Ibu dan anak

Dibully ‘Tak Jadi Ibu Baik’: Cerita Jurnalis Perempuan yang Terpaksa Merantau Jauh dari Anak 

Seorang perempuan di Kendari, Sulawesi Tenggara, bercerita soal lika-liku kisahnya harus bertugas merantau lintas provinsi jauh dari anaknya untuk menjadi jurnalis. Tak hanya menghadapi kerinduan di tengah beban kerja berat dan penuh risiko, dia masih juga dirundung atas pilihannya.

Aku sedang mengingat tahun-tahun saat diriku mulai memutuskan menjalani profesi sebagai jurnalis, kemudian juga sebagai ibu. Kala itu, aku harus berusaha keras untuk berjuang sebagai perantau di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, pada sekitar 2018. 

Sejauh ini, pekerjaan jurnalis tidak ‘membunuh’ karakterku, yang ingin terus tumbuh dan berdampak bagi banyak orang. Mendengarkan kisah narasumber soal perjalanan hidup yang berat, menjadi satu di antara pemantik semangatku terus berjuang.

Jadi jurnalis, artinya aku harus menyadari berhadapan dengan berbagai karakter manusia. Inilah yang terus membuat pengetahuan dan pengalamanku terasah. Aku terus mencoba untuk membekali diri. 

Belum lagi, pekerjaan jadi jurnalis itu seringkali penuh risiko dan ‘tak kenal waktu’. Aku menjalaninya dengan penuh semangat. Lagi pula, saat itu aku belum dalam status menikah dan punya anak, jadi aku bisa berfokus pada diriku. 

Seiring waktu, aku pun kini berada dalam fase yang berbeda. Aku sekarang adalah jurnalis yang juga seorang ibu dari sosok anak perempuan yang berusia 1 tahun 11 bulan. Namanya, Senja Timur Revolusi. 

Selanjutnya, tulisan sederhana ini akan menjadi hadiahku untuk Senja. Dia berulang tahun ke-2 pada 1 Agustus 2023 ini. 

Suka Duka Kehidupan Jadi Ibu

Usai tiga tahun merantau karena akan menikah, pertama kalinya aku pulang ke kampung halaman. Kepulanganku kala itu, sehari jelang pernikahan. Aku baru sempat pulang karena dikejar deadline dan target kerja. 

Aku hanya sempat libur dua hari. Setelah itu, aku langsung kembali bekerja setelah acara pernikahan. Dari rumah menuju tempat kerjaku, aku harus menempuh perjalanan dua hari yang melelahkan di lautan. 

Sehingga pikirku saat itu, aku bisa sedikit menikmati awal pernikahan di Makassar saja, yang adalah tempat aku bekerja. 

Selang beberapa bulan kemudian, ternyata Tuhan memberikan karunia ruh di dalam rahimku. Tepat usia 4 bulan kandungan, akupun antusias menyambut buah hati kami. Beberapa pilihan nama pun bahkan tertulis rapi dalam catatan kami. 

Namun ternyata, proses kehamilanku ‘tak serapi’ catatan nama bayi yang aku miliki. Ada perjuangan tak mudah yang harus aku lalui saat hamil dan menjadi jurnalis saat itu. 

Pernah suatu ketika, aku harus liputan sambil mengendarai motor dengan kondisi hamil besar. Aku pun, juga masih harus mengejar target menulis dan bertemu narasumber secara langsung. Jika dalam situasi lebih berat, aku sesekali menemui narasumber dengan naik taksi online

Baca Juga: Cerita Jurnalis Shinta, Diintimidasi Akibat Pemberitaan Isu Keberagaman

Saat usia kehamilan 5 bulan, aku divonis plasenta previa. Ini semacam kondisi ketika ari-ari (plasenta) berada di bagian bawah rahim, sehingga menutupi sebagian/seluruh jalan lahir. Ini berpotensi menyebabkan perdarahan hebat baik sebelum atau saat persalinan.

Kondisi saat itu begitu menyakitkan. Aku merasakan sesak bahkan tidak mampu berdiri. Selama dua minggu penuh, dokter memberikan waktu untukku beristirahat sejenak dari segala aktivitas. 

Setiap harinya,  suamiku bersiaga melayani dan memberi suguhan makanan sederhana. Dia juga sering menyiapkan air di botol dan diletakkannya di dekat tempat tidurku. 

Perlahan kondisi tubuhku berangsur membaik. Aku mulai bisa kembali beraktivitas. Meskipun belum sepenuhnya optimal. Saat itu juga aku harus segera pulang ke kampung halaman untuk proses kelahiran. Jika diingat, masa-masa itu begitu melelahkan bagiku. 

Tapi aku bersyukur, dukungan suami dan keluarga memberikanku energi positif yang menguatkan. 

“Jalan pelan-pelan,” kata suamiku, seraya menuntunku yang seringnya berjalan secara cepat.

Tak lama kemudian, Senja Timur Revolusi pun lahir ke dunia melalui proses sesar. 

Jangan menghujatku karena aku tidak melahirkan secara normal. Aku sudah berjuang sekeras tenaga sampai proses melahirkan. Hal terpenting, aku dan bayiku sehat. 

Baca Juga: Riset AJI Jakarta: Ada Praktik Ketimpangan Upah antara Jurnalis Perempuan dan Laki-laki 

Tapi tak semua orang bisa mengerti kondisiku. Beberapa orang yang menemui aku selalu bertanya ‘kenapa’ termasuk soal proses persalinan sesar. Aku sampai kelelahan menjelaskan. 

Padahal, mengapa memangnya jika aku melahirkan sesar? Bukannya aku tetap layak dan ‘utuh’ menjadi seorang ibu. Meskipun tidak melahirkan secara normal. 

Senja kecilku lahir usai aku mengandung selama 9 bulan 20 hari. Aku rawat sepenuh hati. Di tengah suasana hati yang saat itu begitu berkecamuk. Perasaan yang amburadul, dan sakitnya masih terasa sampai hari ini tentang apa yang terjadi terhadapku saat itu. 

Cuti melahirkan sudah habis, aku pun harus bergegas untuk bekerja. Sebab sisa cuti 3 bulan sudah banyak aku ambil sebelum melahirkan. 

Menghadapi Perundungan 

Pekerjaan yang menurutku bekerja di lapangan, membuatku harus memilih keputusan sulit. Aku harus menitipkan Senja-ku kepada ibu kandungku. Kami memanggilnya Oma. 

Saat itu, banyak pertanyaan orang yang meluncur kepadaku:

“Kenapa tidak dibawa?”

“Ih kasian, anaknya masih kecil?”

“Harusnya kalian khawatir”

“Astaga, jadi sama omanya saja? pasti akan lupa ibunya,”

“Ya ampun, teganya”

Dan masih banyak lagi respon orang-orang yang terus melontarkan pernyataan ataupun pertanyaan.

Lantas saya harus apa? Atau apa respon saya kepada mereka?

Kebetulan, aku adalah manusia yang super ‘tidak enakan’ kepada siapapun. Dengan senyum palsu, saya akan menjawab hati-hati. “Hehehe, mau gimana lagi.”

Baca Juga: The Voice: ‘Sepatu Kami Kekecilan’: Gambaran Perjuangan Jurnalis Perempuan di Media

Rasanya aku dilanda kalut yang luar biasa. Andai saja bisa aku deskripsikan dengan kata-kata tentang rasa khawatir, takut, cemas, kecewa, marah, kesal dalam satu pernyataan tegas. Tapi tetap saja, segalanya tertampung menjadi luka dan tangisan yang selalu pecah di malam hari.

Kalimat-kalimat yang membuat semangat seorang ibu jatuh hingga ke dasar laut. 

Tidak mudah menjadi seseorang yang harus berdamai dengan keadaan, dan aku mencoba untuk melewati fase sulit ini. Aku berusaha ikhlas. 

Lantas apa dorongan yang membuatku kuat dan tidak menyerah dengan situasi itu?

Ibuku, oma Senja.

Sejak bekerja dan mandiri, sosok ibu yang aku panggil Mama tidak pernah lelah memberi dukungan secara mental. Tenaganya seakan tidak pudar dan konsisten seperti jarum jam yang terus berdetak. 

“Kamu harus bisa jadi contoh yang baik untuk Senja. Mama tahu kamu kuat jalani ini. Jangan berhenti. Kamu harus punya mimpi dan masa depan”. 

Kalimat itu berulang kali Mama ucapkan padaku. Bagaikan mantra yang seketika meruntuhkan bully-an, lewat deretan pertanyaan atau pernyataan orang tentangku. 

Selain itu, Mama juga selalu memberi keyakinan dengan pengetahuannya sebagai seorang ibu yang merawat empat anak.

“Saya saja sudah empat anakku, semuanya bisa saya urus dengan baik. Masa cucu pertamaku tidak,” katanya.

Baca Juga: Riset AJI: Tak Ada SOP Khusus Jurnalis Perempuan Saat Liputan Berisiko

Tentu saja ada momen saat aku ingin menyerah. Tapi, lagi-lagi Mama tidak pernah berhenti memberikan logika tentang masa depan yang baik. 

Bukan saja buatku sebagai anak perempuan pertama di keluarga, namun juga untuk Senja. Suatu saat, Senja akan bangga pada ‘Bubu’ nya. 

Meski berjauh-jauhan denganku, Senja juga tak kehilangan cinta di tengah hangatnya keluarga. Ada Mama dan keluarga yang mencintai anak perempuanku dengan baik. Mereka jadi support system-ku yang penting. 

Hingga saat ini, aku masih bertahan menjadi seorang jurnalis. Entah kapan ini akan berhenti, tapi sejauh kaki melangkah jurnalis adalah jalan tepat menunjukan kepada Senja, siapa ‘Bubu’nya.

Kelak, aku berdoa anak perempuan yang sudah fasih memanggilku ‘Bubu’ ini mewariskan sikap kuat dan pantang menyerah ini. 

Saya akan berusaha untuk terus belajar, menulis, dan mendengarkan kisah setiap orang. Berbicara dengan orang baru dan menghargai usaha mereka. 

Berdamai dengan Diri

Aku terus berusaha kuat dengan situasi. Meskipun terkadang, ada perasaan bersalah yang muncul. 

Teringat seorang paman berbicara kepadaku, “Kamu bukan satu-satunya yang punya kisah pelik di dunia ini, jadi jalanilah hidupmu dengan baik dengan segala kesempatan yang ada di sekitarmu. Jangan sia-siakan. Keluarga mendukungmu.”

Atau seorang bibiku pernah pula berkata, “Jangan khawatir, Senja banyak yang sayang.”

Kekuatan ini selalu terbangun setiap harinya, walaupun rasa bersalah selalu muncul dan menyerang. Bagaimanapun juga, hati kecil ini tidak bisa berbohong kalau aku begitu membutuhkan anakku.

Walaupun, situasinya aku adalah ‘Bubu’ baginya yang hanya bisa datang menemuinya tiga bulan bahkan enam bulan sekali.

Setiap melihat foto dan video yang dikirim Mama atau keluargaku, hatiku selalu bergumam. “Maafkan Bubu, Senja menjalani masa pertumbuhan tanpa sosok Bubu, tapi Bubu janji hari ini tidak akan selamanya. Kita hanya perlu waktu untuk bersabar dan kuat.”

Aku menerapkan parenting virtual kepada Senja. Aku rutin melakukan panggilan video untuk melihat perkembangannya. Minimal sepulang kerja selama 10 menit, akan aku luangkan untuk menghubungi Senja. 

Aku biasa menyanyikannya lagu, menunjukkan kartun kesukaan atau mengajaknya bercerita. 

Aku merasa begitu terenyuh, saat dia mengenaliku dari foto dan video yang dilihatnya di YouTube saat ‘Bubu’ nya bekerja di depan layar saat jadi presenter. 

Saya masih dalam proses berdamai dengan diri dan keadaan ini. Sampai, pada akhirnya waktu tiba dan menghabiskan masa hidupku bersama Senja.

Bersabarlah untuk ‘kemenangan’, Nak

Bubu akan bekerja dan berkarya, untuk Senja Timur Revolusi. 

Desi Triana

Jurnalis di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.

Let's share!