‘Dasar, Monyet!’: Sudah Kerja Keras, Masih Dimaki Majikan. Tini Jadi PRT Demi Bayar Utang

Seorang Pekerja Rumah Tangga (PRT) sebut saja namanya Tini, bercerita pada saya bagaimana majikannya tak pernah memberinya makan. Selain itu Tini juga mendapat perkataan/umpatan kasar seperti: dasar monyet, dasar babu, goblok. Tini bertahan bekerja di sana demi untuk bisa bayar utang.

Awalnya Tini bekerja pada majikan yang memperlakukannya secara baik. Namun keluarga itu bercerai, sehingga Tini mau tak mau harus keluar dari pekerjaannya.

Beberapa tahun kemudian, mantan majikan Tini itu meneleponnya agar Tini mau menemani orang tua majikan. Di majikan baru ini Tini sering mendapatkan perlakuan tak manusiawi.

Sebut saja Tini (bukan nama sebenarnya). Ia sering curhat, mencurahkan isi hati tentang suka duka dalam menjalani hari – harinya di rumah Pemberi kerja/Majikan, baik saat bertemu ataupun lewat telepon. Saat saya ajak dia menuliskan kisahnya, dia menjawab, “Menulis bagaimana? saya tidak bisa menulis. Tapi kalau disuruh cerita, ngomong saya lancar.”

Jadi malam itu lewat telepon, Tini menceritakan pengalamannya kepada saya agar kisah dan pengalamannya di tempat kerja yang sekarang dituliskan.

Saat ini, Tini berusia 53 tahun. Tini bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) saat masih usia 13 tahun. Mengawali pekerjaan sebagai PRT masih di lingkup wilayah tinggalnya, Jakarta. Kemudian setelah menikah dengan laki – laki pilihannya dan punya anak 2, Tini dan suami memutuskan hijrah – pindah ke Yogyakarta. Suaminya dulu jadi satpam di salah satu keluarga kaya di Yogyakarta.

Dan di Yogyakarta, Tini memutuskan untuk kembali bekerja sebagai PRT. Kebetulan ada Pemberi Kerja atau majikan yang baik. Ia mengizinkan suami Tini juga tinggal di rumah Majikannya. Tini sebagai PRT juga tinggal di rumah Majikan.

Sebagai PRT, Tini bertugas mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga majikan serta mengasuh kedua anak majikannya. Tini menjalaninya dengan bahagia, karena sang majikan tidak pernah protes atau marah dengan semua hasil pekerjaan Tini. Hingga suatu saat Tini dan suami yang sudah 10 tahun lebih bekerja di rumah itu, harus memutuskan keluar dari rumah majikan Tini dan mencari rumah kontrakan karena majikan bercerai.

Setelah pindah di rumah kontrakan, Tini mencoba mencari informasi lowongan pekerjaan sebagai PRT ke teman – teman PRT yang lain. Mencari yang tidak menginap. Beberapa kali Tini ganti majikan dengan berbagai alasan. Baik itu beban kerja banyak dan jam kerja panjang sedangkan gaji sangat kecil, gaji ditunda – tunda pembayarannya. Ada juga yang majikan sering marah – marah tanpa tahu penyebabnya. Dan masih banyak alasan lainnya.

Sekitar tahun 2014, Tini ditelepon mantan majikannya yang dulu bercerai. Isi pembicaraannya, bahwa sang mantan majikan meminta dirinya bekerja di rumah orang tuanya untuk  menemani ibunya yang tinggal sendiri. Dan diminta harus menginap. Setelah dibicarakan  dengan suami, anak – anaknya dan setuju, keesokan harinya Tini berangkat dan bekerja di majikan barunya itu yang ia sebut sebagai majikan sepuh.

Diceritakan, tahun pertama perlakuan majikannya itu sangat baik, termasuk saat minta izin pulang karena beberapa bulan tidak ketemu keluarga diperbolehkan. Yach! Tini kerja menginap dan tidak mendapat libur mingguan atau libur apapun. Apalagi ditambah membersihkan rumah yang luasnya 1 hektar.

“Tahu tidak, awal kerja katanya menemani ibunya, tapi menemani yang bagaimana? Menemani beliau ditambah mengerjakan seluruh pekerjaan rumah tangga, mulai dari mencuci, menggosok, mengepel, bersih – bersih rumah yang besarnya hampir 1 hektar,” candanya mengibaratkan sambil menghela nafas panjang.

Ternyata kerjaan tambahan itu yang justru paling banyak. Selain itu, setiap pagi ia bertugas untuk menemani majikannya jalan – jalan, membuatkan jus, menyiapkan makanan. Belum lagi kalau malam hari, Tini diminta menjaga telepon seluler majikan yang di charge dari jam 9 malam sampai penuh dan tidak boleh ditinggal tidur. Dan sampai baterai penuh butuh waktu paling tidak tiga jam, sehingga baru selesai pukul 12:00.

“Kalau ketahuan ketiduran maka majikan marah,” jelasnya dengan nada suara yang agak serak.

Tapi kadang kalau sudah terlalu capek dan ngantuk, meskipun belum full baterai nya, Tini mencabut charger-nya dan tidur. 

“Bayangkan saja, kalau harus menunggu full bisa sampai jam 12:00 malam,” gerutunya.

Ditanya jam berapa mulai kerja, disebutkan bangun tidur sekitar jam 5 pagi, bahkan kalau bulan Ramadhan pukul 03:00 dini hari sudah mulai kerja. Selesai makan sahur sudah mulai kerja dan istirahat ya kalau malam mau tidur sekitar jam 21:00. Itu pun kalau tidak ditugaskan menjaga HP yang di-charge.

Model majikan sepuh Tini itu kalau ada PRT yang longgar waktu sedikit saja langsung disuruh mengerjakan pekerjaan yang lainnya, jadi tidak ada kesempatan untuk istirahat. Makan pun sering telat.

Oh iya, Tini kalau makan harus membeli atau masak pakai uang saya sendiri, majikannya tidak menyediakan makan. Selain itu perkataan/umpatan kasar sering didengar, seperti anjing, monyet, dasar babu, goblok dan sejenisnya  banyak lagi. Dan ketika Tini melakukan pembelaan, majikan justru mengatakan: babu aja belagu, sok pintar, dah berani menjawab, dan lain-lain. 

Sebenarnya beberapa teman menyarankan Tini untuk keluar dari tempat majikannya itu dan mencari majikan lain. Mereka tidak tega mendengar perlakuan majikannya. Apalagi saat mendengar kalau upah Tini dibayar selalu mundur 1 minggu, dan kalau izin pulang, upah langsung dipotong.

Selama kurang lebih 8 tahun bekerja di sana, Tini juga belum pernah mendapat uang Tunjangan Hari Raya secara penuh sebesar upah bulanan. Namun Tini tidak bisa berbuat banyak, karena berbagai alasan, tidak enak dengan mantan majikannya yang sudah memperlakukannya dengan baik, dan  karena masih banyak utang di bank yang harus dibayar tiap bulan. Tini coba bertahan meskipun hati terasa sakit, jengkel, stres demi bisa membayar utang. Alasan ini yang membuatnya kuat.

“Besok kalau utang sudah lunas, saya akan segera pamit ke majikan sepuh untuk keluar dan mencari pekerjaan di tempat lain,” demikian Tini mengakhiri ceritanya.

(Ilustrasi/foto: Freepik)

KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisanTulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama Konde yang mendapat dukungan dari Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT).

Sargini

Aktif di SPRT Tunas Mulia

Let's share!