Pemain Game Online Perempuan Alami Pelecehan Seksual Hampir Setiap Hari

Icha dan Dinda menuturkan bahwa lingkungan pemain game online atau gamers yang maskulin membuat para perempuan yang bekerja sebagai pemain gim kerap menerima pelecehan seksual dan kekerasan berbasis gender. Lingkungan itu membuat para pelaku menormalisasi komentar-komentar seksis dari para perempuan. 

“Berapa nih [harganya]?”

Bisa nih diajak”

“Hai Dinda, istriku, mau enggak nikah sama aku?”

“Kak, kamu sudah nikah belum? Kak mau enggak jadi pacar aku?

“Dinda, mahar kamu apa?”

Pernyataan-pernyataan tersebut merupakan contoh kekerasan seksual yang kerap dijumpai oleh Dinda Dc, Icha Annisa, dan pemain gim perempuan lainnya. Kekerasan itu tak hanya sekali-dua kali muncul, tapi nyaris setiap hari mereka jumpai.

“Hampir setiap hari aku live streaming dan selama satu tahun lebih ini aku live itu tidak pernah satu hari pun terlewat dari perlakuan seperti itu,” ungkap Dinda dalam Nongkrong Bareng Never Okay Project (Nobar NOP) #5: Pelecehan Seksual di Live Streaming Game yang diadakan pada 8 Agustus 2020.

Di dunia gim, pelecehan seksual terjadi di semua platform live streaming seperti Instagram, Facebook, dan lainnya. Icha mengatakan bahwa pelecehan itu muncul karena para pelaku ingin mendapatkan perhatian.

“Aku pernah tiba-tiba di-DM, dikasih foto kelamin laki-laki. Sesuatu yang seharusnya enggak kamu kasih liat, kenapa harus dikasih lihat. Tapi sekalipun kita mau mempermalukan mereka atau blow up kasusnya atau mau laporan, kita enggak bisa karena mereka akun privat, pakai nama lain. Akun palsu itu melindungi para pelaku, bukan melindungi korban,” ungkap Icha.

Atau pernyataan ini yang diterima Dinda,” Semoga anak loe nanti mati, semoga nanti anakmu yang lahir kayak babi, semoga anakmu nanti pas lahir jadi pelacur kayak loe.”

Industri game online saat ini memang mengalami kenaikan peminatan yang sangat drastis bahkan sudah menjadi sebuah pekerjaan. Dan kini semakin banyak keterlibatan perempuan di industri ini, namun sayangnya pelecehannya sangat banyak terjadi pada perempuan, ini yang membuat Dinda dan Icha Annisa yang bekerja di industri game online ini juga harus berhati-hati.

Konstruksi yang dibangun disini yaitu hal-hal yang terjadi di ranah offline seperti pelecehan seksual kemudian terjadi di ranah online, seperti pernyataan yang sering dinyatakan pada perempuan: jika mau main jangan Bawa Perasaan/ Baper

Game online juga saat ini dijadikan sebagai sebuah pekerjaan baru, maka pelecehan yang terjadi di game online ini sama saja pelecehan yang terjadi di tempat kerja.

Selama ini mereka bertemu para viewers secara online. Selain viewers, ada pekerja di game online seperti talent, moderator dan orang-orang yang menggerakkan game online yang kebanyakan pekerjanya adalah laki-laki

Pelaku pelecehan itu bukan cuma orang tak dikenal atau orang-orang yang muncul dengan akun anonim atau akun palsu, tapi juga dari lingkaran pertemanan gamers mereka.

Icha dan Dinda menuturkan bahwa lingkungan gamers yang maskulin membuat para perempuan yang bekerja sebagai pemain gim kerap menerima pelecehan seksual dan kekerasan berbasis gender. Lingkungan itu membuat para pelaku menormalisasi komentar-komentar seksis dari para perempuan.

Bukan itu saja, lingkungan pemain gim yang maskulin ini juga kerap kali membuat perempuan dilihat sebagai objek, bukan sebagai subyek yang bisa memainkan gim dengan kemampuan yang sama dengan laki-laki.

“Pelecehan itu bukan cuma orang-orang random, tapi teman-teman di sekitar kita, karena mereka memaklumi, jadi ya mereka masih suka bercanda,” ungkap Icha.

Normalisasi humor dan komentar seksis itu sayangnya tak hanya dilakukan oleh laki-laki, tapi kadang juga oleh perempuan. Ini karena perempuan terbiasa mendapatkan humor yang seksis, jadi perempuan juga bisa saja melakukannya pada orang lain

Pola pelecehan ini memang banyak sekali dilakukan laki-laki, namun yang kemudian membuat perempuan juga kadang melakukan hal yang sama karena mereka juga sulit keluar dari situasi ini.

Hal lain, banyak yang juga tidak tahu jika pelecehan ini bisa mengakibatkan kekerasan psikis pada seseorang. Pelaku pelecehanpun bisa saja dari macam-macam orang dan kalangan, yaitu ada anak-anak SD yang sedang main game online, ada anak SMP atau SMP dan juga orang-orang dewasa yang tidak kita kenal karena pola komunikasi online yang membuat orang tidak saling mengenal. Ini menunjukkan lingkungan gamers yang dipadati atau dimainkan oleh semua kalangan dari anak hingga dewasa

Dinda dan Icha sudah berkali-kali mengungkapkan kekesalannya saat mendapat perlakuan tak menyenangkan itu, sayangnya yang mereka dapat bukan dukungan, tapi cemoohan.

Para pengikut dan penonton gim kebanyakan justru menganggap bahwa reaksi Dinda dan Icha hanya reaksi baper. Padahal mereka sangat risih dengan ungkapan seksis tersebut.

Dinda mengatakan bahwa pelecehan seksual ini terjadi karena dominasi laki-laki terhadap perempuan di dunia game online, yang kedua karena stereotype yang terjadi karena perempuan dianggap tak bisa main game. Stereotype ini yang membuat perempuan kemudian distereotype kan secara buruk secara terus-menerus

Claudy Jacob dari Never Okay Project mengamini bahwa industri gim yang didominasi oleh laki-laki itu membuat kekerasan berbasis gender terus terjadi. Permasalahan utama yang kerap muncul dalam kekerasan berbasis gender di industri gim yakni pelaku bisa menggunakan anonim atau nama samaran.

“Ketika mendengar pelecehan seksual di siaran langsung gim, mungkin orang berpikir ‘kok bisa?’, karena masih banyak sekali perbuatan yang dilakukan oleh orang-orang yang bersembunyi di balik akun anonim yang membuat seseorang merasa direndahkan, dihina,” tutur Claudy.

Claudy menegaskan bahwa masalah ini muncul karena kurangnya kesadaran dan pemahaman di lingkungan gim. Maka tak jarang, saat korban menyatakan mendapatkan pelecehan, mereka justru mengalami serangan balik.

Apa yang Sudah Dilakukan untuk Stop Pelecehan?

Apa yang dilakukan Dinda ketika ada yang melakukan pelecehan seksual? Dinda mengatakan ketika ada pelecehan seperti ini langsung ia block Karena ini sangat tidak sehat.

“Walaupun ada yang datang lagi dengan akun yang berbeda, namun saya kadang mengenalinya, maka ini juga langsung saya block lagi. Tapi untuk melaporkan ke ranah hukum belum pernah.”

Claudy Jacob mengatakan bahwa ini merupakan lingkungan toxic untuk perempuan. Para korban pelecehan ini takut untuk melapor karena adanya victim blaming dan takut membuat masalah di pekerjaan yang dijalani kini dan membuat mereka bisa kehilangan pekerjaan ketika aparatnya tidak siap untuk menindak

“Juga adanya victim blaming, mereka justru disalahkan karena kritis dan melawan pelecehan, ini tidak mudah karena aparatnya tidak siap dan situasinya juga para pekerja game online ini kita tidak pernah tahu mereka ini siapa, apakah akunnya benar atau tidak? Makanya dilaporkan saja ke lembaga yang mengadvokasi internet seperti SafeNET yang nanti bisa membantu atasi pelecehan.”

Padahal, untuk mewujudkan lingkungan kerja yang bebas kekerasan seksual, masing-masing orang harus sadar bahwa masalah ini tak akan pernah berhenti jika tak dimulai dari diri mereka sendiri.

Perkembangan game online ini sangat cepat namun karena selama ini di tengah perkembangan yang pesat ini, kita tidak punya kebijakan dan kebiasaan baik untuk stop pelecehan di dunia online, maka pelecehan seksualnya juga tidak berhenti. Padahal seharusnya seiring dengan kemajuan game online, ini mestinya sudah ada aturan yang mengatur untuk stop pelecehan

Icha mengatakan selama ini belum ada inisiatif untuk stop pelecehan seksual di dunia game, jadi yang mereka lakukan adalah pembatasan pelecehan seksual dengan melakukan blocking pada pelaku pelecehan jadi yang mereka lakukan adalah pembatasan pelecehan seksual dengan melakukan blocking pada pelaku pelecehan

Dinda mengatakan bahwa yang harus dilakukan adalah menyelamatkan masa depan karena kebanyakan pelakunya adalah anak-anak kecil dan anak-anak muda.

Maka selagi belum ada kebijakan soal ini, dibutuhkan pendidikan untuk bersikap baik dan tidak melecehkan, juga perlunya memberikan pemahaman stop pelecehan seksual secara meluas

“Edukasi ini bisa dari diri kita sendiri, pada orang lain, dari sini kita bisa tahu bahwa semua orang harus memahami ini, karena banyak orang yang belum tahu soal ini, ini bisa kita mulai dari komunitas kecil kita,” kata Claudia Jacob

(Foto/ilustrasi: Pixabay)

Tika Adriana

Jurnalis perempuan yang sedang memperjuangkan kesetaraan. Saat ini managing editor Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email