Sumilah dan Majid, Kisah Breadwinner Cari Nafkah Kian Seret di Kampung Tempe

Tak mudah menjadi perempuan breadwinner atau pencari nafkah utama dalam keluarga di tengah kondisi ekonomi yang mencekik. Inilah kisah Sumilah dan Majid, 2 perempuan yang bekerja di Kampung penghasil Tempe, di Malang.

Sumilah bergegas pulang menuju kediamannya di Kampung Sanan Tempe.

Kampung Sanan Tempe merupakan daerah penghasil terbesar di Kota Malang, Jawa Timur. Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 siang. Perempuan berusia 60 tahun itu menyudahi kerja borongan membungkus keripik tempe di kediaman Haji Soleh lebih awal. 

Setelah pulang, Ia harus segera memasak besar untuk sore ini. Ada pengajian kampung mingguan yang kali ini bertempat di rumahnya. Pagi itu ia pulang membawa upah sebesar Rp12.500, hasil menyelesaikan 50 bungkus keripik tempe. 

Kondisi kali ini jauh berbeda dibanding usai lebaran. Saat itu Sumilah sempat merasakan legitnya keuntungan penjualan keripik tempe hasil produksi sendiri. Tak hanya sekali, ibu empat orang anak ini sempat memutar uang hasil produksi hingga enam kali sebelum kembali menjadi buruh borongan. Modalnya tak mampu lagi diputar untuk produksi lantaran harga bahan baku melejit tinggi. 

“Akhirnya uangnya habis dipakai kebutuhan sehari-hari,” kata Sumilah, Selasa 19 Mei 2026.

Kampung Sanan Tempe populer sebagai sentra produksi makanan olahan tempe di Kota Malang, bahkan hingga nasional, karena kota Malang identik dengan penghasil tempe. Keripik tempenya khas dan renyah.

Hampir semua warga di kampung ini bekerja di sektor industri tempe. Mulai dari membuat tempe, menjual jasa memotong tempe, menggoreng, membungkus, hingga menjual di toko sepanjang kampung atau mengirimnya ke berbagai wilayah di dalam atau di luar Malang. Sumilah pun tak terkecuali. Ia menjadi pengusaha pun buruh borongan di industri tempe sejak menjadi warga Sanan di tahun 1986.

Skillnya tak perlu diragukan. Saat memiliki modal, Sumilah akan membuat adonan tempe sendiri dan menunggunya hingga masak, kemudian mengolahnya hingga menjadi keripik tempe siap beli dalam kemasan plastik. 

Baca juga: Sulitnya Jadi Breadwinner: Kerja di Kantor dan Jadi Pencari Nafkah Utama

“Modalnya kasarannya Rp1 juta, itu saya pinjam untuk mulai produksi,” kata Sumilah.

Modal itu dipakai membeli minyak goreng, tepung, tempe, kerdus, hingga plastik, untuk memproduksi dan menjual keripik tempenya. Setelah lima kali produksi, Sumilah mampu mengembalikan utang sekaligus memiliki modal untuk memproduksi tempenya sendiri. Kondisi itu terakhir dijalani selama pasca Idul Fitri. Ketika permintaan tinggi dan harga bahan baku tak terlalu mencekik. 

“Saya bisa produksi sampai enam kali. Tetapi setelah produksi terakhir, harga bahan baku sudah naik. Modal saya sudah nggak bisa diputar lagi, nggak bisa dipakai produksi lagi. Semua harganya naik sampai sekarang,” katanya.

Ia menggambarkan, dengan modal Rp 250 ribu, Sumilah hanya mampu untung bersih sebesar Rp5.000. 

Upaya penghematan dengan membeli adonan tempe sendiri pun tak mampu memperbesar keuntungan bersihnya lantaran harga bahan baku dan jasa lain yang melangit. Harga plastik bungkus naik dua kali lipat dalam sepekan, dari Rp35 ribu menjadi Rp65 ribu, harga minyak goreng kemasan 15 liter naik, dari Rp200 ribu menjadi Rp315 ribu, tepung beras pun naik hingga Rp67 ribu per 5kg, sedangkan kedelai impor dari Amerika Serikat harganya naik menjadi Rp10.500 per kg. Sayangnya harga keripik tempe tak bisa naik tinggi. 

Bila pun produksi, Sumilah juga kesulitan memasarkan keripik tempenya keluar Sanan. Ia punya 10 toko langganan tersebar hingga di Gresik dan Banyuwangi yang kini berhenti memesan. 

“Anakku Joko baru saja meninggal, biasanya dia yang kirim keluar,” kata Sumilah.

Ia juga kalah bersaing dengan toko keripik tempe besar yang letaknya di tepi jalan raya di Kampung Sanan, di mana pembeli selalu tampak berjubel. Pembeli hanya masuk ke dalam kampung bila mereka tak menemukan varian keripik tempe di toko depan. 

Poko’e lek di depan iku keripike entek, (pembeli) baru ke dalam. Dadi ngenteni tetesan, kasarane kan ngoten,” katanya.

Baca juga: Tak Cuma Laki-laki, Perempuan Bisa Jadi Pencari Nafkah Utama

Praktis Sumilah mengandalkan pendapatan dari buruh borongan membungkus keripik tempe sejak sebulan terakhir. Meski permintaannya pun semakin berkurang. 

“Untuk dapat 100 bit (bungkus) itu sekarang uwangel (susah). Soalnya sing bungkus ada empat orang, ya harus dibagi,” kata Sumilah. Rata-rata ia mampu mendapatkan Rp15 ribu dari menjual jasa membungkus keripik tempe seharinya.

Sedangkan pengeluaran selalu ada dengan besaran yang tak bisa diduga. Sumilah yang tinggal dengan seorang anak laki-lakinya telah menjadi tulang punggung utama di rumahnya. 

Suaminya meninggal, juga dua orang anaknya. Seorang anak telah berkeluarga dan tinggal di rumah yang berbeda. Anak laki-lakinya yang tinggal bersamanya telah bekerja. Tagihan listrik dan kebutuhan kamar mandi pun dibantu anaknya. Namun dapur, cicilan utang, dan kebutuhan sosial lainnya harus tetap ia penuhi sendiri. 

“Kalau makan saja ya ada, tapi kegiatan lain itu ya cari sendiri, butuh uang juga,” katanya.

Ia lantas menyebut jika sore ini harus menyediakan makanan untuk pengajian mingguan di rumahnya. Ada bantuan dari komunitas sebesar Rp200.000 untuk konsumsi sekitar 30 peserta pengajian. Meski ia akan merogoh kantong pribadi untuk konsumsi sore itu. 

“Nanti juga ada remik-remik (cemilan). Mosok habis maem nggak ada remikan,” lanjutnya.

Sumilah juga menyebut ada dua undangan pernikahan yang harus dihadiri pekan depan. Belum lagi pengeluaran tak terduga jika ada tetangga yang sakit atau meninggal. Tabungannya juga terpakai banyak untuk membiayai hajatan pemakaman anaknya yang baru saja meninggal. 

“Uang dari mana itu? ya terpaksa ambil uang yang tadinya untuk modal produksi juga,” ujarnya.

Ada pula angsuran utang di komunitas Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) yang harus dia cicil setiap minggu. Sumilah akan menitipkan uang dengan besaran berapapun yang dia punya, sehingga bisa untuk mengangsur utang atau mengambil pinjaman baru di setiap akhir tahun. 

Baca juga: Siapakah Tulang Punggung Keluarga? Laki-laki dan Perempuan Bisa Jadi Breadwinner

“(Minjam uang untuk apa) ya onok mbak, kebutuhan iku onok ae, namanya hidup. Nanti bayarnya dicicil, tiap minggu sekali ya Rp2.000, ya Rp5.000. Titip nabung buat ngangsur gitu,” tuturnya.

Sumilah pun tak menghitung berapa uang yang dia butuhkan dan dia pakai dalam sebulan. Meski ia merasa ada pendapatan tak terduga dari kegiatan sosialnya baik sebagai warga pun sebagai buruh.  Misalnya undangan pelatihan UMKM dengan pihak paguyuban keripik tempe Sanan juga pengurus Kampung Tematik Sanan Tempe, juga permintaan bantuan memasak dari tetangga yang sedang hajatan. Perempuan yang juga kader Upaya Kesehatan Kerja (UKK) setempat ini menyebut jika dirinya wajib aktif dalam kegiatan sosial agar peluang pendapatan tetap terbuka baginya. 

Sing penting kudu aktif, rejekine pinten-pinten nggeh disyukuri mawon,” imbuhnya.

Sebagai Breadwinner yang Harus Memutar Otak

Keluar dari gang rumah Sumilah, jalan aspal di Kampung Sanan Tempe siang itu tampak lengang. 

Sejumlah rumah tampak memajang etalase kaca terisi keripik tempe siap jual. Salah satunya rumah Ibu Majid yang juga toko keripik tempe bernama Mirah Rejeki. 

Di balik etalase terdapat tiga pekerja yang sedang sibuk membungkus keripik tempe. Ada yang tampak meratakan bumbu balado, ada pula yang menyegel plastik menggunakan nyala api dari lilin. Sedangkan di ruang belakang, tampak seorang perempuan sedang menggoreng keripik tempe.

Pemilik toko adalah Majid, perempuan paruh baya. Ia tampak menyortir keripik tempe yang baru saja keluar dari penggorengan. Siang itu ia dibantu empat pekerja lain, dengan dua di antaranya adalah anaknya. Dua tenaga lainnya membantu menggoreng dan membungkus keripik tempe.

Berbeda dengan Sumilah, Majid harus belanja bahan baku setiap hari. Mulai dari tepung, minyak, tempe, plastik hingga kardus yang semuanya mengalami kenaikan harga. Majid akan mengatur pendapatan setiap harinya, membayar honor pekerjanya, serta menggunakan sisa uang untuk belanja bahan baku produksi besok, sekaligus menyicill tanggungan utang sebesar Rp1,3 juta setiap bulannya. Dua anaknya tinggal dengannya. Cucunya tak jarang berkunjung di rumahnya. Majid pun memastikan ada makanan di dapur untuk dimakan sekeluarga. 

Majid mengakui terkadang pusing mengatur pendapatan yang semakin berkurang banyak lantaran naiknya bahan baku. Terkadang ia juga kesulitan menimbang besaran upah harian yang diberikan kepada para pekerjanya. Apalagi di tengah kondisi sekarang. Hampir semua kebutuhan pribadi pekerjanya naik, meski harga keripik tempe hanya naik Rp500 hingga Rp1.000 per bungkusnya. “Pokoknya semuanya harus dapat (upah), besarnya tergantung banyak tidaknya produksi. Ya alhamdulillah kok setiap bulan masih bisa nyicil utang,” tuturnya.

Baca juga: Jebakan “Superwoman”: Kita Memuji Perempuan, tapi Lupa Membagi Bebannya

Kondisi yang dialami Sumilah dan Majid menjadi cermin sebagian besar perempuan dan ibu rumah tangga di Kampung Sanan Tempe menurut Dosen Sosiologi FISIP Universitas Brawijaya di Kota Malang, Desi Puspita Rahayu. Akademisi yang memiliki kepakaran dalam bidang ketenagakerjaan dan jaminan sosial ini menyebut mereka adalah pekerja informal yang berperan sebagai buruh, pengusaha UMKM, sekaligus penanggung jawab ekonomi rumah tangga. 

Kebutuhan mempertahankan usaha juga kebutuhan rumah tangga menyebabkan pekerja informal perempuan ini menerapkan survival economy, menggali pendapatan dari berbagai sumber yang seringkali berbentuk upah harian. Seperti menjadi buruh produksi tempe, penggorengan, pengemasan, jualan, hingga kerja informal. 

“Pendapatan harian tersebut dipakai langsung untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga membuat mereka kesulitan memiliki tabungan,” kata Dewi, Rabu 20 Mei 2026.

Para perempuan yang mengalami beban ganda sebagai pekerja di sektor produksi sekaligus pekerjaan domestik, juga mengalami beban tambahan berupa tanggung jawab sosial di kampung, seperti yang dialami Sumilah yang seorang breadwinner atau pencari nafkah utama keluarga.

”Secara budaya, pengeluaran sosial ini penting untuk menjaga hubungan sosial dan posisi mereka di komunitas, meski kondisi ekonomi sedang sulit,” lanjut Dewi.

Hal lain juga absennya perlindungan informal pada buruh perempuan. Pekerjaan yang dibayar berdasarkan jumlah pesanan tidak memberikan jaminan upah tetap terutama di saat pesanan turun. Dewi menyebut sektor informal secara umum diisi oleh perempuan lantaran peranannya yang masih dianggap bukan pencari nafkah utama. 

“Dalam situasi kenaikan harga, kelompok ini menjadi yang paling terdampak karena daya tawar rendah dan pekerjaan mereka mudah dikurangi oleh pemilik usaha,” tuturnya.

Baca juga: Tren Chat Mokondo di Tiktok: Produk Baru Mutasi Patriarki

Sehingga, utang menjadi bagian penting dari strategi bertahan hidup. Pinjaman informal banyak jadi pilihan buruh dan UMKM kecil untuk bertahan serta memenuhi kebutuhan mereka. 

“Ketergantungan terhadap utang membuat perempuan rentan masuk ke lingkaran ekonomi yang tidak stabil,” imbuhnya.

Ia pun merekomendasikan sejumlah kebijakan yang bisa dilakukan pemerintah dalam kondisi ekonomi yang sulit. Di antaranya intervensi berupa subsidi bahan baku untuk UMKM kecil, bantuan dengan prioritas pada perempuan kepala keluarga dan janda, akses kredit lunak dan bebas rentenir agar tidak terjebak utang dengan bunga tinggi, dan penguatan peran kelompok perempuan seperti PKK untuk memberikan dukungan ekonomi pun psikososial.

Sementara, perjalananan Majid mencicil utang akan berlangsung hingga setahun lagi. Ia bersyukur. Rumahnya kini bisa dihuni dengan layak untuk tempat tinggal dan juga tempat usaha hingga saat ini. Anaknya bahkan ikut menyumbang untuk mencicil utang. 

“Ini angsuran tiga tahun. Tinggal setahun lagi, semoga bisa segera lunas,”kata Majid.

(Editor: Luviana Ariyanti)

Dyah Pitaloka

Kontributor Konde.co, selama 18 tahun bekerja menjadi jurnalis dan dosen di Malang.
Republikasi artikel ini, klik tombol di bawah

Creative Commons License

1. Silakan lakukan republikasi namun tidak boleh mengedit artikel ini, cantumkan nama penulis, dan sebut bahwa artikel ini sumbernya dari konde.co, tautkan URL dari artikel asli di kata “konde.co”. Anda bebas menerbitkan ulang artikel ini baik online maupun cetak di bawah lisensi Creative Commons.

2. Artikel kami juga tidak boleh dijual secara terpisah atau menyebarkannya ke pihak lain demi mendapatkan keuntungan material.

Let's share!