“Pasanganmu mewajarkan KDRT, suka catcalling, dan menganggap perempuan hanya boleh menurut dalam pernikahan? Stop the wedding!“
Pernah lihat konten media sosial dengan narasi yang mirip seperti itu? Tren “Stop The Wedding!” sedang ramai digunakan di media sosial untuk menyoroti berbagai hal yang ingin dihentikan dalam perjalanan menuju pernikahan. Mulai dari pasangan yang dianggap bermasalah hingga bayangan tentang kehidupan setelah menikah.
Menariknya, tren ini tidak selalu benar-benar berbicara tentang pernikahan. Di balik potongan lagu yang terdengar seperti seruan untuk membatalkan sebuah pernikahan, ada berbagai pengalaman personal yang dibawa pengguna media sosial. Relasi yang tidak sehat, pasangan red flag, pekerjaan domestik yang dibebankan kepada perempuan, hingga kekhawatiran kehilangan karier dan impian setelah menikah.
Tren “Stop The Wedding!” berasal dari lagu milik Ashe. Ia lalu muncul dalam berbagai unggahan di media sosial dengan konteks yang begitu beragam. Potongan lagu tersebut digunakan untuk menggambarkan pasangan yang posesif, berselingkuh, mengontrol pasangan, bahkan melakukan tindak kekerasan.
Baca Juga: Tren Lagu ADÉLA ‘Ain’t in L.A.’ Buktikan Perempuan Keren Bisa Ada di Mana Saja
Namun, ada pula pengguna yang mengaitkannya dengan kehidupan pernikahan itu sendiri. Misalnya, perempuan yang diasumsikan akan mengerjakan pekerjaan rumah, mencuci, memasak, mengurus anak, hingga meninggalkan karier dan cita-cita karena menikah.
Tidak berhenti di situ, lagu ini bahkan dapat digunakan untuk sesuatu yang tidak berhubungan langsung dengan pernikahan. Ia bisa menjadi latar untuk membicarakan pekerjaan, keputusan besar, relasi sosial. Atau berbagai situasi lain yang membuat seseorang berpikir: “Sepertinya ini harus dihentikan sebelum semuanya berjalan terlalu jauh.”
Di situlah menariknya tren “Stop The Wedding!”. Kata wedding yang secara harfiah berarti pernikahan justru mengalami perluasan makna ketika masuk ke media sosial. Ia menjadi simbol dari sebuah keputusan besar yang sudah telanjur dianggap sebagai tujuan akhir, sesuatu yang seharusnya diteruskan karena sudah terlalu jauh untuk dibatalkan.
Dengan kata lain, beberapa unggahan dalam tren ini terasa bukan seperti, “Aku tidak mau menikah dengan orang ini.” Tetapi lebih dekat dengan, “Aku tidak mau menjalani kehidupan seperti ini.”
Baca Juga: Tren “Things My Exes did and I Still Stayed”, Kekerasan dalam Hubungan Melampaui Narasi ‘Cinta’
Dalam banyak cerita romantis, pernikahan sering ditempatkan sebagai titik akhir. Kisah cinta dimulai dari pertemuan, berkembang menjadi hubungan, melewati berbagai konflik, lalu ditutup dengan pernikahan sebagai tanda bahwa pasangan tersebut akhirnya “berhasil”. Setelah itu, cerita selesai.
Masalahnya, kehidupan nyata tidak berhenti di pesta pernikahan.
Justru setelah pesta selesai, ada kehidupan yang harus dijalani. Ada rumah yang harus diurus, pekerjaan domestik yang harus dikerjakan, pengasuhan anak yang mungkin harus dibagi, keuangan yang perlu dikelola, karier yang ingin dipertahankan, dan hubungan dengan keluarga besar yang harus dinegosiasikan. Tetapi dalam romantisasi pernikahan, bagian-bagian tersebut sering kali tidak mendapatkan porsi cerita yang sama besar.
Pernikahan lebih sering dibicarakan sebagai pencapaian daripada sebagai perubahan struktur kehidupan.
Perempuan tumbuh dengan berbagai cerita tentang bagaimana pernikahan adalah sesuatu yang seharusnya ditunggu. Ada gaun pengantin, lamaran, rumah, anak, dan keluarga kecil yang bahagia. Tetapi jauh lebih jarang kita diajak membicarakan siapa yang akan mencuci piring setelah pesta selesai, siapa yang bangun ketika anak menangis tengah malam, siapa yang mengurangi jam kerja ketika anak sakit, atau siapa yang kariernya harus lebih dulu dikorbankan ketika kebutuhan keluarga berubah.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut terdengar sangat praktis, bahkan mungkin tidak romantis. Tetapi justru di sanalah kehidupan setelah pernikahan berlangsung. Dan bagi perempuan, konsekuensinya bisa menjadi lebih besar karena pernikahan masih sering datang bersama ekspektasi gender tertentu.
Baca Juga: Di Balik Tren Croissant Pattaya Viral di Media Sosial, Ada Komodifikasi Tubuh Perempuan
Pernikahan, dalam banyak konteks sosial, memang tidak berhenti pada menyatukan dua orang. Di dalamnya ada pembagian peran, ekspektasi keluarga, pekerjaan rumah tangga, pengasuhan anak, karier, tempat tinggal, hingga bayangan tentang seperti apa seorang perempuan seharusnya bersikap setelah menikah.
Persoalannya, banyak hal tersebut sering dianggap sebagai “paket” yang otomatis datang bersama status menikah.
Perempuan menikah dianggap akan lebih bertanggung jawab terhadap rumah. Ketika memiliki anak, perempuan lebih sering ditempatkan sebagai pengasuh utama. Ketika kebutuhan keluarga bertabrakan dengan pekerjaan, perempuan bisa dianggap sebagai pihak yang lebih wajar untuk menyesuaikan diri. Bahkan ketika dua orang sama-sama bekerja, pekerjaan domestik tidak otomatis ikut terbagi secara setara.
Di titik ini, masalahnya bukan sekadar apakah pasangan tertentu bersedia membantu pekerjaan rumah atau tidak. Ada norma sosial yang lebih besar tentang siapa yang dianggap bertanggung jawab atas pekerjaan tersebut.
Pekerjaan domestik sering kali begitu tidak terlihat sampai seseorang berhenti mengerjakannya. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, membeli kebutuhan sehari-hari, mengingat jadwal imunisasi anak, menyiapkan makanan, mengurus kebutuhan keluarga—semuanya bisa dianggap sebagai bagian “biasa” dari kehidupan rumah tangga. Dan karena dianggap biasa, pekerjaan tersebut sering tidak dihitung sebagai kerja.
Ketika pekerjaan itu akhirnya lebih banyak dilakukan perempuan, status menikah dapat ikut memperkuat pembagian peran tersebut.
Inilah “paket” yang mungkin tidak pernah tertulis dalam undangan pernikahan, tetapi bisa muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Tren TikTok “There’s a Man” Membuka Mata Kita tentang Misogini yang Dianggap Biasa
Karena itu, ketika seorang perempuan menggunakan “Stop The Wedding!” untuk menggambarkan ketakutannya terhadap kehidupan setelah menikah, bisa jadi yang sedang ia tolak bukan pernikahannya. Ia sedang mempertanyakan kehidupan yang diasumsikan akan otomatis mengikutinya.
Tren ini semakin menarik ketika kita melihat cerita di balik lagu Ashe. “Stop The Wedding!” lahir dari pengalaman personal Ashe yang berkaitan dengan hubungan pernikahan pertamanya dan keputusan untuk tidak meneruskan sesuatu yang sudah ia jalani. Sejak awal, lagu ini memang berhubungan dengan sebuah momen ketika seseorang berada dalam sebuah hubungan dan mulai mempertanyakan: apakah ini benar-benar kehidupan yang ingin saya jalani?
Pertanyaan tersebut kemudian mendapatkan kehidupan baru ketika lagu itu berpindah ke media sosial. Pengguna tidak harus berada dalam situasi yang sama seperti Ashe untuk merasa relate dengan satu bagian dari lagu tersebut. Mereka mengambil emosi yang ada di dalamnya, lalu menempelkannya pada pengalaman personal masing-masing.
Media sosial memang bekerja dengan cara seperti itu. Sebuah lagu, kutipan, adegan film, atau potongan dialog dapat dilepaskan dari konteks awalnya dan mendapatkan makna baru ketika digunakan oleh orang lain. Yang kemudian dibagikan bukan selalu cerita yang sama, melainkan perasaan yang dianggap serupa.
Dalam konteks “Stop The Wedding!”, perasaan tersebut adalah keinginan untuk mengatakan “berhenti” terhadap sesuatu yang terasa tidak lagi sesuai dengan kehidupan yang diinginkan.
Baca Juga: Tren Chat Mokondo di Tiktok: Produk Baru Mutasi Patriarki
Maka, kata “wedding” di sini berubah fungsinya. Ia tidak lagi semata-mata diasosiasikan dengan pesta, gaun, undangan, atau dua orang yang akan melebur menjadi satu keluarga. Wedding atau pernikahan justru dapat dibaca sebagai simbol dari sebuah keputusan besar yang sudah telanjur dianggap sebagai tujuan akhir.
Karena itu, beberapa konten dalam tren ini terasa lebih kompleks daripada sekadar persoalan memilih atau tidak memilih pasangan. Ada orang yang menggunakan lagu tersebut untuk menunjukkan pasangan yang red flag. Atau yang menggunakannya untuk membayangkan kehidupan setelah menikah. Ada pula yang membayangkan berbagai konsekuensi yang mungkin mengikuti keputusan tersebut.
Semuanya berbeda, tetapi memiliki satu titik temu. Ada sesuatu yang ingin dihentikan sebelum menjadi bagian permanen dari hidup mereka.
Bagi perempuan, bayangan tentang kehidupan setelah menikah dapat membuat pertanyaan mengenai pernikahan menjadi lebih panjang daripada sekadar “cocok atau tidak dengan pasangan”.
Apakah masih bisa berkarier? Lalu siapa yang akan mengurus rumah, bahkan mengambil cuti ketika anak sakit? Siapa yang menyesuaikan pekerjaan ketika memiliki anak? Apakah pekerjaan domestik akan benar-benar dibagi? Dan sejauh mana kehidupan yang sudah dibangun sebelum menikah masih bisa dipertahankan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin tidak secara eksplisit pernah disebut dalam lirik “Stop The Wedding!” Namun, justru pertanyaan semacam itulah yang membuat tren ini terasa relevan bagi banyak perempuan.
Baca Juga: Di Balik Maraknya Tren Live Shopping, Ada Pelecehan Terhadap Host Live
Sebab ada perbedaan antara menikah dengan seseorang dan menikahi seluruh ekspektasi sosial yang datang bersamanya.
Seseorang mungkin mencintai pasangannya, tetapi tidak menginginkan kehidupan di mana dirinya menjadi satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas rumah. Mungkin ia ingin memiliki anak, tetapi tidak ingin motherhood otomatis membuat kariernya menjadi nomor dua. Seseorang mungkin ingin membangun keluarga, tetapi tidak ingin kehilangan ruang untuk memiliki kehidupan, pekerjaan, pertemanan, tubuh, dan identitasnya sendiri.
Artinya, keinginan untuk menikah dan keinginan untuk mempertahankan otonomi bukan dua hal yang harus saling bertentangan. Yang menjadi kendala adalah ketika satu bentuk kehidupan dianggap sebagai satu-satunya cara yang “benar” untuk menjalani pernikahan.
Ada sesuatu yang khas dari kata “stop” dalam tren ini. Kata tersebut bukan hanya ungkapan “aku tidak mau” atau “aku tidak suka”. Ia mengandung gagasan tentang berhenti sebelum terlambat.
Sebelum sebuah relasi berubah menjadi pernikahan, atau sebuah keputusan menjadi sesuatu yang sulit dibatalkan. Sebelum ekspektasi keluarga berubah menjadi kewajiban dan pembagian peran dianggap sebagai sesuatu yang tidak bisa lagi dinegosiasikan. Dan sebelum pilihan-pilihan kecil yang terus dilakukan akhirnya membatasi ruang gerak seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
“Stop” juga dapat menjadi bentuk penolakan terhadap anggapan bahwa perempuan harus menerima begitu saja semua konsekuensi yang dilekatkan pada status menikah.
Baca Juga: Di Balik Tren Baseball AI, Ada Ancaman Deepfake dan Eksploitasi Data Pengguna
Sebab menikah seharusnya tidak berarti seseorang otomatis kehilangan kebebasan untuk menentukan bagaimana hidupnya dijalankan. Status sebagai istri tidak seharusnya otomatis berarti menjadi pengurus rumah. Menjadi ibu tidak seharusnya otomatis berarti menjadi pihak yang paling banyak berkorban. Dan membangun keluarga tidak seharusnya berarti salah satu orang harus menghilang sebagai individu.
Tentu, tidak semua pernikahan berjalan dengan pola yang sama. Banyak pasangan yang membagi pekerjaan domestik, menegosiasikan pengasuhan, dan saling mendukung karier. Justru karena itu, persoalannya bukan apakah pernikahan selalu patriarkal, melainkan bagaimana norma patriarki dapat menyusup ke dalam pernikahan ketika pembagian peran dianggap sudah sewajarnya demikian.
Maka sesungguhnya “Stop The Wedding!” bisa menjadi lebih dari sekadar tren media sosial. Ia adalah peringatan bagi satu sama lain: jangan sampai kita menikah dengan orang dan ekspektasi yang salah.
Pada akhirnya, mungkin itulah alasan sebuah lagu tentang “menghentikan pernikahan” bisa digunakan untuk begitu banyak cerita. Seseorang bisa saja melihat red flag dalam diri pasangannya. Orang lain mungkin melihat masa depan yang mengharuskan mereka melepaskan impian. Yang lain mungkin takut kehilangan karier, kebebasan, atau kehidupan yang sudah dibangun sebelum menikah.
Bentuknya berbeda-beda, tetapi semuanya bertemu pada satu hal. Ada sesuatu di depan sana yang tidak ingin mereka teruskan.
Baca Juga: Relasi Kuasa yang Hierarkis Bikin Kekerasan Seksual di Pesantren Terus Terjadi
Tren ini juga memperlihatkan bagaimana media sosial memungkinkan pengalaman personal yang sangat berbeda untuk bertemu dalam satu potongan lagu. Tidak perlu memiliki cerita yang sama untuk merasakan emosi yang sama. Tidak perlu sedang mempersiapkan pernikahan untuk memahami keinginan menghentikan sesuatu yang terasa salah.
Mungkin karena itu, “Stop The Wedding!” terasa begitu relate bagi banyak perempuan. Bukan karena semua perempuan diam-diam ingin membatalkan pernikahan. Tetapi karena banyak perempuan memahami bagaimana rasanya diberi gambaran tentang kehidupan yang seharusnya mereka jalani.
Menikah. Punya rumah. Punya anak. Mengurus keluarga. Menyesuaikan karier. Menjadi istri yang baik, ibu yang baik. Menjadi perempuan yang “berhasil”.
Masalahnya, bagaimana jika seseorang tidak menginginkan seluruh paket itu? Atau bagaimana jika ia hanya menginginkan sebagian, lalu ingin menegosiasikan sisanya?
Di situlah “Stop The Wedding!” menjadi menarik. Ia bukan semata-mata seruan untuk menghentikan pernikahan. Ia bisa menjadi seruan untuk menghentikan asumsi bahwa setiap perempuan yang menikah harus menerima kehidupan yang sudah disiapkan untuknya.
Baca Juga: Tren Komentar “Sepakat”, Bukti Laki-Laki Lebih Suka “Iyain Aja” Ketimbang Memahami Posisi Perempuan
Sebab mungkin yang ingin dihentikan bukan pernikahannya. Bukan pula cintanya. Yang ingin dihentikan adalah anggapan bahwa setelah menikah, perempuan harus berhenti menjadi dirinya sendiri. Atau, menghentikan pernikahan yang berujung pada patriarki, misogini terlembaga, hingga kekerasan dalam rumah tangga.
Jadi, kalau pasanganmu tidak dapat menjalani pernikahan dengan cinta, kasih, dukungan, dan penghargaan kepadamu sebagai partner hidupnya sekaligus sebagai dirimu sendiri sebagai perempuan, stop the wedding!






























