunjukkan penuh haru dalam dialognya dengan M’Baku saat pemimpin suku Jabari itu mendatanginya.

“Kenapa kamu meminta nasehat dari aku yang seorang anak kecil?,” lalu M’Baku menjawab, “Dunia ini telah mengambil segalanya darimu, oleh karena itu kau tak layak lagi disebut anak kecil.”

Shuri pun menyadari nilai dirinya untuk lepas dari keraguan tentang anggapan dirinya sendiri bahwa dia hanya seorang anak kecil yang kebingungan.

Beragamnya karakter perempuan dalam film ini menjadi kekuatan cerita yang disajikan sang sutradara, Ryan Coogler. Tanpa menunjukkan pemujaan yang berlebihan tentang sosok-sosok perempuan di film ini, Ryan membawa penonton untuk relate dengan sisi manusia biasa para tokohnya.

Maraknya penonjolan superhero perempuan cukup berhasil mengubah stigma bahwa perempuan bukan hanya berperan sebagai yang diselamatkan dalam film, namun berubah menjadi penyelamat.

Ika Ariyani

Aktivis Arek Feminis, Surabaya

Let's share!