Perempuan Bukan Pussy: Bagaimana Menyelesaikan Perbedaan Pandangan dengan Pasanganmu

Kata pussy identik dengan vagina, dan kata burung identik dengan alat kelamin laki-laki. Laki-laki dan perempuan harus keluar dari kata eufemisme ini, jika kata-kata ini hanya digunakan untuk melecehkan keduanya.

Kata pussy dan burung yang diidentikkan dengan alat kelamin perempuan dan laki-laki, sering digunakan untuk melecehkan, untuk eufemisme atau sebutan yang disembunyikan atau dalam pertengkaran. Seperti yang terjadi pada pasangan ini.

Di balkon sebuah apartemen, pasangan laki-laki dan perempuan sedang bertengkar.

“I gave you everything! I gave you my heart. I gave you everything! I gave you all of this!” Seru si perempuan dengan sengit. Belum selesai terucap, sang laki-laki memotongnya dengan nada tinggi.

“You didn’t give me pussy! You didn’t give me pussy! I am a man, i need this! I need this!!!” Bentak sang laki-laki. 

Kata pussy dan i need this diulang sampai dua kali.

“I thought that we are agree to reach one year,” Perempuan itu membantahnya.

 “Agree for a pussy, agree for one year…J*#$%^&@!.” Sang laki-laki membentak dan pergi begitu saja.

“Corride,…after marriage Corride,” Jawab si perempuan masih dengan wajah shock.

“Is this all because of sex?,” Itu untaian kalimat terakhir perempuan itu lirih dan terlihat sedih.

Adegan itu tadi termuat pada sebuah meme reels di Instagram. Di kolom komentar bermunculan komen-komen, salah satunya berucap.

“Hey woman, give that man a cat!.” 

Komentar ini kemudian disambut tawa oleh komentar-komentar yang lain.

Kenapa pussy dijadikan bahan tertawaan? Apakah pussy ini semacam slang word untuk sesuatu yang tidak sopan?  Apa sih artinya pussy?

Kita selama ini mengenal sebutan pussy sebagai kependekan dari pussycat yang berarti kucing. Frase pus lalu diidentikkan dengan vagina yang dilakukan untuk melecehkan perempuan.

“Grab them by the pussy.” Ini adalah sebuah quote Donald Trump yang legendaris. Pernyataan yang kemudian menjadi skandal nasional Amerika di tahun 2016. Trump, presiden negara adidaya yang terkenal demokratis dan persamaan hak warganya. Bagaimana orang seperti ini bisa terpilih menjadi presiden?

Bagaimanapun kita manusia terlahir dari lubang vagina, apakah itu bayi laki-laki ataupun bayi perempuan. Dari yoni yang sering dipandang hina, penuh dosa dan sumber malapetaka, justru reproduksi manusia bermula. Sebuah pintu semesta dimana janin masih di dalam rahim hingga keluar menjadi jabang bayi. Manusia baru telah lahir. Jadi, jangan melecehkan vagina menjadi bahan olok-olol.

Relasi Pussy

Banyak opini menyebut, cara pandang laki-laki dan perempuan selalu berbeda dalam melihat sebuah relasi

Laki-laki selama ini identik menyukai perempuan dimulai dari unsur seks, kecantikan wajah dan kemolekan fisiknya. Sementara perempuan lebih  karena perasaan cinta, dilindungi, diayomi, ketenangan, kedamaian yang mereka alami. Laki-laki fokus pada seks, perempuan fokus pada cinta.

Laki-laki butuh bercinta terlebih dahulu agar bisa merasa intim, lebih dekat dan bisa mencintai lebih dalam. Sementara perempuan lebih butuh merasa nyaman, dicintai, merasa dekat, intim dan barulah bisa dikatakan siap dan mau untuk bercinta.

Walau kelompok feminis menyatakan bahwa ini semua bukan karena beda cara pandang dari mereka lahir, tapi dari konstruksi sosial yang mengubah cara pandang masing-masing yang menjadi berbeda. Padahal sejatinya, laki-laki dan perempuan punya kebutuhan yang sama, perempuan dan laki-laki sama-sama membutuhkan untuk dicintai, mencintai atau dilindungi. Jadi keduanya harus mengupayakan agar relasi apapun dilakukan secara setara, bukan relasi yang timpang yang selama ini dikonstruksikan seperti itu oleh masyarakat.

Bastet Sang Dewi Kesuburan

Dalam kepercayaan Mesir kuno, Dewi Bastet, digambarkan sebagai dewa berkepala kucing. Bangsa Mesir kuno sangat menyayangi anak-anak dalam keluarga, dan salah satu bangsa kuno yang memperlakukan anak laki-laki dan anak perempuan sama berharganya. Bastet dianggap sebagai dewi  kesuburan, karena mereka mengagumi banyaknya anak yang dapat dilahirkan oleh seekor kucing. Mereka juga mengagumi bagaimana kucing betina melindungi dan merawat anak-anaknya.

Sebagai dewi perlindungan dan kesuburan, Bastet dianggap dapat menangkal sial, membawa keberuntungan dan menjaga kesuburan perempuan. Bastet mendudukkan sosok perempuan dan ibu dengan posisi yang tinggi.

Sosok Bastet yang berkepala kucing mengingatkan saya akan panggilan “pus”. Namun tentu saja bukan “pussy” sebagai bahasa misoginis seperti di atas.

Sejarah Digunakannya Kata Pussy

Rupanya telah terjadi pergeseran makna kata pus atau pussy yang awalnya berarti kucing, namun kemudian menjadi vagina. Ha? Vagina? Kok bisa?

Kata  pussy merupakan plesetan dari kata vagina. Sebutan ini identik dengan pelecehan, misoginis dan kasar. Mulai digunakan pada awal abad ke 19, yang kemudian ditujukan untuk meledek laki-laki yang penakut dan pengecut. Walaupun begitu, istilah pussy tetaplah sebutan yang kasar 

Rumit bukan? Bagaimana kedua proses yang saling bertolak belakang itu bisa berjalan selaras dan berakselerasi secara seimbang dan bersamaan? 

Laki-laki di atas tadi mungkin sudah berusaha sekuat tenaga memberikan kenyamanan dan kedamaian untuk perempuannya. Namun dia tak kunjung mendapatkan apa yang dibutuhkannya selama ini, mendapatkan pussy dari perempuannya. Begitu tak mendapatkannya, dia marah dan kecewa. “I am a man, i need this! I need this!”

Sementara  perempuannya, kecewa karena sudah memberikan segalanya, hati dan cintanya namun lai-laki tersebut masih saja memintanya untuk bercinta. Sementara menurut perempuan itu, mereka bisa melakukannya setelah menikah. Wajar jika akhirnya dia mempertanyakan apakah laki-laki tersebut benar-benar mencintainya ataukah hanya ingin bercinta saja dengannya. Pussy demanded.

Laki-laki bisa dengan mudah mengeksploitasi dan memanipulasi perempuan.  Salah satunya dengan memaksa perempuan untuk bercinta sebagai bukti bahwa perempuan itu memang mencintainya. Sementara muncul ketakutan dari perempuan bahwa laki-laki yang dicintainya akan meninggalkannya karena dia tidak bisa membuktikan bentuk cinta yang diminta si laki-laki. Seks.

Hubungan seks punya konsekuensi kehamilan pada perempuan. Sementara laki-laki bisa meninggalkan perempuan begitu saja tanpa harus bertanggung jawab pada anak yang dikandung  perempuan. 

Kondisi ini mesti dipahami setiap pasangan agar mereka keluar dari konstruksi sosial toksik yang selama ini membelenggu mereka. Karena sejatinya, yang membuat bertengkar adalah bukan perbedaan, tapi cara pandang yang menindas dan melecehkan yang lain.

(Ilustrasi/foto: Freepik)

Havamaira

Penulis cerpen & esai, ghostwriter, fotografer.

Let's share!