Lihat Pengalaman 4 Perempuan Muda Muslim Pimpin Masyarakat Akar Rumput 

Siti Latifah, Ratna Ulfa, Roudlotul Jannah dan Ida Nurhalida adalah contoh 4 perempuan muda Muslim yang bergerak di akar rumput.

Dalam segala keterbatasan, 4 perempuan muda Muslim ini tak pernah surut dengan perjuangannya. Konde.co menjumpai mereka di Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) yang diselenggarakan di Jepara pada 23-24 November 2023

1.Siti Latifah

Setamat SD, Siti Latifah lalu melanjutkan ke pesantren. Tapi sesudah itu, Siti Latifah dinikahkan di usia 17 tahun dengan laki-laki pilihan orang tuanya.

Di Ledombo tempatnya tinggal, pendidikan umum dan pendidikan tinggi hanya untuk laki-laki, dan pemahaman itu masih bersisa hingga hari ini. Perempuan di Ledombo juga tidak bisa bebas berkegiatan di luar rumah. Ia tak bisa bebas berorganisasi, apalagi menyuarakan aspirasinya di ruang publik termasuk panggung politik. Siti Latifah hidup dalam lingkungan ini.

Di tahap berikutnya, meski tak bisa mengenyam pendidikan yang lebih tinggi, Latifah kemudian dapat dukungan dari suami. Latifah bisa berkegiatan di luar rumah. Meski saat awal ia melakukan hal ini, ia mendapat cibiran dari banyak orang.

Di Ledombo, bekerja menjadi buruh migran menjadi tumpuan untuk mencari kehidupan yang lebih baik, sehingga banyak anak-anak yatim piatu secara sosial. Secara biologis mereka memiliki orang tua lengkap, namun mereka tak dapat ‘pengasuhan dan pendidikan’ yang seharusnya.

Melihat kondisi ini, Latifah kemudian tergerak untuk membangun komunitas yang kelak diberi nama ‘sekolah bo-ebo’ atau sekolah ibu-ibu. 

Baca Juga: Ingat Pesan Kartini: Buka Akses Pendidikan Perempuan

Sekolah bo-ebo awalnya adalah kegiatan pengajian yang secara perlahan dan secara bertahap diubah menjadi sekolah ngaji dan pengkajian. Latifah memulainya dengan mengajarkan hal sepele tetapi cukup mendasar dalam sebuah keluarga yakni komunikasi.

“Kami bangun kesadaran komunikasi dalam keluarga, sebelumnya tidak ada komunikasi dalam keluarga yang menghubungkan anak dengan orang tuanya,” terangnya dalam halaqah “Kepemimpinan Perempuan di Akar Rumput/Komunitas: Pengalaman Kerja-kerja Jaringan KUPI” yang diselenggarakan di Kongres Ulama Perempuan Indonesia atau KUPI II, Jumat (25/11/2022) di Komplek Pondok Pesantren Hasyim Asy’ari, Bangsri, Jepara Jawa Tengah.

Hasil dari sekolah bo-ebo, pengajian yang semula hanya sekadar pengajian kemudian berubah sekolah ngaji dan pengkajian. Perempuan di Ledombo tak hanya belajar ilmu agama secara tekstual, tetapi dikontekskan dengan kondisi di desa mereka.

Baca Juga: KUPI Jadi Milestone Gerakan Perempuan Islam di Dunia

Secara bergotong royong warga merawat anak-anak terlantar yang ditinggalkan orang tuanya merantau. Di benak Latifah waktu itu, jangan hanya mensolehkan anak-anaknya saja, tetapi juga mensolehkan anak-anak lingkungan yang terlantar secara sosial. 

“Prinsip saya perubahan bisa dimulai dengan mengubah diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar,” imbuhnya.

Bekerjasama dengan pemerintah desa, sekolah bo-ebo terus meningkatkan kapasitasnya. Secara tidak langsung, apa yang dilakukan Latifah lewat sekolah bo-ebo ini membangun sistem yang islami di desanya.

Keaktifan Latifah di berbagai kegiatan mempertemukan perempuan berusia 47 tahun ini dengan jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia atau KUPI.  Kini, sekolah bo-ebo sudah berkembang dan ada di 20an titik dengan jumlah perempuan yang terlibat sekitar 170an orang.

2.Ratna Ulfa

Lain lagi yang dilakukan Ratna Ulfa. Sejak kecil ia tumbuh di lingkungan pesantren yang kemudian bekerja sebagai penyuluh agama Islam. Namun, setelah menikah ia tidak bisa bebas beraktifitas di luar rumah. 

Tugasnya sebagai istri dan ibu adalah mengurus anak dan keluarganya. Soal pendapatan menjadi tanggung jawab suami.

Kalaupun memberikan materi pengajian atau berdakwah hanya bisa dia lakukan kepada peserta perempuan. Saat suami Rahma meninggal pada 2016, Ratna terguncang hebat, baik secara materi maupun psikologis.

“Saya begitu terpuruk, bahkan sempat tiga hari kami nggak bisa makan karena nggak memang tidak punya beras,” terangnya.

Ratna lantas memutar otak. Ia tidak mungkin kembali kepada orang tuanya dengan membawa ketiga anaknya. Ia bertekad untuk melakukan segala cara dilakukan unuk menghidupi tiga anaknya.  

Pada saat bersamaan dia dipertemukan dengan sejumlah perempuan muda kepala keluarga juga. Memanfaatkan ilmu agama yang dimilikinya, Ratna kemudian mendirikan majelis taklim Ar Rahma yang dikhususkan untuk perempuan kepala keluarga.

Baca Juga: Tak Hanya Laki-Laki, Perempuan Juga Bisa Menjadi Kepala Keluarga

Pertemuan Ratna dengan banyak janda di Purworejo, memberinya banyak pelajaran. Bahwa para perempuan itu punya keterampilan dan usaha yang bisa dilakukan. Namun mereka tidak punya jaringan karena selama ini diposisikan di tugas-tugas domestik, sedangkan saat ini posisi mereka sebagai kepala keluarga

Mereka kemudian bergiat untuk memberdayakan perempuan kepala keluarga, karena secara tidak langsung hal ini bisa memberdayakan anak-anak yatim dengan menyantuni uang

Rahima lantas menghubungkan Ar Rahma dengan We Lead sehingga Majelis Taklim yang dirintis Ratna itu mendapat bantuan sebesar Rp 5 juta. Ratna menuturkan uang sebesar itu lantas disalurkan ke 12 orang yang masing-masing menerima bantuan sebesar Rp 400.000.

“Di Purworejo, uang sebesar itu sangat berarti. Dan dari uang itu lantas digunakan untuk modal usaha. 2,5 persen dari keuntungan dikumpulkan sebagai modal, kini total ada 15 orang yang dapat bantuan modal,” tambahnya.

Selain itu Ratna juga mengembangkan infaq produktif, di mana setiap bulan digelar pengajian untuk silaturahmi. Dan, masing-masing sadaqah minimal Rp 5 ribu, lantas uang yang terkumpul akan dipinjamkan kepada yang membutuhkan. Uang ini harus dikembalikan tanpa bunga.

Dengan cara seperti ini, maka setiap bulan uang yang terkumpul dan berputar akan semakin besar. Dari uang itu bisa digunakan untuk modal usaha, antara lain untuk membuka warung kelontong atau usaha bikin kue. Dan beragam usaha lainnya.

Apa yang dilakukan Ratna dengan mendirikan majelis taklim ‘khusus’ janda ini menuai komentar miring atau bahkan diprotes karena dinilai sedang mengeksiskan ‘kejandaannya’.

Baca Juga: Jika Bicara Janda, Bicara Perjuangannya Bukan Stigmanya

Tak berhenti di sini, Ratna juga dituduh sedang mempopulerkan gerakan anti nikah karena majelis taklimnya akhirnya membuat perempuan mandiri sehingga mereka tidak menikah lagi. Apalagi Ratna sendiri juga memutuskan untuk tidak menikah lagi.

Cibiran dan protes dari lingkungan sekitar ini tak membuat Ratna mundur. Tapi upaya Ratna juga menuai apresiasi positif. Belakangan banyak laki-laki yang tak berdaya ‘menitipkan’ istrinya ke Majelis Taklim Ar rahmah untuk diberdayakan. Sehingga akhirnya Kementerian Ketenagakerjaan memberikan bantuan senilai Rp 20 juta yang menurut Ratna akan dikembangkan menjadi modal bergulir.

“Cara menyebar dengan sistem mubarasah, saling berbagi dengan strategi yang sangat hati-hati karena para PEKKA akibat stigma negative yang selama ini disematkan kepada mereka,” terang perempuan muda itu.

3.Roudlotul Jannah, Pemberdayaan ekonomi dan pengajian rutin digelar.

Roudlotul Jannah, perempuan Madura ini juga gelisah melihat kondisi ibu-ibu di sekitarnya yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan yang kurang bermanfaat.   

“Kebanyakan ibu-ibu di desa saya tidak memiliki keterampilan dan kurang pendidikan karena tidak diizinkan sekolah. Mereka juga tidak memiliki pendapatan dan bergantung sepenuhnya pada suami,” ujar Jannah dalam kesempatan yang sama.

Jannah kemudian memutar otak. Dia coba memetakan kemampuan perempuan muda dan potensi alam di sekitarnya.  Ia lalu memanfaatkan potensi desanya untuk meningkatkan ketrampilan. Ibu-ibu diajak belajar membuat stik daun kelor yang kaya nutrisi tetapi sangat mudah didapatkan di Madura.

Baca Juga: Pengalamanku ke Tempat Ibadah Yang Menghargai Keberagaman

Lewat Kober yang didirikannya, Jannah juga mengembangkan berbagai kegiatan ramah lingkungan. Ia mulai mengajarkan bikin ecoprint dan softex kain yang ramah lingkungan. Tantangan yang dihadapi Jannah adalah pemasaran belum maksimal, pembagian peran dalam produksi karena peran ganda perempuan muda juga menyulitkan pengorganisasian yang dilakukannya.

“Dari pengalaman itu, saya menyadari pentingnya berjejaring dan bekerja sama. Tetapi pengorganisasian butuh ketelatenan dan kesabaran.

Pemberdayaan berbasis perempuan butuh proses yang tak sebentar. Awalnya shalawatan dulu setiap minggu, lalu sedikit demi sedikit ditanamkan nilai-nilai baik tentang kesetaraan, parenting, keterampilan maupun nilai-nilai keagamaan. Kini anggota Kober lebih dari 50 orang.

Baca Juga: Kongres Ulama Perempuan Indonesia Perjuangkan Narasi Fatwa Perempuan Progresif

4.Ida Nurhalida

Lain lagi yang dilakukan Ida Nurhalida. Ia membangun kesadaran terhadap kelestarian lingkungan. Kesadaran terhadap kelestarian lingkungan di sekitarnya tergolong rendah, produksi sampah berlebihan, boros energi, banyak ditemukannya di lingkungan pondok pesantren yang dibinanya.

“Padahal Islam perintahkan untuk peduli lingkungan,” ujarnya.

Karena itu Ida tergerak untuk berbuat sesuatu karena jika lingkungan rusak maka perempuanlah yang paling merasakan dampaknya. Bagi Ida, pesantren adalah lembaga dakwah, pendidikan sekaligus pemberdayaan masyarakat. Ada enam unsur yang dilakukan, menjaga kebersihan, pengelolaan sampah, penanaman pohon, hemat energi, inovasi terkait lingkungan hidup, semua disebut perilaku hemat lingkungan.

Latifah, Ratna, Jannah dan Ida adalah contoh para ulama perempuan yang bergerak langsung di akar rumput. Mereka masing-masing bergerak sendiri di lingkungannya dan bekerja bersama dengan tujuan yang sama, memberdayakan perempuan di akar rumput. Seperti itulah jaringan KUPI bekerja, seperti yang disebutkan Ketua Majelis Musyawarah KUPI, Nyai Badriyah Fayumi.

“Kita memang tidak selalu bersama-sama. tetapi bekerja sama menguatkan jaringan. Ulama perempuan bekerja, berkarya, berkhidmah di ruang khidmah masing-masing. Di perguruan tinggi, di pesantren, di majelis taklim, di ormas, di pemerintahan, dan di berbagai tempat yang lainnya, untuk mewujudkan peradaban yang berkeadilan,” ujar Nyai Badriyah dalam pembukaan Kongres Internasional KUPI II.

Esti Utami

Selama 20 tahun bekerja sebagai jurnalis di sejumlah media nasional di Indonesia

Let's share!