Stop, Jangan Hakimi Saya atas Perceraian Ini

Poedjiati Tan – www.konde.co

Beberapa hari ini banyak media membicarakan perceraian Angelina Jolie dan
Brad Pitt. Dan Jenifer Anniston mantan istri Brad Pitt beberapa kali disebut
sebagai orang yang membawa brad pitt kembali ke masa lalu. Padahal perceraian
ini bukan karena itu. Bahkan dulu, Brad Pitt lah yang meninggalkan Anniston.
Dan kini Anniston kembali disalahkan lagi karena perceraian ini, padahal
Jennifer seperti disebutkan beberapa media yang saya baca, tak ada hubungannya
dengan perceraian ini. Jika saya jadi Jennifer Anniston, saya akan bilang:
cukup sudah. Cukup sudah saya menjadi bulan-bulanan selama ini.

Tak mudah memang bagi perempuan untuk berpisah. Apalagi bercerai. Selain
harus menelan trauma panjang, banyak perempuan kemudian disalahkan atas kondisi
buruk ini. Perceraian adalah hal terburuk dalam hidup saya, dan kita terus
menanggung beban seumur hidup atas keputusan ini. Begitu kata kawan-kawan
perempuan saya.

Berbicara tentang perceraian saya jadi ingat ketika ada reuni keluarga yang
saya ikuti. Ketika berkumpul dengan keluarga besar, kami mendengarkan cerita
salah seorang sepupu perempuan saya yang biasa dipanggil Maya. Maya bercerita
tentang anaknya yang dia paksa cerai. Terus terang waktu itu kami sekeluarga
terkejut, sebab dalam keluarga besar kami perceraian masih dianggap sebagai
sesuatu aib yang harus ditutupi rapat-rapat. Memang dari empat generasi dalam
keluarga besar tidak ada satupun perceraian. Perceraian dianggap sebagai
sesuatu yang memalukan dan harus dicegah.

Sepupu saya bercerita kalau anak perempuannya ketika hamil enam bulan
mengalami KDRT oleh suami sampai keluar air ketuban. Dia sebagai ibu merasa
wajib melindungi anak perempuannya. Ketika dibawa ke rumah sakit dokter  memerintahkan untuk dirawat inap sampai
melahirkan bila ingin calon cucu pertamanya selamat. Maya meminta anaknya untuk
bercerai dengan suaminya. Anaknya merasa gamang dan takut menjadi janda apalagi
dia baru menikah 8 bulan. Dia malu kalau harus bercerai dengan suaminya.  ‚ÄúLebih baik kamu jadi janda daripada jadi
mayat!Kataku.

Maya merasa bahwa kewajibanya sebai ibu dan perenpuan untuk bisa menjaga
dan mendidik anaknya untuk mandiri dan memiliki harga diri. Dia tidak mau
anaknya jadi sasaran kekerasan suaminya tanpa bisa membela diri. Dia tidak
peduli apa kata orang tentang anaknya. Dia berpesa kepada anaknya bahwa jadi
perempuan harus bisa mandiri, bisa melindungi diri dan anaknya, tidak perlu
takut. Bahkan dia tidak mau anaknya menuntut harta gono gini dari suaminya yang
kaya raya. Dia mengajarkan anaknya untuk berwirausaha agar bisa menghidupi
dirinya sendiri dan anaknya.  

Perceraian bagi perempuan memang tidak mudah. Ada beban ganda yang harus
ditanggung, beban ekonomi, beban psikologis dan juga stigma yang harus diterima
di masyarakat. Seringkali dalam kasus perceraian perempuan yang selalu
dipersalahkan. Ketika suaminya selingkuh, dianggap dia tidak bisa melayani
suami dengan baik sehingga terpikat dengan perempuan lain. Bahkan ketika
mengalami kekerasan dalam rumah tanggapun dianggap tidak sabar dan menerima. Ketika
memutus untuk menjadi single parents-pun akan banyak beban dan prasangka yang
harus diterima. Stigma janda yang suka menggoda suami orang atau dipandang
sebagai perempuan yang butuh seks sehingga sering menerima pelecehan dari rekan
pria.

Tekanan terhadap perempuan yang bercerai tidak saja dari masyarakat tetapi
kadang juga dari dalam keluarga. Ada dorongan dari keluarga agar mereka segera
menikah kembali. Dengan alasan agar mereka ada yang melindungi. Ketika
memutuskan untuk menikah kembalipun harus berpasangan dengan duda atau
laki-laki yang sudah tua. Bila ada laki-laki yang seumur ingin menikahi,
biasanya keluarga sang laki-laki akan tidak setuju anaknya menikah dengan
janda. Mereka lebih memilih perempuan yang masih belum pernah menikah.

Di dalam masyarakat yang patriaki, perceraian untuk perempuan bukanlah hal
yang mudah. Seorang perempuan status janda bercerai cenderung memberikan stigma
daripada status janda karena suami meninggal. Perempuan yang menjadi janda
karena cerai lebih sering mendapat stigma dari laki-laki duda bercerai. Menurut
Penelitian dari Biblarz dan Gottainer bahwa wanita yang menjadi janda karena
perceraian memiliki tingkat kesulitan hidup dan stres yang lebih tinggi
dibandingkan dengan wanita yang menjadi janda karena kematian pasangan.

Perceraian selalu disebut sebagai sebuah penyimpangan. Hal yang tak lazim
untuk dilakukan. Pun ketika perempuan menjadi korban kekerasan dan kemudian
menuntut dan meminta untuk bercerai. Proses melanjutkan hidup yang tak mudah
ini pasti membutuhkan dukungan dari banyak orang. Jadi, stop sudah untuk
melakukan penghakiman. Saya tak mau menjadi bulan-bulanan.

Sumber:

Biblarz, Timothy
J;Gottainer, Greg. (2000). A comparison of widowed and divorced single-mother
Journal of Marriage and the Famili. 533.

foto :

www.supportinasplit.com

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email