Puisi, Ruang Nyaman untuk Healing Kesehatan Mental

Puisi punya banyak arti. Ada yang menggunakan puisi sebagai media perjuangan, media penyalur ide dan gagasan, ada yang menjadikannya penyembuh kesehatan mental.

Tapi yang jelas, puisi adalah salah satu cara untuk mengekspresikan perasaan. Puisi merupakan ruang paling nyaman bagi para pecinta sastra, sekaligus untuk kesehatan mental.

Sastra memang termasuk ilmu yang sudah uzur, dikenal sebagai media penyembuhan mental yang sudah ditemukan sejak 300 SM lalu. Bahkan Aristoteles memaknai sastra dalam hal ini puisi, memiliki manfaat penyembuhan mengobati penyakit dan berdampak signifikan terhadap Kesehatan fisik dan mental.

Baru mulai awal tahun 1800-an, diperkenalkan puisi untuk terapi kepada pasien yang dirawat di Rumah Sakit, lalu mulai tahun 1928, apoteker yang juga penyair Eli Griefer membuat komunitas terapi puisi yang bertujuan untuk menyembuhkan banyak orang dari penyakit yang berkaitan dengan mental.

Mengutip  Journal of Poetry Therapy, Geri Giebel Chavis, seorang Profesor Universitas Catherine, Minnesota, Amerika Serikat dan juga Penulis buku ‘Puisi dan terapi cinta’ menemukan fakta bahwa kekuatan penyembuhan ekspresi kreatif dengan menulis pengakuan pikiran terdalam memungkinkan kita jujur pada diri sendiri sekaligus bisa meningkatkan kreativitas, ekspres dan harga diri.

Geri juga mengungkapkan, puisi yang dihasilkan dari penyair yang menulis dikala emosi dan berjuang untuk mendapatkan kejelasan dengan menulis kata per kata akan mendorong pergulatan pikiran dengan dorongan untuk kembali hidup jika mereka terdorong untuk mengakhiri hidup. Penulis puisi biasanya diberi kesadaran yang nyata tentang baik dan buruk, datang dan pergi, ada dan tiada. Mereka cenderung mengakui perasaan yang ada dalam diri, proses itu akan mempertemukan penyair dengan kejelasan yang diharapkan dan menuntunnya bergerak maju

Sebuah ruang nyaman bernama ‘Perempuan Puisi’ juga menemukan manfaat luar biasa dari menulis dan membacakan puisi. Mereka berdiri sejak 2016 berbasis di Bogor Jawa Barat dengan anggota yang tersebar di Jabodetabek dan beberapa anggota ada yang di luar pulau Jawa. Berbagai kegiatan, seperti kegiatan sosial kemasyarakatan, penyuluhan kesehatan mental hingga diskusi-diskusi berisi untuk menambah ilmu bersama.

Perwakilan dari Perempuan Puisi, Eka Ardhinie menyatakan, Perempuan Puisi bukan sekadar perkumpulan biasa, akan tetapi perkumpulan yang bergerak progresif menjadi penyembuh bagi anggotanya dan juga bermanfaat bagi lingkungan sosial.

”Kami berkolaborasi dengan siapapun bisa dengan Rumah Sakit, pemerintahan dan sektor lainnya,” ujarnya di Dinamis Caffe, Depok, Jawa Barat, Sabtu (27/8).

Eka tak menyangkal, Perempuan Puisi menjadi wadah penyembuh bagi anggotanya, terutama saat kondisi awal pandemi, kondisi saat itu memaksa semua orang berada di rumah.

”Saat itu, Perempuan Puisi secara aktif menjadi wadah penghibur, penyembuh dan juga penyemangat, kami saling support dan saling membantu meski hanya bisa bertemu secara online,” tutur  Dosen Sastra Inggris,  fakultas sastra dan budaya Universitas Gunadarma ini.

Selama 6 tahun bergerak, Perempuan Puisi secara rutin membuat berbagai macam workshop hingga gelaran besar.” Kami sudah kedua kalinya menghelat Festival Membaca Perempuan, yang membaca puisi boleh semua kalangan, dari anak-anak hingga dewasa,” Kata Eka.

Ritual Perempuan Puisi, diungkapkan Eka, tak cuma sekadar kumpul, biasanya Perempuan Puisi mengadakan diskusi untuk menambah ilmu terlebih dahulu, lalu secara bergantian kami membacakan berbagai jenis puisi, ada yang membuat karya puisi sendiri atau membacakan puisi karya penyair ternama. 

“Setiap kami membuat gelaran pertemuan, kami merasa energi kami tersulut kembali, puisi sudah menjadi bagian dari penyembuhan bagi kami,” jelasnya.

Keaktoran dalam Puisi

Tradisi berpuisi di Indonesia sebenarnya juga sangat kental,  budaya lisan masyarakat Indonesia sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari, hal ini membawa pengaruh terhadap pelisanan puisi lama di Indonesia.

Di Bali pagelaran puisi tradisional disebut dengan istilah ‘mabasan’ atau ‘masasakan’ artinya membaca puisi tradisional berjamaah dengan dinyanyikan atau dilisankan.

Lalu ada juga membaca puisi dengan gaya deklamasi menjadi favorit banyak penyair, salah seorang penyair yang sangat dikenal adalah WS. Rendra yang punya ciri khas ‘Pamflet’ dalam karya puisinya, Rendra menggunakan Pemilihan kata dalam puisi-puisi dalam karya WS. 

Atau gaya khas Sutardji Calzoum Bachri, ia cenderung menggunakan kata dan majas yang rumit yang dipenuhi dengan intrik. Biasanya memakai ungkapan yang blak-blakan, sederhana, tanpa menghiraukan diksi konvensional ataupun bunga-bunga bahasa. Biasanya mengungkapkan kritik pada kehidupan masyarakat, tetapi dengan cara yang lucu dan tak berusaha terlampau berat.

Aktor sekaligus Pelatih Teater Ucog Lubis mengakui eksistensi Perempuan Puisi ini tak bisa diremehkan.

”Mereka sangat aktif dan berkualitas, mereka mampu merespon banyak isu dengan baik, karya-karya para anggotanya tidak bisa diremehkan,” ujarnya saat didapuk sebagai pembicara Diskusi ‘Aktor dan Panggung’ Gelaran ke-35 Perempuan Puisi.

Soal kaitan puisi dengan keaktoran, menurut Ucog, dalam puisi juga harus menggunakan metode yang sama dengan sebuah pertunjukan teater, beberapa puisi juga ada yang mengandung monolog, duolog dan drama. “Puisi untuk dramatisasi tentu memiliki unsur dramatic, berupa dialog disamping unsur naratif dengan cerita,” katanya.

Dramatisasi puisi atau mendramakan puisi, menurut Ucog hakikatnya adalah mendialogkan puisi.

”Puisi yang bisa didramatisasikan adalah jenis puisi yang mengandung unsur drama, untuk menggambarkan kesedihan, kemarahan, bahagia dan perasaan lainnya,” jelasnya.

Keaktoran, tak kalah pentingnya dalam pertunjukan puisi, penyair perlu memberikan dramatisasi dalam menginterpretasikan isi puisi, untuk itu mutlak, seorang penyair juga harus menguasai keaktoran.

”WS.Rendra seorang penyair sekaligus aktor, dia menggunakan Teknik keaktoran untuk memberi emosi agar penonton memahami apa yang disampaikan di setiap puisi-puisinya,” pungkasnya.

Devi P. Wiharjo

Beberapa tahun jadi jurnalis, sempat menyerah jadi manusia kantoran, dan kembali menjadi jurnalis karena sadar menulis adalah separuh napas. Belajar isu perempuan karena selama ini jadi perempuan yang asing pada dunia perempuan, eksistensialis yang hobi melihat gerimis di sore hari.

Let's share!