Konde.co menyajikan kamus feminis sebulan sekali. Kamus feminis berisi kata-kata feminis agar lebih mudah dipahami pembaca.
Setiap empat tahun sekali, dunia seolah berhenti sejenak. Jalanan menjadi lengang ketika pertandingan dimulai, media dipenuhi statistik pemain. Media sosial berubah menjadi ruang debat tentang gol, taktik, hingga prediksi juara. Tahun ini, fenomena tersebut kembali lewat Piala Dunia FIFA 2026.
Piala Dunia selalu dipromosikan sebagai perayaan terbesar sepak bola. Konon, olahraga ini mampu menyatukan manusia lintas bangsa, ras, dan bahasa. Namun, di balik gegap gempita itu, ada pertanyaan yang jarang diajukan. Apakah sepak bola benar-benar menjadi ruang yang setara bagi semua orang?
Piala Dunia 2026, yang kini telah memasuki babak gugur, kembali menyedot perhatian miliaran penonton di seluruh dunia. Turnamen pertama yang diikuti 48 negara ini dipuji sebagai simbol inklusivitas karena memberikan lebih banyak kesempatan bagi negara-negara yang sebelumnya sulit lolos ke putaran final. Namun, memperluas jumlah peserta tidak otomatis membuat sepak bola menjadi lebih inklusif secara sosial.
Bagi feminisme, persoalannya tidak pernah hanya tentang siapa yang bermain di lapangan. Yang lebih penting adalah bagaimana kuasa bekerja di balik olahraga tersebut: siapa yang dianggap layak menjadi pahlawan, siapa yang suaranya diabaikan, dan siapa yang harus menanggung biaya sosial dari budaya sepak bola yang masih sangat maskulin.
Sepak bola bukan sekadar olahraga. Ia adalah institusi budaya.
Baca Juga: Saat Perempuan Jadi Suporter Sepak Bola: Dianggap Ikut-Ikutan, Direndahkan dan Dilecehkan
Sosiolog gender Raewyn Connell menyebut adanya maskulinitas hegemonik (hegemonic masculinity). Artinya, bentuk maskulinitas dominan yang dipandang sebagai standar ideal laki-laki. Maskulinitas ini identik dengan kekuatan fisik, keberanian, daya saing, agresivitas, serta kemampuan mendominasi. Berkaitan dengan itu, sulit menemukan ruang yang merepresentasikan maskulinitas hegemonik sekuat sepak bola.
Sejak kecil, anak laki-laki didorong bermain bola sebagai penanda “kelaki-lakian”. Sementara anak perempuan yang bermain sepak bola masih sering dianggap menyimpang dari norma gender. Bahkan hingga kini, pemberitaan media olahraga masih jauh lebih banyak mengangkat kompetisi laki-laki dibanding sepak bola perempuan, meski kualitas dan popularitasnya terus meningkat.
Dalam perspektif feminis, hal tersebut bukan sekadar persoalan representasi. Ia merupakan hasil konstruksi sosial yang membuat olahraga tertentu diasosiasikan dengan jenis kelamin tertentu.
Pemikiran Judith Butler mengenai performativitas gender (gender performativity) menjelaskan bahwa gender terus diproduksi melalui tindakan yang berulang. Ketika sepak bola terus dipertontonkan sebagai arena laki-laki—baik melalui iklan, pemberitaan, hingga budaya suporter—masyarakat akhirnya menerima anggapan bahwa olahraga tersebut memang “secara alami” milik laki-laki. Padahal, anggapan itu dibentuk oleh sejarah, bukan oleh kodrat.
Piala Dunia juga merupakan panggung nasionalisme. Setiap kemenangan dipersepsikan sebagai kemenangan bangsa, sementara kekalahan dianggap kegagalan kolektif. Tubuh para pemain laki-laki kemudian menjadi simbol negara. Maka pemain tidak lagi sekadar atlet, tetapi dianggap setara pahlawan nasional.
Masalahnya, ketika seorang atlet ditempatkan sebagai simbol kebanggaan bangsa, masyarakat sering kali mengabaikan persoalan etik di luar lapangan. Prestasi menjadi “modal moral” yang dianggap mampu menghapus perilaku bermasalah.
Baca Juga: Aitana Bonmati, Perempuan Pemain Sepak Bola Yang Jadi Simbol Adil Gender
Fenomena ini menjelaskan mengapa publik sering lebih sibuk membicarakan jumlah gol dibanding rekam jejak kekerasan berbasis gender yang melibatkan sebagian pemain sepak bola profesional.
Sepak bola memiliki sejarah panjang terkait kasus kekerasan seksual. Termasuk kekerasan terhadap pasangan, maupun pelecehan perempuan yang melibatkan pemain profesional.
Beberapa nama besar tetap memperoleh kontrak, tampil di pertandingan penting, bahkan mendapat dukungan fanatik. Meski tengah menghadapi tuduhan serius atau pernah terlibat proses hukum.
Salah satu contoh yang banyak diperbincangkan adalah Thomas Partey. Gelandang Ghana tersebut sedang menghadapi dugaan lima perkosaan dan satu pelecehan seksual oleh Kepolisian Metro London sejak Juli 2025. Bahkan pada Februari lalu, Partey juga dijerat dengan dua tuduhan pemerkosaan tambahan. Namun, di tengah proses hukum tersebut, ia tetap tampil membela negaranya dalam kompetisi internasional. Partey juga terus memperoleh dukungan dari sebagian suporter.
Di sisi lain, Partey dicekal dari Kanada dan dilarang tampil pada laga pembuka Piala Dunia 2026 di Toronto pada Rabu, 17 Juni 2026. Atas larangan tersebut, pemerintah Ghana merespon dengan mengupayakan diplomasi dengan pemerintah Kanada dan menyebut mereka seharusnya menerapkan “asas praduga tak bersalah” pada Thomas Partey.
Federasi Sepak Bola Inggris (FA) juga sempat mempertimbangkan untuk melarang para pemain Inggris menyapa Partey sebelum pertandingan terkait kasus itu. Mereka urung melaksanakannya. Namun, salah satu pemain tim nasional Inggris, Kakek Spence tetap menolak berjabat tangan dengan Partey sebelum laga mereka dimulai dalam putaran kedua babak penyisihan Piala Dunia 2026 di Boston pada Selasa, 23 Juni 2026 malam waktu setempat.
Baca Juga: Sebagai Penggemar Sepak Bola Musiman, Ada Dilema Nonton Piala Dunia 2022
Kasus lain adalah Benjamin Mendy, pemain sepak bola Prancis yang kini menjadi bek kiri untuk klub Liga Super Swiss Zurich. Mendy pernah melalui proses pengadilan, kendati akhirnya dinyatakan tidak bersalah atas sejumlah dakwaan pidana pada 2023. Meski demikian, kasusnya memunculkan perdebatan panjang mengenai bagaimana klub, federasi, media, dan publik seharusnya merespons pemain yang sedang menghadapi tuduhan serius.
Ada pula kasus Cristiano Ronaldo, yang pernah dituduh melakukan pemerkosaan pada tahun 2009. Ronaldo membantah tuduhan tersebut, dan tidak pernah dijatuhi hukuman pidana. Namun, perdebatan publik mengenai kasus tersebut terus berlangsung bersamaan dengan statusnya sebagai salah satu ikon terbesar dalam sejarah sepak bola.
Penting untuk membedakan antara tuduhan, proses hukum, dan putusan pengadilan. Tidak semua tuduhan berujung pada vonis bersalah. Namun, dari perspektif feminis, pertanyaan yang muncul bukan hanya soal bersalah atau tidak menurut hukum, melainkan bagaimana budaya olahraga merespons kekerasan berbasis gender secara lebih luas.
Mengapa begitu banyak suporter tetap memilih mengabaikan persoalan tersebut?
Dalam kajian feminis, fenomena ini sering dijelaskan melalui konsep budaya pemerkosaan (rape culture). Tentu saja rape culture bukan berarti semua laki-laki adalah pelaku kekerasan seksual. Konsep ini merujuk pada budaya yang cenderung menormalisasi, meminimalkan, atau mencari pembenaran terhadap kekerasan seksual, terutama ketika pelakunya memiliki status sosial tinggi.
Baca Juga: Perempuan dan Anak Jadi Korban Tragedi Kanjuruhan: Momen Kelam Sejarah Sepak Bola
Sadar atau tidak, fenomena rape culture sangat lekat di sekitar kita. Termasuk pada cara sebagian dari kita mengecualikan dugaan kekerasan seksual yang dilakukan figur publik atau atlet sepak bola. Atlet elite sering memperoleh apa yang disebut para peneliti olahraga sebagai sporting exceptionalism. Artinya, anggapan bahwa prestasi olahraga memberikan perlakuan istimewa terhadap pelakunya. Ketika seorang pemain mencetak gol kemenangan, misalnya. Publik lebih mudah mengingat selebrasinya dibanding membaca perkembangan kasus hukum yang melibatkannya.
Media pun berperan besar dalam proses tersebut. Liputan pertandingan hampir selalu jauh lebih dominan dibanding liputan mengenai isu kekerasan berbasis gender di dunia olahraga. Atau, ketika atlet ternama dilanda dugaan kekerasan seksual, media justru mengangkatnya dari sudut pandang kekhawatiran tidak dapat melihat sosok itu bermain di lapangan. Akibatnya, prestasi perlahan menghapus ingatan kolektif atas persoalan etik.
Lalu, sebagian orang mungkin bertanya: kenapa feminisme harus ikut membahas sepak bola?
Jawabannya sederhana: karena olahraga tidak pernah terlepas dari relasi kuasa.
Pemikir feminis Kimberlé Crenshaw menggagas konsep interseksionalitas. Ia mengingatkan bahwa ketidakadilan muncul dari berbagai lapisan identitas yang saling beririsan. Dalam konteks sepak bola, contohnya, perempuan tidak mengalami pengalaman yang sama.
Baca Juga: IFJ Kutuk Pelecehan Seksual Pada Jurnalis Perempuan Korban Suporter Sepak Bola
Jurnalis perempuan menghadapi seksisme di ruang redaksi olahraga. Suporter perempuan menghadapi pelecehan di stadion maupun media sosial. Atlet perempuan memperoleh fasilitas, gaji, dan eksposur media yang jauh lebih rendah dibanding laki-laki. Sementara korban kekerasan seksual yang menuduh figur terkenal sering menghadapi serangan balik berupa perundungan digital dan keraguan publik.
Karena itu, berbicara tentang sepak bola dari perspektif feminis bukan berarti menolak olahraga tersebut. Sebaliknya, feminisme mengajak kita melihat siapa yang memperoleh keuntungan terbesar dari sistem yang ada, dan siapa yang terus membayar harga sosialnya.
Tidak ada yang salah dengan menikmati Piala Dunia. Tidak semua suporter harus berubah menjadi aktivis setiap kali pertandingan berlangsung. Namun, mengagumi permainan tidak seharusnya membuat kita berhenti mengkritik budaya yang mengitarinya.
Kita bisa bersorak ketika sebuah tim mencetak gol spektakuler, sambil tetap mempertanyakan mengapa sepak bola perempuan masih menerima investasi yang jauh lebih kecil. Pun kita bisa mengapresiasi kecerdasan taktik seorang pelatih tanpa menutup mata terhadap seksisme yang masih mengakar dalam industri olahraga. Kita juga bisa menikmati keindahan permainan tanpa menganggap prestasi atlet sebagai alasan untuk mengabaikan persoalan kekerasan berbasis gender.
Pada akhirnya, Piala Dunia memang menghadirkan kisah-kisah heroik. Tetapi jika hanya kisah para pemenang yang kita rayakan, sementara pengalaman perempuan, korban kekerasan seksual, dan kelompok rentan terus berada di pinggir lapangan, maka sepak bola belum benar-benar menjadi olahraga untuk semua.
Mungkin inilah pertanyaan paling penting yang layak kita bawa selama menikmati Piala Dunia 2026: ketika dunia bersatu menyaksikan sepak bola, siapa yang masih belum benar-benar terlihat?






