Kenapa Sangat Minim Gambar Perempuan di Lembaran Uang Kertas Kita? Kebanyakan Gambar Laki-laki

Tahukah kamu mengapa sangat sedikit gambar perempuan di lembaran uang kertas kita, dan kebanyakan uang kertas kita dihiasi gambar laki-laki? Jawabannya karena minimnya jumlah pahlawan perempuan di Indonesia, ini yang membuat uang kertas kita selalu dihiasi gambar pahlawan laki-laki

Jadi mengapa hanya ada sedikit gambar perempuan di uang kertas?

Rupiah Indonesia memiliki denominasi 100.000, 50.000, 20.000, 10.000, 5.000, 2.000 dan 1.000, dan semua kecuali satu dihiasi dengan gambar pahlawan laki-laki. Satu-satunya perempuan yang tampil di uang kertas Indonesia, adalah dalam pecahan terkecil, 1000 rupiah, tidak berharga, kecuali sebagai uang receh, adalah Tjut Meutia (1870-1910). Dia adalah perempuan Aceh berani dan luar biasa, yang berjuang melawan penguasa kolonial Belanda, dinyatakan sebagai pahlawan nasional pada 2 Mei 1964.

Setiap tahun, sejak 1959, kita merayakan Hari Pahlawan pada 10 November. Saya menemukan tiga artikel pada hari itu, ditulis oleh perempuan. Dua tentang kelangkaan pahlawan perempuan, satu tentang bagaimana orang “menjadi” pahlawan. Yang terakhir oleh Bivitri Susanti, pakar hukum tata negara.

Artikel Bivitri, “Pahlawan dan Ruang Kewargaan” (Kompas, 10 November), menunjukkan bahwa “pahlawan” selalu ditentukan mereka yang berkuasa, oleh karena itu biasanya pemerintah yang memberikan gelar pahlawan, biasanya diambil dari dan oleh anggota elite.

Nyatanya, pahlawan sejati bukanlah produk pemerintah, bahkan seringkali tidak terlihat dan tidak dikenal. Berapa banyak dari kita yang memiliki pahlawan pribadi kita sendiri, yang tanpa pamrih melayani atau membantu kita dalam satu kejadian kritis, atau terus menerus sepanjang hidup kita?

“Pahlawan adalah orang-orang yang menyebarluaskan gagasan kemerdekaan pada saat membincangkan kemerdekaan dilarang”. Benang merahnya, menurut Bivitri,  mereka melawan untuk membela sesama, dalam rangka mempraktikkan peran kewargaan mereka dalam sebuah ruang kewargaan.

Dua tulisan lainnya adalah oleh Ika Ariyani, penulis di konde.co, sebuah publikasi online yang berfokus pada perempuan dan hak-hak minoritas, dan Anugerah Adriansyah, jurnalis Voice of America (VOA). Mereka mengatakan, ada 185 laki-laki, tapi hanya 15 pahlawan perempuan (8 persen) di Indonesia. Bagi Ika, ini bukti pengabaian perempuan dalam sejarah, dan kenyataan bahwa kriteria untuk mengidentifikasi pahlawan sangat maskulin.

Ika menulis, “hal ini menjadi sorotan tajam banyak kalangan, karena ini artinya yang dianggap berjasa di Indonesia selalu laki-laki…[…]  pahlawan mestinya dimaknai secara meluas dan inklusif, tidak terbatas pada ranah politik dan pertempuran bersenjata dalam merebut kemerdekaan dari tangan penjajah dan mempertahankannya…[tetapi juga]… perjuangan menghapus diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan serta pemenuhan hak-hak  dasarnya seperti hak atas pendidikan, penghapusan perkawinan anak, hak atas pengembangan diri, pekerjaan dan karir, hak atas berpartisipasi di bidang politik dan kepemimpinan, hak berorganisasi baik sejak masa klasik (era kerajaan),  masa penjajahan masa revolusi, reformasi hingga kini”.

Pada tahun 2021, Komnas Perempuan memperkenalkan profil pahlawan perempuan dari enam daerah dan sektor:  Lasminingrat  (literasi dan gerakan kemerdekaan, dari Sunda), Monia Laturina, (panglima perang melawan kolonial Belanda, dari Maluku), Boetet Satidjah (pendiri dan pemimpin redaksi Perempuan Bergerak, dari  Sumatera Utara); Setiati Surasto (pembelaan buruh perempuan, perempuan angkatan 65), Auw Tjoei Lan (pendiri yayasan anti-trafficking perempuan dan anak, etnis Tionghoa), dan  Tamu Rambu Margaretha (pembebasan budak, Sumba). Di tahun 2022, Komnas Perempuan menambahkan tiga  nama lagi.

Seperti yang dikatakan Veryanto Sitohang, komisioner Komnas Perempuan, keragaman geografis dan kekayaan budaya Nusantara menyimpan banyak sejarah  lokal yang memuat kisah perjuangan tokoh perempuan. “Daya lenting bersumber dari kearifan perempuan pada hidup dan kehidupan justru seringkali menjadi katalisator, bahkan pendobrak zaman, yang kemudian menciptakan budaya baru yang lebih adil dan setara”, tambahnya.

Terkadang ada kasus suami dan istri yang berjuang bersama, namun hanya sang suami yang mendapat status pahlawan. Demikian yang terjadi dengan Ki Hajar Dewantara (1889-1959), seorang aktivis gerakan kemerdekaan, politikus dan pelopor pendidikan pribumi Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Dia dinyatakan sebagai pahlawan nasional oleh presiden Sukarno pada tahun 1959, sementara istrinya, Raden Ajeng Sutartinah (1890-1971), yang berjuang sama kerasnya, bergandengan tangan dengan suaminya, nyaris hilang begitu saja dalam sejarah.

Bagi saya, Inggit Garnasih, istri kedua Soekarno, sangat perlu diakui secara resmi sebagai pahlawan. Mereka menikah pada tahun 1923, bercerai pada tahun 1942, dan dalam 19 tahun itu, Inggit membiayai studi Sukarno, serta mendukung perjuangannya untuk kemerdekaan tanpa mempertimbangkan risiko berat yang pasti menimpanya jika tertangkap. Membaca kisah hubungan mereka, saya percaya bahwa Sukarno tidak akan berhasil tanpa dukungan dan cinta serta pengabdian Inggit yang tak tergoyahkan kepada suaminya yang 15 tahun lebih muda daripadanya. Apakah Indonesia kemudian tidak akan memperoleh kemerdekaan tanpa dukungan Inggit? Mungkin masih, tapi bisa jadi tidak dengan Sukarno sebagai pemimpinnya.

Fakta bahwa galeri pahlawan di Indonesia sangat didominasi laki-laki memang mengejutkan, tetapi tidak mengherankan, mengingat betapa patriarkisnya perkembangan masyarakat Indonesia, sampai sekarang. Bukan tanpa alasan itu disebut his-tory (kisah lelaki), bukan  her-story (kisah perempuan), yang membuat tuntutan kaum feminis untuk sejarah Indonesia yang lebih setara gender dan inklusif semakin lantang dalam beberapa tahun terakhir ini.

Mengapa? Sejarah bisa menjadi cetak biru untuk masa kini dan masa depan. Itu sebabnya JJ Rizal, sejarawan, mendirikan Komunitas Bambu, pada 20 Mei 1998, di awal era Reformasi, sebuah penerbit yang berfokus pada buku-buku yang menghadirkan sejarah alternatif. Menurutnya, rezim Orde Baru yang otoriter didasarkan pada kebohongan sejarah, distorsi dan manipulasi. Penguasa Orba  berpegang terus pada versi sejarah distortif mereka selama 32 tahun, karena tanpa itu, mereka akan kehilangan legitimasinya.

Bahkan ada pihak-pihak yang masih hingga kini bersikukuh dengan tragedi 1965-66 versi Orde Baru, termasuk pemerintah. Padahal telah banyak digali bukti sejarah yang menunjukkan, versi mereka tentang peristiwa itu direkayasa habis-habisan.

Demikian juga halnya dengan sejarah, yang hampir seluruhnya didasarkan pada perspektif laki-laki. Ini menghasilkan otoritarianisme patriarki yang sulit dihilangkan. Beginilah ketimpangan gender terjadi, yang merupakan ketidakadilan terbesar di abad ke-21, sebagaimana kolonialisme dan rasisme di masa lalu, dan bahkan kedua praktik ini  juga masih ada dalam bentuk baru.

Di Inggris, sosok perempuan dalam mata uang cukup mendominasi, tentu saja karena kehadiran Ratu Elizabeth II yang gambarnya tampil bukan hanya di mata uang Inggris, tetapi juga di mata uang negara-negara Persemakmuran. Namun secara global, gambar perempuan di mata uang masih jauh lebih sedikit dibandingkan laki-laki yang  secara umum konsisten dengan representasi perempuan dalam posisi kekuasaan dan media.

Menurut Advisa, perusahaan Swedia konsultan bunga investasi,  yang menganalisis 1,006 mata uang  internasional masa kini, hanya 15 persen menggunakan gambar perempuan, dan 59 perempuan yang bernama pada uang kertas paling berharga di dunia. Selebihnya anonim seperti misalnya petani pemetik kapas di Angola, ilmuwan di Kanada dan sekelompok penari di Indonesia.

Inggris membuat terobosan di 23 Juni 2021, ketika mereka menampilkan gambar Alan Turing (1912-1954),  seorang ahli matematika dan perintis ilmu komputer, yang membantu Sekutu memenangkan Perang Dunia II dengan kehebatannya memecahkan kode Jerman, musuh ketika itu. Mengapa terobosan? Karena ia pria gay.

Para sejarawan memuji Turing karena mempersingkat Perang Dunia II sekitar dua tahun dan menyelamatkan jutaan nyawa. Selain itu, menurut Andrew Bailey, gubernur Bank of England, dalam sambutan peluncuran mata uang pecahan 50 pound sterling dengan gambar Turing tersebut, , karya Turing dalam komputasi dan kecerdasan buatan “telah berdampak besar pada cara kita semua hidup hari ini.”

Namun ironisnya, semua jasanya ini tidak mampu menyelamatkannya dari persekusi karena pada jamannya homoseksual adalah tindak criminal. Pada tahun 1952 ia ditangkap, diadili, dinyatakan bersalah,  dan dihukum. Ketimbang dipenjara, ia menerima dikastrasi secara kimiawi, dan izin keamanannyapun ditarik. Dua tahun kemudian, ia meninggal konon karena bunuh diri tapi teman-teman dan ahli biografi mengatakan kematiannya adalah akibat kecelakaan. Sungguh ironis, bahwa jasanya belum cukup menyelamatkannya dari perlakuan mengerikan yang ia alami, tambah Bailey.

Meski Tindakan homoseksual sudah didekriminalisasi pada tahun 1967 di Inggris, baru pada tahun 2013, Turing mendapat pengampunan secara anumerta dari Ratu Inggris akibat kampanye tahunan dari para pembelanya. Di tahun 2021 ini, “Dengan menampilkan gambarnya pada uang kertas £50 yang baru ini, kami merayakan pencapaiannya, dan nilai-nilai yang dia simbolkan, yang membuat kita semua sangat bangga,” Bailey menutup sambutannya.

Apakah ini mungkin terjadi di Indonesia yang masih sangat homofobik? Dan apakah kita memiliki pahlawan LGBTIQ? Ternyata ada. Panggilannya “Si Putih” – ia adalah waria, berjenis kelamin perempuan, berpenampilan pria, yang membantu Jendral Sudirman menjadi penunjuk jalan rombongan gerilyanya pada Januari 1949. Akibat dipandu selama dua hari dari desa Gunungtukul ke desa Ngideng, pasukan Jenderal Sudirman selamat dari ancaman pasukan Belanda yang menguasai wilayah tersebut. Hal ini diceritakan di dalam buku Soedirman, Prajurit TNI Teladan yang disitir oleh Hendri Isnaeni di dalam tulisannya di majalah Historia (9 Juni 2015).

Memang jasa Si Putih tidak sebesar Turing, namun jika Indonesia memiliki seorang Turing, apakah akan menampilkannya di dalam mata uang rupiah? Wallahualam, tampaknya masih mustahil di suasana diskriminatif terhadap LGBTIQ yang masih mendominasi budaya Indonesia.

Di Perancis, Jeanne d’Arc (1412 – 1431, Joan of Arc dalam Bahasa Inggris https://id.wikipedia.org/wiki/Jeanne_d%27Arc), pahlawan Perancis, yang memimpin pasukan Perancis sehingga mengalahkan pasukan Inggris pada peperangan 100 Tahun, ditampilkan gambarnya di mata uang Euro pada tahun 2015. Iapun dianggap sebagai pahlawan cross-dresser (seseorang yang berdandan dengan pakaian lawan jenisnya) karena seperti “Si Putih”,  ia perempuan yang  berpakaian pria.  Ia dihukum mati karena dituduh bi’dah pada 30 Mei 1431, namun kemudian pada tahun 1456  diadili ulang dan dinyatakan tidak bersalah secara anumerta. Pada tanggal 16 Mei, 1920, Joan dinyatakan sebagai orang suci oleh Paus Benedict XV dan oleh parlemen Perancis Juni 24 tahun itu juga, dinyatakan festival nasional untuk menghormatinya. Maka status Joan sebagai pahlawan nasional terkukuhkan.


Baru-baru ini saya berbincang dengan Fahmi Wibawa, direktur eksekutif Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang baru dilantik awal November – sosok yang dinamis dan inovatif – tentang rencana saya untuk pusat gender LP3ES yang saya pimpin. Rencananya antara lain akan menghasilkan buku-buku sejarah yang berperspektif gender, termasuk sejarah gerakan perempuan, serta sejarah Indonesia dari perspektif feminis.

Dia bertanya, “Anda berbicara tentang masa lalu, bagaimana dengan masa kini?” Sebenarnya keduanya tak terpisahkan, dan saya memang berencana mengembangkan program penyadaran dan pemberdayaan gender baik secara eksternal maupun internal. Setelah 50 tahun tidak ada perempuan dalam posisi pengambilan keputusan, ataupun perspektif gender, LP3ES perlu pelan-pelan mengubah pola pikir mereka, agar bisa konsekuen dan tersambung kata dan perbuatan. Pembongkaran sejarah his-tory  krusial untuk menciptakan terobosan  sekat-sekat usang, demi masa kini dan masa depan.

Anne Hathaway, aktris tenar Hollywood dan Duta Muhibah Perempuan (Women Goodwill Ambassador) PBB baru-baru ini berbicara di KTT Kelompok 20 di Bali. Dia mengimbau komunitas bisnis untuk bertindak agar perempuan dapat ditempatkan di jantung pertumbuhan ekonomi. Hal ini juga berlaku secara umum untuk kemajuan masyarakat. Saat ini, terdapat apartheid gender yang perlu dihapuskan. Afrika Selatan sudah menghapus apartheid, kok Indonesia dan dunia belum?

Ketika hal ini telah dilakukan, mungkin kita akan memiliki lebih banyak gambar pahlawan perempuan di uang kertas Indonesia yang menandakan perubahan currency  (yang bisa berarti “mata uang” tetapi juga kebiasaan yang lazim dipakai) dengan lebih dari satu cara.

(Tulisan sudah dimuat di The Jakarta Post pada 16 November 2022 dalam bahasa Inggris, dimuat kembali dengan editing dan penambahan data)

(Foto: UnO Oeang Noesantara)

Julia Suryakusuma

Direktur Pusat Gender dan Inklusi Sosial, Lembaga Penelitian, Informasi dan Publikasi Sosial dan Ekonomi (LP3ES)

Let's share!