Beban Ganda Bikin Perempuan Sulit Berkarir

Memberikan kesempatan bagi perempuan untuk dapat mengaktualisasikan diri tidak hanya akan berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga pada keluarga, tempat kerja, dan lingkungan sekitarnya. Namun agar dapat optimal berkarya, perempuan perlu support system dari lingkungan terdekat hingga negara.

Di era society 5.0 ini tampaknya sudah banyak perempuan yang memiliki kebebasan dan mampu bersaing di sektor profesional. Namun, hal tersebut tak menjadikan perempuan memiliki kebebasan penuh dalam aktualisasi diri.

Tetap tidak mudah bagi perempuan untuk dapat beraktivitas di luar rumah dengan leluasa, terlebih setelah menikah dan memiliki anak. Pasalnya, tanggung jawab domestik masih kerap dilekatkan hanya kepada perempuan, sehingga perempuan tetap memikul beban ganda untuk dapat berkarya dan berdaya di masyarakat. Meskipun tak dipungkiri, banyak juga perempuan-perempuan hebat yang mampu melakukannya dengan sangat baik.

Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) tahun 2021 menunjukkan angka partisipasi perempuan di industri kerja masih berada di angka 53%, jauh di bawah angka partisipasi laki-laki yang mencapai 82%.

Ketimpangan angka partisipasi kerja ini kemudian menimbulkan berbagai perilaku yang tak ramah gender di dunia kerja, seperti perempuan yang dianggap memiliki produktivitas rendah, peluang karier dan gaji yang lebih kecil dibanding laki-laki, hingga kekerasan dan pelecehan di tempat kerja.

Pada akhirnya, beban ganda dan lingkungan kerja yang tidak mendukung membuat banyak perempuan lebih memilih sektor informal untuk mengaktualisasikan diri dengan cara mengikuti kursus dan webinar daring, berbisnis, atau berkarya lewat komunitas-komunitas informal.

Kesempatan bagi perempuan untuk berkarier dan berkontribusi di masyarakat memang ada, tapi peluang perempuan untuk aktualisasi diri dan mengambil kesempatan itu masih terpasung.

Aktualisasi Diri

Aktualisasi diri adalah tentang bagaimana seseorang dapat memaksimalkan potensi yang ia miliki untuk melakukan atau menghasilkan sesuatu, termasuk mewujudkan mimpi, merdeka secara finansial, melakukan hal yang disenangi, serta mengembangkan potensi diri.

Kemampuan aktualisasi diri juga erat kaitannya dengan kesehatan mental. Seseorang yang dapat mengaktualisasikan diri secara maksimal cenderung memiliki gairah berkarya yang besar serta bersemangat dalam melakukan hal-hal yang disukainya sehingga berimplikasi kepada kesehatan mental yang baik. Sebaliknya, keterbatasan seseorang dalam mengoptimalkan potensi dirinya seringkali menjadikannya merasa tidak berdaya dan patah semangat.

Sayangnya, bagi perempuan Indonesia dengan stigma partiarki yang melekat erat, mewujudkan aktualisasi diri membutuhkan perjuangan.

Tidak sedikit perempuan yang harus mengubur mimpi, memendam bakat, atau mengalah agar orang lain – biasanya pasangannya – bisa berperan dan berkarya lebih dari dirinya. Kalau pun memiliki kesempatan, ada hal yang harus dikorbankan perempuan untuk melakukan hal tersebut, mulai dari rumah tangga, anak, urusan domestik lainnya, bahkan dirinya sendiri.

Perjalanan terjal yang harus dilewati untuk bisa berdaya dan berkarya menjadikan perempuan lebih rentan mengalami masalah psikologis dibandingkan laki-laki.

Pendidikan adalah kunci

Untuk dapat memaksimalkan potensi yang dimiliki dan menjadi berdaya, perempuan perlu mengenyam pendidikan setinggi-tingginya.

Di era digital ini, pendidikan tidak hanya diperoleh di bangku sekolah formal. Banyak opsi yang tersedia untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan, mulai dari sekolah daring, pendidikan jarak jauh, sampai berbagai platform kursus keterampilan dan kecakapan.

Pendidikan perempuan tidak hanya memberikan dampak bagi dirinya, namun juga bagi keluarga, komunitas, masyarakat, serta negara.

Secara ekonomi, perempuan berpendidikan akan mampu ikut memperkuat ekonomi dan menciptakan lapangan pekerjaan yang kontribusinya ditaksir mencapai US$12 triliun (Rp. 181.830 triliun) terhadap pertumbuham ekonomi global per tahunnya. Selain itu, investasi pendidikan perempuan juga akan berdampak pada rendahnya pernikahan usia dini serta menurunnya angka kematian ibu dan bayi akibat pernikahan dini.

Artinya, pendidikan bagi perempuan sesungguhnya bukan hanya sekadar aktualisasi diri mereka. Lebih dari itu, perempuan berpendidikan akan menghasilkan keluarga dan masyarakat yang sehat secara fisik dan mental.

Dengan mengenyam pendidikan yang layak, perempuan memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat, negara, dan dunia. Untuk itu, pendidikan bagi perempuan merupakan kunci untuk masa depan yang lebih baik.

Pentingnya kehadiran support system

Selain pendidikan, peran sistem pendukung (support system) juga diperlukan untuk memaksimalkan aktualisasi diri pada perempuan.

Seringkali hambatan aktualisasi diri perempuan datang dari lingkungan terdekat. Misalnya, orang tua yang tidak mengizinkan anak perempuannya sekolah lanjut, suami yang tidak mengizinkan istrinya untuk bekerja, atau ibu rumah tangga yang kehilangan kesempatan berkarier karena mengurus anak dan rumah.

Sebagian besar perempuan dewasa menghabiskan usia produktifnya untuk melakukan pekerjaan rumah tangga yang dilakukan berulang selama bertahun-tahun. Peluang untuk mengembangkan potensi, minat, dan bakat di usia tersebut mengecil karena kesibukan mengurus rumah dan anak.

Padahal, perempuan usia produktif bekerja juga merupakan usia produktif reproduksi. Implikasi dari hal tersebut adalah perempuan lantas sering dihadapkan pada realitas untuk memilih antara pekerjaan dan anak, seolah-olah perkara anak adalah sepenuhnya tanggung jawab ibu.

Terkait hal ini, perempuan perlu memiliki support system yang dapat turut menghapus stigma partiarki untuk mendukung optimalisasi pemberdayaan perempuan.

Bagi banyak laki-laki, masih tidak mudah untuk mengerjakan pekerjaan domestik seperti menyapu, memasak, cuci piring, serta merawat anak. Masih tidak mudah bagi kakek dan nenek melihat cucunya diasuh oleh asisten rumah tangga (ART) atau dititipkan di tempat penitipan anak, alih-alih dirawat oleh ibunya. Tidak pula mudah bagi ibu untuk mendelegasikan pekerjaan rumah dan berbagi peran demi kebahagiaan dirinya.

Stigma yang melekat sejak lama ini merupakan PR kita bersama untuk memperbaikinya. Upaya ini harus dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi.

Tidak hanya masyarakat dan lingkungan terdekat, pemerintah dan negara pun bisa menjadi support system bagi perempuan untuk bisa mengaktualisasikan dirinya.

Memastikan seluruh aturan dan kebijakan yang berlaku di Indonesia tidak bias gender dapat membuka ruang bagi perempuan untuk berkarya di luar rumah. Misalnya kebijakan terkait dengan upah dan peluang karier yang masih sering bias gender, atau mengawal adanya fasilitas ramah ibu dan anak di kantor, kampus, atau ruang publik lainnya.

Sudah banyak penelitian yang menunjukkan tentang bagaimana perempuan sangat rentan memikul beban ganda – bisa berkarya di luar rumah namun tetap dibebankan tanggung jawab domestik sepenuhya.

Memberikan kesempatan bagi perempuan untuk dapat mengaktualisasikan diri tidak hanya akan berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga pada keluarga, tempat kerja, dan lingkungan sekitarnya. Namun agar dapat optimal berkarya, perempuan perlu support system dari lingkungan terdekat hingga negara.

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Januari Pratama Nurratri Trisnaningtyas

Dosen, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jawa Timur

Let's share!