Cuplikan trailer remake film 'Catatan Si Boy'. (Foto: YouTube MD Pictures)

‘Catatan Si Boy’ Versi 2023 dan Fantasi Tentang Dream Boy

Ingat ‘Si Boy’? Sosok pemuda yang nyaris-sempurna ini begitu digandrungi anak muda Indonesia di tahun 1980-an. Sekarang, Boy kembali dengan versi ‘kekinian’ lewat film remake ‘Catatan Si Boy’, yang disutradarai Hanung Bramantyo. Hanung tetap menampilkan Boy sebagai dream boy dan sosok fantasi penjual mimpi.

Diperankan para bintang film muda favorit masyarakat, bagaimana ‘Catatan Si Boy’ versi 2023 dikemas dengan konteks kehidupan anak muda saat ini?

Namanya Boy Randy Tanudirja, tapi ia lebih dikenal dengan sapaan Boy. Hidupnya kaya-raya, lebih dari berkecukupan. Baik hati, menyenangkan, ganteng, rajin olahraga, jago bela diri, taat beribadah, tidak minum alkohol, menghargai perempuan, para sahabatnya setia, adiknya penyayang. Ditambah privilese lain belum tentu dimiliki orang lain: keluarganya harmonis dan kaya raya, mobil mewahnya berderet, punya pesawat jet pribadi, rumahnya mirip istana. Ia jadi pemuda yang ditaksir banyak perempuan. Apa sih, yang kurang pada diri dan kehidupan Mas Boy?

Ya, itulah Boy, sosok lelaki fiktif yang pernah begitu populer pada masanya. 

Film ‘Catatan Si Boy’ pertama kali dirilis pada tahun 1987 dan digarap oleh sutradara Nasri Cheppy. Saat itu, Boy diperankan oleh Onky Alexander. Kini, di tahun 2023, film ‘Catatan Si Boy’ kembali dengan pemeran baru dan konteks cerita yang lebih ‘masuk’ dengan situasi Indonesia saat ini. Kali ini, ada aktor muda Angga Yunanda yang memerankan ‘Si Boy’.

Baca Juga: Film ‘Oppenheimer’: Kisah ‘Bapak Bom Atom’ dan Penyesalan Dampak Buruk Perang

Cerita ‘Catatan Si Boy’ pernah amat digemari banyak orang. Mungkin karena dirilis di era Orde Baru dengan segala kesulitan yang dialami masyarakat Indonesia; kisah si Boy seakan ‘menjual mimpi’ akan kehidupan yang tak mungkin dimiliki warga kebanyakan. Siapa tidak pengin jadi lelaki tajir dengan koleksi mobil mewah dan selalu sukses memikat perempuan, seperti Boy? Atau sebaliknya—siapa tidak mau punya pacar tampan, sopan, kaya, rajin salat, dan romantis seperti Boy?

Dulu, dalam ‘Catatan Si Boy’, laki-laki seperti Boy adalah sosok ‘malaikat’. Lalu, ia mesti menghadapi perempuan yang mematahkan hatinya; perempuan yang banyak menuntutnya; perempuan yang melakukan segala cara untuk mendapatkannya.

Lagi-lagi, itu konteks di masa lalu. Tapi empat dekade setelah film pertamanya, masihkah sosok ‘dream gentleman’ seperti Boy relevan? Masihkah di zaman sekarang, masyarakat berekspektasi perempuan cuma bisa pasrah dihadapkan antara pacar atau ayahnya, atau meminta terlalu banyak, atau saling bersaing demi mendapatkan laki-laki idaman?

Si Boy, 2023: Sosok Baru, Latar Belakang Modern, Norma Masa Lalu

Sekilas, film ‘Catatan Si Boy’ versi Hanung Bramantyo mengadopsi alur cerita yang sama dengan karya terdahulu versi Nasri Cheppy. Tokoh utamanya tentu tetap ‘si’ Boy (Angga Yunanda). 

Berbagai karakter lain yang melengkapi catatan kehidupan Boy juga hadir. Ada Nuke (Syifa Hadju), perempuan yang bikin Boy bucin berat. Ada Vera (Alyssa Daguise), mahasiswi baru yang sempat dekat dengan Boy. Jelas ada pula sang adik, Ina (Rebecca Klopper), dan dua sahabat Boy: Emon (Elmandsipasi) dan Andi (Michael Olindo).

Boy versi 2023 tetaplah Boy sang ‘dream boy’—pemuda fantasi kebanyakan orang. Kehidupannya tetap mewah dan harmonis. Yang membedakan Boy versi 1987 dan 2023 hanya hal-hal ‘kekinian’ seperti gadget mahal, mobil keluaran terbaru, penggunaan panggilan ‘bestie’, dan sebagainya.

Selebihnya, plot dalam film ‘Catatan Si Boy’ kira-kira sama saja. Termasuk kisahnya dengan para perempuan di cerita ini. Nuke, pacar Boy di awal cerita, tetap jadi sosok ‘tak berdaya’ yang harus pergi meninggalkan Boy sebab sang ayah tidak merestui hubungan mereka. Vera tetap jadi perempuan yang ‘agresif’ dan sering cekcok dengan Boy saat mereka menjalin hubungan.

Di sisi lain, Boy adalah laki-laki pujaan semua orang. Ia digambarkan sosok lelaki yang hampir tidak mungkin ada di dunia nyata. Mulai dari kekayaannya yang berlimpah, hingga fakta bahwa dirinya tetap sopan dan rajin beribadah di tengah pergaulan mahasiswa yang beragam.

Tentu saja cerita fiksi tak mesti realistis. Tapi dengan menonton ‘Catatan Si Boy’, penonton mungkin juga akan jadi menyadari alasan sosok seperti Boy susah, kalau bukan tak bisa, ditemukan di dunia nyata.

Stereotip Perempuan dan Queer

Ada sejumlah karakter perempuan yang bukan sekadar ‘tempelan’ dalam kisah ‘Catatan Si Boy’. Beberapa di antaranya punya andil penting dalam hidup Boy, seperti Nuke, Vera, dan Ina. 

Tapi bahkan di versi remake-nya, karakter perempuan dalam ‘Catatan Si Boy’ masih cenderung tampak stereotipikal: kadang submisif, kadang begitu bergantung pada sosok Boy.

Nuke, misalnya, mau tak mau pasrah ketika ayahnya (diperankan Lukman Sardi) mengirimnya untuk kuliah di luar negeri karena tidak merestui hubungannya dengan Boy. Pun ketika hati sang ayah akhirnya luluh, dikisahkan bahwa hal itu berkat upaya keras Boy untuk meyakinkan beliau bahwa ia akan memperjuangkan hubungannya dengan Nuke. 

Lalu di kisah awal mereka, Nuke yang cantik dan lembut kerap jadi obyek tatapan para lelaki di tempat Boy latihan boxing. Sehingga Boy—yang ceritanya menyayangi Nuke dan menghargai perempuan—membawanya pergi dari sana.

Sementara itu, Vera dideskripsikan sebagai sosok perempuan yang terbuka. Sebab, ia sempat merasakan hidup di Los Angeles sebelum akhirnya pindah ke Indonesia dan kuliah di kampus yang sama dengan Boy. 

Vera tak segan mencium Boy di hari pertama kencan mereka. Dirinya juga sering berinisiatif dalam hubungannya dengan Boy, meski tak jarang kecewa karena hal itu. Para sahabat Boy, Andi dan Emon, menyebut Vera ‘egois’ dan ‘susah dimengerti’ karena berbagai tuntutannya pada Boy.

Baca Juga: ‘Soulmate’, Ini Tidak Cuma Tentang Love Triangle, Tapi Juga Persahabatan Perempuan

Ada pula Ocha (Carmela van der Kruk) dan gengnya, yang naksir berat dan terobsesi pada Boy. Ocha, dibantu gengnya, rela melakukan apa saja agar ia bisa dekat dengan Boy. Ia juga membenci Vera, yang dituduhnya ‘genit’ kepada Boy. Rasa persaingan itu membuat Ocha menantang Vera untuk adu dance dengan ia dan gengnya—adegan yang, sejujurnya, menggelikan dan tidak perlu.

Yang tak kalah penting adalah Emon, salah satu sahabat setia ‘Mas Boy’ dengan karakter ‘ngondek’ yang stereotipikal. Tak lengkap rasanya, film ‘Catatan Si Boy’ tanpa Emon dan bahasa ‘ngondek’nya. 

Namun, sama seperti film pertamanya, di film ini sosok Emon yang centil hanya sebagai sumber hiburan dan ‘anomali’ di tengah persahabatannya dengan Boy yang gentle dan Andi yang maskulin. 

Pada tahun 1987, kehadiran Emon mewarnai hidup Boy yang kadang rumit. Tapi di tahun 2023, rasanya eksistensi karakter queer perlu didalami, lebih dari sekadar ‘bestie ngondek’ belaka.

Meski naskahnya barangkali lebih baik dari film pertamanya, ‘Catatan Si Boy’ tetap menyisakan perasaan mengganjal. Khususnya, di tengah konteks kehidupan masyarakat yang saat ini sudah lebih terpapar pengetahuan mengenai peran gender. Naskah film ini tak berkembang seiring zaman yang berubah. 

Boy yang dulu maupun sekarang mungkin diharapkan sebagai contoh karakter laki-laki maskulin yang ‘sehat’—dan itulah persisnya kenapa Boy hanya ada dalam fantasi-fantasi belaka. Hanya sebagai dream boy, gentlemen penjual mimpi.

Foto: cuplikan trailer remake film ‘Catatan Si Boy’. (sumber: YouTube MD Pictures)

Salsabila Putri Pertiwi

Redaktur Konde.co

Let's share!