Lingkungan Terdekat yang Menjadikanmu Gila (1)


*Ika Ariyani- www.Konde.co

Malam itu, aku bersama dengan keluarga dari pihak ayahku menunggu kedatangan keluarga suami. Sudah dua malam aku meninggalkan suami dan anakku. Aku pergi dari rumah setelah bertengkar hebat dengan suami. Perkara yang diributkan sepele memang, tapi apa yang aku tahan di hatiku jauh lebih berat dan meluap seperti gunung berapi waktu itu.

Selama menikah, suami sering merendahkan aku secara verbal. Memanggilku dengan berteriak, menjadikanku olok-olokan saat pertemuan keluarganya, menghina kondisi keluargaku, tiga bersaudara dengan ayah yang sudah meninggal dan ibu yang tidak berpenghasilan, mengatakan wajahku biasa saja, mengejek cita-citaku, dan menghinaku bila aku terlalu sibuk bekerja di kantor. Entah ia sadar atau tidak saat melakukannya, tapi aku selalu menangis saat ia merendahkanku.

Ia juga pernah memukulku untuk hal yang tidak jelas. Bahkan sampai sekarang aku terlalu takut untuk mengingatnya karena itu pertama kali ada seseorang yang memukulku, bahkan saat aku sedang hamil tua. Aku tidak bisa tidur tenang di ranjangku bersamanya beberapa hari setelah dia memukulku, bahkan saat dia tidur di sampingku, aku bermimpi ia menutup wajahku dengan bantal dan menghabisi nyawaku.

Aku bangun dengan ketakutan dan tidak tau harus bagaimana. Aku punya pekerjaan yang belum bisa kutinggalkan di kantor, aku hamil saat itu, dan di pertengkaran kedua ini aku masih menyusui. Aku tak berdaya. Aku bingung. Keluarga pihak ayah diberitahu oleh suami bahwa aku pergi dari rumah, plus menjelek-jelekkan aku tentunya. Aku dibesarkan oleh keluarga yang tidak pernah menggunakan kekerasan, baik fisik maupun verbal. Orangtua mendidik kami dengan kelembutan. Hal berbeda yang didapat suami dari didikan orangtuanya yang menjadikan pukulan sebagai cara agar anak patuh.

Malam itu aku dan suami disidang oleh dua pihak keluarga. Aku ditanya apakah ingin bersatu lagi dengan suami, aku mengatakan aku takut dan trauma dengannya. Lalu keluarga suami mulai menjelekkanku dan tidak merasa bersalah sedikitpun atas apa yang kualami. Mereka berkata aku harus maklum atas perlakuan kasarnya. Menurut mereka itu hal biasa, karena toh aku tidak lebam. Aku juga dicap lebih mementingkan pekerjaan kantor daripada keluarga.

Aku yang dianggap salah.

Aku yang berlebihan.

Dan aku yang harus berubah.

Kugendong anakku sambil berlinang air mata karena tidak diberi kesempatan bicara oleh keluargaku sendiri. Mereka bahkan mengatakan,

“Sudah tidak usah dibahas lagi, berdamailah kalian demi anak, malu kita nanti kalau kalian tidak akur.” That’s it!! Begitu saja!.

Dan aku pulang dengan kegeraman.

Hari-hari berikutnya aku tidak lagi berbicara banyak kepada suami dan keluarganya. Aku bahkan tidak melihat wajah mereka saat bicara. Aku berkata dengan dingin kepada suami untuk pindah dari rumah mertua, aku ingin mengurus anakku sendiri tanpa campur tangan atau didikan orang-orang yang kebiasaannya selalu kasar dan malah menyalahkan perempuan.

Dan kamipun pergi. Pertengkaran demi pertengkaran selalu terjadi, pertemuan keluarga itu tidak berarti apa-apa, tidak merubah apa-apa, kami tetap tidak bisa saling menghargai lagi.

(Bersambung)
(Ilustrasi: Pixabay.com)


*Ika Ariyani, telah meninggalkan pekerjaan sebagai PNS, sedang menuju proses perceraian, dan memulai hidup baru di Surabaya bersama seekor anjing.