Dari Mulut Ibu, Saya Jadi Tahu Pedihnya Kehidupan Buruh Pabrik

Banyak buruh perempuan berpikir, jika mereka protes pada pemilik pabrik, apa jadinya? Sedangkan kompor di dapur harus terus menyala. Saya belajar bagaimana ibu bertahan hidup dalam keriuhan pabrik.

Menulis adalah satu-satunya pekerjaan yang bisa saya kerjakan dengan benar. 

Menulis adalah napas. Sehingga jika melewatkan satu hari tanpa menulis, saya seperti tidak bernapas dengan lengkap. Ada yang kurang. 

Tulisan saya adalah suara. Suara orang-orang di sekitar saya, yang saya kenal maupun tidak, dan suara saya sendiri, yang lahir ke dunia ini sebagai perempuan. Dalam tulisan ini, saya mewakili Ibu untuk berkisah tentang secuil perjuangan hidupnya.

Di tempat saya tinggal, di salah satu kabupaten di Jawa Timur, yakni Jember, ada salah satu daerah penghasil tembakau terbesar. Sehingga beberapa gudang tembakau dibangun di sini dan menciptakan lapangan kerja bagi ibu-ibu atau anak muda di daerah yang jauh dari pusat kota Jember. Kebanyakan buruhnya adalah perempuan. Para ibu dan anak muda yang berusaha menjadi kuat demi bisa menyambung hidup.

 “Wes koyok wong kantoran ae.” (Sudah seperti orang kantoran saja)

Upah mama sebagai buruh harian di gudang pertama adalah enam puluh lima ribu yang dibayarkan setiap sepuluh hari via transfer salah satu bank. Jadi kalau ditotal, mama menghasilkan enam ratus lima puluh ribu dalam sepuluh hari, dengan syarat benar-benar bekerja full selama sepuluh hari.

Baca Juga: ‘Aku Bunuh Kamu, Aku Gantung Lehermu’ Kesaksian Buruh Perempuan di Balik Tembok Pabrik

Kalau ikut lemburan di pagi hari jam enam, maka mama akan dapat tambahan uang. Saya lupa persisnya berapa untuk upah lembur. Yang jelas, mama selalu menyempatkan untuk mengambil lembur.

Duit lembure iso digawe tuku bekas karo sayur, gajine iso ditabung.” (Uang lemburnya bisa dibuat beli beras dan sayur, gajinya bisa ditabung).

Dan dengan uang itu, mama harus memutar otak supaya uang itu cukup untuk makan dua anaknya dan suami yang menolak memberi uang belanja, namun masih memberikan uang saku untuk keperluan dua anaknya. 

Syukurlah, dalam urusan makan, semenjak mama tidak lagi diberi uang belanja oleh ayah saya, kami tidak pernah kekurangan. 

Saya sempat khawatir dengan keputusan mama untuk bekerja, karena saya takut mama tidak mendapatkan lingkungan bekerja yang baik. Takut kalau teman-temannya atau bahkan bosnya tidak memperlakukan mama dengan baik.

Tapi mendengar kalau mama menikmati pekerjaan di gudang tembakau dan selalu ada cerita tentang kebersamaan para buruh perempuan di sana, membuat kekhawatiran saya mereda.

Baca Juga: Sugar Generation, Upah Kecil Bikin Buruh Perempuan Sulit Akses Makanan Sehat

Mama selalu pulang dengan cerita-cerita dari gudang tembakau. Hal itu membuat saya tahu sedikit demi sedikit tentang kehidupan para buruh tembakau di Jember. Walaupun kadang mama mengulang cerita yang sama karena mungkin lupa pernah menceritakan cerita itu pada saya, saya tetap mendengarkan ceritanya sambil memerhatikan mama minum kopi.

“Yo pas durung mlebu gudang, aku mikir, nasibe aku iki opo Cuma aku seng ngerasakno. Tapi pas mlebu gudang, emak-emak nang kono nasibe gak beda jauh karo aku. Onok seng ditinggal selingkuh bojone dadi kudu makani anak-anake dewe, onok sing ditinggal mati bojone dadi kudu nggolek pangan dewe, onok sing korban KDRT, onok seng mantan TKW, onok sing lanange gak kerjo, terus nasibe seng koyok aku, yo akeh. Aku sektas iku nyadar, oh… ternyata aku gak dewean.”

(Ya waktu belum masuk gudang, aku mikir, nasibnya aku ini apa Cuma aku yang ngerasain. Tapi waktu masuk gudang, emak-emak di sana nasibnya nggak beda jauh dengan aku. Ada yang ditinggal selingkuh suaminya, jadi harus ngasih makan anak-anaknya sendirian, ada yang ditinggal mati suaminya, jadi harus nyari makan sendiri, ada yang korban KDRT, ada yang mantan TKW, ada yang lakinya nggak kerja, terus nasibnya yang kayak aku, ya banyak. Aku baru itu nyadar, oh… ternyata aku nggak sendirian.)

“Emak-emak nang gudang i wonge kuat-kuat. Bener kan, nek wong wedok ditinggal bojone, sek iso dadi bapak karo emak, nek wong lanang durong tentu iso dadi emak. Koncoku nang gudang nek missal ngelu, ngombe opo jaremu? Kopi dicampur bodrex! Aku tau ditawari, aku nolak. Wedi aku. Tapi emak-emak nang kono wes biasa. Kopi karo bodrex iku wes koyok doping supaya gak ngelu dan tetep iso kerjo. Aku wes tau ngelarang emak-emak sing ngombe kopi dicampur bodrex, tapi panggah diombe. Wes biasa dadi aman, jarene.”

(Emak-emak di gudang itu orangnya kuat-kuat. Bener, kan, kalau orang perempuan ditinggal suaminyaa, masih bisa jadi bapak dan ibu, kalau orang laki belum tentu bisa jadi ibu. Temanku di gudang kalau missal pusing, minum apa katamu? Kopi dicampur bodrex! Aku pernah ditawari, aku nolak. Takut aku. Tapi emak-emak di sana sudaha biasa. Kopi dan bodrex itu sudah seperti doping supaya nggak pusing dan tetap bisa kerja. Aku sudah pernah ngelarang emak-emak yang minum kopi dicampur bodrex, tapi tetap diminum. Sudah biasa jadi aman, katanya.)

Baca Juga: Buruh Perempuan Dipaksa ‘Staycation’: Kontrak Kerja Jadi Celah Eksploitasi

Miris hati saya mendengar kisah para buruh perempuan yang harus melakukan seribu satu cara untuk tetap bisa bekerja. 

Karena kalau kerja hanya setengah hari, otomatis gajinya tidak utuh. Mama juga cerita, hubungan kekeluargaan para buruh perempuan di gudang ini kuat. Kalau ada yang masuk angin, asalkan pengawas gudangnya nggak ada di ruangan, mereka bisa ambil alih pekerjaan temannya, sementara teman yang pusing dan tidak enak badan itu dikerokin oleh teman lainnya menggunakan uang koin dan minyak kayu putih. 

Kalau ada temannya yang tidak bawa bekal makan, maka akan diberi. Orang di sana tidak pernah makan sendirian, selalu bersama-sama sehingga yang tidak punya lauk, akan kebagian lauk. Yang tidak punya nasi, akan kebagian nasi. 

Mama juga bercerita, menu makanan orang-orang gudang sangat jarang yang membawa ikan. Lauk yang paling sering dibawa adalah tahu, tempe, dan telur goreng (ini sudah yang paling mewah). Orang-orang di gudang tembakau lebih banyak makan nasi dengan sayur, nasi dengan kerupuk, nasi dengan cabai rawit dan garam.

“Sak durunge mlebu gudang, aku mosok ngerti nek buahe karet iki iso dipangan. Tak kiro beracun, tapi karo koncoku diolah, direndem disek nang banyu kapur sak ulan, terus baru diolah. Aku tau nyoba, rasane enak, koyok kacang mete. Terus biasane, emak-emak nang kono i nek nggawe sego goreng, Cuma gawe terasi karo bawang putih, yo enak i. Terus kadang sangu sego bu’uk, sego karak, sayur akehe nggak tuku, tapi nggolek nang sawah atau nang tepasan (daerah perkebunan karet). Nek wayahe jam songo isuk, kerjone rodok nyantai. Panganan ditokno kabeh. Onok seng nggowo marning (jagung yang digoreng kering dan diberi garam), onok seng gowo gur-gure peyek (remahan peyek), kerupuk, jajan selametan, terus kadang rujakan sisan. Rujakane wong gudang ngerti ra? Rujake yo mung timun dicocol karo sambel, wes, seger jarene. Aku tau nyoba, tapi nggak wangi akeh-akeh soale pedes nemen. Kadang pencit dirujak, terus kadang kedondong, terus aku yo sektas weruh nek buah kates seng cilik-cilik, seng sek enom, iso dipangan. Karo koncoku dirujak. Yo enak i.”

Baca Juga: Di-PHK Mendadak, Sulit Dapat Kerjaan: Nasib Para Buruh Garmen di Balik Industri Fast Fashion

(Sebelum masuk gudang, aku masa tau kalau buahnya karet ini bisa dimakan. Tak kira beracun, tapi sama temanku diolah, direndem dulu di air kapur selama satu bulan, terus baru diolah. Aku pernah nyoba, rasanya enak, kayak kacang mete. Terus biasanya, emak-emak di sana itu kalau bikin nasi goreng, Cuma pakai terasi dan bawang putih, ya enak ini. Terus kadang bawa nasi bu’uk, nasi karak, sayur kebanyakan nggak beli, tapi nyari di sawah atau di tepasan (daerah perkebunan karet). Kalau waktunya jam sembilan pagi, kerjanya agak nyantai. Makanan dikeluarkan semua. Ada yang bawa marning (jagung yang digoreng kering dan diberi garam), ada yang bawa remahan peyek, kerupuk, jajan selametan, terus kadang rujakan juga. Rujak ala orang gudang ngerti nggak? Rujaknya ya Cuma timun dicocol sambel, sudah, seger katanya. Aku pernah nyoba, tapi nggak berani banyak-banyak soalnya pedes banget. Kadang pencit dirujak, terus kadang kedondong, terus aku ya baru tau kalau buah kates yang masih kecil-kecil, yang masih muda, bisa dimakan. Sama temanku dirujak. Ya enak ini.)

Pernah sekali waktu, di gudang yang kedua, mama dan kawan-kawan buruh lainnya tidak menerima gaji yang biasanya dibayarkan tiap sebulan sekali, jumlahnya sekitar satu juta dua ratus. Waktu itu, bos pemilik gudang sedang ada di Singapura. Namun setelah kembali dari Singapura, gaji mereka tetap tidak dibayarkan. 

Baca Juga: Sulitnya Jadi Breadwinner: Kerja di Kantor dan Jadi Pencari Nafkah Utama

Mama berniat pindah daripada ikut teman-teman buruh melayangkan protes, tapi mama memilih bertahan di sana, sebab tidak mudah mendapatkan pekerjaan bahkan hanya untuk pekerjaan kasar sebagai buruh. 

Jadilah, gaji yang dibayarkan hanya berasal dari uang lembur yang dibayarkan setiap sepuluh hari dengan cara ditransfer ke rekening bank masing-masing buruh yang sudah dibuatkan oleh gudang tempat mereka bekerja. Yang tidak tahu caranya mengambil uang di bank, biasanya menyuruh salah satu petugas gudang dengan memberikan upah lima ribu rupiah untuk mengambilkan uangnya di bank. 

Pada akhirnya, aksi protes itu tidak jadi diselenggarakan, sebab banyak dari mereka yang kemudian berpikir, kalau mereka sampai diberhentikan dari gudang tersebut, hanya karena menuntut hak-hak mereka, menyadari kalau mereka hanyalah masyarakat kecil yang melawan penguasa, kemana lagi mereka akan mencari kerja? Sedangkan kompor di dapur harus terus menyala.

(Sumber Gambar: CPPS UGM)

Ida Ayu Saraswati

Penulis tinggal di Jember, Jawa Timur
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!