Ibu




Sica Harum – www.konde.co

Ibu, tiba-tiba aku ingat sesuatu tentangmu. Pernah suatu kali, ibu merasa menjadi orang yang paling bahagia sedunia. Paling kaya. Paling berpunya.

Saat Ibu merasa begitu, ia selalu menyanyikan sebuah lagu, beriring dengan rinai hujan, lalu ada kodok meloncat sangat tinggi.

Mungkin untuk itu ibu selalu memberi.

Pernah suatu  sore, ibu membuka pagar, menyilakan bapak-bapak tua, anak-anak kecil, para perempuan yang sedang mengendarai sepeda, berlarian dan bajunya bakal kuyub untuk berteduh.

Saat menjelang dewasa, kupergoki ibu menangis di atas sajadah.

Ibu kenapa? Ibu bilang tak apa. Cuma sekadar rindu bapak.

Lalu keesokan harinya listrik di rumah padam.

Lalu lusanya,  ibu dan kami, berbekal sebuah koper pindah dari rumah  tua kami ke sebuah kamar kos yang kecil.

Kata ibu, biar praktis tak perlu repot beberes.

Kamar ini sangat kecil dan tak banyak barang. Bertahun-tahun kami di sana.

Namun Ibu  selalu men jadi orang yang paling kaya sedunia

Lalu suatu hari,
Ibu menjadi buruh cuci di rumah orang. Tiga rumah dalam sehari. Totalnya, lima majikan.

Pada suatu siang yang tiba-tiba hujan itu, ketika aku meneduh di rumah kawan. Aku melihat ibu serabutan menarik baju yang sudah dijemur, di loteng seberang rumah si kawan.

Padahal Ibu selalu bilang kalau kerja kantoran.
Lantaran itu aku mendiamkan ibu berhari-hari.
Lalu ibu merayuku dengan banyak cara.
Dari sepotong apem bakar dengan topping keju.
Sampai majalah go girl.

Sampai suatu hari, aku memutuskan untuk berbaikan.
Aku tetap tak bilang kenapa aku mendiamkan ibuku, cuma tersenyum lalu tertawa.
Padahal aku kangen ibu. Tak tahan diam berlama-lama.

Lalu hari-hari selanjutnya cair seperti sedia kala.

Kini aku sudah menjadi ibu.

Makin dewasa.

Aku kini menjadi tahu  jika ibu dulu cuma berpura-pura tabah, selalu merasa menjadi orang paling kaya sedunia.

Aku tahu jawabannya, karena ibu selalu menolak untuk kalah.




#Cerita yang berseliweran, kereta Tebet-Depok.