Mari Membincangkan Kekerasan Seksual Mulai dari Sekolah dan di Rumah


Luviana – www.konde.co

Tangerang, Konde.co - Timi adalah boneka seorang anak laki-laki dan Rosa adalah boneka anak perempuan. Ada beberapa bagian tubuh dari boneka-boneka anak-anak ini yang tidak boleh disentuh siapapun. Payudara, pantat dan vagina untuk perempuan, juga pantat dan penis untuk laki-laki. Semua organ tubuh lain juga tak boleh disentuh. Hanya ibu atau orang-orang yang dibutuhkan saat sakit seperti dokter, yang boleh  menyentuhnya.

Boneka Timi dan Rosa merupakan salah satu alat peraga yang digunakan untuk menerangkan soal kekerasan seksual pada anak oleh Tim Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DKI Jakarta. Kampanye stop kekerasan seksual dan bullying ini diadakan oleh SD dan SMP Surya Bangsa Puribeta, Ciledug, Tangerang dan Komite Sekolah Surya Bangsa pada Kamis (08/09/2016) kemarin di Sekolah Surya Bangsa.

Selain memperagakan tubuh-tubuh mana yang tak boleh disentuh, anak-anakpun juga diajarkan untuk tidak menjadi pelaku kekerasan seksual. Maka tak hanya tubuh mereka yang tak boleh disentuh, namun mereka juga tak boleh menyentuh tubuh orang lain.

“Untuk anak-anak laki, selain tubuhnya tak boleh disentuh-sentuh, tak boleh juga menyentuh tubuh anak-anak perempuan ya, tak boleh membuka rok anak-anak perempuan ya,” kata Kiki dari PKBI.

Kampanye kekerasan seksual ini memang harus dilakukan sejak dini, baik di rumah maupun di sekolah yang melibatkan orangtua dan guru. Karena anak-anak terutama anak-anak perempuan, banyak yang menjadi korban kekerasan seksual oleh orang dewasa. Maka penting kampanye dan penyuluhan ini dilakukan sejak awal, sejak anak-anak memahami seksualitas dan reproduksi.

“Kegiatan ini dilakukan untuk memutus rantai kekerasan pada anak, anak-anak tak boleh menjadi korban sekaligus pelaku kekerasan,” kata Kepala Sekolah SD Surya Bangsa Ciledug, Tangerang, Susi Afriyanti.


Perubahan Bentuk Tubuh dan Fisik Anak-Anak

Penyuluhan kekerasan seksual ini juga menerangkan soal hal-hal detail perubahan yang terjadi pada anak perempuan dan laki-laki. Misalnya, anak perempuan akan mengalami menstruasi ketika beranjak dewasa dan anak laki-laki akan mengalami mimpi basah.

Kuncinya adalah komunikasi antara orangtua, anak dan guru di sekolah. Tim PKBI yang memandu acara ini kemudian membagi tips bagaimana cara mengetahui perubahan bentuk tubuh. Anak perempuan akan mengalami perubahan bentuk tubuhnya jika sudah mengalami menstruasi.

“Nanti akan ada perubahan bentuk badan, tidak usah kuatir karena ini berjalan alami. Yang dibutuhkan adalah keterbukaan dan berkomunikasi dengan orangtua dan guru.”

Orangtua dan guru di sekolah harus memberikan informasi soal perubahan bentuk tubuh pada anak, agar anak tidak mengalami kebingungan. Banyaknya informasi yang saat ini sangat mudah diakses, kadang membuat anak bingung dan tidak bisa membedakan mana informasi yang bisa digunakan. Maka penting untuk melibatkan orang-orang dewasa di sekitar mereka dalam kegiatan ini.

Hal lain, mereka kemudian diberikan waktu untuk sharing atau curhat. Banyak hal ditanyakan. Sessi ini kemudian juga mengupas soal topik bullying pada anak, karena kekerasan seksual masuk dalam perilaku bullying.

Kiki dari PKBI DKI Jakarta juga menerangkan tentang bullying. Bullying adalah penggunaan kekerasan atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi anak lain.

“Jenis-jenis bullying ini macam-macam ya anak-anak, ada bullying verbal seperti membentak, meneriaki, memaki, menghina, mencela, hingga mengejek. Sedangkan bullying psikologis atau mental, seperti memandang sinis, memelototi, mencibir, mendiamkan, mengucilkan, membuat nama-nama ejekan. Juga ada bullying fisik seperti menendang, menginjak.”

Tim PKBI menambahkan bahwa praktek yang sering dilakukan misalnya: pada Masa Orientasi Siswa (MOS), dimintai uang jajan terus oleh teman, disuruh-suruh terus, aku jadi boss dan kamu adalah anak buahku, dibentak-bentak kalau tidak mau disuruh atau dipanggil atau dikatai dengan nama/ sebutan yang tidak menyenangkan.

“Misalnya dipanggil dengan sebutan hitam, unta atau si cengeng. Hal-hal yang menyakitkan seperti ini tidak boleh dilakukan ya anak-anak.”


Membincangkan Seksualitas Bagi Perempuan

Memperbincangkan soal seksualitas memang tak  mudah, karena rata-rata masyarakat selalu malu untuk ngobrol tentang ini, apalagi anak-anak dengan orangtua. Padahal angka kekerasan seksual terhadap perempuan semakin meningkat.

Data Komnas Perempuan menunjukkan, sepanjang 2015 kekerasan tidak hanya terjadi di wilayah domestik, melainkan telah meluas di berbagai ranah termasuk di wilayah publik. Jumlahnya di tahun 2015 mencapai 16.217 kasus kekerasan seksual terhadap perempuan.

Hal yang sama juga terjadi ketika orangtua belum begitu terbuka membicarakannya. Ada anggapan tabu di masyarakat yang masih terjadi jika kita membicarakan soal seksualitas.

Yang ada kemudian, anak-anak hanya dilarang tak boleh melakukan ini dan dilarang melakukan itu, ditambah kemudian dengan mitos-mitos yang ada di sekitar kita.

Di tempat tinggal saya dulu waktu kecil, ada sejumlah mitos tabu jika dilakukan oleh perempuan. Misalnya: tak boleh duduk di depan pintu karena takut ditolak oleh laki-laki. Akibatnya bisa fatal, yaitu tak jadi menikah. Jika tak menikah, maka nanti perempuan akan mendapatkan stigma tidak laku dalam masyarakat. Stigma juga akan terus melekat jika ia tak punya anak.

Sepertinya, selalu ada korelasi antara: duduk di depan pintu, menikah dan punya anak. Padahal tidak. Ini hanya mitos tabu yang mesti didobrak.

Karena seksualitas tak pernah identik dengan moral ataupun mitos. Akan tetapi, kita sebagai makhluk seksual harus tahu fungsi seksualitas, praktiknya, pada usia berapa kita mengalami perubahan.

Pada perempuan, konsep feminisme percaya bahwa seksualitas bukanlah sesuatu yang inheren dalam diri perempuan, melainkan merefleksikan institusi politik dan budaya yang akan mempengaruhi kesadaran individu dan kondisi kehidupan perempuan.

Salah satu feminis, Catharine Mac Kinnon dalam Maggie Humm “Dictionary of Feminist Theory” menyebutkan bahwa kesadaran diri atau self consciosusness adalah praktek kesadaran diri yang dilakukan dengan membaca, berbicara dan mendengarkan diri sendiri dan perempuan lain. Ini merupakan bentuk pengetahuan baru dalam melihat pemahaman politik atas perempuan.

Bagi perempuan, praktek-praktek kesadaran diri ini harus dimulai sejak dini, dari anak-anak, yaitu di rumah dan di sekolah. Jadi, mari kita stop kekerasan seksual sekarang juga!



(Kampanye dan ceramah stop kekerasan seksual dan bullying di SD dan SMP Surya Bangsa Puribeta, Ciledug, Tangerang pada Kamis 8 September 2016 di sekolah. Foto: Devi Fitriana)