Usai Nonton Debat Capres, Yuk Kepoin Fakta Soal 3 Kandidat

Ada 3 kandidat calon presiden (capres) di pemilu 2024 nanti. Mereka datang dari berbagai latar belakang. Mulai dari yang populer dengan julukan profesor, jenderal dan populis. Yuk, simak!

Sekitar dua bulan lagi, Indonesia akan menyelenggarakan pemilihan umum (pemilu) yang akan menjadi kontestasi politik terbesar di dunia. Terdapat lebih dari 200 juta pemilih yang terdaftar dari sekitar 6.000 pulau di Indonesia. Ditambah dengan 1,75 juta diaspora. Mereka berhak menggunakan suaranya untuk memilih presiden, wakil presiden, dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di tingkat nasional dan daerah.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah resmi mengumumkan tiga pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) yang akan bertarung dalam pemilihan presiden tanggal 14 Februari mendatang. Masa kampanye dimulai hari Selasa, 28 November.

Sejumlah pengamat politik mengatakan bahwa kehadiran tiga capres, alih-alih hanya dua, adalah pertanda baik bagi stabilitas politik Indonesia. Adanya lebih banyak pilihan diharapkan dapat mencegah polarisasi di antara para pendukung.

Pada pemilu 2014 dan 2019, yang hanya menampilkan dua pasang kandidat, terjadi polarisasi besar di antara kedua kubu. Tahun depan, para pemilih akan memiliki lebih banyak alternatif.

Di sisi lain, beberapa akademisi berpendapat bahwa Pilpres kali ini akan menjadi ujian bagi demokrasi Indonesia karena para kandidat yang bertarung sudah pernah mencalonkan diri sebelumnya atau didukung oleh para pemain lama di dunia politik. Jadi, masyarakat Indonesia sebenarnya tidak terlalu mendapatkan pilihan baru dengan ide-ide segar.

Berikut ini adalah rangkuman mengenai para kandidat, dan siapa saja yang mendukung mereka.

1. Anies Baswedan, sang profesor

Anies adalah satu-satunya capres yang bukan merupakan kader dari partai politik pun. Namun, ia diusung oleh Partai Nasdem sebagai partai terbesar kelima di Indonesia, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang berbasis Islam, dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang juga berbasis Islam tetapi cenderung lebih konservatif.

Sebelum berkarier di dunia politik, Anies adalah seorang akademisi ternama lulusan Amerika Serikat (AS) yang memiliki gelar doktor di bidang ilmu politik. Ia lahir dari keluarga akademisi–kedua orang tuanya juga profesor. Anies kemudian menjadi dosen dan rektor. Setelah Presiden Joko “Jokowi” Widodo terpilih pada 2014, ia ditunjuk menjadi Menteri Pendidikan.

Pada 2017, Anies memenangkan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta dengan dukungan dari kelompok-kelompok Islam garis keras. Kala itu, Anies dianggap kerap menggunakan isu identitas agama guna menarik dukungan dari kelompok-kelompok Muslim konservatif untuk memenangkan Pilgub.

Kini, sebagai upaya untuk menghilangkan label “politik identitas” dalam dirinya, Anies meminang Muhaimin Iskandar sebagai pasangan cawapresnya dalam Pilpres tahun depan .

Muhaimin adalah Ketua Umum PKB, partai politik yang memiliki afiliasi yang kuat dengan organisasi Muslim terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU). Selama beberapa dekade, organisasi NU telah memiliki reputasi sebagai organisasi Islam moderat yang lantang mempromosikan pluralisme dan toleransi.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat Indonesia memandang Anies secara positif, berkat peliputan media yang simpatik. Anies seringkali digambarkan sebagai sosok yang cerdas, santun, tegas, dan tentu saja religius.

2. Prabowo Subianto, sang jenderal

Prabowo adalah seorang mantan jenderal angkatan darat yang kini menjadi Ketua Umum Partai Gerindra, partai terbesar kedua di parlemen. Saat ini ia tengah menjabat sebagai Menteri Pertahanan.

Sosok Prabowo hampir selalu dikaitkan dengan kasus penculikan dan penghilangan mahasiswa dan aktivis yang menentang rezim otoriter diktator Suharto pada akhir 1990-an, serta dugaan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) lainnya, termasuk di Timor Leste dan Papua. Pada saat itu, Prabowo adalah komandan pasukan khusus TNI Angkatan Darat.

Prabowo, yang juga mantan menantu Presiden Suharto, telah berulang kali membantah semua tuduhan tersebut.

Pemilu 2024 nanti akan menjadi kali ketiga bagi Prabowo maju dalam kontestasi Pilpres; ia sebelumnya kalah dua kali dari Jokowi pada Pilpres 2014 dan 2019. Ia juga kalah dalam Pilpres 2009 saat maju sebagai pasangan cawapres dari capres Megawati Sukarnoputri.

Dikenal sebagai rival Jokowi dalam dua kali pemilu berturut-turut, Prabowo sekarang tampaknya telah dia menjadi sekutu Jokowi. Secara mengejutkan, ia memilih Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Jokowi sekaligus Walikota Surakarta, sebagai cawapresnya.

Baca Juga: Hari HAM 2023: Jokowi Tak Bereskan 12 Kasus Pelanggaran HAM Berat Masa Lalu

Keputusan tersebut diiringi oleh kontroversi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada bulan Oktober tentang Undang-Undang (UU) Pemilu 2017. UU tersebut menyatakan bahwa calon presiden atau wakil presiden harus berusia minimal 40 tahun, namun MK memutuskan bahwa ada pengecualian jika calon tersebut pernah menjabat sebagai kepala daerah.

Oleh publik, keputusan ini dianggap sengaja bertujuan untuk membuka jalan bagi Gibran, yang baru berusia 36 tahun, untuk bisa mencalonkan diri sebagai wakil presiden. Ia baru menjadi walikota selama hampir tiga tahun.

Banyak analisis politik oleh para pakar yang mengungkapkan bahwa ini adalah bagian dari agenda Jokowi untuk membangun sebuah dinasti politik. MK sendiri, saat putuan tersebut dibuat, dipimpin oleh Hakim Anwar Usman, kakak ipar Jokowi sekaligus paman Gibran.

Akibat putusan tersebut, Anwar telah diberhentikan secara tidak hormat karena terbukti melanggar kode etik MK.

Elektabilitas Prabowo terus meningkat, menurut sejumlah lembaga survei, sejak memilih putra presiden sebagai pasangannya.

3. Ganjar Pranowo, si merakyat

Ganjar Pranowo adalah mantan Gubernur Jawa Tengah, provinsi terpadat ketiga di Indonesia. Ia merupakan kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), partai politik terbesar di Indonesia.

Dalam Pilpres 2024, Ganjar akan bertarung melawan Anies dan Prabowo bersama pasangan cawapresnya, Mahfud MD, seorang profesor hukum yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan dan mantan ketua MK.

Beberapa bulan yang lalu, banyak yang memprediksi Jokowi akan mendukung Ganjar untuk menjadi penggantinya. Ini karena Jokowi dan Ganjar berasal dari partai politik yang sama, berasal dari kampung halaman yang sama, dan sama-sama menganut budaya Jawa. Dalam politik Indonesia, para elit biasanya kuat membela dan menjunjung tinggi budaya mereka–dan orang Jawa telah mendominasi politik Indonesia sejak zaman kolonial.

Para ahli komunikasi politik juga mencatat bahwa Ganjar menjadi satu-satunya figur capres yang memiliki gaya kepemimpinan yang “membumi” dan “merakyat”, yang mirip seperti Jokowi.

Namun, ternyata terjadi plot twist. Dengan putranya yang kini maju bersama Prabowo, Jokowi diyakini telah mentapkan dukungannya kepada sang mantan jenderal tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Ganjar secara konsisten berada di antara urutan teratas kandidat-kandidat yang berpotensi mencalonkan diri sebagai presiden, namun ia tidak pernah menjadi kandidat terfavorit.

Pada bulan Maret, Ganjar menuai protes publik setelah menolak keras partisipasi tim sepak bola Israel dalam perhelatan Piala Dunia FIFA U-20 yang seharusnya diselenggarakan di Indonesia, atas alasan dukungan Indonesia terhadap Palestina. Hal ini menyebabkan FIFA membatalkan Indonesia menjadi tuan rumah acara olahraga bergengsi tersebut.

(Gambar: Instagram KPU RI)

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Dadang I K Mujiono, Triesanto Romulo dan Wawan Kurniawan

Para penulis merupakan akademisi dari Universitas Mulawarman, Universitas Kristen Satya dan Universitas Indonesia.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!