Saya Mesti Berlari, Berlari, Tiada Henti (Tamat)


*Ika Ariyani- www.Konde.co

“Selama menikah, suami sering merendahkan aku secara verbal. Memanggilku dengan berteriak, menjadikanku olok-olokan saat pertemuan keluarganya, menghina kondisi keluargaku, tiga bersaudara dengan ayah yang sudah meninggal dan ibu yang tidak berpenghasilan, mengatakan wajahku biasa saja, mengejek cita-citaku, dan menghinaku bila aku terlalu sibuk bekerja di kantor. Terakhir, ia memukuliku.”



Sejak ia memukulku, aku memutuskan untuk pergi bersama anakku. Sejak itulah suamiku tidak pernah mendapatkan hatiku lagi. Kami sedang memutuskan untuk bercerai dan aku menunggu kesiapannya untuk melepaskanku sebagai istri.

Miris sekali rasanya saat sedang depresi dan mengalami ketidakadilan, kita tidak memperoleh perlindungan atau pembelaan atas apa yang kita rasakan. Perempuan yang sedang hamil, sedang punya bayi, harus menghadapi perlakuan buruk dari orang yang harusnya mencintai dan melindunginya.

Aku anak sulung dan tidak punya ayah yang bisa melindungiku. Tahun-tahun itu aku tidak berhenti meratap dan  mengasihani diriku sendiri, dan yang parahnya, aku tidak membicarakannya kepada orang-orang di dekatku.

Budaya di lingkunganku selalu meyakini bahwa perempuan haruslah  selalu sabar dan kuat, apalagi yang sudah punya anak. Keyakinan yang lainnya, anak adalah tanggungjawab ibunya. Ibu yang meninggalkan anak tidak bisa diterima  untuk alasan apapun termasuk ketika si ibu sudah dipukuli suami sampai babak belur.

Perempuanpun harus tahan banting, dewasa, dan bertahan dalam situasi apapun. Adalah hal yang sangat hina di lingkunganku jika seorang istri pergi dari rumah dan jika seorang istri dikembalikan ke rumah orangtuanya karena bertengkar dengan suaminya.

Menjadi istri bukanlah hal yang mudah di sana. Jika istri mengajukan cerai, maka ia harus mengembalikan mas kawin dan anak harus diasuh oleh keluarga suami. Seberat apapun rumah tangga, istri harus bertahan, hal itu bukan cuma gertakan, itu adalah resiko bila istri menggugat cerai suaminya. Belum lagi biaya gugat cerai yang mahal, itupun harus ditanggung sendiri oleh istri jika ia yang menginginkan perceraian.

Beberapa teman yang kukenal, ketika diperlakukan dengan buruk (kebanyakan dimanfaatkan sebagai sapi perah), juga mendapatkan ‘siraman rohani’ yang sama denganku. Dan pedihnya lagi, yang menasihati mereka adalah ibu-ibu yang juga merupakan korban perselingkuhan.

Para ibu ini menceritakan betapa kuatnya ia menghadapi kelakuan suaminya yang suka mabuk, main perempuan, tidak menafkahi, dan sekarang suaminya ini sakit diabetes sehingga sudah tidak bisa bekerja lagi dalam usia 40 tahun. Ia merasa Tuhan akan menempatkannya di surga yang paling mulia untuk apa yang sudah ia lakukan, yaitu menjadi istri dan ibu yang paling ‘kuat menderita’ dan kini merawat suaminya, mengampuni dosa-dosa suaminya selama ini.

Maka para ibu ini juga menginginkan agar ibu-ibu muda seperti kami yang sedang curhat padanya ini juga melakukan hal sama seperti dirinya.

Selama ini yang kami terima, tetangga kami juga melecehkan istri-istri ‘lemah’ yang memilih bercerai. Bukan hanya tetangga kiri kanan yang memberikan ‘ajaran sesat’, bahkan malah orangtua mereka sendiri yang menolak jika anak perempuannya pulang kembali ke rumah dalam keadaan telah menjadi janda.

Mereka malu kepada masyarakat dan lebih rela jika anaknya tersiksa dalam pernikahan daripada menjadi janda dan memulai hidup baru. Mereka ingin agar sebelum anaknya memutuskan berpisah, harus sabar dan bertahan dalam penderitaan, karena semua rumahtangga pasti ada pertengkaran, begitu nasihat orangtua.

Lalu jika ada istri yang butuh pertolongan karena menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga ini harus berlari kemana? Mengapa lingkungan menolak dirinya yang menjadi korban? Aku tidak bisa membayangkan jika perempuan yang disakiti adalah ibu rumah tangga yang tidak memiliki penghasilan dari suami dan harus pasrah saja menghadapi perlakuan yang menyakitkan dengan alasan anak atau ekonomi.

Aku rasa tidak ada tempat yang aman bagi perempuan yang ingin melawan perlakuan buruk di sana. Menikah adalah hal yang mengerikan jika nasibmu sial mendapatkan suami brengsek. Tidak ada satupun yang akan mendukung keputusanmu untuk bercerai. Tidak ada solusi apapun, tidak ada mediator yang profesional, yang ada hanyalah keluarga besar yang kompak menyerukan, “JANGAN BERCERAI!”.

Dan kau kembali ke rutinitasmu sebagai zombie. Hidup secara fisik, tapi jiwamu mati. Membiarkan, memaklumi, dan memaafkan perbuatan jahat suami sampai ‘Tuhanpun’ lelah dengan doa-doa cengengmu.

Kini aku telah memulai hidup baru dan mencintai diriku sendiri. Mengingat-ingat kembali perjuangan orangtua yang menyekolahkan kami di tempat terbaik agar bisa hidup berbahagia, bukannya malah diperlakukan dengan buruk.

Mengingat bahwa aku berharga, menyusun kembali mimpiku yang tertunda untuk melanjutkan sekolah. Tidak ada yang menjamin kita bahagia jika telah meninggalkan semuanya, memulai hidup baru bukan hal yang mudah. Namun keluargaku mendukung keputusanku sepenuhnya. Kebahagiaan tidak datang sendirinya, tapi bukankah kebahagiaan itu bisa kita ciptakan sendiri?

Semangat ya ladies…


*Ika Ariyani, Telah meninggalkan pekerjaan sebagai PNS, sedang menuju proses perceraian, dan memulai hidup baru di Surabaya bersama seekor anjing.