‘Father Hunger’ Lebih Mengganggu Perkembangan Emosional Anak Dibandingkan ‘Fatherless’

‘Father hunger’ terjadi ketika anak hidup bersama ayah, tetapi kurang mendapat kasih sayang dan kedekatan emosional. ‘Father hunger’ terjadi ketika anak hidup bersama ayah, tetapi kurang mendapat kasih sayang dan kedekatan emosional.

Publik kini sudah familiar dengan fenomena fatherless, yakni absennya figur ayah dalam pengasuhan anak, baik karena kematian, perceraian, pekerjaan atau migrasi kerja, maupun absensi sosial (hadir secara fisik, tapi tidak terlibat secara emosional).

Dampaknya, makin banyak pasangan maupun orang tua, khususnya yang berusia muda, yang mulai berusaha menyeimbangkan peran pengasuhan.

Namun, kita perlu juga menyadari kondisi father hunger. Ini merupakan situasi turunan yang lebih detail dari fatherless, yakni kerinduan mendalam anak terhadap kehadiran dan kasih sayang ayah—sering muncul ketika kebutuhan emosional dari ayah tidak terpenuhi.

Father hunger terjadi ketika anak tetap tinggal bersama ayahnya, tetapi jarang mendapatkan sentuhan emosional seperti pelukan, percakapan intim, validasi emosi, dan perhatian.

Dampak ‘Father Hunger’ Bagi Perkembangan Anak

Kondisi father hunger dikategorikan sebagai emotional neglect atau (pengabaian emosional), yang dalam jangka panjang dapat memunculkan kecemasan, harga diri rendah, dan pola hubungan tidak aman.

Riset-riset membuktikan bahwa anak-anak dari keluarga tanpa kehadiran ayah memiliki risiko lebih tinggi mengalami kesulitan akademis, perilaku agresif, serta kesehatan mental yang buruk. Studi lintas negara juga menemukan bahwa ketiadaan figur ayah meningkatkan kerentanan pada depresi dan masalah kedisiplinan remaja.

Pada anak perempuan, father hunger dapat memicu masalah kepercayaan diri dan hubungan dengan lawan jenis. Sementara pada anak laki-laki, ketidakhadiran ayah dapat memicu pencarian figur maskulinitas dalam lingkungan luar, yang tidak selalu sehat.

UNICEF juga menekankan bahwa peran ayah sering direduksi hanya pada aspek ekonomi, sementara dimensinya sebagai pengasuh kurang diakui.

Riset di Afrika Selatan tahun 2024 menunjukkan bahwa kelaparan emosional akibat ketidakhadiran ayah dapat berdampak lebih merusak dan bertahan lama dibandingkan ketidakhadiran fisik. Sebab, sifatnya tidak terlihat dan sulit diidentifikasi.

Apa Penyebab ‘Father Hunger’?

Setidaknya ada tiga penyebab terjadinya father hunger terjadi di Indonesia.

1. Perceraian dan migrasi pekerja

Data Mahkamah Agung mencatat tren perceraian di Indonesia meningkat setiap tahun, dengan mayoritas alasan ekonomi dan ketidakharmonisan rumah tangga.

Perceraian memisahkan keluarga, mengubah pola pengasuhan, dan sering menempatkan anak pada posisi tanpa ayah baik secara fisik maupun emosional. Riset di beberapa provinsi di Indonesia menunjukkan hubungan antara perceraian dan penurunan akademik, gangguan kesejahteraan emosional, hingga kepada perilaku anak.

Namun, dampak negatif terhadap anak umumnya berasal dari konflik berkepanjangan, stres ekonomi, dan menurunnya keterlibatan orang tua terutama hilangnya peran ayah dalam attachment, dan tanggung jawab, bukan karena status perceraian itu sendiri.

Selain itu, Indonesia sebagai salah satu negara pengirim tenaga kerja migran terbesar di kawasan Asia Tenggara, dengan sekitar jutaan pekerja migran. Mayoritas laki-laki bekerja di luar daerah bahkan luar negeri.

Mereka terpaksa meninggalkan keluarga selama bertahun-tahun sehingga kehadiran rutin yang mendukung keterikatan anak menjadi berkurang. Absensi jangka panjang berdampak pada perkembangan emosi dan perilaku anak migran.

2. Jam kerja dan urbanisasi memisahkan keluarga

Tekanan karier menempatkan ayah sebagai “pencari nafkah” atau “donor finansial”, bukan “pendamping emosional”.

Di Indonesia, rata-rata jam kerja nasional mencapai 40-48 jam per minggu dan cenderung lebih tinggi di kota-kota besar. Akibatnya, quality time bergeser menjadi presence without interaction (kehadiran tanpa interaksi).

Baca juga: Best Father, Ini Sebutan Lumrah atau Glorifikasi untuk Para Ayah?

Kondisi ini diperburuk oleh budaya lembur, target kinerja yang berat, mobilitas harian panjang, serta kemacetan akibat urban sprawl (pemekaran wilayah perkotaan yang tidak terkendali).

Padahal, artikel review terbaru yang menganalisis beragam studi di beberapa negara pada tahun 2020 menunjukkan bahwa kualitas interaksi, bukan kuantitas waktu, sangat menentukan perkembangan sosial dan emosional anak.

Kehadiran ayah berkorelasi kuat dengan perkembangan regulasi emosi, empati, dan rasa percaya diri pada anak. Ketika relasi ini renggang, akan terjadi attachment insecurity (ketidakamanan ikatan), yakni ketika seorang anak tidak memilki keyakinan penuh bahwa pengasuhnya akan tersedia, responsif, dan suportif ketika mereka membutuhkan kenyamanan atau perlindungan.

Kondisi ini dapat memicu kecemasan dan depresi.

3. Distraksi digital: Ayah di rumah, tapi jiwanya online

Era teknologi dan ponsel pintar menghadirkan tantangan baru dalam keluarga. Di ruang keluarga modern, tatap muka kalah oleh tatap layar. Distraksi digital mencuri kualitas interaksi.

Literatur yang menganalisis 12 studi empiris di beberapa negara diantaranya Amerika Serikat, Kanada, Australia, Belanda, dan Jerman menunjukkan penggunaan gawai yang berlebihan menurunkan kualitas interaksi antara orang tua dan anak, terutama dalam respons emosi anak. Fenomena phubbing (mengabaikan lawan bicara demi gawai) menjadi semakin umum di ruang domestik.

Di era ini, kehadiran fisik tidak lagi menjamin adanya keterhubungan dan keterlibatan emosional dalam berkomunikasi dan berinteraksi antar-anggota keluarga.

‘Father Hunger’ Lebih Berbahaya Daripada ‘Fatherless’

Ketiadaan ayah atau fatherless karena faktor struktural relatif bisa diprediksi dengan adanya coping strategy. Seperti dukungan keluarga besar, masyarakat, atau komunikasi jarak jauh.

Namun, father hunger sulit dikenali karena sering kali dianggap normal. Sementara anak tidak punya bahasa untuk mengeluh.

Ketidakhadiran emosional ini yang membentuk emotional hunger atau kelaparan emosional anak, yaitu perasaan tidak layak dicintai, kebutuhan validasi berlebihan, dan pola relasi kacau di masa dewasa.

Pelampiasan bisa muncul dalam bentuk kecanduan gawai, perilaku agresif, hingga people pleasing yang ekstrem. Pada akhirnya, father hunger dapat berdampak panjang pada kesejahteraan emosional dan sosial anak.

Intervensi yang Dibutuhkan

Pertama, perlu ada reformasi kebijakan cuti ayah dengan pemahaman bahwa memperpanjang cuti bukan sekadar bonus, tapi investasi bonding untuk tumbuh kembang anak.

Kedua, program parenting di Indonesia perlu menargetkan ayah, bukan hanya ibu. Dukungan emosional dan pelatihan komunikasi keluarga bisa memperkuat keterlibatan ayah dalam pengasuhan.

Ketiga, sekolah bisa berperan sebagai “ruang restoratif”. Program ayah dan anak di sekolah menjadi intervensi sosial yang sangat strategis. Sekolah dapat merancang kegiatan “hari ayah” atau proyek belajar bersama yang mendorong kedekatan emosional antara ayah dan anak.

Keempat, media dapat memperluas narasi tentang ayah yang peka dan hadir secara emosional guna menantang stereotip lama bahwa ekspresi kasih sayang adalah kelemahan.

Jika ingin generasi yang tidak hanya cerdas tetapi juga stabil emosinya, maka kehadiran ayah, bukan hanya tubuhnya, tetapi juga hatinya, harus menjadi perhatian bersama.

Setiap interaksi kecil, seperti pelukan, percakapan intim, atau sekadar mendengarkan, dapat menjadi pondasi kuat bagi tumbuh kembang anak.

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Resti Pujihasvuty

Researcher at Family Dynamic Research Group; Research Center for Population, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!