Para Perempuan Penjual Jajanan Pasar


*Kustiah- www.Konde.co

Usia boleh tua. Kulit boleh keriput pun tubuh boleh tak tegap dan tak kuat lagi. Namun kedua perempuan yang saya temui ini tak menyerah dengan keadaan.

Sore itu Minggu (9/7/ 2017) di seberang Sekolah Menengah Pertama  Kartayuda Desa Wado, Kecamatan Kedungtuban, Blora, Jawa Tengah, Sainem, 85 tahun, sedang berkemas.

Serenteng kerupuk, kacang tanah sangrai, kacang kedelai yang dibungkus plastik ukuran kecil, permen, balon, dan aneka jajanan anak-anak yang diletakkan di meja bambu satu per satu dimasukkan ke kantong plastik hitam.

Sainem melakukannya perlahan-lahan. Sore itu matahari hendak menenggelamkan diri. Tak lama suara adzan maghrib dari mushola tak jauh dari tempat mbah Sainem berjualan berkumandang.

Mbah Sainem berjualan aneka jajanan anak-anak sejak usianya belasan tahun. Saat itu anak-anaknya masih kecil. Suaminya seorang buruh tani meninggal saat tiga anaknya sudah berumah tangga. Sejak kepergian suaminya itulah Sainem hidup sebatangkara.

Ia awalnya menolak ajakan anaknya untuk tinggal bersama. Namun karena usianya semakin tua, dengan kondisi tubuhnya yang makin lemah, Sainem akhirnya menerima ajakan anak sulungnya.

Meski tinggal bersama anak, Sainem tetap bekerja dengan berjualan semampunya. Ia enggan menggantungkan hidup kepada anak-anaknya. Dalam sehari ia membawa pulang uang rata-rata Rp.20 ribu. Dan terkadang tak membawa uang sama sekali karena tak ada yang membeli daganganya.

"Jenenge wong dagang bu. Kadang payu kadang sepi (Namanya berdagang bu. Kadang laku kadang juga sepi)," ujarnya kepada penulis.

Di Pagi hari Sainem berjualan di pasar yang jaraknya sekitar 150 meter dari rumah anaknya. Sementara sore hari ia berjualan di pinggir jalan yang jaraknya sekitar 30  meter dari rumah tempat ia tinggal.


Kehidupan Sukiyem (79) juga tak jauh beda dengan Sainem. Ia hidup sebatangkara di sebuah rumah berdinding bambu dan berlantai tanah. Di dalam rumahnya yang berukuran 67 meter sehari-hari Sukiyem sibuk membuat kerupuk.

Sukiyem tak mempunyai anak dan suaminya meninggal dua tahun lalu. Setiap pagi ia berjualan kerupuk di pasar yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari rumahnya. Dulu semasa suamihya masih hidup suaminyalah yang mengantar Sukiyem ke pasar menggunakan sepeda. Sekarang ia diantar anak keponakannya menggunakan sepeda motor yang Sukiyem beli.

Berbeda dengan Sainem, Sukiyem lebih beruntung karena bisa memproduksi kerupuk yang berbahan tepung tapioka sendiri. Sepulang dari pasar Sukiyem bisa membawa pulang uang rata-rata Rp100 ribu. Jika sedang ramai seperti saat menjelang Lebaran ia bisa mengantongi uang sebanyak Rp 300-400 ribu.

"Mergo akih sing mudik nduk. Akih entuke (Karena banyak yang mudik nak. Banyak larisnya," ujarnya.

Baik Sainem maupun Sukiyem mengaku sudah biasa hidup susah. Namun mereka, sekali lagi, pantang menyerah dengan keadaan. Pantang menengadahkan tangan dan menyusahakan orang lain.

Prinsip hidup mereka hampir sama "Ora elok nek isih diparingi sehat karo sing nggawe urip tangan dienggo njaluk-njaluk (Tidak pantas kalau masih diberi sehat oleh Yang Memiliki hidup tangan dipakai untuk meminta-minya)," ujar Sainem yang juga diamini oleh Sukiyem.

Kedua perempuan kelahiran Blora ini tak mengeluh dan tak merutuki nasib meski hidup serba pas-pasan bahkan lebih tepatnya jauh dari kata cukup.


(Sukiyem dan Sainem, ibu penjual jajanan dan kerupuk di pasar/ Foto: Kustiah)


*Kustiah, Mantan jurnalis Detik.com, saat ini pengelola www.Konde.co dan pengurus Alians Jurnalis Independen (AJI) Jakarta.