7 Film Perempuan Mengharukan Yang Bisa Kamu Tonton Akhir Pekan

Sebuah riset menyatakan, menyaksikan film yang mengharukan ternyata bagus untuk tubuh kita. Berikut ada 7 film perempuan yang mengharukan yang bisa jadi rekomendasi kamu di tengah waktu bersantai.

Sebenarnya aku bukan pecinta film sedih. Sebab, film sedih bikin nangis, dan menangis bikin aku sakit kepala dan merasa rentan. Walau begitu, suatu riset menyatakan sesekali menyaksikan film yang mengharukan ternyata bagus untuk tubuh kita. 

Salah satunya, jika menangis, kita secara otomatis melepas emosi negatif dari dalam tubuh.

Menonton film mengharukan dinilai dapat meningkatkan hormon endorfin dan toleransi seseorang terhadap rasa sakit. Film sedih tentu membuat kita menjadi sedih–bahkan sampai menangis. Namun, keterlibatan diri semu, bahwa kita terasa dekat dengan karakter dan kejadian yang ada di dalam film, malahan dapat meningkatkan kesenangan dalam menontonnya. Suatu paradoks. Ditambah lagi, menangis terkadang bikin kita mengalami katarsis (pelepasan emosi) sehingga emosi negatif yang selama ini ada bisa keluar begitu saja. 

Kalau senang dengan tontonan sedih atau sekadar butuh mengeluarkan emosi negatif, ini adalah 7 film rekomendasi mengharukan yang wajib kamu tonton! Paling tidak dapat menyentuh hati sedikit, sih.

  1. Unforgivable (2021)

Ruth (Sandra Bullock) diceritakan di film sebagai perempuan yang dianggap punya riwayat kriminal yang buruk. Ia pernah menembak seorang polisi karena Ruth dan adik perempuannya, Keith, hendak diusir dari rumah mereka sendiri. Polisi itu selama ini dikenal dengan “kebaikannya” sehingga apa yang dilakukan Ruth unforgivable. Publik begitu membencinya dan mengutuk perbuatannya. 

Alur kisah diceritakan setelah Ruth keluar dari penjara. Bagaimana ia mengalami berbagai diskriminasi kerja dan kekerasan di sekelilingnya sebagai seorang mantan narapidana. Namun, di luar segala ketidakadilan yang dialaminya, ada satu yang menjadi fokus Ruth: bertemu kembali dengan adiknya.

  1. Room (2015)

Joy (Brie Larson) adalah seorang perempuan korban penculikan dan pemerkosaan saat remaja. Ia dipaksa mengandung anak hasil hubungannya dengan pelaku. Selama bertahun-tahun, Joy membesarkan anaknya, Jack (Jacob Tremblay), di dalam suatu “rumah” sempit dengan satu jendela kecil yang menghadap langit. Ruangan ini menjadi satu-satunya dunia mereka selama ini. 

Rutinitas ini begitu depresif sampai suatu ketika sebuah ide gila tercetus di kepala Joy untuk bisa kabur. Film “Room” tidak berhenti hanya di waktu mereka bebas, tetapi berlanjut dengan kisah apa dampak dari eksposur dunia sesungguhnya yang muncul secara mendadak ke dalam hidup Jack. “Bebas” dan kembali ke rumahnya adalah kemauan Joy, tetapi berarti Jack harus memaknai ulang apa arti dunia sesungguhnya.

  1. The Lovely Bones (2009)

Berbeda dengan dua sebelumnya, film “The Lovely Bones” bergenre fantasi-drama. Menceritakan tentang Susie (Saoirse Ronan), seorang remaja yang dimutilasi oleh George–pembunuh serial paruh baya yang diyakini selalu menargetkan perempuan. Kisah ini diceritakan dari sudut pandang Susie yang sudah meninggal, rohnya bergentayangan mengitari lingkup tempat yang ia kenali. 

Walau dibuat dari pendekatan fiksi, cerita korban pembunuhan ini menggambarkan luka yang terasa nyata dan dekat di sekitar kita. Bagaimana mereka lagi-lagi adalah individu dengan berbagai mimpi dan harapan yang tidak dapat dicapai karena nyawanya terenggut. Film ini juga menunjukkan perspektif keluarga yang ditinggalkan oleh korban tanpa ucapan selamat tinggal terakhir, bagaimana mereka harus menerima kenyataan pahit itu selamanya.

  1. The Danish Girl (2015)

Menceritakan tentang pasangan suami istri seniman, Lili Elbe (Eddie Redmayne) dan Gerda Wegener (Alicia Vikander) di Kopenhagen, Denmark. Suatu hari, model perempuan yang biasanya dipekerjakan oleh Gerda untuk melukis tidak dapat hadir. Film ini mengambil latar belakang era 1920-an sehingga model diperlukan untuk menggambarkan lekukan dan bayangan yang realistis. Maka dari itu, Lili diminta Gerda untuk menggantikan sang model dan konflik dalam film ini muncul.

Lili digambarkan begitu menikmati pakaian feminin, ia mulai mengeksplorasi sendiri tata rias dan fashion yang kala itu perbuatannya masih dianggap tabu (sampai sekarang, sih). 

Berbagai konflik internal dan eksternal bermunculan terhadap keputusan yang diambil Lili. Namun, karakter Gerda di sini begitu bikin terenyuh. Dia menerima dan mendukung pilihan suaminya walau berarti Gerda harus merelakan Lili.

  1. The Theory of Everything (2014)

Lagi-lagi karakter Eddie Redmayne, nih, yang bikin menangis. Film ini diambil dari kisah nyata Stephen William Hawking, ahli fisika teoretis dan kosmologi terkenal yang tiba-tiba mengalami amyotrophic lateral sclerosis (ALS) pada usianya yang ke-21. 

Selama hidupnya, penyakit Hawking membuatnya lumpuh–tidak bisa berbicara dan selamanya di atas kursi roda. Stephen bertemu dengan Jane dan memutuskan untuk tetap menikah walau dokter telah mendiagnosis hidupnya tidak akan lewat dari dua tahun. Ternyata, Stephen hidup lebih lama dari itu. Meskipun, kehidupan rumah tangganya tidak berjalan sebaik yang dikira. 

  1. Corpse Bride (2005)

Seperti yang kusebut sebelumnya, aku bukan penggemar film sedih. Namun terkadang tidak sengaja menontonnya karena ceroboh tidak lihat sinopsis terlebih dahulu. Salah satunya adalah “Corpse Bride” yang kupikir menceritakan sebuah pernikahan dua mayat. Sebab wujud Victor (disuarakan oleh Johnny Depp) terlihat pucat pasi juga. 

Taunya, film ini menceritakan tentang Victor, seorang manusia yang tidak sengaja membuat perjanjian menikah dengan roh gentayangan perempuan, Emily (disuarakan oleh Helena Bonham Carter). 

Membaca sinopsis ini bisa saja akan membuatmu mengernyitkan dahi, another fantasy movie. Namun, aku yakin kamu akan menikmatinya! 

Pengembangan karakter Victor dan Emily di sini terasa baik di akhir cerita. Film ini juga tidak fokus pada cerita romantis menye, tetapi keharuan letting go for the good. Bonusnya, sehabis nonton film ini, aku sempat tidak takut di rumah sendirian karena melihat sosok Emily sebagai hantu yang digambarkan penuh antusias dan menggemaskan. Mungkin kamu juga bisa mengurangi ketakutanmu dengan hantu sehabis nonton film ini.

  1. The Shape of Water (2017)

Dari tujuh film yang ada, “The Shape of Water” satu-satunya yang kutonton dua kali dengan kesan yang berbeda. Kali pertama, saat di bangku SMA, aku tidak terlalu tertarik dengan ide bahwa seorang perempuan biasa berfantasi soal cinta dengan makhluk paduan manusia-hewan amfibi seperti film ini. Namun, saat kutonton kedua kalinya, ada kesan berbeda yang muncul. 

Film ini lebih dalam daripada itu, yang pastinya bukan seperti film serial “Twilight”–bagaimana seorang manusia biasa seperti Bella bisa tiba-tiba punya chemistry dengan vampir. Film yang disutradarai Guillermo del Toro ini menceritakan tentang Eliza Esposito (Sally Hawkins) seorang perempuan bisu pembersih kantor yang kesepian. Suatu kali, ia menemukan bahwa ada suatu makhluk amfibi yang dikurung dan disiksa di tempatnya bekerja. 

Saat Eliza mengembangkan ikatan unik dengan teman barunya itu, konflik pun dimulai. Saat seorang agen federal (diperankan Michael Shannon), beranggapan monster itu jahat dan harus dibunuh. 

Jadi, film mana, nih, yang akan menemanimu di akhir pekan?

Sumber gambar: Cultura Magazine

Fiona Wiputri

Mahasiswa semester akhir di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) yang kini menjadi reporter magang di Konde.co

Let's share!