Sinetron: Gambaran Buruk Perempuan di Televisi. Mengapa Masih Disukai?

Sepertinya banyak orang yang sudah hafal dengan cerita-cerita di sinetron televisi kita yang banyak mengabaikan rasionalitas. Lihat saja perempuan yang banyak digambarkan di sinetron televisi. Ada perempuan yang digambarkan sebagai orang yang senang berteriak-teriak tak berdaya. Ada pekerja rumah tangga yang digambarkan tak pernah kerja karena tiap hari hanya diminta ngerumpi oleh majikannya. Namun sebuah survey yang dikeluarkan oleh Politika Research and Consulting (PRC)-Parameter Politik Indonesia (PPI) di tahun 2020 menyebut sinetron sebagai tayangan paling favorit para perempuan di Indonesia

Luviana – Konde.co

Lihat saja bagaimana konfigurasi televisi terhadap perempuan di sinetron kita.

Perempuan Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang digambarkan kerjanya hanya lalu lalang saja karena tiap hari hanya disuruh ngerumpi saja oleh majikan perempuannya. PRT seperti ini digambarkan tak pernah kelihatan apa pekerjaannya.

Atau sesekali lihatlah Film Televisi (FTV) yang hingga tahun 2020 ini setiap malam tayang di SCTV, kamu akan lihat tayangan dengan cerita yang mirip-mirip hampir tiap hari, yaitu tentang dua perempuan yang memperebutkan satu laki-laki. Perempuan pertama digambarkan sebagai orang yang galak dan jahat tapi kaya, sedangkan perempuan kedua digambarkan sebagai orang yang baik tapi miskin dan tidak berdaya.

Si laki-laki awalnya pacaran dengan perempuan pertama, namun karena perempuan pertama galak, maka ia beralih memilih ke perempuan kedua. Disinilah terjadi drama ‘perjuangan’ untuk memperebutkan si laki-laki.

Malam kemarin, malam ini atau besok malam, ceritanya tak akan pernah berubah. Jika ada yang berubah, ah, itu hanya sedikit modifikasi cerita saja sih.

Di sinetron, perubahan modifikasinya biasanya terjadi pada tragedi kejadian dalam cerita, misalnya di sinetron yang ini tiba-tiba ada kecelakaan, di sinetron yang itu tidak sengaja membawa barang dan terjatuh. Di sinetron yang sana, tiba-tiba berpapasan tak sengaja, kaget dan marah-marah.

Konfigurasi cerita dalam sinetron atau FTV ini yang kemudian disebut sebagai stereotyping. Pelekatan atau stigma buruk yang ditempelkan pada perempuan. Perempuan PRT yang digambarkan tak pernah kerja dan hanya ngerumpi saja. Perempuan kebanyakan yang digambarkan senang berteriak atau menangis sejadi-jadinya karena selalu dalam kondisi bingung, tak berdaya. Dan perempuan yang pekerjaan utamanya adalah berebut laki-laki dengan perempuan lain. Paling tidak inilah gambaran sinetron dan FTV yang banyak tayang di televisi selama ini.

Padahal tentu ini tak sesuai dengan kenyataan yang ada di sekitar kita. Lihat saja perempuan PRT yang sampai sekarang selalu bekerja tak mengenal waktu, mereka mengerjakan apa saja di rumah dan kadang tak punya waktu untuk istirahat. Namun di sinetron, PRT digambarkan sebagai orang yang senang nongkrong dan senang ngerumpi.

Demikian juga banyak perempuan yang kemudian hanya digambarkan sebagai obyek. Sosoknya ada, namun perannya sebagai pemanis, yaitu hanya sibuk memperebutkan laki-laki. Maka bolehlah kita sebut, sinetron adalah tayangan yang isinya tidak membuat kita berpikir rasional tentang dunia yang sedang kita hadapi sekarang.

JALA PRT pernah melaporkan tayangan berjudul “Asisten Rumah Tangga” ke Komisi Penyiaran Indonesia di tahun 2016, karena stereotype PRT sebagai orang yang negatif ini akan memperburuk kondisi PRT di Indonesia.Sinetron ini sangat tidak mendidik. Padahal dalam kenyataan sehari-hari, kondisi PRT jauh dari kondisi yang digambarkan di sinetron tersebut

Remotivi melalui Rapotivi pernah menulis bahwa sinetron merupakan tayangan yang banyak diadukan masyarakat dalam rentang waktu Januari- Maret 2016. Remotivi juga mencatat tentang kemunduran sinetron di Indonesia saat ini dibandingkan di tahun 1990an karena di zaman sekarang, sinetron dilihat sebagai tambang emas pundi-pundi pemasukan uang televisi tanpa melihat kualitas isi cerita

Namun berdasarkan hasil survei nasional Politika Research and Consulting (PRC)-Parameter Politik Indonesia (PPI), akhir Januari-Awal Februari 2020, sinetron ternyata merupakan tayangan paling favorit bagi perempuan di Indonesia saat ini. Sinetron menempati posisi teratas dengan angka 50,6 persen. Berarti setengah lebih perempuan Indonesia menjadikan sinetron sebagai tayangan yang banyak ditonton.

Survei nasional ini menggunakan metode multi stage random sampling. Jumlah responden di tiap propinsi diambil secara proporsional berdasarkan data jumlah pemilih dalam DPT Pemilu 2019. Responden adalah perempuan yang telah berusia minimal 17 tahun atau sudah menikah. Jumlah responden sebanyak 1.098 orang. Responden terbesar secara proporsional pada 220 desa/ kelurahan.

Direktur Riset Politika Research and Consulting (PRC) Dudi Iskandar dalam launching dan seminar tentang survey ini di Universitas Budi Luhur, Jakarta 10 Maret 2020, menyatakan survey mengungkapkan bahwa posisi kedua tayangan televisi yang diminati adalah berita sebanyak 18,9 persen, reality show (5,7 persen). Sisanya infotainment, musik, talk show dan sebagainya.

Sedangkan media yang paling banyak dipercaya perempuan adalah televisi dengan angka 83,3 persen. Menyusul media sosial 10,3 persen, media online (3,2 persen) selanjutnya koran dan majalah.

Survey juga menyebutkan bahwa kepemilikan dan penggunaan media dan jejaring sosial, Whatapps menjadi yang tertinggi 45,3 persen (kepemilikan) dan 78,6 persen untuk penggunaannya pada setiap harinya. Untuk kepemilikan urutan kedua diduduki Facebook (38,4 persen), Youtube (18,4 persen), Instagram (16.6 persen) , dan Twitter (3,5 persen).

“Yang memprihatinkan adalah tingkat perempuan dalam membaca atau menonton berita. Yang jarang membaca atau menonton berita lebih dari setengahnya, yaitu, 50,6 persen. Berita yang disukai adalah hiburan, olahraga, dan infotainment sebanyak 62,5 persen. Menyusul politik dan pemerintahan 22,3 persen serta Ekonomi dan Bisnis 10,6 persen,” kata Dudi Iskandar dalam seminar tersebut yang dihadiri Konde.co

Terlepas dari apakah survey ini sudah menggunakan perspektif perempuan ataukah tidak, namun melihat dari hasilnya, ini merupakan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Jika dilihat, memang survey ini tidak menggunakan perspektif feminis, karena jika menggunakan perspektif feminis maka akan ditemukan jawaban: apa yang menjadi penyebab perempuan menyukai sinetron? Apa yang terjadi pada perempuan? Pengalaman apa yang dimiliki perempuan dengan hasil survey ini?.

Riset feminis pada dasarnya menciptakan teori-teori yang didasarkan pada pengalaman nyata dan bahasa perempuan, lalu hasilnya adalah pemikiran perempuan.

Feminis Maria Mies mencatat, riset feminis menciptakan perubahan perempuan dan keterlibatan perempuan. Jadi intinya riset feminis akan menggunakan sejarah perempuan dan menjadi bagian diskusi kolektif perempuan.

Namun terlepas dari semua ini, hasil survey tersebut memang menunjukkan masih sangat minimnya pendidikan literasi bagi perempuan di Indonesia. Perempuan yang diharapkan menonton televisi dengan kritis, namun masih menyukai sinetron yang menstereotype kan perempuan, yang membuat irasional perempuan.

Aktivis perempuan dan wakil direktur Kapal Perempuan, Budhis Utami yang menjadi salah satu pembicara dalam seminar tersebut mengakui tentang masih minimnya literasi yang diberikan untuk perempuan.

“Tidak hanya menonton televisi secara kritis yang kurang, namun kemampuan perempuan dalam membaca dan menulis pun masih berkurang,” kata Budhis Utami

Ini banyak dijumpai Budhis dalam kerja-kerja Kapal Perempuan selama ini di sejumlah daerah di Indonesia. Padahal kemampuan membaca dan menulis bisa menjadi modal dasar atau landasan penting bagi perempuan untuk mengungkapkan pemikiran dan pengalamannya

“Di beberapa daerah, masih banyak perempuan yang lupa menulis, dulu hanya sekolah sampai SD, setelah itu tak pernah digunakan lagi. Ini merupakan kondisi yang memprihatinkan untuk perempuan,” kata Budhis Utami

Budhis Utami mengatakan, kondisi inilah yang menjadikan perempuan di Indonesia secara umum masih menjadi konsumen media atau hanya mengkonsumsi media, belum pada tahap mengkritisi media.

Maka kondisi ini membuat perempuan harus dilindungi dari tayangan yang tidak mendidik perempuan. Budhis setuju jika ini merupakan problem serius dari literasi di Indonesia, maka pendidikan adalah salah satu hal dasar yang harus diperbaiki.

Kapal Perempuan adalah lembaga perempuan yang selama ini berkonsentrasi untuk memberikan pendidikan bagi perempuan. Hasilnya sudah terlihat di sejumlah desa di Indonesia, misalnya perempuan yang ikut di sekolah Kapal Perempuan menjadi berani untuk bicara di rapat-rapat di desa, ikut Musrenbang dan diakui keberadaannya oleh masyarakat.

Karena sebelumnya perempuan belum diikutsertakan dalam pertemuan dan tidak didengarkan suaranya.

“Belajar dengan menggunakan media sebagai subyek pengetahuan menjadi penting, para perempuan bisa diajak belajar dengan melihat atau menonton media kemudian diajak untuk mengkritisi bersama,” kata Budhis Utami.

Bagi feminis, literasi kemudian digunakan sebagai kritik untuk melihat naskah-naskah yang patriarkhi dan tidak berpihak pada perempuan. Kritik sastra feminis misalnya digunakan untuk mendekonstruksi politik patriarkhi yang sebagaimana sering direpresentasikan dalam tulisan-tulisan atau bahasa yang misoginis atau membenci perempuan.

Secara umum memang banyak perempuan yang setelah pulang dari bekerja, memilih untuk menonton televisi yang isinya ringan dan tak membuat mereka harus berpikir keras. Karena setelah pulang dari kerja, biasanya perempuan tak bisa langsung istirahat, mereka harus membersihkan rumah dan menemani anak belajar. Maka mereka akan memilih nonton televisi yang membuat mereka bisa istirahat setelah semua pekerjaan di rumah selesai

Namun sayangnya, televisi kita memang menggunakan logika irasional dalam menayangkan sinetron, memproduksi tayangan yang hanya layak jual dan sebagai penghasil iklan namun menjungkir balikkan fakta, memberikan sejarah buruk stigma terhadap perempuan

Jadi, tak hanya perempuan yang harus diajak untuk kritis, namun juga televisi, penyedia tayangan yang harus diajak berpikir rasional dan melihat kenyataan, karena ini adalah bagian dari literasi perempuan.

Sebab bagi feminis, literasi merupakan bagian dari politik perempuan.

(Foto: FTV berjudul “Entah Apa yang Merasukimu Neng Bebek”, sumber: FTV SCTV/ Youtube)

Luviana, setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar ilmu komunikasi di sejumlah universitas di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Tim Konde.co

Konde.co lahir pada 8 Maret 2016 untuk mengelola ruang publik dari sudut pandang perempuan dan minoritas sebagai bagian dari kesadaran dan daya kritis, menghadirkan penerbitan artikel di website, produksi video/ film, dan informasi/ pengetahuan publik. Kini dikelola oleh individu-individu yang mempunyai kesamaan dalam memandang perempuan dan minoritas.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email