Gembrot Liyan


*Trias Yuliana Dewi- www.Konde.co

Berapa orang pernah mengatakan: tidak akan pernah mengetahui apa rasanya menjadi orang lain, sampai orang itu berdiri di atas sol sepatu orang yang dia maksud? Ini adalah cerita tentang perempuan gemuk. Perempuan yang secara fisik banyak menjadi bahan obyek tertawaan orang lain. Terutama di Televisi.

Mungkin kalian akan berpikir dan berkata, bahwa tulisan ini adalah bentuk subjektifitas saya sebagai seorang subjek yang berkorelasi dan berperan langsung dalam objek bahasan dalam tulisan ini. Bisa jadi ya bisa jadi tidak.

Orang gemuk. Perempuan gemuk.


Tayangan Televisi dan Stereotype Perempuan Gemuk

Berapa banyak ribu film atau sinetron yang menjadikan sosok-sosok berlemak juga bundar–gendut, gembrot, gemuk diidentifikasi sebagai tokoh yang bodoh, gemar makan dan episentrum tertawaan juga ejekan.

Orang-orang gendut, gembrot, gemuk akhirnya menjadi liyan. Yang tidak cukup manusiawi untuk diberi peran sebagai model lingerie atau sebagai orang terpelajar yang cerdas juga mengagumkan.

Orang gendut, gembrot, juga gemuk dalam televisi yang bodoh akan selalu menjadi: objek perudungan, atau dalam banyak sekali FTV orang gendut di sekolah hanya akan menjadi orang yang berperan tanpa makna apa-apa selain kemanapun membawa plastik permen dan makanan kecil sambil mengunyah. Televisi yang bodoh memberitahu dan menakuti orang-orang yang mungkin dalam gen-nya mengalir 90 persen lemak yang sebenarnya justru itulah yang menjadikannya cantik juga tampan. Mengagumkan.

Berapa banyak televisi yang cukup berani menyatakan bahwa orang gendut, gembrot, juga gemuk bermakna sama seperti mereka yang mengusahakannya?. Yang memiliki jauh lebih banyak makna dibanding membawa plastik makanan kecil juga mengunyah.

Televisi memvonis orang gendut, gembrot, gemuk: dunia modeling adalah ladang haram untuk dimasuki.

Padahal ada juga acara televisi yang tidak memvonis orang gemuk sebagai orang yang bodoh. Sebut saja Whitney Thompson dari American Next Top Model cycle 10. Whitney Thompson memiliki badan bundar padat, wajahnya cantik menawan, ia tidak bodoh dan kerjanya tidak hanya dapat mengunyah. Ia dapat berpose dan menjadi simbol merek orang pada umumnya.


Saya Gendut dan Tidak Masalah

Saya juga gendut, gembrot, gemuk sejak kecil. Sampai sekarang. Tapi alhamdulilah puji Tuhan semesta raya–kehidupan saya tidak semengenaskan yang digambarkan oleh sinetro Film Televisi (FTV) kita yang maknanya selalu diidentifikasi sebagai orang yang hanya bisa mengunyah dan mengikuti teman gengnya yang cantik dan populer.

Kehidupan saya lebih manusiawi: saya memiliki teman yang memperlakukan saya penuh makna. Saya tidak semata-mata hidup menjadi pusat tertawaan dan ejekan. Saya bertemu dengan orang-orang yang teredukasi bahwa bentuk fisik tidak mendefinisikan bentuk sebuah jiwa. Saya teramat bersyukur: saya dapat hidup dengan ceria dan tertawa bahagia bukan karena saya harus menjadi badut agar diterima teman-teman saya. Saya ceria karena memang saya bergembira menjadi diri saya.

Tapi tidak semua orang gendut, gembrot, gemuk seberuntung saya– bertemu dengan teman atau orang-orang yang teredukasi dan memandang lemak-lemak kami adalah identitas kami yang teramat berharga untuk dicintai. (Bersambung)




(foto/Ilustrasi: Pixabay.com)

#Trias Yuliana Dewi, Mahasiswa, yang mencintai menulis, yang terlalu membelok sudut pandangnya untuk dibicarakan, oleh karenanya ia menulis.