3 Film Ini Ajak Kita Refleksikan Soal Toleransi Beragama di Indonesia

Film ‘Mencari Hilal’, ‘Tiga Hati 2 Dunia 1 Cinta’, dan ‘?’ menyajikan tema pluralisme dan ragam agama di Indonesia, serta berbagai polemiknya di tengah masyarakat dengan kepercayaannya masing-masing.

Indonesia lekat dengan keberagaman dari berbagai aspek. Hal ini kerap membawa masyarakat pada sejumlah tantangan terkait perbedaan, terutama jika menyangkut agama dan kepercayaan.

Berbagai agama dan kepercayaan yang dianut membuat masyarakat Indonesia amat dinamis. Sisi hubungan harmonis di tengah perbedaan tersebut memang indah, namun ada pula potensi perpecahan atas nama agama yang bisa terjadi. Banyak kasus intoleransi, fanatisme, hingga teror yang dilakukan kelompok fundamentalis agama, menjadi ancaman situasi keberagaman di Indonesia.

Kondisi keberagaman soal iman dan agama di Indonesia rupanya mengilhami para sineas untuk ‘menangkap’ potret masyarakat tersebut dan mengajak kita untuk merefleksikannya. 

Sejak dulu, ada sejumlah film Indonesia yang mengangkat tema besar pluralisme, keberagaman, dan toleransi beragama. Tak terkecuali, tiga film berikut ini menjadi rekomendasi yang tak lekang oleh waktu. Film-film ini mengangkat cerita-cerita seputar hubungan antarmanusia, keimanan, dan gejolak di tengah perbedaan keyakinan di Indonesia. Apa saja?

Mencari Hilal’ (2015)

Mencari Hilaltayang di layar lebar pada tahun 2015. Film yang disutradarai Ismail Basbeth ini menceritakan tentang hubungan ayah dan anak, yakni Mahmud (Deddy Sutomo) dan Heli (Oka Antara), serta berbagai persoalan keyakinan dan idealisme di antara mereka.

Mahmud adalah seorang pemuka agama yang sangat menjaga hablum minallah atau hubungan antara dirinya dengan Allah Swt. Ia percaya, perintah Islam harus dilakukan dan diperjuangkan secara tulus dan kaffah

Mahmud juga yakin kalau Islam adalah satu-satunya solusi atas semua persoalan hidup. Oleh karenanya, ketika beredar isu bahwa sidang isbat Kementerian Agama memakan dana hingga 9 miliar Rupiah untuk mencari hilal penentu berakhirnya bulan Ramadan dan dimulainya bulan Syawal, semangat Mahmud terguncang. 

Pasalnya, pencarian hilal dulu biasa ia lakukan bersama warga pesantren tempatnya mengenyam pendidikan. Dahulu, hal itu tak pernah menelan biaya sedemikian banyak.

Gundah rasanya Mahmud melihat orang-orang saat ini lebih mementingkan kehidupan duniawi ketimbang akhirat. Maka keyakinannya begitu kuat bahwa menghabiskan dana besar untuk metode mencari hilal sesungguhnya tidak perlu. Mahmud pun berkeras untuk mencari hilal seorang diri, meski kesehatannya sudah jauh menurun hingga anak perempuannya, Halida, khawatir atas kenekatan sang ayah.

“Kalau nanti Bapak sampai meninggal belum sempat melihat hilal, Bapak enggak rida,” kata Mahmud kepada Halida.

Baca Juga: ‘Siksa Kubur’, Film tentang Peringatan Penyiksaan Kubur atau Kegalauan Beragama?

Sementara itu, anak bungsu Mahmud, Heli, adalah seorang aktivis lingkungan. Sudah sejak lama Heli meninggalkan rumah karena kegiatannya. Ia baru kembali untuk meminta kepada Halida, yang bekerja di kantor imigrasi, agar dapat mengurus perpanjangan paspornya yang hampir kedaluwarsa saat libur Lebaran. Heli rencananya hendak menyusul kawan-kawan aktivisnya ke Nicaragua.

Alih-alih, Heli diminta untuk menemani sang ayah, Mahmud, mencari hilal terlebih dulu oleh Halida. Kalau tidak, sang kakak mengancam tidak akan membantu Heli untuk urusan paspornya. 

Bukan hal mudah sebab Mahmud dan Heli tidak akur. Mahmud sering menganggap anak laki-lakinya itu ‘sesat’ karena kritik-kritik sekuler liberalnya. Di sisi lain, Heli menilai Mahmud terlalu fokus pada hubungannya dengan Tuhan. Sampai-sampai, Ia melupakan hubungannya dengan sesama manusia, termasuk anak-anaknya sendiri.

Mahmud dan Heli menghadapi lika-liku dalam petualangan mereka mencari hilal. Termasuk berbagai pertentangan ideologi dan cara pandang mereka. 

Mahmud yang mengalami konflik batin saat melihat manusia kerap lebih mementingkan urusan duniawi ketimbang akhirat. Heli yang sering merasa bahwa sang ayah mengabaikan hablum minannas yang sesungguhnya begitu dekat karena sibuk mengejar hablum minallah

Tapi, Mahmud dan Heli pun banyak belajar mengenai hubungan ayah dan anak yang tak mudah hilang meski banyak perbedaan di antara mereka.

Film ‘Mencari Hilal’ dapat ditonton di platform siaran Netflix. Selain menceritakan hubungan orang tua dan anak, film ini juga menunjukkan pentingnya menghargai perbedaan. Serta menyeimbangkan hubungan dengan Tuhan dan hubungan dengan sesama manusia.

3 Hati, 2 Dunia, 1 Cinta’ (2010)

Film 3 Hati Dua Dunia Satu Cinta pertama kali tayang di layar lebar Indonesia pada 2010 silam. Meski sudah hampir 15 tahun berlalu, tema keberagaman agama yang diangkat film ini mungkin masih relevan dengan situasi kita sekarang.

3 Hati Dua Dunia Satu Cinta’ diadaptasi dari novel ‘Da Peci Code’ dan ‘Rosid dan Delia’ karya Ben Sohib. Film ini menceritakan kehidupan Rosid (Reza Rahadian), pemuda Muslim dengan rambut kribo yang bikin kesal sang ayah, Mansur (Rasyid Karim). 

Menurut Mansur, Rosid jadi tidak bisa mengenakan peci karena gaya rambutnya itu. Padahal baginya, peci mencirikan pribadi yang shaleh dan taat agama. Sedangkan bagi Rosid, penggunaan peci lebih merupakan tradisi dan tidak seharusnya mendefinisikan caranya beragama. 

Rosid juga seorang wartawan lepas yang idealis dan ingin menjadi penyair seperti WS Rendra. Itulah yang membuatnya mempertahankan rambut kribonya. Selain menjadi seniman, Rosid kerap mengajar di sekolah jalanan.

Seakan persoalan rambutnya tidak cukup membuat Rosid dan orangtuanya bersitegang, pemuda itu juga naksir Delia (Laura Basuki), seorang aktivis kampus beragama Katolik. 

Baca Juga: Film ‘Sinden Gaib’, Paradoks Sinden Perempuan, Disingkirkan dan Dikontrol Laki-Laki 

Awalnya, Rosid dan Delia baik-baik saja saat menjalani hubungan meski dengan perbedaan kepercayaan. Namun, orang tua keduanya sangat menentang hubungan mereka. 

Baik orang tua Rosid maupun Delia mencari berbagai cara untuk memisahkan pasangan itu. Mulai dari menyekolahkan Delia ke Amerika hingga menjodohkan Rosid dengan Nabila (Arumi Bachsin), perempuan berjilbab yang mengidolakan pemuda itu karena karyanya.

Bukan cuma tentang ‘cinta segitiga’ Rosid, Delia, dan Nabila. Film ‘3 Hati Dua Dunia Satu Cinta’ juga menyoroti peliknya menghadapi perbedaan serta penghakiman yang muncul karena hal tersebut. 

Sebagai Muslim yang taat, keluarga Rosid sangat menentang hubungan Rosid dan Delia yang berbeda agama. Apa lagi, mereka sempat berencana untuk menikah. Sedangkan keluarga Delia mengingatkan konsekuensi yang akan dihadapi apabila hubungan mereka berlanjut. Bukan cuma masalah perbedaan kepercayaan, hal itu pada akhirnya membebani psikologis dua sejoli itu dan orang-orang di sekitar mereka. 

Di sisi lain, film ini juga menunjukkan bagaimana perbedaan seperti apa pun tak lantas mencegah rasa cinta dan kasih sayang untuk hadir.

?’ (2011)

Film ?’ (2011), yang juga dikenal dengan judul ‘Tanda Tanya’, pernah fenomenal pada masanya. ‘?’ merupakan film karya sutradara Hanung Bramantyo yang menceritakan tentang konflik antar-keyakinan dalam konteks pluralisme agama dan kepercayaan di Indonesia.

?’ menyajikan tumpang-tindih konflik keberagamaan di antara tiga keluarga dengan perbedaan kepercayaan di Semarang, Jawa Tengah. Ada keluarga Buddhis Tionghoa-Indonesia, Tan Kat Sun (Hengky Sulaeman) dan anaknya, Hendra (Rio Dewanto). Lalu ada pasangan Islam, Soleh (Reza Rahadian) dan Menuk (Revalina S. Temat). Serta perempuan bernama Rika (Endhita) yang pindah agama dari Islam ke Katolik dan anaknya, Abi, seorang Muslim.

Sun memiliki restoran Cina yang menyajikan menu olahan babi. Mengonsumsi babi memang dilarang dalam Islam, tapi Sun tetap memiliki pelanggan dan staf Muslim di restorannya, maka ia memastikan hubungan mereka tetap harmonis dengan memisahkan peralatan masak khusus untuk menu olahan babi. Peralatan itu pun tidak boleh digunakan untuk memasak makanan lain yang tidak berbahan babi. Dari sejumlah karyawan Sun yang beragama Islam, Menuk salah satunya.

Menuk bekerja di restoran Sun untuk menyokong keluarganya karena sang suami, Soleh, menganggur. Pekerjaannya di restoran Sun juga membuat Menuk berada di sekitar Hendra, yang pernah dekat dengan perempuan itu. 

Baca Juga: Film ‘Tiger Stripes’ Gejolak Remaja Lawan Mitos Menstruasi

Hendra, yang kerap bertengkar dengan orangtuanya perihal nasib restoran keluarga mereka, masih menyukai Menuk. Ia sakit hati sebab perempuan itu menolaknya karena perbedaan agama dan akhirnya menikah dengan Soleh. Hal itu pula yang membuat Hendra dan Soleh sering bersitegang.

Sementara itu, Soleh kerap dilanda ketidakpercayaan diri sebagai pengangguran. Sesungguhnya ia ingin menjadi pahlawan bagi keluarga kecilnya. Ia pun bergabung dengan Banser Nahdlatul Ulama (NU) demi mewujudkan hal itu. 

Suatu hari, Banser diminta untuk menjaga gereja dari ancaman teror bom saat malam Natal. Meski sempat ragu, Soleh akhirnya ikut agenda pengawalan tersebut. Hubungannya dan Menuk pun tidak begitu harmonis. Menuk menikah dengan Soleh lebih karena mereka sama-sama Muslim, kendati Menuk tak mencintai Soleh. 

Konflik Soleh dengan Hendra juga membuat Soleh hendak menceraikan Menuk.

Di sisi lain, Menuk berteman dengan Rika, yang berpindah agama dari Islam ke Katolik. Rika menjalin hubungan dengan Surya (Agus Kuncoro), seorang aktor Muslim yang putus asa karena tak kunjung sukses mendapatkan peran. 

Baca Juga: Film ‘Women from Rote Island’, Panjangnya Perjuangan Perempuan Adat Lepas Dari Kekerasan Seksual

Statusnya sebagai janda dan perpindahan keyakinan membuat Rika kerap dirundung oleh keluarga dan masyarakat di sekitarnya. Anak Rika, Abi, juga mengalami penolakan sosial meski ia tetap Muslim.

Film ‘?’ menuai pro dan kontra yang, ironisnya, persis dengan tema yang disampaikan dalam film oleh Hanung Bramantyo. Front Pembela Islam (FPI) beberapa kali mendemo penayangan film tersebut. Banser yang merupakan sayap pemuda NU juga memprotes gambaran kelompok mereka dalam ‘?’, yang menunjukkan Banser dibayar untuk melakukan bakti sosial. 

Hanung pun akhirnya memotong beberapa adegan yang dinilai dapat memicu kontroversial. 

Terlepas dari itu, film ‘?’ karya Hanung Bramantyo seakan hendak ‘menampar’ penonton. Konflik perbedaan keyakinan yang lazim muncul di tengah pluralisme Indonesia disajikan lewat berbagai adegan. Mulai dari pertentangan batin soal iman, stigma terhadap penganut kepercayaan lain, kekerasan dan serangan kelompok fundamentalis, hingga terorisme atas nama agama.

(Sumber Gambar: IMDB)

Salsabila Putri Pertiwi

Redaktur Konde.co
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!