Saya Ngobrol Bareng Praktisi Radio: Perempuan Rentan Diobjektifikasi Lewat Musik

Bukannya memberdayakan, lagu-lagu yang diputar di radio ada yang malah mengerdilkan perempuan sebatas sebagai objek. Pengekangan terhadap karya juga terjadi dengan penerapan aturan yang bias gender.

Diksi, bagian fundamental tersirat dalam perjalanan pembuatan karya. Ia dilandaskan oleh berbagai tujuan, seperti memaparkan identitas musisi hingga menyuarakan isu di masyarakat. Penggunaan diksi oleh setiap musisi tentu berbeda – tidak jarang menimbulkan perdebatan dari diksi dalam karya tersebut.

Derasnya arus globalisasi  menyebabkan akulturasi bahasa dalam sebuah lirik lagu bahasa Indonesia tempo dulu dapat dipadukan dengan bahasa asing. Seperti, Bahasa Inggris, Korea, dan sebagainya. 

Perpaduan bahasa tersebut menimbulkan perdebatan di publik. Alasan mendasarnya yaitu tidak mengetahui secara eksplisit makna kalimat maupun pesan yang akan disampaikan musisi. Ketika mereka menggunakan bahasa asing dan/atau bahasa indonesia tempo dulu.

Perdebatan yang timbul tidak hanya berfokus pada makna, melainkan mengarah pada objektifikasi perempuan dalam sebuah karya. Budaya patriarki tidak hanya tersebar dalam aspek fundamental seperti ekonomi, sosial, dan politik. Musik menjadi salah satu saksinya. 

Radio sebagai salah satu medium musisi menyebarkan karyanya terkungkung, karena melanggar ‘hukum domestik’.

Peristiwa larangan pemutaran lagu telah dilakukan sejak Orde Baru saat pemerintahan Presiden Soeharto dan terus berlanjut hingga saat ini.

Baca Juga: Film ‘Pocong’ Dilarang Tayang Karena Ada Tragedi Mei 1998, Ini Seperti Sensor Ala Orba?

Porsi daftar lagu yang dilarang oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) antara lagu dalam dan luar negeri terlihat timpang sejak tahun 2019. Hal tersebut menjadi pertanyaan sekaligus tekanan tersendiri bagi masyarakat selaku pendengar dan/atau musisi serta dunia radio. 

Jenis lagu (genre) yang dilarang mencakup Pop, K-Pop, Dangdut, Indie, serta genre lainnya. Tanpa menanyakan pesan secara eksplisit, hendak disampaikan oleh musisi.

Berikut beberapa lagu yang dilarang untuk diputar di bawah pukul 22.00 WIB oleh KPI dengan total 69 lagu sejak tahun 2019 hingga 2021:

  1. Ed Sheeran – Shape of You
  2. Bruno Mars – Versace on The Floor
  3. Ariana Grande ft. The Weeknd – Love Me Harder
  4. Avril Lavigne – Wish You Were Here
  5. MAX ft. Suga – Blueberry Eyes
  6. Agnez Mo ft. Chris Brown – Overdose
Bias Pemangku Kepentingan Melalui Tatanan Hukum

KPI adalah pemeran utama dalam permasalahan ini. Merekalah yang meramu undang-undang hingga melayangkan surat peringatan kepada radio. 

Landasan hukum radio berada pada UU No. 32 Tahun 2002 mengenai dunia penyiaran secara khusus dalam Bab IV Pasal 37-39 serta Bab V Pasal 48 Ayat 4a-j.

Adapun landasan hukum lanjutan dari UU No. 32 Tahun 2002 mengenai Penyiaran dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) secara khusus Pasal 20, 24, 36, dan 53 menjadi sorot perhatian tersendiri bagi musisi dan radio.

Menyelisik P3SPS secara khusus Pasal 20 dan 24 sebagai acuan KPI mengenai daftar lagu di atas. Yaitu karya para musisi yang dicekal karena menyematkan diksi mengarah pada seks, kekerasan hingga umpatan seperti ‘fuck’, ‘damn’ hingga ‘shit’. Walaupun tidak tertera rujukan diksi spesifik dalam landasan hukum tersebut.

Menindaklanjuti tatanan hukum KPI dinilai tidak sejalan dengan pandangan dari Ruth Anne, Ian, dan Jordan dalam jurnal ‘Music as a Cultural Inheritance System: A Contextual-Behavioral Model of Symbolism, Meaning, and the Value of Music’ mengenai proses pembentukan sebuah lagu mulai dari pemilihan diksi hingga makna dari karya tersebut.

Referensi budaya yang dipilih oleh musisi akan memberikan warna dan makna dalam karya. Sebagai contoh, budaya Jepang menyajikan karya dengan makna tenang ketimbang karya dalam budaya Barat mencerminkan kemarahan.

Pemilihan diksi oleh musisi mempertimbangkan berbagai hal tidak terkecuali target pasar (market). Bila diksi yang digunakan sesuai target pasar, karya akan semakin tersebar dengan pesat salah satunya melalui radio.

Penulis melakukan wawancara kepada Music Director Ardan Radio Bandung, Awan Yudha, mengenai dapur penayangan musik radio.

Apakah ada kriteria spesifik terkait larangan pemutaran lagu oleh Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jabar?

“Kriterianya paling merujuk P3SPS. Kalau ada kata-kata yang ngarah ke sana (harassment), bakal ditinjau dan dilarang naik sama KPID.” 

Peneliti Mark A. Flynn dan kawan-kawan memiliki pandangan terkait objektifikasi perempuan dalam musik. Bahasan itu ada pada jurnal berjudul ‘Objectification in Popular Music Lyrics: An Examination of Gender and Genre Differences. Mark dan kawan-kawan menilai bahwa perempuan kerap kali diobjektifikasi dalam dunia musik karena terlahir sebagai insan yang lemah dan dijadikan pemuas nafsu bagi laki-laki.

Sedikit banyaknya, nilai tersebut lahir dari budaya patriarki yang dilanggengkan hingga saat ini. Perempuan, insan yang menjadi alasan utama atas larangan tersebut.

KPID Jabar menilai makna maupun penggunaan diksi pada lagu yang dilarang mengobjektifikasi perempuan sehingga memberikan dampak buruk bagi pendengar secara khusus anak-anak

Apakah pernah mengajukan banding kepada KPID Jabar terkait alasan penayangan lagu?

“Kita sudah 2 kali mengajukan banding ke KPID dan tetap ditolak dengan alasan harus mematuhi aturan yang berlaku. Jujur sangat kecewa karena aturan ini harusnya dilaksanakan serentak tapi masih ada aja radio yang naikin lagu-lagu itu di bawah jam 10 malam.”

Awan Yudha turut menambahkan dinamika dapur radio setelah mendapatkan teguran dari KPID Jabar berupa penayangan lagu serupa dalam bentuk ‘clean version

“Kita juga dikasih sama label clean version-nya, karena lama diracik sendiri kaya disensor kata-katanya.”

Penulis turut meminta tanggapan kepada 2 musisi lokal perempuan sekaligus pendengar yang disamarkan identitasnya terkait aksi penayangan lagu oleh KPID Jabar.

Narasumber 1 – Musisi & Pendengar Radio

“Kontra banget. Tayangan TV masih banyak yang perlu diperhatiin tapi mereka (KPI) lebih milih ngurusin lagu dengan alesan porno dan harassment. Aku ngerasa terbatas banget buat denger lagu di radio dan ga semua lagu yang dibuat musisi ngarah ke sana (pornografi & harassment) kok.”

Narasumber 2 – Musisi & Pendengar Radio

“Kecewa sih, cukup banyak lagu favourite aku yang dilarang sama KPID dan kita juga fine aja sama liriknya. Aksi banned ini tuh kasih stigma buruk ke Indonesia contohnya Ed Sheeran sama Bruno Mars ga mau konser di sini karena lagu mereka di-banned KPID.”

Kedua narasumber menambahkan pandangannya terkait larangan KPID telah melanggar UU No. 9 Tahun 1998 mengenai kebebasan berekspresi secara tidak langsung terhadap musisi.

Pemerintah harus berbenah diri dan melihat permasalahan ini.

Musik sebagai salah satu aspek kehidupan manusia tanpa ada parameter presisi – bebas dan tidak terikat oleh apapun. Satu sisi, diksi, jenis lagu (genre) hingga makna lagu setiap musisi juga semestinya tak melakukan objektifikasi terhadap perempuan. Pun berdampak buruk pada psikis pendengar karya tersebut secara khusus anak-anak di bawah umur 17 tahun.

(Gambar Ilustrasi Penyiar Radio/Freepik)

Divya Sanjay Bhojwani

Seorang anak tunggal perempuan tertarik dengan isu gender walaupun tidak menjadikan sebagai konsentrasi bidang ketika kuliah dan kerap kali mendengar radio untuk mengisi waktu kosong. Bila tertarik dengan tulis-menulis, bisa coba kontak ke ig @divyasanjayb
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!