Film 'Home Sweet Loan' (sumber foto: Instagram @homesweetloanofficial)

‘Home Sweet Loan’: Semua Orang Butuh Bahu Untuk Bersandar

Membahas isu sosial yang dekat dengan kehidupan generasi muda, Home Sweet Loan bisa jadi medium untuk merangkul masyarakat agar tidak merasa sendiri menghadapi situasi pelik.

Industri film Indonesia sudah mulai melek dengan berbagai isu sosial di masyarakat. Mulai dari soal kesehatan mental, sandwich generation, hingga susahnya punya rumah sendiri. Beragamnya topik ini membuat film bisa menjadi sebuah medium untuk merangkul masyarakat agar tidak merasa sendiri menghadapi situasi pelik.

Hal inilah yang ditawarkan film Home Sweet Loan produksi PH Visinema. Film yang disutradarai Sabrina Rochelle Kalangie ini merupakan adaptasi dari novel dengan judul serupa karya Almira Bastari. Dengan durasi 1 jam 52 menit, alur cerita film terasa dekat dengan situasi masyarakat. Terutama generasi milenial dan Gen Z yang menjadi tulang punggung keluarga dengan menghidupi orang tua, diri sendiri dan anaknya.

Kaluna, sang protagonis yang diperankan oleh Yunita Siregar, diceritakan terjebak dalam lingkaran setan sebagai anak bungsu sekaligus tulang punggung keluarga. Ia mesti menanggung hidup 3 kepala keluarga dalam satu atap dengan gaji UMR Jakarta.

Baca Juga: ‘Home Sweet Loan’ Memvalidasi Keresahan Perempuan Pekerja Kelas Menengah

Di tengah peliknya hidup, Kaluna masih mendapat dukungan teman-teman baiknya yakni Miya (Fita Anggriani), Tanish (Risty Tagor), dan Danan (Derby Romero). Sebaliknya, sang kekasih, Hansa (Wafda Saifan) justru menunjukkan sikap berbeda.

Penelitian yang dilakukan Dian Kristiani Irawaty dan Maria Gayatri menunjukkan beban yang ditanggung perempuan sebagai sandwich generation jauh lebih berat ketimbang laki-laki. Kondisi ini bisa menyebabkan timbulnya tekanan fisik, emosional, mental, stres serta kesulitan keuangan. Riset ini dipublikasikan dalam artikel berjudul “Sensing the Squeeze of Sandwich Generation Women in Jakarta, Indonesia” yang terbit di Journal of Family Sciences (2023).

Kondisi serupa bisa dilihat dalam kehidupan Kaluna di ‘Home Sweet Loan’. Ia berjuang untuk tetap “hidup” dengan cara mendapatkan bahu serta “rumah” yang tepat untuk melepas penat.

Semua Orang Butuh Bahu untuk Bersandar

Sejak scene pembuka, peliknya hidup Kaluna diperlihatkan secara terang-terangan. Kaluna yang dipaksa selalu mengalah, terusir dari kamarnya sendiri tanpa persetujuannya saat pulang kerja. Sikap acuh dan nirempati datang dari keluarga yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman.

Kondisi ini membuatnya mati rasa hingga angkat kaki dari rumah. Saat si sulung (Ariyo Wahab) terlilit pinjol ratusan juta dan memohon bungsu menjadi “penyelamat”, adalah titik ketika kesabaran Kaluna berubah jadi murka.

Film ini tidak menceritakan secara jelas kehidupan masa kecil Kaluna. Apakah dia sudah dipaksa menjadi dewasa sejak kecil atau di usia remaja akhir? Jawaban atas pertanyaan ini bisa menjelaskan gambaran atas kepribadiannya yang tahan banting saat menjadi tulang punggung keluarga.

Terlepas dari itu semua, peran Kaluna sebagai anak bungsu rasa sulung dengan tuntutan dan tanggungan ekonomi keluarga yang tinggi diperankan dengan cukup baik oleh Yunita. Termasuk saat ia terpaksa menumpang ke apartemen Danan sebagai puncak emosi.

Tidak hanya Kaluna yang membutuhkan bahu untuk bersandar, sang ayah (Budi Ros) turut merasakan perasaan anak bungsunya. Ia termenung setiap malam di teras rumah ditemani sebungkus rokok dan korek api sebagai sandaran hidupnya.

Baca Juga: Serial ‘Pay Later’: Ketika Perempuan Jadi Objek Konsumerisme dan Seksualitas

Laki-laki adalah sosok yang perannya menuntut dirinya untuk melanggengkan patriaki walaupun bisa jadi bertentangan dengan batinnya. Begitu juga dengan ayah Kaluna yang menjalankan kewajibannya sebagai kepala keluarga yang tegas sekaligus menjadi panutan keluarga.

Saya berkesempatan bertanya ke sesama penonton tentang tanggapan mereka terhadap film ini. Dua penonton menekankan soal pentingnya sosok atau tempat untuk bersandar.

“Kayanya kita butuh bahu buat bersandar, walaupun ga harus orang. Kalau (bersandar ke) orang, ga semua orang mau disandarin bahunya. Intinya, kita bisa kok bersandar pada prinsip/kepercayaan kita sendiri, di saat tidak ada orang yang bisa jadi sandaran kita,” jelas Glory, tim konten Idgitaf.

Pendapat senada disampaikan Cecilia Morinta, manager Idgitaf. “Pandangan saya tentang lagu ‘Berakhir di Aku’ dan film HSL, semua orang jelas butuh bahu untuk bersandar. Tapi tidak berarti semua orang bergantung dan menggantungkan hidupnya dengan orang lain.”

“Rumah” adalah Rumah

Menemukan bahu untuk bersandar serta “rumah” yang tepat untuk pulang adalah paket kombo dan keduanya dibutuhkan semua orang apapun latar belakangnya. Baik itu gender, ekonomi maupun status sosial.

Kehidupan Kaluna merupakan cerminan hidup banyak orang saat ini. Menjelang akhir film, Kaluna memutuskan melunasi utang pinjol Kanendra diikuti keputusan lainnya yakni berhenti bekerja dari kantornya. Ia lalu mencari kontrakan untuk membuat usaha katering bersama sang ibu (Daisy Lantang).

Bangunan penuh konflik dan kenangan sejak Kaluna kecil bersama ibu, bapak, Kanendra, dan Kamala (Ayushita) pun dilepas. Lembaran hidup baru dimulai dengan berdiri di atas kaki sendiri tanpa menjadi benalu dalam hidup Kaluna. 

Makna rumah tidak selalu tentang bangunan atau tempat tinggal. “Rumah” bisa juga berupa sosok untuk bersandar dan reparator batin. Karena itu bahkan tanaman sekalipun yang mampu menciptakan rasa aman, nyaman serta damai bisa menjadi “rumah”.

Hal ini seperti diungkapkan seorang penonton bernama Liestyyana yang saya temui. “Rumah ga harus tentang bangunan, semua yang bisa dijadikan tempat istirahat dengan perasaan nyaman dan tenang udah ‘Rumah’. Mirip kaya Kaluna, dia selalu berpikir berkali-kali soal mimpinya dan ikhlasin itu semua demi keluarga. Yakin aja kalo hal indah butuh waktu untuk datang.”

Pendapat senada disampaikan penonton lain, Siska Melati (nama samaran). “Mau apart yang bagus sekalipun kalo ga ada orang yang kita sayang tinggal di dalamnya ga bakal kerasa kaya ‘Rumah’. Walaupun aku bukan sandwich gen, tapi ngerasain banget beratnya jadi Kaluna. Adegan Bapak dan Kaluna berkesan banget.”Saya punya sedikit pesan untuk kalian yang membaca artikel ini. Saya memang bukan anak sulung/tengah/bungsu. Doa saya untuk kalian semoga kalian baik berstatus sebagai sandwich generation maupun tidak selalu kuat (fisik dan psikis), mendapatkan bahu serta ‘rumah’ yang didambakan. Salam hangat dari anak tunggal dan yatim ini.

(sumber foto: Instagram @homesweetloanofficial)

Divya Sanjay

Seorang anak tunggal perempuan tertarik dengan isu gender walaupun tidak menjadikan sebagai konsentrasi bidang ketika kuliah dan kerap kali mendengar radio untuk mengisi waktu kosong. Bila tertarik dengan tulis-menulis, bisa coba kontak ke ig @divyasanjayb
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!

latest news

latest news

popular

Yuk, Menulis di Konde.co

Kami memanggil kamu yang peduli dengan penguatan narasi yang berperspektif perempuan dan kelompok marjinal di media untuk menulis di Konde.co. Dengan mengirim tulisan ke Konde.co, kamu juga turut mendukung jurnalisme publik Konde.co bisa terus hidup.

Video