‘Dianggap Posesif, Distigma Gampangan’ Stereotip Gender Mengintai Hubungan Tanpa Status bagi Perempuan 

Perempuan menghadapi risiko berlapis ketika menjalani Hubungan Tanpa Status (HTS). Dear girls, pahami ini sebelum memutuskan menjalani HTS.

Aurel (bukan nama sebenarnya) sedang minum kopi susu di kafe favoritnya. Tiba-tiba sebuah pesan singkat muncul di layar ponselnya. 

“Kamu mau makan bareng?”

Itu bukan dari seseorang yang disebut Aurel pacar. Tapi, mereka bukan juga teman biasa. Mereka dekat dalam sebuah relasi, tapi tanpa status. 

Di lingkaran pertemanan gen Z-ku, HTS yang dijalani Aurel ini memang bukan hal baru. Dari yang aku tahu, tak sedikit dari mereka yang katanya lebih nyaman melakoni hubungan “tanpa label” ini, dibandingkan terikat dalam pacaran. Alasannya macam-macam: kebebasan, perlindungan diri, hingga trauma masa lalu. 

Aku pernah ngobrol dengan beberapa teman yang menjalani HTS. Secara pragmatis, relasi pacaran itu bisa menguras kantong. Meskipun bisa saja split bill dengan membayar sendiri-sendiri, tapi tetap aja perlu usaha dan biaya untuk merawat hubungan. Seperti, pergi makan, nonton, membelikan hadiah, kejutan, dll. 

Belum lagi, jika ada ‘drama’ dalam hubungan yang bisa saja menguras dompet, fisik, dan mental. Makanya, bagi sebagian orang, HTS yang tidak terikat bisa meminimalisasi hal-hal itu. Sebab mereka bisa saling menyukai, tanpa harus “ribet” dengan ekspektasi soal relasi yang mengikat.

Baca Juga: Mau Jalani Hubungan Tanpa Status? Pahami Ini Dulu

Di satu sisi, ada yang menjalani HTS dianggap sebagai upaya perlindungan diri. “Kalau nanti ada masalah aku dengan dia, setidaknya aku tidak punya status yang harus dipertahankan,” begitu katanya. 

Ada pula yang menjalani HTS karena trauma yang dimilikinya. Seorang teman, sebut saja Wanda, pernah mengatakan kepadaku, di balik perkataannya ingin “fokus belajar” atau “fokus karier”. Namun, sebenarnya dia menyimpan trauma masa lalu yang belum sembuh. Terlebih, Ia tumbuh melihat kasus perceraian, perselingkuhan, atau relasi yang tidak sehat yang mudah sekali ditemukan di media sosial. 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Tahun 2024 menunjukkan, angka perceraian di Indonesia mencapai 399 ribu kasus. Tak sedikit Gen Z seperti Wanda, menganggap pacaran itu sebagai gerbang menuju komitmen yang menakutkan. Kalau HTS? Itu seperti safe zone (atau setidaknya seperti itu yang mereka pikir).

“Kasus perselingkuhan sekarang saja, rata rata adalah dari pernikahan Gen Z di usia muda. Contohnya di tahun 2025 ini, banyak dari artis-artis Gen Z yang sekarang” Curhat Wanda.

Stereotip Gender di Balik HTS, Perempuan Paling Dirugikan

Pilihan “tanpa label” ini, tersembungi dinamika yang jarang dibicarakan. Dalam Sebagian besar hubungan HTS, justru Perempuan lah yang sering dirugikan dari segi emosional dan sosial. Perempuan yang terjebak dalam hubungan HTS, menghadapi double standard; dihakimi jika terlalu bersikap posesif, dan dihakimi jika dianggap “gampangan”. Sementara dari posisi laki-laki, jarang menghadapi tekanan sosial yang sama.

HTS tidak ada dramanya? Tetap ada dramanya, malah kadang lebih menyakitkan. HTS dapat membuat kebingungan emosional salah satu pasangannya. Aurel pernah bertanya pada “dia”: “Kalau teman-teman kamu tanya kita pacaran enggaknya, memang kamu bakal jawab apa?”

Jawabannya: “Cuman teman-kan, memang kita pacaran?”.

Ini salah satu konflik kecil yang membuat hati Aurel (dan jutaan perempuan lain) remuk. Konflik seperti ini sangat sering berakhir dengan ghosting, yaitu menghilang tanpa kejelasan dan meninggalkan luka yang tidak bisa dibicarakan. Karena, bagaimana mau protes? Kan tidak resmi.

Ada juga implikasi jangka panjang bagi perempuan Gen Z yang menjalani HTS.

Pertama, sulit membangun intimacy yang sehat. HTS memposisikan perempuan “menjaga jarak” lewat emosional. Ini membangun pola attachment bahwa takut untuk terlalu dekat, takut akan berharap berlebihan, dan takut terlalu menuntut. Ketika perempuan ingin membangun hubungan serius,  akan kesulitan karna mereka terbiasa memendam kebutuhan atau emosional mereka.

Kedua, dampak kesehatan mental bagi perempuan yang tak bisa diabaikan. Lewat artikel yang dikirimkan STIE STEKOM yang berjudul “Efek Psikologis Menjalani Hubungan Tanpa Status : Antara Kenyamanan dan Ketidakpastian” (Ambar Arum Putri Hapsari, 2025) menunjukkan bahwa perempuan yang menjalani hubungan yang ambigu mengalami tingkat kecemasan dan depresi yang lebih tinggi daripada perempuan yang menjalani hubungan dengan jelas statusnya. Dampak kesehatan bagi mental nya disebabkan karena ketidakpastian yang menciptakan stress jangka panjang.    

Dari HTS, Ubah ke Self-Awareness

Mendengar cerita perempuan Gen Z yang menjalani HTS. Aku merefleksikan bahwa HTS adalah cermin bagi generasi yang sedang belajar mencari keseimbangan antara kebebasan dan tanggung jawab. Tapi pertanyaannya “Apakah menjalani hubungan tanpa status benar-benar memberi kebebasan, atau justru menunda-nunda masalah yang akan muncul nanti?”

Lebih dari itu, kita juga perlu bertanya : apakah “kebebasan” HTS adalah kebebasan yang setara? Atau hanya kebebasan yang dilakukan satu pihak saja, sementara pihak yang lain menanggung beban ketidakpastian?

Kopi Aurel sudah habis. Tapi notifikasinya masih berdering di kepala. HTS memang bebas, tapi kadang yang bikin melelahkan justru pertanyaan yang tidak pernah dijawab, yaitu “Apa yang sebenarnya aku inginkan dalam hubungan ini?”

Mungkin Gen Z bukan anti-komitmen. Tetapi, HTS dapat dimulai sebagai survival Gen Z dalam tuntutan ekonomi atau trauma relationship. Namun, apapun yang disebabkan tanpa komunikasi yang jelas dan setara, semua tetap akan berisiko untuk ruang eksploitasi emosional terutama bagi perempuan.

Mungkin yang dibutuhkan Gen Z bukan menormalisasikan “kebebasan tanpa label” tetapi tentang keberanian untuk berkomunikasi dengan jujur, kesadaran tentang privilege dalam relasi, dan yang paling penting adalah bagaimana sistem sosial hingga ekonomi dapat membuat anak muda bisa merencanakan masa depan tanpa kecemasan.

Honestly, di tengah semua kebebasan yang ditawarkan HTS, mungkin yang paling Gen Z butuhkan bukan hubungan tanpa status, tapi keberanian untuk menghadapi status itu sendiri atas dasar rasa hormat, komunikasi, dan kesetaraan.

Perempuan Gen Z perlu sadar bahwa menuntut kejelasan, komitmen, dan penghormatan dalam hubungan bukanlah hal yang “ribet”. Itu adalah salah satu bentuk self-respect untuk diri perempuan itu sendiri dan penolakan dari sistem yang tidak ada kejelasan.

(Editor: Nurul Nur Azizah) 

Zahra Nur Ayla

Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!