Hari Ayah Nasional: Remaja ‘Fatherless’ Kehilangan Sosok Ayah Bikin Anak Hilang Arah

Ketidakhadiran sosok ayah (fatherless) berdampak signifikan dalam membentuk ketahanan psikologis dan perilaku anak.

Artikel ini untuk memperingati Hari Ayah Nasional pada 12 November.

Jumlah perokok aktif di Indonesia mencapai 70 juta orang pada 2023. Sebanyak 7,4% di antaranya merupakan remaja berusia 10-18 tahun.

Berbagai studi menunjukkan remaja merokok karena beragam faktor, seperti pengaruh lingkungan sosial, ingin mendapatkan pengakuan (misalnya dianggap maskulin), hingga longgarnya aturan di Indonesia yang membuat rokok sangat mudah didapatkan.

Selain itu, penelitian kami di Medan, Sumatra Utara pada 2025 menemukan bahwa fatherless (ketidakhadiran ayah secara fisik ataupun emosional dalam keseharian anak) bisa meningkatkan risiko remaja merokok.

Remaja ‘Fatherless’ Rentan Merokok

Sebanyak 12,42% (sekitar 48.311 remaja) berusia 15-24 tahun di Medan adalah perokok. Kami lantas melakukan survei kepada 1.221 siswa SMA (laki-laki dan perempuan) di kota ini yang hidup bersama keluarga besar selama minimal lima tahun.

Mereka kami bagi menjadi dua kelompok usia, yaitu remaja awal (12-17 tahun) dan remaja akhir (18-22 tahun).

Hasilnya, kami menemukan bahwa remaja fatherless lebih berisiko tinggi merokok daripada yang ayahnya hadir secara fisik maupun emosional.

Temuan kami sekaligus mengonfirmasi penelitian sebelumnya. Misalnya riset Biro Sensus Amerika Serikat pada 2022, menunjukkan bahwa fatherless menyebabkan remaja lebih rentan mengembangkan perilaku bermasalah, termasuk merokok, seks bebas, hingga penyalahgunaan alkohol dan narkoba.

Bahkan, ketidakhadiran ayah meningkatkan risiko remaja melakukan tindak kejahatan dan empat kali lipat lebih berisiko mengalami kemiskinan daripada remaja yang ayahnya “hadir”.

Ketidakhadiran Ayah Bikin Remaja Hilang Arah

Dampak fatherless berbeda dengan ketidakhadiran ibu (motherless) yang berisiko mengurangi kemampuan akademis anak. Ketidakhadiran sosok ayah punya dampak signifikan dalam membentuk ketahanan psikologis dan perilaku anak.

Peran ayah sangat penting dalam mengembangkan kemampuan remaja bersosialisasi, bertanggung jawab, disiplin, mengambil keputusan, serta mengatasi tekanan hidup.

Ketidakhadiran sosok ayah secara fisik dan emosional bisa menyebabkan remaja kehilangan arah, sulit mengambil keputusan rasional, mudah tertekan, dan stres.

Penelitian kami menemukan bahwa perempuan fatherless di usia remaja awal merupakan kelompok paling rentan mengalami stres berat.

Namun, laki-laki fatherless di usia remaja akhir memiliki kecenderungan lebih besar untuk menjadikan rokok sebagai upaya coping dalam meredakan stres, dan menghadapi berbagai tekanan dalam hidup.

Remaja laki-laki lebih cenderung kesulitan mencurahkan isi hatinya ketimbang perempuan. Apalagi remaja yang hidup di lingkungan yang kental dengan norma maskulinitas dan menganggap curhat sebagai tanda kelemahan.

Situasi ini menghambat laki-laki mengelola emosi dan mencari bantuan, sehingga mereka cenderung memilih solusi praktis dengan merokok. Mereka beranggapan bahwa rokok memberikan efek menenangkan.

Pentingnya Membimbing Remaja ‘Fatherless’

Kehadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional, sangat penting bagi perkembangan anak. Bagi remaja yang tumbuh tanpa kehadiran ayah dan terlanjur punya kebiasaan merokok, peran seorang wali (paman, kakek, ataupun ayah angkat) yang siap menjalankan fungsi emosional sebagai seorang ayah sangat diperlukan untuk membimbing mereka.

Ibu juga memiliki peran strategis sebagai pendengar yang baik, menghadirkan rutinitas positif, dan menciptakan relasi yang hangat dengan anak.

Kombinasi pendekatan keluarga dan penanganan profesional (seperti konseling dan terapi keluarga) dapat pula membantu mencegah dampak jangka panjang dari gangguan kesehatan mental remaja dan masalah perilaku yang menyertainya.

Rizky Indah Syahfitri, Mahasiswa Program Magister Epidemiologi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Andalas, turut berkontribusi menulis artikel ini.

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Zata Ismah dan Fatma Indriani

Zata Ismah, Associate professor at Faculty of Psychology, Universitas Islam Negeri Raden Fatah dan Fatma Indriani, Dosen Psikologi, Universitas Islam Negeri Sumatera Utara.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!