Dia Ketahuan Selingkuh, Tapi Kita Sulit Move On, Stop Hubungan Toksik

Ini cerita tentang hubungan toksik yang sudah berakhir, tapi teror masih berlanjut. Seolah perempuan tidak boleh move on dan hidup bahagia.

Trigger warning: isi dari artikel ini dapat memicu trauma, khususnya bagi para penyintas kekerasan. 

Lega, sebuah kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi Ningrum (bukan nama sebenarnya) setelah putus dari kekasihnya, Wawan (bukan nama sebenarnya). 

Ningrum dihubungi Konde.co pada 23 januari. Ningrum habis pulang kerja paska lembur, lalu berbincang khusus dengan konde untuk pengalaman buruk yang pernah dialaminya.

Selama enam bulan berpacaran dengan Wawan, Ningrum seolah tak memiliki kendali atas hidupnya. Beberapakali Ningrum berhenti bercerita, menghela nafas.

Di kampus, Ningrum menjalani hari-hari seperti mahasiswa pada umumnya. Pergi ke kuliah, aktif di organisasi, dan sesekali pergi nongkrong. Sayangnya, ia tidak bisa bebas menjalani kehidupan tersebut. Ningrum merasa diintai, dia sering menengok-nengok ketika jalan, siapa tahu ada yang membuntutinya. Situasi ini tidak pernah dibayangkan akan terjadi dalam hidupnya.

Aplikasi Zenly yang terpasang di ponselnya bisa mendeteksi keberadaan Ningrum. Setiap pukul 21.00 WIB, ia harus sudah kembali ke kontrakan. Jika tidak, Wawan akan marah. Ningrum juga tidak diperbolehkan dekat–atau sekadar berteman–dengan laki-laki. Jika melanggar, Wawan akan melabelinya sebagai “perempuan murahan.”

Ini yang membuat Ningrum stres, kebingungan mau cerita sama siapa. Aturan yang dibuat sepihak ini sangat menyulitkan Ningrum. Sebab, ia berada di lingkungan yang didominasi laki-laki. Mahasiswi teknik sipil hanya bisa dihitung jari. Belum lagi hobinya yang sering menonton pertandingan sepakbola yang juga didominasi oleh laki-laki.

Mereka menjalani hubungan jarak jauh. Kondisi ini membuat mereka jarang bertemu. Namun sekalinya bertemu, Wawan selalu membuka HP Ningrum dan mengecek satu per satu, mulai dari sosial media hingga galerinya. Hal ini dilakukan semata-mata untuk memastikan bahwa Ningrum tidak selingkuh.

Sayangnya, Ningrum tak pernah diperbolehkan melakukan hal serupa pada Wawan. Selalu ada alasan yang membuatnya tak bisa membuka HP Wawan. Sementara Wawan sangat bebas mengakses privasi Ningrum, termasuk sosial media.

Beberapa pasangan memang menghendaki pertukaran sosial media. Alasannya sebagai bentuk keterbukaan, tidak ada yang ditutup-tutupi dari pasangan. Padahal, tindakan tersebut justru bentuk kontrol pasangan atas hidup kita. Ia berhak mengatur untuk apa sosial media tersebut, siapa saja yang boleh diikuti, hingga membalas pesan yang masuk lewat direct message (pesan langsung).

Sosial media memuat segala informasi berkaitan dengan data pribadi. Kita juga perlu membangun relasi di sana. Bahkan, sosial media juga bisa menjadi bentuk aktualisasi diri dan menunjukkan kehidupan kita kepada khalayak luas. Jika sosial media dikontrol oleh pasangan, artinya hak privasi kita sudah dilanggar.

Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) menyebutkan beberapa hal yang termasuk data pribadi. Contohnya adalah password, nama lengkap, nama masa kecil, nama alias, rekening bank, dan masih banyak lagi. Jika data tersebut diketahui oleh orang lain yang tidak bertanggung jawab, maka bisa menimbulkan dampak buruk bagi pemilik identitas.

Korban Dipukul dan Ditinggalkan di Pinggir Jalan

Ningrum kemudian juga tahu, jika Wawan tidak pernah lepas dari tabiatnya yang sering selingkuh. 

Selama berpacaran, Wawan selalu intens berhubungan dengan perempuan yang berbeda-beda, termasuk mantan pacarnya. Kecurigaan Ningrum terbukti ketika membuka arsip WhatsApp Wawan yang berisi chat bersama mantannya, Tata (bukan nama sebenarnya).

Beruntung Tata adalah teman Ningrum. Ia mengirimkan semua bukti percakapannya bersama Wawan. Hal ini untuk menunjukkan bahwa penjelasan Wawan tidak sesuai dengan realitanya. Alih-alih mengakui perbuatannya, Wawan justru menuduh Tata yang mendekatinya terlebih dulu.

“Sampai aku mau chat Tata itu aku mau diturunin di jalan. ‘Ya udah kalau kamu mau chat Tata, mending kamu turun di sini,’ terus habis itu aku dipukul sama dia,” ujar Ningrum saat dihubungi Konde.co pada Selasa (23/1/2024).

Suaranya yang bergetar ketika bercerita menunjukkan betapa traumatisnya kejadian tersebut. Ditambah kenyataan bahwa Wawan lebih memilih menemui Tata dibanding menyelesaikan masalahnya dengan Ningrum. Setelah bertengkar di dalam mobil, ia pun diturunkan di pinggir jalan.

Tindakan Wawan tak berhenti sampai di situ. Wawan juga pernah hampir melecehkan Ningrum saat sedang berdua di rumah. Ia juga pernah memaksa ingin menginap di kontrakan Ningrum. Bahkan, Wawan sempat mengajak Ningrum untuk sekamar bersama di hotel. Permintaan tersebut ditolak oleh Ningrum.

“Aku nggak mau. Dia ngediemin aku sebulan, akhirnya dia dekat sama cewek lain. Itu posisinya aku masih pacaran sama dia. Terus dia playing victim, ngomong ke orang-orang kalau aku yang selingkuh,” ucapnya.

Sikap manipulatif seperti ini sering dilakukan oleh pelaku kekerasan dalam pacaran. Ia akan selalu tampil dengan citra yang baik dan menjadi idaman perempuan. Tak jarang pelaku juga akan menyalahkan korban dan membuatnya tidak berdaya.

“Aku nggak dibolehin komunikasi sama orang, nggak boleh bergaul sama orang, terus dia mukul aku. Parahnya dia selingkuh juga, tapi dia nuduh-nuduh aku,” tambahnya.

Sulitnya Lepas dari Lingkaran Hubungan Toksik

Meninggalkan hubungan tanpa status memang terdengar mudah. Namun, lingkaran toksik ini justru menjebak perempuan agar sulit melepaskan diri. Wawan seolah memiliki dua kepribadian yang tidak bisa ditebak oleh Ningrum. Kadang ia menjadi orang paling romantis, di lain waktu berubah menjadi orang paling bengis.

Meski hubungan tersebut membuatnya merasa sakit, tetapi Ningrum tak bisa meninggalkan Wawan begitu saja. Perasaan takut membuatnya tak berani memutuskan hubungan. Bahkan setelah putus, Wawan masih terus mengganggu Ningrum.

“Dia itu selalu nggak mau lihat mantan-mantannya itu bahagia. Dia itu akan mengganggu,” ujar Ningrum.

Ningrum tidak pernah mengerti alasan bertahan dengan Wawan kala itu. Yang ia tahu, Wawan adalah lelaki baik yang sesuai dengan tipe idamannya. Tutur katanya lembut, penyayang, pintar, dan sering membicarakan rencana masa depan. Mata hati Ningrum seolah tertutup oleh tindakan manipulatif yang dilakukan Wawan.

“Aku respect sama dia kayak emang worth it cowok ini buat aku. Awalnya mikir gitu. Tapi makin ke sini, karena aku takut kehilangan dia, jadi dia bisa seenaknya sama aku. Tapi aku nerima aja gitu,” tambahnya.

Hubungan mereka berakhir karena perselingkuhan. Wawan menjalin hubungan dengan perempuan baru, sementara Ningrum masih memulihkan diri. 

Sekitar dua hari, Ningrum tidak pergi ke kampus. Ia juga menarik diri dari lingkungan sekitarnya. Apa yang dilakukan Wawan sangat menyayat hati Ningrum.

Datang Lagi dan Menghancurkan

Tak perlu waktu lama bagi Ningrum untuk membuka hati kembali. Ia memutuskan untuk berpacaran–dan menyembuhkan luka–bersama orang baru. Namun, lagi-lagi Wawan muncul dalam hidup Ningrum dan berusaha menghancurkan semuanya. Ia lantas menghubungi Ningrum dan pacar barunya.

“Dia itu sampai bikin fake account (akun palsu) terus jelek-jelekin aku. Padahal sebelum sama dia itu nggak ada orang yang kayak gitu, kurang kerjaan,” ucap Ningrum.

Melalui akun palsu tersebut, Wawan mengirimkan semua bukti percakapan yang menunjukkan saat Ningrum “mengemis cinta” padanya. Faktanya, Ningrum tidak pernah melakukan hal itu. Ia justru sangat menerima keputusan untuk menyudahi hubungan beracun tersebut.

“Jarang neror aku, tapi malah ke cowokku. Jelek-jelekin aku, ngomong kalau aku cewek nggak bener,” tambahnya.

Pacar baru Ningrum tak memberi celah sedikit pun bagi Wawan. Bahkan ketika Wawan menantang, ia dengan berani menerima tantangan tersebut. Wawan perlahan mulai tidak mengusik hidup Ningrum lagi.

Kondisi tersebut tidak bertahan lama. Tahun 2021, Wawan kembali menghubungi Ningrum. Kali ini, Ningrum tidak merasa takut lagi. Ia sudah pulih, meski pedih jika harus mengingat kejadian tersebut. Ningrum dan pacarnya sudah terbiasa dengan gangguan Wawan. Setidaknya Ningrum bisa bernafas lega ketika mengetahui Wawan sudah bertunangan.

Lingkaran hubungan toksik hanya bisa diputus dengan melawan. Dalam hal ini, Ningrum melawan dengan cara membuka hati kembali. Memang cara ini tidak selamanya berhasil dan bisa memberi luka baru.

Setiap perempuan memiliki caranya tersendiri untuk melawan penindasan dalam hubungan. Perempuan harus menerima kenyataan bahwa hubungan tersebut benar-benar toksik dan harus segera ditinggalkan. Jika dilanjutkan, yang ada hanya perasaan sakit yang berdampak buruk bagi kesehatan fisik dan mental.

Perempuan harus yakin bahwa dia tidak bersalah. Dia adalah korban dari kekerasan dalam hubungan toksik yang seharusnya mendapatkan dukungan dari orang di sekitar. Korban juga membutuhkan pemulihan untuk mengembalikan kepercayaan diri dan menghilangkan rasa traumanya.

Proses move on memang tidak mudah dan seringkali memakan waktu cukup lama. Karena sejatinya move on adalah proses berdamai dengan semua peristiwa masa lalu dan menjalani rutinitas normal dengan cara yang sehat.

Pasangan Toksik, Harus Diakhiri

Di lingkungan patriarkis, mengupayakan relasi sehat banyak dibebankan pada perempuan. Padahal, relasi sehat itu tercapai bila adanya kesalingan. 

Makanya, laki-laki perlu sadar dan ambil peran. Tak terkecuali, membongkar narasi  yang kaitannya dengan relasi sehat agar lebih adil gender.

Psikolog klinis yang mengambil spesialis psikologi anak dan remaja Anastasia Satrio mengatakan dalam diskusi “Berpasangan Komitmen #BersamaBerperan Bukan Adu Kekuatan yang diselenggarakan Konde.co, IDcomm dan Investing in Women untuk memperingati Hari Kartini (21/4/2022), pada dasarnya setiap orang bisa menentukan pilihan apakah akan membangun relasi yang sehat atau sebaliknya.

Relasi yang sehat, paparnya, didasarkan pada respek (penghormatan) dimana kedua belah pihak merasa aman dan mampu memberikan rasa aman. Relasi yang sehat adalah relasi yang setara dan ada ketersalingan. Tidak ada yang berupaya lebih besar ataupun lebih sedikit, tapi kedua belah pihak saling menjaga.

Sebaliknya, hubungan toksik biasanya berlandaskan kekuasaan. Di mana satu pihak menjadi subyek (berkuasa) dan pihak lain hanya menjadi objek. Ada satu pihak yang dominan dan mengontrol pihak lain.

Ditambahkan, sikap seseorang tak lepas dari latar belakangnya, baik sosial budaya maupun ekonomi. Perilaku dan mindset seseorang sangat dipengaruhi oleh cara anak dididik dan dibesarkan.

Cara orang tua melakukan relasi dengan anak sangat mempengaruhi cara pandang anak, atau bahkan jadi standar si anak dalam menjalin relasi.

“JIka seorang anak dibesarkan dalam situasi di mana dia selalu disalahkan atau direndahkan, maka kemungkinan besar dia akan memperlakukan orang lain sebagaimana dia diperlakukan,” ujarnya.

Dan, perilaku ini bisa dideteksi saat pacaran.

“Jadi saat pacaran itu jangan hanya mesra-mesraan, tapi jadikan media untuk saling mengenal agar bisa memahami dan mengerti.”

Lebih jauh Anastasia memaparkan, orang yang terlibat hubungan toksik sering mengalami graving circle yang sangat sulit dihadapi.

Tahap pertama, biasanya korban mengalami denial atau penyangkalan. Dalam tahap ini, ciri-ciri hubungan toksik sudah muncul tapi tidak sepenuhnya disadari bahkan menyangkal apa yang sebenarnya terjadi. 

“Ah, ini dia kebetulan sedang emosi saja, nanti juga akan berubah dan baik-baik saja, itu yang sering muncul di pikiran mereka.”

Selanjutnya adalah marah. Di tahapan ini, mereka sadar telah berada dalam hubungan toksik lantas mulai menyalahkan kenapa ini bisa terjadi. Sasaran kemarahan bisa dirinya sendiri, pasangan, orang sekitar atau bahkan Tuhan.

Selanjutnya adalah tahap depresi, di mana para penyintas hubungan toksik menyesali apa yang terjadi. Tahap ini ditandai dengan kondisi murung, tidak semangat seolah kehilangan energi, menarik diri atau bahkan menangis terus-menerus.

“Jika ada teman yang berada dalam tahap ini, yang bisa kita lakukan adalah menemani. Jangan coba menasehati apalagi menyalahkan,” pesan Anastasia.

Setelah tahapan ini, penyintas akan sadar dan coba mencari bantuan, ingin sharing apa yang dialami kepada orang lain untuk meringankan beban yang dirasakan.

“Diingatkan saja jika tahapan ini tidak berjalan linier tapi bisa maju mundur. Seseorang yang semula sudah berada di tahap bangkit, bisa saja tiba-tiba mundur ke belakang pada tahap marah.”

Ujung dari tahapan ini adalah menerima apapun yang terjadi pada dirinya. Yang akhirnya menemukan makna hidup versi kita sendiri.

“Buat kamu yang berada dalam hubungan toksik, tidak pernah malu meminta tolong. Saat tenggelam, kamu tak bisa menolong diri sendiri. Cari tangan yang bisa menolong mengangkat kamu dari air yang menenggelamkan kamu,” pungkasnya.  

Relasi berpasangan itu bukan untuk saling adu kuat, tapi untuk membangun hubungan yang sehat. Tapi jika memang tak bisa diperbaiki, jangan ragu ucapkan ‘selamat tinggal’ padanya. Kamu berhak bahagia!

Rustiningsih Dian Puspitasari

Reporter Konde.co.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!