Ada alasan mengapa lagu-lagu Olivia Rodrigo terasa seperti teman curhat bagi banyak perempuan.
Lewat lagu “drivers license”, “good 4 u”, hingga lagu-lagu yang ada di album SOUR dan GUTS, ia menceritakan tentang cinta, kecewa, cemburu, rasa tidak aman, sampai kemarahan yang dirasakan perempuan.
Perasaan itu tidak selalu terdengar “cantik”, tetapi justru di situlah musik Olivia terasa dekat. Ia tidak selalu berusaha membuat perempuan terdengar tenang, dewasa, dan mesti masuk akal.
Di media sosial, potongan lirik dari lagunya sering menjadi bagian dari unggahan pendengar yang menceritakan tentang pengalaman mereka sendiri. Mulai dari patah hati, jatuh cinta, kecemburuan, hingga rasa tidak aman dalam hubungan. Lirik pada lagu Olivia memberi kesempatan bagi banyak perempuan yang ingin mengekspresikan perasaannya tanpa harus merasa bersalah karena sering dianggap terlalu sensitif atau terlalu emosional.
Hal itu paling jelas terdengar dalam “all-american bitch”, lagu pembuka album GUTS.
Judulnya sendiri sudah provokatif. Lagu ini terinspirasi dari tulisan Joan Didion dan memainkan kontradiksi tentang gambaran perempuan ideal: harus cantik, sopan, menyenangkan, penuh rasa syukur, tetapi sekaligus mampu menyembunyikan kemarahan dan sisi-sisi yang dianggap tidak pantas.
Olivia bahkan membangun lagu itu seperti sebuah ledakan.
Ia dimulai dengan lembut dan hampir seperti balada, lalu berubah menjadi pop-punk yang berisik. Kontras tersebut terasa seperti pengalaman menjadi perempuan itu sendiri: terlihat baik-baik saja di luar karena tuntutan sosial, sementara di dalam kepala ada banyak hal yang ingin diteriakkan.
Konsep ini sering disebut sebagai feminine rage—kemarahan perempuan terhadap tuntutan, ketidakadilan, standar tubuh, relasi, dan berbagai aturan sosial yang membatasi mereka.
Perempuan sering berhadapan dengan banyak aturan tidak tertulis tentang bagaimana perempuan seharusnya bersikap. Sejak kecil perempuan diharapkan ideal dengan mempunyai sikap lembut, sabar, tidak terlalu keras, dan mampu menjaga perasaan orang lain.
Baca juga: Lirik Lagu ‘Gapapa’ Anisa Bahar Diubah Jadi Vulgar, Sampai Kapan Menormalisasi Subordinasi Perempuan?
Lebih jauh, kemarahan perempuan menjadi isu karena ia sering diperlakukan berbeda dari kemarahan laki-laki. Ketika laki-laki marah, kemarahan dianggap sebagai ketegasan. Namun, saat perempuan melakukannya, ia lebih sering dianggap emosional, sulit diatur, atau berlebihan.
Olivia masuk mendobrak celah itu. Ia memberikan ruang bagi emosi perempuan untuk muncul tanpa harus dibuat terlihat baik-baik saja. Akibatnya, ada perasaan tertentu yang seolah harus disimpan agar sesuai dengan gambaran perempuan yang dianggap ideal.
Lagu all american bitch misalnya, Olivia menceritakan perempuan ideal yang harus sopan, cantik, menyenangkan dan mampu mengendalikan diri. Ketika marah disebut berlebihan, ketika cemburu dianggap posesif, ketika terlalu terbuka soal perasaan dianggap lemah.
Perempuan berdarah Filipina-Amerika itu tidak menghindari emosi-emosi tersebut. Olivia mengubah emosi itu menjadi cerita yang bisa dinyanyikan dan dirasakan oleh banyak perempuan.
Kendati demikian, bukan berarti semua kemarahan otomatis benar atau semua tindakan yang lahir darinya dapat dibenarkan. Ada perbedaan antara membenarkan tindakan dan mengakui bahwa perempuan berhak memiliki kemarahan.
Dalam wawancara mengenai GUTS, Olivia juga pernah menjelaskan bahwa ia memiliki banyak perasaan marah yang sulit ia ekspresikan dan merasa harus menampilkan diri sebagai “perfect American girl”.
Dengan kata lain, persoalannya bukan menegaskan bahwa “perempuan boleh marah”. Lebih jauh, mengapa perempuan harus belajar menyembunyikan kemarahannya sejak awal?
Dari “Aku” ke “Kita” di Daisy Chain Fields
Pada 29 Agustus 2026, Olivia Rodrigo mengadakan festival musik pertamanya, Daisy Chain Fields, di Great Park, Irvine, California.
Dalam wawancara Olivia bersama Rolling Stone, ia mengatakan “Konser itu sangat penting; aku merasa konser adalah tempat di mana orang-orang bisa dengan bebas mengekspresikan emosi yang sulit mereka ungkapkan dalam kehidupan sehari-hari.” Bagi Olivia, konser menjadi tempat untuk melepaskan emosi yang mungkin sulit untuk dikeluarkan dalam keseharian. Pada waktu konser seseorang tidak hanya bernyanyi namun juga bisa berteriak, menangis, atau sekedar menikmati musik tanpa perlu menjelaskan perasaannya. Ada rasa lega ketika emosi yang selama ini dipendam dan akhirnya punya tempat untuk melepaskannya.
@rollingstone @Olivia Rodrigo on the importance of concerts in a digital world: “I think that’s what’s so special about live music and why, in a world that’s becoming increasingly more digital, concerts are so important. I just feel like it’s a place where people can feel free to express emotions that are hard for them to express in everyday life.” #oliviarodrigo #daisychain #oliviarodrigoedits #livieshq #livies ♬ original sound – Rolling Stone
Festival satu hari ini menghadirkan musisi perempuan dari berbagai generasi dan genre, mulai dari Bikini Kill, Chappell Roan, Die Spitz, Doechii, Eli, Garbage, Mitski, Not for Radio, Quiet Light, Rachel Chinouriri, Santigold, hingga The Breeders dan Devon Again.
Sementara itu, Sarah McLachlan dan Stevie Nicks tampil sebagai special guest, dengan Alanis Morissette kemudian hadir sebagai kejutan. KATSEYE yang semula masuk dalam daftar penampil akhirnya mengundurkan diri karena cedera salah satu anggotanya dan digantikan Devon Again. Secara keseluruhan, festival ini menghadirkan 14 penampilan utama.
Dari pemilihan line-up tersebut, terlihat bahwa keberagaman generasi menjadi bagian penting dari identitas Daisy Chain Fields. Olivia tidak hanya menempatkan perempuan dalam satu panggung, tetapi mempertemukan musisi dari lintas usia, genre, dan perjalanan karier.
Ada Bikini Kill yang identik dengan gerakan riot grrrl, Stevie Nicks yang telah berkarier selama puluhan tahun, hingga musisi generasi baru seperti Chappell Roan dan Doechii. Festival ini juga terinspirasi oleh Lilith Fair, festival musik perempuan yang didirikan Sarah McLachlan pada 1997.
Baca juga: Lagu Nadin Amizah dan Idgitaf Bantu Perempuan Berdamai Dengan Diri Sendiri
Pilihan tersebut dapat dilihat sebagai bentuk feminist cultural production—perempuan tidak hanya menjadi objek yang ditampilkan dalam industri budaya, tetapi ikut menentukan siapa yang tampil, suara apa yang didengar, dan isu apa yang dibawa ke ruang publik. Konsep ini menuntut representasi perempuan dalam budaya populer agar tidak hanya berkaitan dengan jumlah perempuan yang muncul, tetapi juga dengan siapa yang memiliki ruang untuk memproduksi dan mendefinisikan kebudayaan.
Hal itu terlihat dalam tujuan sosial di balik festival tersebut. Dalam pernyataan resminya, Daisy Chain Fields menyebut festival ini “founded on the belief that joy, community and creativity can inspire meaningful change.” (didirikan atas keyakinan bahwa kegembiraan, kebersamaan, dan kreativitas dapat menginspirasi perubahan yang bermakna).
Festival tersebut juga ingin menyediakan ruang untuk pendidikan, suara, dan keterlibatan publik mengenai persoalan yang memengaruhi perempuan dan anak perempuan.
Olivia sendiri mengatakan, “Daisy Chain Fields is about what can happen when we come together and use our collective power to support one another.” Artinya, “Daisy Chain Fields adalah tentang apa yang bisa terjadi ketika kita berkumpul dan menggunakan kekuatan kolektif kita untuk saling mendukung.” Pernyataan ini menunjukkan bahwa festival tersebut sejak awal tidak hanya dibayangkan sebagai pertunjukan musik, tetapi sebagai cara mengubah kekuatan kolektif penggemar menjadi dukungan terhadap kerja-kerja sosial.
Kepedulian dalam bentuk collective care tidak selalu berarti hubungan personal antarsesama perempuan. Ia juga dapat berarti membangun kondisi sosial dan material agar perempuan dapat hidup lebih aman, sehat, dan memiliki kendali atas hidupnya.
Festival ini mencoba menyentuh konsep itu. Dengan menghubungkan pengalaman menikmati musik dengan dukungan terhadap kesehatan reproduksi, ekonomi, pencegahan kekerasan, dan hak pekerja domestik, kepedulian ditempatkan sebagai persoalan bersama, bukan semata-mata tanggung jawab individual perempuan.
Baca juga: Lirik Lagu Cengeng Mendominasi Pasar Lagu Indonesia, Menihilkan Perjuangan Perempuan
Hasil bersih festival ini diarahkan ke Daisy Chain Fields Fund untuk mendukung organisasi yang bekerja bagi perempuan dan anak perempuan. Awalnya, festival mengumumkan US$10 juta atau sekitar Rp150 miliar yang akan disalurkan kepada 10 organisasi. Jumlah tersebut kemudian menjadi US$20 juta setelah Melinda French Gates melalui Pivotal berkomitmen mencocokkan dana sebesar US$10 juta. Dengan pembagian yang sama rata, masing-masing organisasi menerima sekitar US$2 juta.
Sepuluh organisasi penerima tersebut adalah Baby2Baby, Black Mamas Matter Alliance, Center for Reproductive Rights, FreeFrom, Jhpiego, Johns Hopkins Center for Indigenous Health, National Domestic Workers Alliance, National Institute for Reproductive Health, National Women’s Law Center, dan Planned Parenthood. Mereka bekerja pada persoalan yang beragam, mulai dari kesehatan maternal dan reproduksi, hak masyarakat adat, ekonomi, hak pekerja domestik, hingga pencegahan kekerasan berbasis gender.
Selain donasi, festival ini menyediakan Daisy Chain Reaction Philanthropy Village, tempat penonton dapat bertemu langsung dengan organisasi-organisasi penerima, mempelajari isu yang mereka kerjakan, dan mencari cara untuk terlibat.
Ada pula inisiatif sukarelawan bersama L.A. Works yang mengumpulkan hingga 1.000 jam kerja sukarela. Dengan begitu, penonton ditempatkan bukan hanya sebagai konsumen pertunjukan, tetapi sebagai bagian dari komunitas yang dapat belajar, berdonasi, dan terlibat.
Cara ini dapat dibaca melalui konsep feminist counterpublic, yaitu ruang ketika kelompok yang selama ini kurang mendapat ruang dalam arena publik membangun percakapan, pengetahuan, dan solidaritasnya sendiri.
Baca juga: Lagunya Bikin Empowering: Senang Berhasil War Tiket Taylor Swift
Tentu, Daisy Chain Fields tidak sepenuhnya merupakan counterpublic dalam pengertian Nancy Fraser karena festival ini justru memiliki akses terhadap modal, industri hiburan, dan kekuatan selebritas yang sangat besar. Namun, praktiknya memiliki fungsi yang serupa: membawa isu perempuan, organisasi akar rumput, dan pengalaman kelompok rentan ke ruang publik yang lebih luas.
Dapat kita lihat, pesan tentang perempuan tidak hanya berhenti di atas panggung. Musik menjadi titik awal untuk mengumpulkan orang, membangun komunitas, sekaligus mendukung kerja organisasi yang menangani persoalan perempuan secara langsung. Bahkan, seluruh artis tampil tanpa menerima bayaran sehingga 100 persen hasil bersih festival dapat dialokasikan kepada organisasi penerima.
Namun, penting pula untuk lebih kritis melihat Daisy Chain Fields sebagai praktik feminisme yang tidak otomatis bebas dari persoalan. Festival ini tetap berlangsung di dalam industri musik komersial dan memanfaatkan kekuatan pasar, sponsor, serta popularitas seorang bintang pop.
Dalam kritik celebrity feminism, figur populer dapat membawa isu feminis kepada jutaan orang, tetapi popularitas juga dapat membuat feminisme lebih mudah dikemas sebagai pengalaman konsumsi. Karena itu, ukuran keberhasilannya tidak cukup berhenti pada banyaknya orang yang datang atau besarnya uang yang terkumpul, tetapi juga pada apakah sumber daya tersebut benar-benar memperkuat organisasi dan gerakan yang bekerja untuk perubahan struktural.
Kendati begitu, benang merah dari lagu-lagu Olivia Rodrigo yang penuh amarah hingga Daisy Chain Fields tetap menunjukkan bagaimana pengalaman personal perempuan dapat menjadi pintu masuk untuk bertemu dengan perempuan lain dengan beragam identitas dan mengenali persoalan yang mereka hadapi bersama. Dari sana, pengalaman emosional perempuan yang beragam secara kolektif dapat bergerak dari “aku” menuju “kita”.
Foto: YouTube Olivia Rodrigo
Editor: Luthfi Maulana Adhari






