Bridgerton Season 4, kisah cinta Sophia dan Benedict sekarang sedang ramai jadi perbincangan sosial media. Masyarakat meromantisasi fiksi mirip cerita Cinderella sampai berandai-andai memilikinya dalam realita. Sudah pasti banyak yang mendambakan menjadi seseorang yang digilai oleh bangsawan tampan tanpa pandang strata sosial bukan?
Akan tetapi apakah serial tersebut memang seperti Cinderella yang pesan moralnya hanya berkutat pada kesabaran, kebaikan, dan keteguhan hati yang membuatkan kebahagiaan? Padahal Cinderella tidak akan berubah nasibnya tanpa bantuan si Fairy Godmother. Dia menjalani nasib buruk setelah ayahnya meninggal karena dijajah oleh ibu serta saudara tirinya.
Anggaplah si ibu peri adalah bantuan Tuhan bersifat keajaiban. Ironisnya memang butuh keajaiban supaya nasib bisa berubah bukan hanya mengandalkan realita dan usaha saja. Lalu dalam dunia Sophie tidak ada bantuan ibu peri, keajaiban bukan penyebab utama perubahan nasib.
Itulah kenapa serial Bridgerton Season 4 ini terasa amat realistis seperti menguliti fakta tentang struktur sosial yang mencekik perempuan. Romantisme beda kelas tersebut menyuguhkan banyak red flags pernikahan serta hubungan laki-laki dan perempuan.
Mengapa perempuan harus menderita dulu untuk kemudian mendapatkan kehidupan lebih baik? Kisah Sophie dinarasikan seperti Cinderella – perempuan miskin dan teraniaya namun tetap tabah menjalani hidup.
Kebahagiaan seperti hadiah yang hanya didapatkan setelah mereka menderita. Dan bentuk kebahagiaan itu seringnya dalam bentuk keberuntungan karena ditemukan oleh laki-laki kaya raya. Seakan-akan perempuan selalu menjadi objek. Jadi kebahagiaan itu bukan dari hak asasi melainkan imbalan atas kepatuhannya.
Baca juga: Internalized Misogyny dalam Film Perselingkuhan Menjebak Kita Pada Narasi ‘Istri Sah vs Pelakor’
Penderitaan Shopie bukan nasib buruk belaka melainkan hasil dari hukum patriarki. Tidak ada pengakuan terhadap anak di luar nikah dan soal hak waris perempuan. Bentuk manipulasi semacam ini dibuat untuk melemahkan kedaulatan perempuan.
Sistem tersebut menciptakan masalah lalu datang juga sebagai pahlawan sehingga kemalangan Sophie adalah desain sistemik. Ia memang dibuat demikian untuk mendukung sistem pemerintahan yang patriarkal.
Perempuan seperti Sophie termasuk dalam teori feminisme interseksional yang dikenalkan oleh Kimberlé Crenshaw (1989). Perempuan tidak dapat dipisahkan dari identitasnya seperti ras, agama, orientasi seksual dan kelas sosial. Selain menekankan pada isu rasial, perbedaan kelas sosial juga menjadi penyebab munculnya ketidakadilan terhadap perempuan.
Pada Sophie, hak- haknya hilang karena identitasnya sebagai anak di luar nikah sehingga mengalami perbedaan kelas sosial yang sangat jauh dengan Benedict.
Dari sini muncul keraguan tentang perasaan Benedict ataupun laki-laki bangsawan lain yang memiliki hubungan dengan perempuan beda kelas. Apakah mereka benar-benar tulus atau hanya menganggap perjuangan hidup mati perempuan miskin sebagai sesuatu bersifat “seksi” dan “menantang”?
Ada perkataan Benedict kepada Sophie, “The reality of you has become more tantalizing than any fantasy ever could be, and one I cannot live without”
Itu artinya mereka menikmati penderitaan dan kemiskinan perempuan sebagai estetika dalam petualangan romantis.
Bagaimana Patriarki Menciptakan Budaya ‘Marriage Market’
Konsep Marriage Market diciptakan oleh Gary Becker, ekonom pemenang Nobel di tahun 1970- an. Pernikahan menjadi pasar komoditas untuk mencari pasangan hidup. Terdapat transaksi ekonomi dimana individunya sebagai pedagang dengan aset yang akan ditukarkan dengan aset orang lain.
Laki-laki beraset kekayaan, status sosial seperti gelar kebangsawanan, dan ketampanan menjadi nomor sekian. Sedangkan perempuan beraset kecantikan, keperawanan, keturunan atau asal-usul, kesuburan, serta mahar.
Terdapat hukum permintaan dan penawaran dalam Marriage Market yang bekerja berdasarkan kelangkaan. Dalam era Regency, seperti latar Bridgerton, jumlah bangsawan laki-laki kaya dan lajang sangat sedikit dibandingkan perempuan yang butuh “diselamatkan”.
Artinya, perempuan tersebut mengalami kondisi ekonomi kritis. Akibatnya laki-laki memiliki daya tawar tinggi sehingga bebas memilih calon istri, sementara perempuan terkesan berkompetisi untuk mendapatkan salah satu diantaranya.
Aset perempuan sengaja dibatasi agar menciptakan kelangkaan tersebut. Mereka menghilangkan hak waris dan akses pendidikan untuk memandulkan kedaulatan ekonomi perempuan. Tujuannya sangat jelas yaitu menciptakan dominasi dan subordinasi dimana perempuan tidak punya aset sebagai daya tawar selain aset biologis -—kecantikan dan “keperawanan”.
Jika perempuan menjadi pintar, bisa bekerja, dan punya hak waris maka sistem ini akan runtuh karena mereka kemungkinan besar memilih tidak menikah karena bisa bertahan hidup sendiri.
Sebaliknya, laki-laki diberikan akses kekayaan, pendidikan, serta mobilitas sosial. Dalam
Bridgerton sudah jelas bahwa laki-laki seperti Benedict memegang monopoli. Ia sebenarnya tidak butuh menikah untuk makan, punya rumah dan pakaian bagus. Bahkan karakternya sebagai playboy memperkuat bukti jika laki-laki memonopoli pasar pernikahan. Mereka menikah untuk meneruskan keturunan, status, atau sekadar kepuasan pribadi.
Sedangkan Sophie masuk ke pasar lewat pesta dansa dengan aset nyaris nol. Dia tidak punya gelar kebangsawanan, kekayaan, dan nama keluarga. Status sebagai “anak haram” dilabeli sebagai “barang cacat” sehingga tidak memiliki dukungan dan tempat secara sosial. Akan tetapi dia punya aset yang dibutuhkan oleh Benedict yaitu menawarkan petualangan lewat rasa penasaran dan tantangan.
Narasi Perempuan ‘Naik Kelas” Lewat Pernikahan
Secara tidak langsung, bisa muncul doktrin berbahaya melalui serial ini. Ada narasi soal “naik kelas” bagi perempuan yang mengalami kesulitan setelah menikahi laki-laki kaya dan berjabatan. Narasi ini menciptakan stagnasi mobilitas sosial perempuan kalau mereka hanya bisa mengubah nasib lewat jalur romansa, bukan self development seperti pendidikan dan karier.
Era abad ke-18 dan 19, lewat banyak film barat, seperti Bridgerton atau novel klasik karya Jane Austen, kita menjadi tau kalau perempuan bernasib buruk di zaman dahulu baru bisa menyelamatkan kehidupannya melalui pernikahan. Ini adalah transaksi bisnis terpenting bagi tiap keluarga.
Pernikahan tersebut harus dengan laki-laki berstatus tinggi seperti bangsawan atau orang
terpandang. Sementara itu kategori perempuan bernasib malang seperti anak haram, janda, atau keluarganya bangkrut. Beberapa contoh hukum pemerintah yang patriarkal seperti berikut:
Pertama, Counventure Law, yaitu doktrin hukum Inggris yang menutup identitas hukum
perempuan oleh suaminya setelah menikah. Ia tidak punya hak atas harta, tuntutan hukum, atau menandatangani kontrak.
Kedua, Primogeniture, aturan tentang pemberian seluruh harta warisan kepada anak laki-laki tertua. Ini menjadi salah satu penyebab sistem Marriage Market semakin menguat karena anak perempuan dari keluarga bangsawan land rich, cash poor (aset besar tapi nol tunai) diharuskan mencari suami kaya agar tidak jatuh miskin.
Ketiga, status anak haram dan janda tanpa warisan tidak dihormati dan eksistensinya tidak diakui. Pernikahan adalah satu-satunya penyelamat status mereka.
Sistem ini menjadi doktrin bagi perempuan agar “menjual” dirinya sebaik mungkin. Mereka dididik oleh keluarga sekaligus meyakinkan dirinya sendiri agar siap menjadi “objek pemikat” bagi laki-laki demi keamanan ekonomi, bukan sebagai individu.
Privilese Laki-Laki dan Penjara Sosial Bagi Perempuan
Benedict merupakan simbol laki-laki dengan banyak privilese sehingga memiliki power untuk mengatur dirinya sendiri dan mempengaruhi orang lain. Dalam serial ia tergila-gila pada Sophie dan terkesan ‘cinta buta tanpa memandang strata’. Padahal tidak sepolos itu juga sudut pandang yang muncul.
Konsep The Other, Simone de Beauvoir (1949), menerangkan tentang hubungan perempuan dengan laki-laki. laki-laki merupakan subjek aktif sedangkan perempuan adalah objek pasif.
Di film, Benedict memiliki safety net berupa harta dan gelar bangsawan ternama. Ia akan lebih ditoleransi jika membuat kesalahan. Itulah sebabnya kenapa ia tidak takut mendobrak aturan untuk mengejar Sophie secara ugal-ugalan. Jika pernikahannya bersama Sophie memberikan dampak besar seperti dikucilkan keluarga maka Benedict masih punya banyak cadangan harta.
Bagaimana dengan Sophie? Ia adalah perempuan tanpa privilese, maka salah langkah sedikit saja dapat membuat hidupnya semakin menderita. Di sini muncul ketimpangan resiko.
Dari argumen ini, muncul hipotesis kalau bisa saja Benedict jatuh cinta padanya bukan karena merasa penasaran dan tertantang apalagi bicara soal ketulusan. Alasannya karena Sophie adalah satu-satunya perempuan yang tidak punya kekuatan untuk menolak pesonanya secara sistemik.
Shopie adalah perempuan yang sebenarnya punya hak dan suara namun tanpa Benedict, hak tersebut mati. Tanpa dinikahi oleh laki-laki bangsawan maka ia tidak bisa merebut kembali hak- haknya.
Tidak bisakah Sophie mendapatkan kehormatannya lewat pemberontakan atas ketidakadilan kelas sosial atau menempuh jalur hukum tanpa harus menjual dirinya pada pernikahan?
Sayangnya sistem patriarki di masa itu memang sengaja diciptakan oleh pemerintahan.
Penonton diajak merayakan kisah cinta mereka, di sisi lain, secara tidak langsung kita juga sedang memeriahkan sistem yang melumpuhkan kedaulatan perempuan. Dan secara tidak sadar, kita banyak menemukan peristiwa serupa zaman sekarang.
Apa Pentingnya Sadar terhadap Red Flags dalam Bridgerton?
Ada suatu penelitian tesis dari Falah (2021), membahas tentang pengaruh pernikahan terhadap kenaikan kelas sosial perempuan. Sebagian besar narasumber memberi data bahwa menikahi laki-laki berstrata sosial bagus (mapan finansial, keluarga terpandang, berjabatan dan berpendidikan tinggi) benar-benar menciptakan perubahan posisi seseorang dalam masyarakat. Kondisi ekonominya semakin bagus dan lebih dihormati dalam interaksi sosial.
Meskipun tidak semua tujuan mencari calon suami kaya memiliki label buruk, fenomena ini justru memberi validasi tentang masih lemahnya struktur kedaulatan perempuan di zaman sekarang.
Jika latar Bridgerton adalah era Regency maka wajar sistem patriarki masih kental. Sedangkan zaman sekarang hak-hak perempuan memang sudah diakui dan dilindungi oleh hukum seperti pendidikan, bekerja dan berkarier, kepemilikan aset dan menyuarakan pilihan. Namun melalui penelitian tersebut, fenomena “naik kelas lewat pernikahan” tetap menjadi bukti adanya kebocoran dalam implementasi kedaulatan tersebut. Kenapa demikian?
Perempuan bebas bersuara, bekerja, dan menentukan nasibnya sendiri namun masih ada kesenjangan. Contohnya seperti kesenjangan upah dan fenomena double burden atau beban ganda yang menghalangi mereka mencapai kemandirian ekonomi.
Karena inilah, banyak pernikahan dilakukan bersifat transaksional, yaitu sebuah mekanisme kompensasi atas gagalnya sistem ekonomi dalam memberikan akses setara. Itu artinya juga negara dan budaya masih belum berhasil membangun sistem dimana perempuan bisa mencapai kedaulatan mutlak, terutama masalah kemandirian ekonomi.
Baca juga: ‘The Housemaid’: Cerita PRT dan Lika-Liku Perempuan Lepas dari Jerat KDRT
Bridgerton Season 4, kisah cinta Sophie dan Benedict, bukan tentang betapa beruntungnya si perempuan dan heroiknya aksi laki-laki. Akan tetapi serial ini malah mengungkap betapa mengerikannya patriarki sejak zaman dahulu.
Romantisasi kisah Sophie dan Benedict di era modern bukan lagi dongeng manis melainkan pengingat pahit tentang kedaulatan perempuan yang masih bersifat kondisional.
Keberhasilan Sophie bukan terletak pada keberaniannya mencintai Benedict, melainkan ketidakberdayaan sistem yang tidak memberinya solusi lain untuk bertahan hidup selain melalui pernikahan.
Pada akhirnya, selama masih merayakan narasi “naik kelas lewat pernikahan” atau “diselamatkan oleh pria kaya” sebagai tujuan kebahagiaan maka selama itu pula perempuan terjebak dalam doktrin tersebut sehingga sulit mendapatkan kedaulatannya sendiri.
(Editor: Nurul Nur Azizah)






