Massa mengantar jenazah Mahsa Jina Amini, perempuan yang dibunuh pemerintah Iran karena melepas hijab di Teheran pada 26 Oktober 2022. (sumber foto: IMAGO / ZUMA Wire / Social Networks)

Dua Wajah di Teheran: Merayakan ‘Women, Life, Freedom’ di Bawah Bayang-Bayang Represi Negara

Teheran hari ini membelah dirinya menjadi dua realitas yang bertolak belakang, menyajikan sebuah epik kontemporer tentang apa artinya menjadi perempuan bebas di bawah rezim otoritarian.

Beberapa hari setelah menamatkan kumpulan esai Esok Hijab Kita Rayakan karya Kalis Mardiasih, saya melihat kabar tentang perlombaan lari Tehran 10K yang digelar di Taman Velayat pada 18 September 2026 beredar di media sosial. Terlihat beberapa pelari perempuan secara terbuka menembus rute balapan dengan rambut tergerai tanpa penutup kepala, menentang aturan wajib hijab yang masih ditegakkan secara represif oleh negara. 

Pelari jarak jauh nasional Iran, Parisa Arab, keluar sebagai juara dalam balapan tersebut. Ia merekam momen kemenangannya saat melintasi garis akhir dan menyatakan bahwa sorakan serta dukungan penontonlah yang memberinya energi di titik-titik paling berat.

Kemenangan Parisa dan keberanian para pelari tanpa hijab ini memantik refleksi mendalam tentang makna otonomi tubuh. Berlari, dalam konteks masyarakat bebas, adalah aktivitas rekreasi atau olahraga harian yang biasa. Namun, keputusan untuk berlari di ruang publik dengan rambut tergerai bagi perempuan Iran dapat menjadi bentuk pengambilan kembali kendali atas tubuh yang selama puluhan tahun diatur oleh negara.

Baca Juga: Membebaskan Perempuan Iran Tapi dengan Mengebom? Lagi-Lagi Rakyat Jadi Korban Perang Amerika-Israel Versus Iran

Di masa lalu, ketidakpatuhan semacam ini pernah menjadi hantu bagi perempuan, ketika satu helai rambut yang terlihat bisa berujung pada penangkapan, penyiksaan, hingga kematian.

Panjangnya Rantai Tragedi dan Opresi

Apa yang terjadi di lintasan Tehran 10K sesungguhnya lahir dari napas panjang gerakan 2022, sekaligus menjadi balasan atas sejarah opresi kelam yang pernah menelan nyawa Sahar Khodayari (dijuluki “Gadis Biru”), yang terpaksa membakar dirinya sendiri pada tahun 2019 karena terancam penjara lantaran menyamar sebagai seorang pria dengan mengenakan wig biru dan mantel panjang agar bisa masuk ke Stadion Azadi di Teheran demi menonton pertandingan sepak bola. 

Kematian tragis itu memicu tekanan keras dari komunitas internasional dan aktivis HAM, akhirnya mengancam akan menangguhkan Iran dari kancah sepak bola dunia jika perempuan terus dilarang masuk ke stadion. Alhasil, di tahun yang sama, untuk pertama kalinya dalam 40 tahun, ribuan perempuan Iran diizinkan membeli tiket dan menonton pertandingan kualifikasi Piala Dunia antara Iran dan Kamboja di Stadion Azadi secara legal.

Sayangnya, luka kolektif akibat kematian Sang Gadis Biru belum sepenuhnya sembuh ketika rezim kembali memakan korban. Pada September 2022, Mahsa Jina Amini tewas di tangan polisi moral karena dugaan “hijab yang tidak pantas”. Kematian ini memicu ledakan revolusi sosial terbesar dalam sejarah modern Iran. 

Selama berbulan-bulan, jalanan di seluruh negeri dipenuhi oleh perempuan yang membakar hijab mereka dan memotong rambut di ruang publik. Tindakan-tindakan tersebut menjadi penegasan bahwa perempuan berhak menentukan bagaimana tubuhnya ditampilkan dan diperlakukan di ruang publik. Tuntutan mereka meluas secara radikal: bukan lagi sekadar menuntut hak masuk stadion atau kebebasan berpakaian, tetapi menuntut penggulingan total sistem teokratis yang menindas.

Baca Juga: Perang Iran-Israel: Ingatkan Tiap Perang Selalu Perempuan dan Anak Jadi Korban

Jauh sebelum peristiwa tersebut, akar kontrol atas busana perempuan telah bermula pada tahun 1936, ketika Reza Shah Pahlavi memberlakukan Kashf-e yang melarang penggunaan penutup kepala secara paksa demi ambisi modernisasi Barat. Pasca-Revolusi Islam 1979, Ayatollah Ruhollah Khomeini justru memutarbalikkan aturan tersebut dengan mewajibkan hijab bagi seluruh perempuan tanpa terkecuali. Meski dua rezim ini bertolak belakang secara ideologi, keduanya melakukan kejahatan yang sama: mendikte dan merampas hak otonomi tubuh perempuan melalui kekuasaan laki-laki penguasa. 

Dalam dua rezim yang berbeda itu, tubuh perempuan sama-sama ditempatkan sebagai objek yang dapat diatur negara demi kepentingan politik penguasa.

Perlawanan yang Dirawat Turun-Temurun

Gelombang protes yang dilestarikan hingga ke lintasan lari hari ini meminjam kekuatan dari slogan “Perempuan, Kehidupan, Kebebasan” (Zan, Zendegi, Azadi). Slogan ini tidak tercipta begitu saja, melainkan berakar dari gerakan pembebasan perempuan Kurdi melalui pemikiran filosofis Abdullah Öcalan pada akhir 1990-an tentang Jineolojî (ilmu yang menegaskan bahwa tak ada masyarakat yang merdeka tanpa pembebasan kaum perempuan). 

Dilaungkan pertama kali sebagai Jin, Jiyan, Azadî oleh para pejuang perempuan Kurdi, slogan ini meluas ke ruang publik dalam protes di Turki pada 2006, bertransformasi menjadi simbol perlawanan unit pejuang perempuan saat menumbangkan ISIS di Rojava pada 2012–2014, sebelum akhirnya bermigrasi ke bahasa Persia dan memantik kembali keberanian publik pasca-kematian Mahsa Jina Amini.

Kendati dihimpit represi ganda, gerakan perempuan Iran tidak pernah tinggal diam. Pada 8 Maret 1979, lebih dari 100.000 perempuan memadati jalanan Teheran yang bersalju demi menolak aturan wajib hijab seraya menyerukan bahwa kebebasan bersifat universal. Benih perlawanan itu terus merambat hingga melahirkan aksi-aksi agensi individual yang membakar sejarah modern, seperti yang dilakukan Vida Movahed pada 2017. 

Aksi Vida memanjat kotak utilitas di Jalan Enghelab dan melepas hijab putihnya, melahirkan gerakan “Gadis-Gadis Jalan Enghelab”. Di arena olahraga, nama atlet panjat tebing Elnaz Rekabi terukir sebagai simbol perlawanan ketika ia bertanding tanpa hijab pada Kejuaraan Asia 2022 di Korea Selatan. Sementara itu, Narges Mohammadi, peraih Nobel Perdamaian 2023, secara konsisten memobilisasi protes sesama tahanan perempuan dan menyelundupkan pesan-pesan perlawanan.

Baca Juga: Kematian Karena Jilbab Terjadi Lagi di Iran, Kali Ini Menimpa Armita Geravand

Hingga perhelatan Tehran 10K, perjuangan perempuan Iran memperlihatkan kemenangan sosiokultural yang terdengar nyaris mustahil diputar balik oleh rezim mana pun. Rambut yang tergerai dan kain yang berkibar bebas diembus angin di jalan-jalan protokol menjadi pesan simbolik yang melanjutkan estafet perjuangan menyuarakan kebebasan dari para pendahulunya. Semua demi merebut kembali ruang publik, meruntuhkan tembok ketakutan, dan menegaskan bahwa masa depan Iran ada di tangan perempuan yang merdeka.

Kemenangan, Maraton yang Belum Usai

Beranjak dari tragedi-tragedi masa lalu, pemandangan hari ini adalah sebuah lompatan sejarah bagi hak-hak perempuan. Opresi tersebut kian kompleks ketika di sudut-sudut kota juga bisa dijumpai kelompok polisi moral, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan bercadar. 

Hingga hari ini, fungsi mereka bertransformasi menjadi instrumen pemerintah untuk mengintimidasi, menegur, mencatat identitas, hingga menyerahkan perempuan tanpa hijab kepada aparat keamanan. Kehadiran mereka difungsikan sebagai alat propaganda yang memperlihatkan keberpihakan mutlak pada rezim teokrasi dan narasi militerisme negara. 

Meski demikian, keberadaan aparat ini justru memperjelas garis batas yang tegas: antara negara yang memperalat tubuh perempuan demi melanggengkan kekuasaan dan para perempuan yang mempertaruhkan kebebasannya demi merebut kembali kemerdekaan atas dirinya sendiri.

Ada bayangan lain di balik perayaan angin kebebasan di lintasan lari, yaitu represi berdarah milik negara yang nyatanya dekat. 

Baca Juga: Aktivis Perempuan Iran Narges Mohammadi Raih Nobel Perdamaian 2023

Hanya beberapa pekan sebelum balapan ini digelar, pada akhir Agustus 2026, pengadilan Iran menjatuhkan hukuman mati kepada dua orang perempuan, Taraneh Rahimi (20) dan Leila Abolhasani (43), atas tuduhan keterlibatan mereka dalam protes anti-pemerintah di Isfahan pada awal 2026 lalu. Kontras yang tajam antara pelari yang merebut kembali jalanan ibu kota hari ini dan perempuan yang menunggu tiang gantungan esok adalah realitas kelam yang memaksa kita mendefinisikan ulang makna “kemenangan”.

Kemenangan tidak selalu berupa momen tunggal di mana sebuah rezim tumbang dalam semalam, dapat termanifestasi dalam bentuk perubahan sosiokultural yang radikal dan tak bisa lagi diputar mundur. 

Keberanian perempuan Iran ini menunjukkan bahwa perlawanan terhadap aturan patriarkal dapat tumbuh dari tindakan sehari-hari untuk mengambil kembali kendali atas tubuh dan ruang publik. Meskipun negara mencoba mengaburkan visibilitas perlawanan ini dengan memobilisasi polisi moral, upaya tersebut tidak menghentikan perlawanan para pelari perempuan yang bergerak secara organik dan didorong oleh kerinduan mendalam akan hak asasi. 

Baca Juga: Peringatan Setahun Kematian Mahsa Amini di Iran, Aktivis Ditangkap dan Keluarga Ditekan

Keduanya memang terjadi di kota yang sama, Teheran, namun bernapas dalam dua abad peradaban yang sangat bertolak belakang. Dinding ketakutan itu telah runtuh. Meskipun ancaman hukuman penjara, denda finansial, pencabutan hak ekonomi, hingga pengawasan kamera berteknologi pengenalan wajah masih mengintai, perempuan Iran telah memenangkan pertarungan secara de facto.

(Editor: Luthfi Maulana Adhari)

(sumber foto: IMAGO / ZUMA Wire / Social Networks)

Rully Restiana

Pemerhati gender dan lulusan Japan Studies.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!

latest news

latest news

popular

Yuk, Menulis di Konde.co

Kami memanggil kamu yang peduli dengan penguatan narasi yang berperspektif perempuan dan kelompok marjinal di media untuk menulis di Konde.co. Dengan mengirim tulisan ke Konde.co, kamu juga turut mendukung jurnalisme publik Konde.co bisa terus hidup.

Video