Ketika seorang idola yang populer tiba-tiba mengumumkan pernikahan atau terlibat dalam hubungan yang dianggap sebagai “skandal personal” dan mencuat ke publik, muncul reaksi massa. Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu, ketika muncul sebuah pengumuman pernikahan sosok idola populer yang mendadak. Seketika jagat media sosial bereaksi. Ada yang mengucapkan selamat dan turut berbahagia, meski ada yang mengecam. Namun, dalam situasi demikian juga ada bentuk reaksi lain yang menarik.
Dalam hitungan menit, linimasa media sosial dipenuhi oleh narasi patah hati yang mendalam. Tidak hanya itu, timbul perang komentar para penggemar antarfandom ((fandom war / fanwar) yang sengit. Bahkan, ada aksi penggalangan dana demi “membersihkan” nama sang idola.
Bagi masyarakat awam, fenomena ini kerap dipandang sebelah mata. Komunitas penggemar perempuan (fangirl) segera dihujani label-label stereotipikal yang peyoratif. Dicap histeris, tidak rasional, kekanak-kanakan, hingga dituduh membuang-buang waktu dan uang demi seseorang yang bahkan tidak mengetahui nama mereka.
Namun, benarkah fenomena ini sesederhana “irasionalitas” personal? Jika kita bersedia menanggalkan kacamata penghakiman yang bias, kita akan menemukan sebuah realitas yang jauh lebih kompleks dan timpang. Hal yang tampak sebagai obsesi individu sebenarnya adalah produk dari kapitalisme digital yang secara agresif mengeksploitasi relasi parasosial demi akumulasi keuntungan ekonomi. Di balik layar perayaan kultur pop, industri hiburan dengan sengaja memanfaatkan kesepian dan kebutuhan perempuan akan ruang aman emosional.
Bagaimana sebaiknya kita membedah isu ini secara adil? Langkah pertama, pertanyakan mengapa kesenangan perempuan (female pleasure) dalam menggemari sesuatu selalu mendapatkan penghakiman moral yang keras di ruang publik.
Ketika seorang perempuan muda mengekspresikan antusiasme yang tinggi terhadap grup musik, aktor, atau kreator konten favoritnya, narasi yang muncul sering kali menyudutkan. Mereka dicap irasional, kekanak-kanakan, atau dianggap mengalami gangguan obsesif. Stigma “histeris” ini memiliki akar yang panjang. Ekspresi emosional perempuan di ruang publik kerap dicurigai, direduksi, dan dianggap sebagai bentuk ketidakstabilan emosi semata.
Padahal, menjadi fangirl sering kali merupakan cara perempuan untuk merebut kembali agensi mereka. Tidak hanya itu, mereka menciptakan ruang kebahagiaan mereka sendiri di tengah kepenatan aktivitas sehari-hari.
Di dalam komunitas penggemar (fandom), perempuan menemukan sebuah ekosistem kolektif yang suportif (sisterhood). Ini membantu mereka bebas mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi. Menggemari sesuatu adalah hak atas kesenangan yang valid. Masalah utamanya tidak terletak pada pilihan perempuan untuk mencintai sebuah karya atau persona, melainkan pada bagaimana ketulusan tersebut dibajak dan dimonetisasi oleh industri.
Hubungan parasosial adalah sebuah kondisi psikologis ketika seseorang merasa memiliki hubungan timbal balik yang intim dengan figur publik, yang sebenarnya tidak mereka kenal secara pribadi. Perlu diingat bahwa hal ini tidak tumbuh secara organik di ruang hampa. Industri hiburan modern, mulai dari agensi idola, manajemen pembuat konten, hingga algoritma media sosial, dirancang secara presisi untuk memproduksi dan merawat ilusi intimasi ini.
Di era kapitalisme digital, keintiman telah bergeser menjadi komoditas baru yang sangat bernilai. Agensi tidak lagi sekadar menjual album fisik atau tiket konser. Mereka menjual “akses” terhadap kehidupan personal sang idola. Lewat aplikasi pesan berbayar, siaran langsung interaktif larut malam, hingga konten di balik layar yang dikemas sangat personal, batas antara ruang privat idola dan ruang publik penggemar sangat sengaja dikaburkan.
Idola dilatih untuk mengucapkan kalimat-kalimat manis seperti, “Kalian adalah segalanya bagiku.” Atau, “Aku hanya memiliki kalian.” Bukan berarti kata-kata ini selalu hampa dan difabrikasi—mungkin sang idola secara tulus menyatakan itu—tapi industri media tak jarang hadir untuk membentuk versi realitas baru. Narasi ini menciptakan struktur kognitif pada benak penggemar. Mereka diinternalisasi tanggung jawab moral untuk menjaga, melindungi, bahkan “membiayai” kelangsungan karier sang idola.
Industri paham betul bahwa perempuan muda di era modern menghadapi tingkat kesepian, kecemasan, dan keterasingan (alienation) sosial yang cukup tinggi. Ini mungkin akibat tuntutan produktivitas zaman. Celah emosional inilah yang kemudian diisi oleh komodifikasi intimasi buatan. Ketika seorang fangirl merasa divalidasi oleh konten sang idola, ia akan dengan sukarela melakukan kerja-kerja tak berbayar demi industri. Melakukan streaming massal selama berhari-hari agar idola memecahkan rekor, menjadi tameng digital saat idola dikritik, hingga membeli puluhan versi album yang sama demi menaikkan angka penjualan korporasi, kadang dengan tawaran “keuntungan” seperti kesempatan untuk bertemu dan berbincang sebentar dengan idola secara langsung.
Ketika industri berhasil mengunci emosi penggemar, di sinilah kerentanan berlapis mulai mengintai. Hubungan parasosial yang awalnya berfungsi sebagai mekanisme koping (coping mechanism) atau ruang rekreasi emosional yang sehat, pelan-pelan bergeser menjadi ruang pengawasan dan kontrol yang melelahkan.
Saat sang idola tiba-tiba terjerat skandal atau mengumumkan hubungan romantis di dunia nyata, ilusi keintiman yang telah dibayar mahal oleh penggemar seketika runtuh. Namun, rasa dikhianati yang dialami oleh sebagian penggemar bukanlah tanda bahwa mereka “tidak waras”. Ini reaksi psikologis yang logis dari sebuah investasi emosional yang telah dipompa oleh industri selama bertahun-tahun. Obsesi tercipta dari industri, tapi ketika obsesi itu meledak menjadi konflik sosial, penggemar pulalah yang kembali disalahkan dan dicap tidak dewasa.
Lebih jauh lagi, kapitalisme digital di balik hubungan parasosial ini melanggengkan eksploitasi finansial yang kurang sehat. Banyak perempuan muda yang rela memangkas kebutuhan esensial mereka demi memenuhi target fandom. Atau membeli barang-barang koleksi (merchandise) yang harganya terus dinaikkan secara tidak masuk akal oleh agensi melalui strategi kelangkaan buatan (artificial scarcity). Industri memanfaatkan rasa bersalah (guilt-tripping) kolektif penggemar: jika kamu tidak membeli, berarti kamu bukan penggemar sejati yang mendukung perjuangan idolamu.
Membongkar sisi gelap hubungan parasosial bukan berarti perempuan harus berhenti menjadi seorang penggemar atau membubarkan fandom. Menjadi fangirl bisa tetap menjadi ruang yang memberdayakan, menyenangkan, dan penuh solidaritas positif. Namun, yang mendesak untuk dilakukan hari ini adalah membangun kesadaran kritis kolektif di kalangan perempuan pengagum kultur pop.
Perempuan harus mulai mampu melihat garis batas yang tegas antara karya seni yang dinikmati dengan mesin industri yang mengeksploitasi emosi mereka. Penting untuk menyadari bahwa keintiman digital yang ditawarkan oleh aplikasi-aplikasi berbayar adalah produk yang dikemas demi menaikkan keuntungan korporasi.
Perempuan berhak atas ruang aman emosional dan kesenangan yang merdeka. Namun, jangan biarkan kesepian dan kecintaan terhadap sebuah karya diubah menjadi bahan bakar murah bagi keserakahan kapitalisme digital yang nir-empati. Sudah saatnya menikmati idola dengan kepala tegak, sebagai subjek yang merdeka, bukan sebagai konsumen yang emosinya terus didikte oleh target metrik agensi.






