Perempuan dan Keluarga Pendidik Keberagaman


*Aisyiah Nova- www.Konde.co

Sejujurnya cukup miris ketika melihat isi berita beberapa waktu terakhir ini. Politik negeri kita sedang sangat panas. Tidak tanggung-tanggung, yang menjadi pukulan saat ini adalah isu kebhinekaan.

Mungkin anda semua bertanya-tanya apakah saya akan membahas topik yang tidak ada hubungannya dengan perempuan?. Tenang saja, yang jelas di sini saya akan membahas bagaimana keluarga dan perempuan sebagai sumber pertama dalam pendidikan keberagaman.

Suatu kali seorang murid saya bermain tembak-tembakan di kelas. Kemudian salah seorang teman saya bertanya, “Kamu nembak siapa dik?”.

Kaget bukan kepalang bahwa dia menjawab “Ahok”.

Ketika saya menukil dari kawan lain, saya dapati sebuah cerita. Adik satu ini yang memiliki latar belakang pesantren di keluarganya, kurang memiliki toleransi di lingkungannya.

Lebih jauh lagi, saya dapati cerita suatu ketika si adik hendak berkompetisi di sebuah sekolah elit non-muslim. Namun keluarganya bertanya pada salah satu kawan pengajar saya, kira-kira anaknya apa diterima dengan baik di sana?.

Mendengar cerita itu saja saya sudah dangat miris. Itu artinya keluarganya selama ini belum punya pemikiran tentang keberagaman.

Sehingga saya berpikir, rupa-rupanya di lingkungan keluarga, kemungkinan keluarga kurang memberikan singgungan keberagaman yang cukup pada anaknya. Kemudian anak itu menjadi kagok, menjadi kaku, tidak memahami bahwa orang yang berbeda dari dirinya tidak melulu buruk.

Bagaimanapun juga sebagaimana kita tahu, keluarga adalah universitas pertama bagi anak. Pesan ini tidak hanya untuk ibu, tapi juga untuk ayah, semua laki-laki, bahwa membagi wawasan pada orang lain adalah perbuatan baik. Karena tanggungjawab pada keluarga bukan hanya milik perempuan, namun milik suami, milik semua anggota keluarga.

Saya kira, dari sedikit cerita murid saya, orang tuanya cukup menanamkan wawasan etnosentris. Dan tidak menyampaikan pesan pada anaknya bahwa ilmu bersosialisasi juga penting dalam kehidupan.

Sebagai keluarga, mungkin akan lebih tepat jika tidak hanya pendidikan akademis yang dikedepankan. Suatu yang saya dapati saat ini, melihat dari contoh murid-murid saya, banyak anak-anak yang kaya wawasan akademis tapi miskin afeksi. Lalu akibatnya apa? Fakir moralitas. Ketika yang dikedepankan adalah melulu akademis dan material, empati dan ilmu memanusiakan manusia akan sedikit banyak ditepiskan.

Mempersingkat ini semua, sangat baik jika keluarga dapat menanamkan rasa toleransi, terbuka terhadap keberagaman, dan nasionalisme. Itu semua adalah hal-hal yang sudah jarang saya dapati di tunas muda kita saat ini. Alangkah baik jika kita semua bisa memeluk semua ras, suku, agama, dan pemikiran yang berbeda-beda tanpa membentengi diri.


(Malang, dalam Mei yang mulai membeku)


*Aisyiah Novia, Bekerja sebagai pendidik. Tinggal di Malang, Jatim.