Ibu bangun sebelum azan subuh. Ia merapikan tempat tidur dan selimut yang dipakainya, lalu beranjak ke kamar mandi untuk mencuci muka. Di kamar mandi, Ibu melihat sikat kloset dan langsung menggosoknya karena WC kotor akibat anak-anak yang kadang lupa menyiram setelah buang air besar atau kecil.
Sebenarnya Ibu sudah sering mengingatkan agar anak-anak menyiram sendiri. Namun, begitulah anak-anak: selalu berkata lupa, padahal mereka hanya terburu-buru ingin bermain lagi.
Hal-hal kecil dan remeh-temeh yang ditemukan Ibu sudah melekat setiap hari. Kadang Ibu jengkel kepada anak-anak. Meskipun begitu, Ibu tetap membereskannya dengan ikhlas. Ibu hanya perlu berteriak, menggerutu, dan mengomel agar isi hati keluar sebagai ucapan sesaat. Dalam hati, Ibu berharap hal itu tidak terulang lagi.
Setelah dari kamar mandi, Ibu melihat kompor, seolah-olah kompor memanggilnya untuk disapa. Kompor itu dilap dengan lembut, lalu digunakan dengan gembira sambil menyiapkan sarapan anak-anak dan melengkapi isi meja agar warga yang datang dari ladang atau pekerjaan lain tidak kelaparan.
Gerak tubuh Ibu tanpa disadari penuh aksi. Hampir seluruh energi, kecerdasan, dan keterampilannya dikeluarkan lewat berbagai jurus rahasia agar pekerjaan tuntas sesuai target jam yang ditetapkan dalam pikirannya.
Memasak pun dilakukan dengan cara paling unik dan ampuh: meletakkan panci dan air di kompor sambil memotong sayur, membersihkan meja dan peralatan terdekat, lalu kaki menginjak lap lantai dengan cekatan. Bagi Ibu, itu kompetisi diri agar pekerjaan pagi selesai cepat dan rapi.
Baca Juga: Kekeringan Melanda Desa Kami, Tak Ada Rumput untuk Kambing Tuminah
Azan subuh mulai terdengar dari berbagai penjuru: musala depan kecamatan sayup-sayup, lalu musala dekat Polsek dan sebuah bank. Dalam hati, Ibu memikirkan bagaimana jika saldo yang dipegangnya cukup untuk uang saku, beras, dan makan warga nanti serta besok. Semua itu dipikirkan dengan bijaksana agar tidak meleset. Tak berbeda dengan direktur utama yang berusaha menjaga perusahaannya agar tidak ambruk.
Dalam rumah, peran Ibu ada di garda utama. Sejak bangun hingga tidur lagi, Ibu memulai aktivitas paling awal dan mengakhirinya paling akhir. Semua yang dikerjakan bertujuan memenuhi kebutuhan keluarganya: anak-anak dan suaminya. Ditambah lagi jika ada seorang lansia, kesibukannya makin padat setiap hari.
Seorang Ibu paling mengerti kebutuhan seluruh anggota keluarganya. Kapan anak harus makan, belajar, dan berangkat sekolah, Ibu tahu. Kapan suami harus berangkat bekerja—kewajiban yang tak bisa ditinggalkan—Ibu juga tahu. Bahkan lap dan sapu seolah tidak pernah dilupakan; sapu hampir setiap waktu dipegang.
Ibu gelisah, takut, dan khawatir ketika kebutuhan tidak seimbang dengan penghasilan, atau ketika ayah sebagai pencari nafkah tidak mampu mencukupi. Ibu tahu ketika wajah suaminya berubah karena Ibu mengenali anggota keluarganya sekecil apa pun. Ibu mengkhawatirkan anak yang mulai dewasa: bagaimana sekolahnya nanti tercukupi, apakah kebutuhan lain terpenuhi atau justru berkekurangan.
Ibu merasakan dan mengerti situasi ketika ekonomi ambruk dan menurun. Ibu beradaptasi dengan hal-hal yang mudah dikenali dalam rumah. Ketika tidak mampu membeli daging dan ikan, ia beralih ke tempe dan tahu. Ketika tidak dapat membeli sayuran di pasar, Ibu mencari apa yang bisa dipetik di kebun. Dengan apa adanya, bahan sederhana itu menjadi aneka menu menarik.
Baca Juga: Ceritaku Perempuan Petani Milenial, Tak Kapok Tanam Cabai Meski Kemarau Panjang Menghantam
Ibu rela mengorbankan waktu dan tenaga lebih banyak untuk mencari dan membeli di pasar. Ibu adalah lini terdepan saat krisis merajalela. Ibulah yang paling merasakan dampak ekonomi saat krisis, ketika penghasilan keluarga hilang, dan paling terserang depresi, putus asa, serta tekanan mental karena beban berat dan ganda.
Saat sendirian, Ibu bisa menangis bahkan berteriak meluapkan khawatir dan emosinya karena hari-hari yang dilewati terkadang berat dan sulit diungkapkan kepada orang lain. Kadang Ibu harus menyimpan rahasia besar; tidak bisa mengungkapkan kepada orang luar persoalan keluarga saat kesulitan ekonomi dan kurang dukungan untuk Ibu yang lelah.
Ibu hanyalah manusia biasa, perempuan yang membutuhkan perhatian, tetapi kadang tidak mendapatkannya.
Menjadi PRT hingga Merantau Ikut Suami di Kebun Sawit
Ibu itu adalah aku.
Namaku Yanti, usiaku 40 tahun. Aku tinggal di Kampung Ndukuh, Giriharjo, Gunungkidul, di pojok kota kecamatan yang cukup ramai. Sehari-hari aku keluar-masuk kampung, menjalani berbagai kegiatan untuk mengurus rumah, anak-anak, dan mencari penghasilan.

Suamiku bekerja di perantauan Kalimantan, sementara aku dan anak-anak berada di Gunungkidul, menjalani hari-hari bersama anak-anak yang bersekolah di kampung. Suamiku bekerja jauh karena tuntutan kebutuhan ekonomi. Kami hidup di kampung yang sering kekeringan dan sulit mencari pekerjaan tetap.
Suamiku bekerja di sebuah perusahaan kelapa sawit dengan gaji sesuai UMR di tempatnya bekerja. Meskipun hanya UMR, bagi kami dan suamiku itu sudah lebih dari cukup.
Baca Juga: Menimbang Keutuhan Karst Gunungsewu, Ketika Ibu Bumi Digempur Industri Wisata
Selama suamiku bekerja di perantauan, hidup kami terasa nyaman dan bahagia; anak-anak mudah mendapatkan dukungan kebutuhan karena bapaknya setiap bulan mengirim uang.
Sebelum menikah, perjalananku menuju dewasa dan meraih cita-cita cukup panjang. Setelah lulus SD dari kampung, aku mencoba keberuntungan dengan hijrah ke Kota Yogyakarta. Aku kecil, anak seorang ibu tunggal yang miskin, tidak mampu mendapatkan kesempatan melanjutkan SMP di kampungku.
Kemudian aku diajak tetanggaku untuk menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT). Aku diizinkan orang tuaku, lalu berangkat bersama Mbak Rani, tetanggaku yang bekerja di Kota Jogja sebagai PRT.
Alasan pertamanya mengajakku adalah karena aku bisa bekerja menggantikannya, sebab Mbak Rani mau pulang kampung dan menikah. Aku pun ikut saja dan menerima tawaran itu.
Pada usia 12 tahun, tahun 1996–1997, aku sudah menjadi anak yang bekerja sebagai PRT. Tahun demi tahun berjalan dengan banyak cerita panjang.
Pertama-tama, di depan rumah majikanku, ketika anak-anak seusiaku lewat berangkat sekolah, aku sering menangis dalam hati sambil memegang pintu dan sapu pada pagi hari. Di jam yang sama, setiap hari, aku menyapu dan melihat anak-anak seusiaku bersekolah.
Itu kadang benar-benar membuatku meneteskan air mata.
Tetapi seketika aku sadar, apalah daya orang tuaku miskin. Saat itu pula aku menyeka air mata yang keluar dari ujung kelopak yang tak bisa kutahan. Dengan sadar, aku menghibur diri sendiri; itulah satu-satunya jalan, kemudian aku lanjut bekerja.
Pada tahun selanjutnya, aku beranikan diri berkata kepada majikan, “Bu, saya ingin sekolah, tapi bagaimana caranya?”
Baca Juga: Cerita Pendamping Perempuan Disabilitas yang Jadi Korban Kekerasan Seksual: Hukum Ditegakkan Setengah Hati
Majikan pun merespons, “Ya, tak sekolahkan ngaji saja ya, sore, sama Mas Kakak yang waktu itu kuasuh dan kutemani setiap hari.”
Aku pun menerima tawaran Ibu majikan. Aku sekolah ngaji sore setiap hari rutin, kecuali hari libur seperti yang lain sesuai jadwal.
Waktu itu hatiku sangat bahagia karena bisa belajar ngaji di sebuah TPA Aisyiyah di wilayah Umbulharjo. Waktu berjalan cukup lambat, rasanya aku menjadi murid sekolah lagi meskipun secara usia aku paling tua di TPA Aisyiyah tersebut.
Aku tidak malu ikut memakai seragam yang sebenarnya pantas dipakai anak usia SMP, TK, bahkan PAUD.
Aku berhenti setelah selesai Iqra jilid 6. Aku merasa cukup lumayan sudah mampu melewati dan mendapatkan ilmu dari masa itu.
Memasuki tahun 1997, aku mulai bisa memilih keputusan. Aku pindah tempat kerja karena ada orang yang menggeser posisiku di tempat kerjaku. Beliau lebih dewasa daripadaku, aku pun mengalah.
Aku menemukan tempat kerja baru, masih di Kota Yogyakarta, tetapi di sebuah kompleks perumahan. Di sanalah aku mendapatkan jalan cerita baru. Aku tumbuh lebih dewasa dan ceria karena yang kuasuh adalah anak-anak perempuan seusiaku. Mereka sering membagikan cerita setelah pulang sekolah kepadaku, lalu membuatku semakin ingin bersekolah lagi.
Lalu bagaimana caranya?
Baca Juga: ‘Ibu Bumi Memberi, Ibu Bumi Disakiti, Ibu Bumi Mengadili’ Pameran Seni Perlawanan Perempuan Menolak Tambang
Aku pun bingung. Tak lama kemudian, aku berani mengutarakan kepada majikan di tempat keduaku. Aku berkata dan bertanya, “Bu, apakah aku bisa bersekolah lagi?”
Aku bilang kepada majikan karena aku bertemu teman saat membeli sayur di tukang sayur, katanya ada sekolah terbuka yang bisa sekolah sore. Saat itu Ibu majikan masih memikirkan solusinya, katanya minta ditunda dulu.
Tetapi kemudian majikan mengizinkan aku bertemu dan berinteraksi, belajar keterampilan dengan teman-teman sesama PRT di kompleks untuk mendapat pembelajaran keterampilan, belajar ngaji, bahasa Inggris, menjahit, dan sebagainya. Teman-teman tersebut mendapat pendampingan.
Saat itu namanya Sekretariat Bersama Perempuan Yogyakarta (SBPY). Aku cukup senang mendapatkan izin dari Ibu majikan. Waktu terasa begitu cepat. Aku mengenal banyak orang dan mendapat kesempatan mengutarakan mimpi serta menceritakan keadaan, cerita masa tumbuh kembangku sebagai anak kecil dan kampung yang orang tuanya kurang mampu dalam segala hal.
Saat itu aku masih sangat kecil untuk disebut pekerja PRT. Tetapi aku diambil oleh orang-orang baik dari bagian keluarga komunitas tersebut. Aku disekolahkan di sekolah formal SMP di wilayah Jogja Selatan, Kotagede. Seharusnya aku sudah memasuki kelas 3 SMP, namun karena keadaan perjalanan yang cukup kompleks dan kondisi sebagai anak kurang mampu, pada usia sekitar 14 tahun aku baru masuk kelas 1 SMP. Namun di situ aku tetap bersyukur menemukan dan dikelilingi orang-orang baik.
Waktu terus berjalan seiring bertambahnya usiaku dan kemandirianku. Aku pun mampu melewati masa berpindah-pindah majikan, tetapi tetap mempertahankan sekolah. Di mana pun aku berada, aku tetap menjadi pekerja, namun aku sudah mendapatkan pengetahuan dan bekal dari berbagai kegiatan pendampingan kelompok perempuan.
Baca Juga: Jalan Terjal Ojol Perempuan, Bertaruh Pada Aspal dan Algoritma: Hasil Riset Konde.co (2)
Setelah lulus SMK, aku pulang-balik kampung. Orang tuaku masih hidup dan bekerja di kota setiap beberapa waktu, karena orang tua tidak mengizinkanku bekerja ke luar kota, apalagi ke luar negeri.
Waktu itu aku memilih bekerja di sebuah toko buku karena aku sangat suka membaca. Meskipun hanya punya sedikit sela pekerjaan untuk membaca buku-buku, itu sudah membuatku senang.
Selayaknya orang kampung, aku mengikuti anjuran orang tua untuk cepat menikah. Pada usia 25 tahun, aku menikah dan belum memiliki bekal apa pun untuk masa depan.
Setelah menikah, aku dikaruniai anak laki-laki pertamaku. Di sela-sela mengasuh anak dan rumah tangga, aku keluar rumah dan berinteraksi di masyarakat, menyalurkan hobi membaca dan sedikit mengerti dunia.
Aku mencoba masuk dunia kerja di sektor pendidikan dini. Aku mulai mampu mengajar dan mendidik anak-anak di sebuah TK di kampungku. Ternyata aku hanya mampu melakukannya sekitar dua tahun, dari tahun 2008–2010.
Waktu itu lagi-lagi terbentur alasan ekonomi. Aku yang bersuami, tetapi suamiku tidak memiliki pekerjaan, dan aku mengajar hanya diberi uang bensin Rp50.000,00 per bulan dari sekolah tempatku mengajar.
Akhirnya aku memutuskan keluar dan mencukupi kebutuhan hidup. Dunia mengajar yang sebenarnya aku sukai dan mampu kujalani akhirnya aku putuskan. Kami memutuskan merantau ke Kalimantan menjadi pekerja petani kelapa sawit.
Baca Juga: Apakah Transportasi Umum Berperspektif Gender dan Inklusi: Janji Manis Inklusivitas, Masih Bolong Sana-Sini (2)
Tahun-tahun berat telah terlewat sambil menahan rasa sedih melihat anak pertamaku tidak betah di kawasan Agro yang sangat pelosok dan tidak ada yang cukup menarik buat perkembangan anak. Anak mulai tidak betah tinggal di kebun. Dengan berbagai pertimbangan, sebagai Ibu, aku tidak tega, apalagi anak kedua yang juga sangat buruk perkembangannya, lahir di pelosok Kalimantan.
Meskipun aku punya banyak kesempatan mendapatkan posisi pekerjaan yang bagus, aku rela demi anak sekolah. Kami pindah tempat tinggal. Suami tetap merantau, dan aku beserta anak kembali ke kampung Gunungkidul tinggal bersama mertua.
Setiap bulan dikirim uang, dan aku yang sebelumnya bekerja dengan aktivitas cukup panjang akhirnya hanya menanti kiriman uang gaji suami. Namun saat itu kucoba kelola dengan baik karena masih memiliki sedikit hasil kerjaku.
Ketika menerima, aku bisa gunakan untuk membayar sekolah tepat waktu dan memberikan tabungan. Kiriman uang untuk segala keperluan anak-anak sesuai keinginan dan kebutuhan mereka, kemudian tetap bisa menyisihkan sedikit buat masa depan, rencana membangun rumah.
Berawal di akhir masa perjuanganku, dari jerih payah kami terbeli sepetak tanah kecil ukuran 294 m². Itu pencapaian terbesar kami ketika itu karena impian itu diraih dengan penuh keringat di rantau yang sangat keras.
Ketika Suami Terkena PHK
Suamiku cukup mendapatkan berita dan informasi perkembangan anak-anak dan kejadian atau perubahan apa pun hanya melalui telepon dan WhatsApp. Begitu juga aku, mendapat cerita suamiku hanya melalui aplikasi pepesanan itu.
Dulu suamiku muda, kuat, dan tangguh; tidak pernah mengeluh kepada kami. Seolah-olah semua kebutuhan dan keluhan kami tidak pernah menjadi masalah dalam hidupnya, dan dari semua kondisi itu kami selalu merasa baik-baik saja.
Namun, seiring berjalannya waktu sampai tahun ke-4, kami merasa harus memiliki sebuah rumah. Di situlah kami harus lebih berhemat, menabung, serta mengubah gaya hidup dengan gaji UMR suami saja.
Aku hanya seorang Ibu yang mengurus anak, hidup di rumah mertua, mulai merasa bingung dan sering terguncang karena merasa tidak memiliki penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan kami dan harapan memiliki rumah impian.
Aku pun setiap hari, setiap malam, memikirkan bagaimana harus memiliki solusi perubahan tersebut. Aku bercerita kepada anak-anak kalau mau bekerja ke kota. Di situlah anak-anak merasa sedih mau ditinggal ibunya bekerja, meskipun mereka tahu ada simbahnya di rumah.
Baca Juga: Nasib Perempuan di Pilkada: Diserang Identitas Gendernya, Dipertanyakan Apakah Bisa Memimpin
Waktu terus berjalan, anak-anak sudah mulai bisa menerima penjelasan dan keinginanku bekerja. Setelah anak-anakku menerima keinginanku meninggalkan mereka untuk bekerja ke kota, aku meminta izin suamiku untuk bekerja.
Aku bekerja di sebuah tempat laundry di Kota Yogyakarta, kemudian setiap hari pulang-pergi kota menempuh waktu perjalanan dua jam. Di situ perjuanganku kumulai. Gaji harianku kubelanjakan untuk dapur serta kusisihkan untuk membeli material kecil-kecil. Suamiku mengirim untuk kebutuhan sekolah anak-anak dan material pokok.
Selama setahun aku bekerja, kami mulai memiliki bangunan kecil impian kami.
Ternyata setelah kami membangun rumah, kejadian demi kejadian dalam kehidupan kami datang silih berganti. Di Indonesia dan dunia ada wabah virus korona. Di situ semakin membuat kami makin sulit.
Aku, Ibu dari anak-anak, yang tadinya bisa bekerja ke kota tidak lagi bisa melakukannya. Aku berpikir kembali untuk tetap bisa memenuhi kebutuhan anak-anak dan menyelesaikan bangunan rumah kami yang belum sempurna.
Ternyata justru di situ ada lagi kendala dan sebuah kejadian yang berpengaruh besar dalam kehidupan kami: suamiku terkena PHK di perusahaan tempat beliau bekerja.
Baca Juga: Jalan-Jalan Perempuan #2: Bertemu Pekerja Disabilitas, Lansia, Transpuan dan Lihat Keadilan untuk Mereka
Di situlah aku mulai memikirkan bagaimana supaya hidup anak-anakku tetap berjalan ketika bapaknya terkena PHK.
Anak-anak tumbuh besar di kampung tanpa dibersamai ayah atau bapaknya. Aku, Ibu, memiliki peran ganda berlipat, harus menjadi ibu dan bapak sekaligus.
Ketika anak sakit, ketika anak membutuhkan pendampingan di waktu sekolah, terkadang waktunya berbarengan. Jika satu anak sakit, anak lain juga sakit. Di situ Ibu hanya bisa membersamai anak-anak dengan rasa lelah yang luar biasa.
Ibu mengalami stres dan kelelahan fisik karena seharusnya tanggung jawab beban bersama, namun karena keadaan, menjadi pilihan harus menanggung sendiri semuanya.
Ada masa ketika momen haru dan bercampur sedih. Waktu itu aku, Ibu, harus mendatangi acara kelulusan sekolah anak-anak: anak pertamaku lulus SMP dan anak keduaku lulus SD.
Waktu itu acara pelepasan murid atau disebut perpisahan sekolah, dengan jadwal yang tertera di undangan. Jadwal dan waktunya bersamaan, hanya berbeda jam.
Baca Juga: Edisi Care Work: Seperti Apa Dunia Kerja Pramurukti
“Ya Allah, kuatkan aku,” ucapku dalam doa di setiap hari-hariku.
Aku tidak pernah menginginkan memberikan beban kepada orang tuaku maupun mertua atau orang tua dalam hal apa pun. Semua kebutuhan dan aktivitas aku lakukan dan kupenuhi sendiri. Maka dari itu, anak-anak tahu dan terbiasa, “Segala apa pun harus ibunya.”
Hari itu datang waktunya aku harus ke sekolah menyaksikan anakku di panggung sekolahnya masing-masing. Aku pun menyiapkan sedikit hadiah untuk mereka sesuai kebutuhan tingkat umurnya. Kubuatkan buket uang dengan nilai yang berbeda karena yang satu anak lulus SMP, yang satu lulus SD; usia berbeda, karakter berbeda.
Karena di sekolah anak kedua undangan lebih pagi, datanglah aku ke sekolah SD tersebut. Aku kemudian berpindah ke SMP dengan tergopoh-gopoh sambil meneteskan air mata, mengendarai sepeda motor dengan sedikit gemetar karena khawatir anak pertamaku sudah naik ke panggung sebelum aku, ibunya, datang.
Sampailah aku ke sekolah anak pertamaku. Suasana luar sekolah sudah sepi tanpa orang lalu-lalang karena motor sudah terparkir rapi berjejer dengan beberapa mobil; semua itu milik orang tua atau wali murid yang ada di dalam aula. Aku pun makin merasakan sesak di dada.
Sambil disodori kertas buku tamu, aku berjabat tangan dengan Guru yang bertugas, tetap menahan air mata jatuh. Ibu Guru itu menanyakan kenapa aku terlambat dan acara sudah berlangsung cukup lama, kemudian aku dipersilakan masuk.
Aku duduk sambil mencari informasi apakah nama anakku sudah dipanggil untuk naik. Di situ aku semakin merasakan sesak dalam hati.
Aku pun berdoa, “Ya Allah, mudah-mudahan aku mampu memberikan kebahagiaan anak-anakku.”
Baca Juga: Tak Diakui Sebagai Pekerja: 18 Tahun Pekerja Rumah Tangga Diabaikan Negara
Beberapa waktu telah kulewati. Aku masih harus kembali ke SD karena acara anak keduaku belum usai. Sampailah waktu di mana anak pertamaku menerima hasil akhirnya dan hanya punya kesempatan sangat sebentar bersamaku, kemudian terpaksa aku harus lanjut lagi menuju sekolah anak kedua.
Di situlah sebuah momen yang tidak dapat aku gambarkan, begitu gaduh dan gemuruh suasana hati dan pikiranku. Ketika itu harus aku lewati sendiri tanpa adanya suami di sampingku. Semua karena keadaan, upaya kami harus pisah keluarga yang berjarak sangat jauh dan tidak dapat pulang setiap tahunnya.
Bertahan dengan Apa yang Ada
Dulu sewaktu suami masih di perantauan dan sudah dapat memiliki serta mewujudkan impian membangun rumah, aku memilih membangun yang terpenting bisa dipakai berteduh dan hidup bersama anak-anak.
Rumah bata yang masih berlantai semen sangat tipis, jendela bertutup tripleks potong dan dikaitkan dengan paku, dapur masih beralaskan tanah. Namun begitu, itu menjadi tempatku dan anak-anakku. Kami tetap merajut asa dengan riuhnya kenakalan dan tingkah laku anak-anak yang lengkap.
Aku pun mulai merintis usaha online via WhatsApp dengan modal sebagian dari kiriman uang buat uang saku sekolah anak-anak. Usaha tersebut berlangsung sebelum datangnya wabah virus korona.
Dengan sedikit upayaku tersebut, aku mampu menjual sayur-sayuran dan sembako di rumah. Namun ketika suami pulang dengan kondisi PHK, ekonomi berubah kembali.
Yang tadinya stabil sedikit demi sedikit dengan adanya penghasilan dan jualanku, ketika itu masih ada tambahan gaji suami untuk kebutuhan sekolah, makan, dan lain-lain. Akhirnya hilang dan putus dukungan keuangan tersebut.
Baca Juga: Kisah PRT 7 Kota: Tidur dengan Anjing, Tak Boleh Pakai Lift Majikan, Pakai Kacamata Dianggap Gaya
Setelah PHK berlangsung lama, dari bulan ke bulan, berjalan tahun ke tahun, sampailah tahun ke-2, usahaku pun bangkrut karena uang dagangan tidak lagi cukup untuk membeli dagangan yang akan dijual lagi. Modal pun habis pelan-pelan untuk makan dan kehidupan sehari-hari.
Aku, Ibu, perempuan yang paling merasakan dampak semua ini. Aku sangat murung. Yang sebelumnya, kejadian demi kejadian, melewati hari-hari penuh semangat berjualan dan senang bisa sering ke kota cari dagangan dan keliling kampung menemui petani sayuran dan pelanggan-pelanggan di berbagai kampung, berhenti secara perlahan dan nyata.
Semua hilang, berhenti total.
Aku perempuan biasa pada umumnya. Meskipun pernah tangguh diterpa situasi bermacam-macam, sewaktu merintis dan mendampingi anak-anak, tetap saja mulai terguncang hebat.
Di depan suami dan anak-anak, aku sering terdiam tanpa ucapan apa pun, tetapi air mata keluar deras jatuh di kedua pipiku. Seketika itu suamiku mulai berubah masam wajahnya setiap hari, karena aku pun begitu: setiap hari waktu hanya keluar masuk kamar menangis tanpa bisa bercerita.
Waktu pun mulai membawaku ke suasana yang sunyi, stres, dan depresi; mudah marah, mudah sedih, dan tak mau membicarakan apa pun. Serba salah. Suamiku pun mulai bingung dan seperti yang terjadi padaku.
Baca Juga: Sebelum Menjadi PRT, Saya Kerja di Restoran Dan Dipecat Karena Hamil
Kemudian lewat ponselku, aku sering menulis untuk mencari lowongan kerja. Namun aku tidak bisa lagi bekerja jauh karena anak-anak sudah mulai besar dan tidak bisa jauh dari pengawasanku.
Aku menerima tawaran teman untuk bergabung di sebuah katering terdekat di rumah. Kujalani dengan rasa tanggung jawab. Ketika itu aku banyak belajar di sana. Meskipun sejak dulu aku sudah bisa memasak dan berjualan berbagai macam menu sebelumnya, aku tetap istikamah belajar apa pun sebagai bekal kemampuanku berkreasi dan tekun.
Aku menjalani pekerjaanku cukup lama dan menjadikanku lebih berpengalaman.
Merintis Usaha Kecil
Situasi sesulit apa pun, keluarga dan seseorang harus tetap memiliki pemikiran yang realistis. Hidup tetap harus berjalan, masih punya banyak harapan yang harus diraih, terutama mendukung berlangsungnya proses perkembangan anak-anak dan pendidikannya.
Dari melihat tumbuh kembang anak-anak yang mulai membutuhkan banyak biaya sekolah, aku sebagai Ibu pun harus bisa mengambil posisi tetap kuat dan memiliki gagasan inovasi demi keberlangsungan hidup, agar tidak terjadi perpisahan.
Setelah tahun-tahun sebelumnya aku pernah bekerja di kota, kini aku kembali menemui batu sandungan ketika kesulitan datang silih berganti.
Melihat prospek pertemanan yang paling sederhana dan mudah ketika itu, aku memulainya dengan cara membuat story dan menawarkan sebuah foto barang-barang kebutuhan pokok masyarakat sekitar dengan iming-iming harga lebih murah dan beragam pilihan.
Dari banyaknya interaksi keliling kampung dan luasnya lingkup kecamatan terdekat, pertemananku makin luas. Serasa sayap pun lebih ringan untuk terbang. Aku mulai mengenal kampung tetangga dan kampung pelosok lainnya.
Baca Juga: Komunitas Berbagi Makanan; Temani Warga Isoman Lewat Paket Makan Gratis
Kegiatan sehari-hari mengambil dagangan dan mengantar kembali ke pelanggan aku lakukan dengan cara COD via WhatsApp. Dari kegiatan tersebut timbullah teman-teman baru yang intens berkomunikasi, kemudian saling menginformasikan dagangan baru.

Suasana itu menjadikan teman satu dan lainnya saling mengenal serta berbagi ilmu, cara, dan pengalaman. Aku sebagai orang yang merasa merintis cara itu juga paling utama membutuhkan sebuah pertemanan yang erat.
Maka, ketika aku merasa memiliki keberhasilan, aku pun suka membagikan pengalaman tersebut. Soal jalur rezeki dan cara seseorang pasti berbeda. Aku yakin bahwa sesuatu sekecil apa pun dan ilmu memiliki porsinya masing-masing.
Ketika banyak teman yang mengikuti cara-caraku, aku pun tidak merasa tersaingi. Bagiku, semakin kita mampu mengajarkan dan memotivasi orang lain, itu adalah pencapaian dan kepuasan tersendiri.
Waktu itu masuk tahun 2019–2020. Bulan-bulannya hampir tidak bisa ke mana-mana karena wabah virus korona di tanah air. Aku pun mengalami situasi sulit itu. Namun saat itu justru malah seperti ladang rezeki.
Baca Juga: Kawit dan Rugiyati, Perempuan Pembela Tanah Pesisir
Aku lebih banyak dibutuhkan untuk masakan jadi maupun sembako mentah, karena tidak banyak yang berani mengambil risiko untuk keluar rumah maupun ke pasar. Di kesempatan itu aku percaya diri, penuh semangat, dan tetap bangga menjalani aktivitas sehari-hari keluar masuk kampung mengantar pesanan.
Suatu ketika di kampung tempat tinggalku, ada banyak yang dirumahkan, terutama warga yang sehari-harinya bekerja di pasar. Dari kejadian itu, aku pun harus berhenti karena teguran oleh pemangku masyarakat.
Waktu itu mau tidak mau aku sebentar sekitar dua hari berturut-turut di rumah saja. Namun pesanan-pesanan tidak bisa ditahan, justru menumpuk. Diam-diam aku memenuhi pesanan sesuai jadwal, bahkan sampai di setiap pintu masuk kampung disemprot.
Di situ justru orang terus mengenaliku. Aku ditandai sebagai Suyanti Yanti Olshop COD karena tidak ada lain selain aku yang berani nekat melewati portal kampung-kampung dan disemprot antiseptik atau apa pun itu.
Lebih bagusnya lagi, aku dihubungi petugas kesehatan dan ditanyai interaksiku sampai mana saja, apakah aku bertemu dengan klaster-klaster pedagang ikan di pasar kota. Aku pun mencoba memberikan keterangan yang menenangkan semua orang.
Aku hanya memilih mengantar kebutuhan orang lokal saja yang aku tahu informasinya jelas dan tidak pernah ada akses ke luar kota.
Dari semua pengalaman itu, aku tahu apa pun yang terjadi, apa pun adanya, kita hanya wajib bersyukur dan yakin rezeki tidak akan tertukar.
Baca Juga: Cukup Sudah, Hentikan Praktik Perkawinan Anak di Indonesia
Walaupun orang sekitar dan teman-teman sesama perempuan memiliki usaha dan aktivitas yang sama, aku yakin tidak akan sama persis karena kita memiliki karakter dan kepribadian yang beragam dan unik di diri kita masing-masing.
Maka dari itu, saat kemudian ada teman yang mengikuti jejakku, aku pun tidak menjadikannya masalah. Hanya saja, aku harus lebih jeli dan teliti mengamati apa lagi yang bisa jadi peluang.
Di pasar, aku setiap hari selalu mengamati dagangan yang menurutku berbeda dan menarik. Saat aku melihat barang dagang para pedagang pasar yang lebih bagus, yang aku lakukan adalah memotonya dan membuat story di WhatsApp.

Ketika foto aku unggah, kunantikan komentar tercepat dan kutawarkan dengan kata yang lebih menarik untuk merayu pelangganku supaya membelinya.
Baca Juga: Kapan Seharusnya Perempuan Menikah?
Ketika ada pelanggan yang tertarik membeli barang daganganku, aku mencarikannya ke petani langsung. Di sana aku bisa memilih barang dengan kualitas bagus namun berharga lebih terjangkau. Aku selalu menanyakan apakah besok masih akan panen kembali jika nanti aku masih menawarkannya kepada pembeli esok hari.
Cara yang aku lakukan ternyata dilihat oleh temanku. Berawal dari dia menanyakan aku biasa belanja di mana, kok aku dapat dagangan yang selalu baru.
Ketika teman-temanku mengikuti cara tersebut, aku tidak merasa bersaing. Aku justru senang karena idenya berhasil dan bisa membantu orang lain. Bagiku, semakin banyak yang belajar dan maju, semakin besar rasa syukur dan kepuasan tersendiri.
Kemudian keesokan harinya, temanku ada yang mengikuti cara dan jejakku mendapatkan barang-barang bagus dan lebih murah, lalu dijual kembali sepertiku.
Seiring berjalannya waktu, musim pun berganti. Aku sulit mendapatkan barang dagangan dari seorang petani, kemudian aku beralih cara membuat masakan dan camilan. Aku tidak mau kehilangan kesempatan dan tidak mau kehilangan para pembeliku.
Kubuatlah makanan-makanan yang menarik dan kuciptakan rasa yang khas supaya pelangganku ketika membelinya puas.
Berawal dari pelatihan bersama KKN waktu itu, aku membuat kue pisang terinspirasi dari hasil pelatihan KKN, kemudian kucoba resep tersebut.
Baca Juga: Suara Para Penyintas Bunuh Diri: Bertahan, Pulih, dan Menata Hidup Kembali
Aku mencoba menawarkannya kembali dengan sebuah foto dan kulakukan cara yang sama: kuunggah di story WhatsApp.
Ada sedikit rasa tidak percaya diri ketika aku seumur-umur belum pernah membuat kue, kok punya keinginan jual kue. Tetapi demi ingin punya penghasilan, aku meyakinkan hati dan pikiranku, aku bisa menjual kue pisang tersebut.
Penuh rasa percaya diri membuatku semangat hari demi hari. Setiap foto naik ke story, ada yang menanyakan harga dan kemudian cocok untuk mencoba pesan.
Ada pelanggan yang merasa cocok dan puas dengan rasa kue pisangku, kemudian menceritakan kembali kepada temannya. Ada juga pelanggan yang berkata kurang manis, kurang lembut, dan kurang pas dibandingkan dengan kue kota yang memiliki merek sudah terkenal.
Aku mencoba lagi dengan resep makanan lain, masih dengan cara yang sama: membuat makanan, kemudian aku foto lagi dan lagi, kuunggah lagi dan lagi, terus setiap hari.
Kritik dan masukan pelanggan masuk di pesan silih berganti, tidak membuatku berhenti memproduksi makanan yang beragam. Aku yakinkan diri bahwa aku bisa dan aku mampu mendirikan sebuah nama baru di story WA-ku:
“Suyanti Olshop menerima pesanan camilan dan nasi boks sesuai kebutuhan Anda.”
Di akhir cerita, sampai saat ini, kecil-kecilan aku mampu menerima pesanan katering dengan berbagai menu pilihan. Insya Allah amanah, amin.
Perempuan dan Ruang untuk Berubah
Perjalanan hidup yang sulit bagi perempuan dan Ibu akan dapat membantu Ibu dan keluarga keluar dari sebuah masalah. Sedikit keputusan yang diambil perempuan akan mampu memberi solusi yang berarti.
Dari melihat semua itu, permasalahan peran Ibu di dalam rumah tangga membuatku tergerak untuk mengajak para ibu, perempuan-perempuan di sekelilingku, membagikan diri dan berinteraksi antarsesama supaya ada kesempatan bercerita serta mengutarakan kesulitan dan permasalahan dalam rumah.
Secara pelan-pelan, kami mengenali masalah yang timbul, karena apa, dan harus bagaimana. Kesempatan itu bisa kami lakukan ketika punya waktu bertemu di forum pertemuan PKK, kelompok Dasawisma.
Ketika itu aku mulai bercerita; ternyata banyak respons baik dan banyak yang ikut berani mengutarakan masalahnya masing-masing.
Ketika Ibu berani membuka diri dan berani mencari solusi di rumah, ternyata Ibu akan mendapatkan angin segar. Pemikiran baru pun mulai tumbuh: bagaimana jika melakukan sesuatu?
Dari situlah kami menemukan solusi kecil dan bermanfaat untuk ketahanan pangan keluarga kami, yaitu dengan memanfaatkan limbah rumah tangga untuk beradaptasi di lingkungan kami: mengumpulkan air cucian piring untuk menanam sayur di sekitar rumah, dan mengumpulkan sisa makanan untuk merawat serta membudidayakan ayam kampung.
Baca Juga: Hari Aborsi Aman Internasional: Gerakan Perempuan Soroti Korban Kekerasan yang Bisa Dipidana karena Aborsi
Sampai saat ini kami masih melakukan aksi tersebut dan sudah merasakan manfaatnya. Bisa panen sayuran meskipun di musim kemarau panjang, juga memanfaatkan telur ayam kampung sebagai lauk sehari-hari sehingga mampu membantu perekonomian keluarga.
Editor: Luthfi Maulana Adhari
Tulisan ini merupakan kolaborasi YAKKUM Emergency Unit (YEU) dan Konde.co dalam program #Kedip atau Konde Literasi Digital Perempuan





























