Menjadi Kartini: Aku dan Kamu Bisa Melakukannya Hari Ini

Aku, kamu, kita semua bisa menjadi Kartini. Jadi, teruskan semangat literasi yang sudah dilakukan Kartini di masa kini

Merayakan Kartini adalah merayakan pikiran-pikirannya, membaca dan mengkaji tulisan-tulisannya, menggunakannya untuk permasalahan hari ini, Okky Madasari menulis dalam Teori Kartini untuk Silicon Valley dalam Jawa Pos, 18 April 2021

Setiap tanggal 21 April, kita tentu saja biasa merayakan Hari Kartini. Tapi, apakah cukup sekadar momentum seremonial saja? Tentu tidak! Perayaan Kartini harus dijadikan upaya memaknai gagasan dan etos perjuangannya. Menjadikannya terus relevan hingga saat ini. 

Coba kita lihat konteks Kartini dan perjuangan literasi hari ini. Pertautan emosional Kartini dengan dunia literasi tidak hanya sekadar pamrih pemenuhan dimensi intelektual diri, tapi juga selebrasi ke arah pemuliaan adab literasi kita. Literasi yang mengajarkan kepekaan, peka terhadap kondisi sekitar, serta ikut merasakan apa yang orang lain rasakan.     

‘Menghidupkan’ Kartini adalah salah satu yang bisa dilakukan di dunia literasi. Perpustakaan Nasional RI termasuk satu yang melakukan ikhtiar kecil itu. Mereka menginisiasikan sebuah sayembara puisi bertemakan : Peran Kartini Masa Kini dalam Meningkatkan Budaya Literasi. Aktivitas ini, bertujuan menimba percikan ide-ide Kartini yang lekat dengan budaya literasi. 

Mengapa mesti puisi? Bagi Syarif Bando, Ketua Perpustakaan Nasional yang menjadi penyelenggara di balik sayembara ini, puisi menjadi sarana komunikasi berkelanjutan untuk mengembangkan pemikiran-pemikiran Kartini yang relevan dalam peningkatan budaya literasi masa kini.

Kartini sebagai perempuan pemikir menurutnya, telah mampu mendedah jalan keluar atas persoalan pelik yang terjadi kala itu. Bahkan, persoalan yang sampai kini masih terus relevan. Soal literasi. 

Melampaui sebayanya, dia telah bergelut dengan persoalan utamanya sebagai perempuan yang kian berjejal dengan kerangkeng tradisi. Tapi dia tetap teguh, tujuannya mencerdaskan anak bangsa. Meskipun, tak mudah juga prosesnya. 

Buku “Habis Gelap, Terbitlah Terang” menjadi saksi betapa pemikiran Kartini telah banyak menjadi inspirasi perjuangan perempuan. Sebuah buku penting, yang sanggup menjadi suluh di inti perjuangan kaum pribumi, terutama perempuan. Lewat buku itu, gerakan emansipasi terus digelorakan. Tulisan-tulisannya di kemudian hari, juga telah menjadi sumber rujukan mengolah pikiran yang perlahan membebaskannya dari belenggu alam pikir Kolonial. Bahkan, terus dibaca hingga saat ini. 

Sosok Kartini beserta tulisannya hadir, tak lain dari kecintaannya dengan kegiatan membaca. Buku telah menjadi teman setia yang selalu mengakrabinya. Pikirannya seolah melarung bebas ke samudera ilmu pengetahun dalam aktivitas membacanya. Di samping berkorespondensi, yang juga menjadikannya bisa semakin luas pemikiran.  

Aktivitas literasi baik membaca dan menulis, telah mengantarkan Kartini menerabas sekat-sekat tradisi. Perihal tradisi yang mendudukkan derajat perempuan di bawah hegemoni laki-laki, Kartini telah menciptakan sejarah perjuangan emansipasi melalui literasi. Tak hanya menulis keresahan hatinya, dia juga menghadirkan kepekaan jiwanya tentang ketidakadilan yang dirasakan perempuan.    

Jadi Kartini Hari Ini

Keteladanan Kartini, tak akan lekang dihempas zaman. Ia terus abadi dalam ingatan kita. Maka tugas selanjutnya bagi generasi muda hari ini adalah menginternalisasi spirit literasi Kartini. Sebuah paradigma historis, yang menjadi pijakan perjuangan di masa kini dan di masa mendatang. 

Seperti kata Okky Madasari, kontekstualisasi Kartini dengan membuatnya terus relevan memang diperlukan. Perempuan hari ini adalah penerus perjuangan Kartini. Sebagaimana Kartini, kita semua harus memiliki kegairahan membaca. Lebih hebat lagi, jika tergerak mengabdikan hidup untuk berjuang mengantarkan bacaan-bacaan hingga ke pelosok terpencil pedesaan. 

Maka serupa adagium Latin “Historia Magistra Vitae”, semua orang hari ini diharapkan bisa belajar pada sejarah, yaitu sejarah hidup Kartini.

Muhammad Ghufron

Mahasiswa Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, bagian dari Jurnal Moderasi Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, dan aktif di Komunitas Lensa. Berdomisili di Bantul, Yogyakarta.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email