Pernah datang ke Yogyakarta lalu melihat tempat makan “The House of Raminten” atau tempat butik berlabel “Hamzah Boutique”?
Itulah Raminten, dengan sosok patung mengenakan kebaya dan konde khas Jawa berdiri di depannya.
Banyak orang mengenal Raminten hanya sebatas ikon kuliner atau toko butik. Namun, Raminten sejatinya lebih dari itu. Ia menjelma menjadi budaya sekaligus ikon kota Yogyakarta, terutama lewat seni pertunjukan bernama Raminten Cabaret Show.
Rabu (17/9), saya menonton sebuah film dokumenter Raminten Universe: Life is a Cabaret rilisan Kalyana Shira Foundation di Institut Français Indonesia (IFI), Jakarta. Film berdurasi 90 menit ini mengemas kisah Hamzah Sulaiman alias “Raminten” serta para seniman kabaret lainnya saat bermain di depan dan balik layar seni pertunjukkan kabaret.
Baca Juga: Ribut Mendebatkan Queer, Tetapi Pernah Gak Melibatkan Mereka dalam Forum Kamu?
Film dibuka dengan narasi Yogyakarta sebagai kota budaya yang beragam. Di tengah riuhnya Malioboro, Yogyakarta, berdiri sebuah tempat pertunjukkan kabaret bernama “Raminten” di mana para seniman crossdresser bertalenta menampilkan berbagai ragam pertunjukkan seni seperti tarian, nyanyian, dan lip sync melalui ragam cerita yang berbeda. Hamzah Sulaiman (alm) alias sosok di balik karakter Raminten tak hanya menjadi pelopor brand Raminten itu sendiri, tetapi juga penggerak budaya yang melahirkan panggung kabaret khas Yogyakarta: Raminten Cabaret Show.
Berkat inisiasinya, seni pertunjukan kabaret bertahan sejak 2010 dan berkembang menjadi kesenian unik yang hanya bisa ditemui di panggung Raminten, Yogyakarta.

Sepanjang film, penonton diajak menyimak kisah para penampil Raminten Cabaret. Pun kisah sosok Raminten itu sendiri.
Semasa hidupnya, Hamzah membuktikan melalui lakunya bahwa Raminten adalah tempat yang inklusif. Selalu tersedia bagi siapa pun yang mau berkarya, termasuk mereka yang kerap terpinggirkan. Kehadiran Raminten lebih dari sekadar ruang toleransi bagi mereka yang ada di dalamnya.
Nia Dinata, sang sutradara, menjelaskan bahwa ia mendapat inspirasi untuk menuliskan ulang kisah Raminten dari perspektif perempuan Indonesia.
Baca Juga: Aku Ingin Merdeka, Bahasa Aksi dan Perjuangan Queer Lepas dari Kolonialisme
“Inspirasinya karena saya sedikit kesal ketika Raminten sempat masuk majalah British Vogue 2017. Sebagai orang Indonesia tapi kok no appropriation sih saat itu. Mereka ambil gambar dengan indah tapi kok nggak ditulis sih siapa founder-nya, the story behind it. Ih Raminten masuk Vogue tapi gitu-gitu aja. And then what?” ungkap Nia kepada penonton saat sesi diskusi pemutaran film Raminten Universe di Jakarta, Rabu (17/9).
Sebagai sutradara, Nia mampu menangkap realitas tentang kesederhanaan Raminten dan kehidupan seniman di dalamnya. Pun usai menonton, saya menemukan satu kalimat dalam bahasa Jawa yang merangkum bagaimana Nia berusaha menjabarkan keberagaman dan kisah Raminten lewat film: Urip iku Urup. Artinya, hidup itu menyala, hidup adalah menghidupi hidup itu sendiri. Hal ini tercermin dari bagaimana para seniman Raminten Cabaret Show memaknai Raminten sebagai tempat berkarya. Memaknai Hamzah Sulaiman sebagai sosok ayah. Juga memaknai seni bukan semata untuk uang dan untuk diri mereka sendiri, tapi untuk menghidupi jiwa dalam ikatan kekeluargaan yang hangat.
Crossdresser dan Stigma yang Masih Melekat
Pertunjukkan seni kabaret Raminten telah menerima banyak apresiasi dari berbagai lapisan audiens, termasuk wisatawan mancanegara.
Meski begitu, masih terdapat stigma dan diskursus negatif tentang pertunjukkan kabaret Raminten. Mirisnya, beberapa menganggap kabaret Raminten semata-mata adalah tempat para transpuan berkumpul. Alih-alih memaknainya sebagai warna-warni keberagaman dalam kesenian, label yang melekat semakin menambah kerentanan kelompok queer dan seniman-seniman crossdresser lainnya.

“Banyak yang tahu Raminten tapi mereka belum sempat mengenal Raminten lebih jauh. Sehingga ini jadi tantangan tersendiri bagi kami,” ujar Ratri, anak angkat Hamzah Sulaiman sekaligus Direktur House of Raminten.
Baca Juga: Survei: Perempuan, Queer, Disabilitas Lebih Rentan Jadi Korban Kekerasan di Dunia Kerja
Para performer kabaret menyebut diri mereka sebagai seniman crossdresser. Tak terkecuali BaBam, salah satu pemain Raminten Cabaret Show yang memilih crossdresser sebagai identitas ia dan teman-teman lainnya. Cross-dressing adalah ekspresi identitas dengan mengenakan pakaian atau atribut yang biasanya lekat dengan ekspresi gender lain dari dirinya.
“Dari 2010 kami hadir sampai hari ini, kami mencari padanan kata yang tepat untuk kami ditempatkan di mana. Pada akhirnya “crossdresser” menjadi pilihan kami. Menariknya, hampir 70% kami memutuskan tetap menjadi laki-laki di keseharian, kami berdandan perempuan cuma Jumat dan Sabtu. Makanya kami menyematkan diri sebagai “crossdresser”. Walaupun ada beberapa teman-teman memilih menjadi utuh (transpuan) di keseharian, tapi itu pilihan,” papar BaBam dengan santai.
Menurutnya, penampil Raminten kerap dilihat sebelah mata oleh warga lokal karena dianggap tidak memiliki akar tradisi. Nyatanya, tradisi-tradisi lokal justru menjadi pijakan bagi para crossdresser untuk berlaku dan bertutur baik di depan maupun di belakang panggung.
“Tradisi lampau juga melakukan itu, di Keraton Yogya juga ada penari-penari crossdresser. Lalu apa yang membuat kami menjadi sangat kiri sekali dilihat sebagian besar warga Yogya? Padahal kalau dilihat di sepanjang pertunjukkan, sangat ada unsur tradisi yang kuat. Bukan hanya di atas panggung, tapi di belakang kami melakukan sangat tradisional sekali. Sistem kekeluargaan yang sangat kuat, tidak terikat atas usia dan gender, karena sangat beragam.”
Baca Juga: Melihat Isu Queer Dalam Tayangan Boys Love Di Film-Film
Kerja-kerja mereka selalu totalitas, bahkan ketika di luar panggung sekalipun. Hingga saat ini, BaBam dan penampil crossdresser lainnya masih terus tampil dan membuktikan kepada masyarakat bahwa seni tidak dapat dikotak-kotakkan.
“Saya selalu menyarankan, nonton dulu, baru komen. Kami sangat terbuka, karena yang kami lakukan sama kayak seniman Yogya lain. Ketika di atas panggung dan di luar panggung kami sangat totalitas, bukankah itu seharusnya seniman lakukan? Sampai hari ini kami masih berusaha untuk dikenal dan diterima,” pungkas BaBam saat bercerita tentang Raminten dan tantangan yang mereka hadapi sebagai penampil.
Menyimak penjelasan BaBam, saya teringat sepotong kalimat yang dilontarkan para pemain kabaret Raminten dalam adegan film: “Jangan lihat gendernya, tapi lihat skill dan performance-nya”. Jika seni adalah tentang keindahan, maka seharusnya menjadi ruang aman dan bebas bagi semua orang tanpa stigma yang mengekang.
Berdasarkan laporan CATAM Arus Pelangi 2021—2023, stigma dan prasangka sosial terhadap kelompok queer masih terus dilanggengkan.
Sepanjang periode tersebut, tercatat 35 kasus diskriminasi terhadap kelompok LGBTIQ+ dari berbagai daerah. Jumlah ini belum mencakup kasus-kasus lain yang belum dilaporkan oleh korban. Data dan realitas yang diperkuat lewat kisah para seniman crossdresser dalam film Raminten Universe menunjukkan bahwa pelanggaran HAM terhadap kelompok minoritas masih berlangsung hingga hari ini.
Raminten Universe: Kesenian yang Patut Dirayakan
Hadirnya pertunjukkan kabaret Raminten dan Film Raminten Universe: Life is a Cabaret adalah angin segar di tengah kondisi negara yang semakin kelam hari ini.
Di saat ruang ekspresi semakin sempit dan perbedaan dipandang sebagai bentuk ancaman, Raminten sebagai sebuah kesatuan mampu membuktikan selama belasan tahun bahwa keberagaman layak dirayakan melalui keindahan dan kesenian.
Crossdressing yang muncul dalam film pun ditampilkan apa adanya melalui karakter-karakter sederhana yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui kacamata yang humanis dan membawa kearifan lokal sebagai sorotan, ini mengartikan bahwa sejatinya ekspresi identitas individu bersifat sangat cair dan tak dapat disekat-sekat secara hitam-putih.
Raminten Cabaret Show adalah simbol perlawanan sekaligus harapan: bahwa kesenian bersifat interseksional, mampu menembus batas-batas gender, identitas, bahkan kelas. Raminten bahkan selalu menerapkan prinsip untuk memanusiakan manusia, terkhusus memanusiakan para seniman yang menjadi nyawa dalam dunia Raminten.
Baca Juga: Maafkan Kami Kawan Queer Muslim, Sekarang Kami Baru Paham Rasanya Lebaran Sendirian

“Warisan Raminten adalah keberanian untuk mencintai tanpa membedakan. Di tengah tantangan kota besar seperti segregasi sosial dan jarak antar kelompok, Raminten mengajak masyarakat untuk lebih peduli kepada sesama. Semoga pesan ini hidup di hati setiap penonton dan menginspirasi aksi nyata di komunitas mereka,” ujar Ratri.
Dena Rachman, produser Film Raminten Universe: Life is a Cabaret turut menegaskan bahwa film yang ia gubah sejatinya berisi pesan tentang kemanusiaan.
“Ini film tentang humanity, inclusion as its best, loving unconditionally, regardless, yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama. Film ini mendorong kita untuk melihat bahwa di tengah urban chaos, nurani kebajikan adalah jembatan terkuat antar identitas, menyatukan sesama manusia,” terang Dena.

Di akhir sesi diskusi film, Nia Dinata berharap agar kisah Raminten dapat menjadi refleksi bagi seluruh masyarakat dalam memandang inklusivitas melalui tindakan sederhana sehari-hari. Ia juga terbuka dengan ajakan pemutaran film bagi komunitas, kampus, atau undangan kolektif lainnya yang ingin berdiskusi dan memutar film yang ia buat.
“Saya ingin kisah Raminten menjadi cermin bahwa di negeri dengan keberagaman seluas ini, inklusivitas bukan hanya wacana. Tapi sesuatu yang bisa kita wujudkan lewat tindakan sederhana setiap hari,” pungkas Nia.






