Marsinah dan Bapak Tua yang Kutemui


* Yuni Sri- www.Konde.co

Setiap Bulan Mei, setiap kami melakukan aksi May Day pada tanggal 1 Mei, ingatanku tak pernah lepas dari Marsinah. Buruh perempuan yang berjuang hingga titik akhir napasnya.

Marsinah adalah buruh Sidoarjo yang bekerja di PT. Catur Putra Surya di Porong. Ia meninggal 8 Mei 1993 setelah hilang selama 3 hari. Mayatnya ditemukan di hutan dengan tanda bekas penyiksaan berat. Sebelumnya Marsinah melakukan unjuk rasa untuk meminta kenaikan upah bersama para buruh lainnya di pabrik tersebut. Mereka menuntut kenaikan upah pada perusahaan sebesar 20 persen sesuai dengan surat edaran Gubernur Jawa Timur. Aksi dilakukan 3 dan 4 Mei 1993 hingga tertangkapnya sejumlah buruh oleh Kodim Sidoarjo.

Pada tanggal 5 Mei 1993 Marsinah pergi ke Kodim dan mempertanyakan kemana teman-temannya yang tidak ditemukan setelah berlangsungnya aksi kepada pihak Kodim. Namun sejak itu ia hilang dan mayatnya ditemukan di hutan pada 8 Mei 1993.

Pengadilan atas pembunuhan Marsinah kemudian menyeret 10 orang termasuk satu oknum TNI. Almarhum Munir kemudian menjadi salah satu pengacara Marsinah. Ada banyak kejanggalan dalam kasus pembunuhan ini termasuk setiap saat orang bertanya: siapakah dalang pembunuh Marsinah? Solidaritas untuk Marsinah menggema dimana mana hingga kini.

Setiap Bulan Mei tiba, saya selalu ingat Marsinah.
Apalagi pada saat aksi May Day.

Dan waktu May Day 1 Mei 2017 kemarin, tak hanya mengingat perjuangan Marsinah, saya juga melihat satu sosok seorang bapak tua di saat aksi May Day. Saya tanya ke salah satu teman, ibu Siti Bailah-siapakah bapak tua itu? Bapak yang selalu ada pada banyak aksi buruh dan selalu mendukung perjuangan kami.

Wajah bapak ini tak pernah asing bagi kami.

Dengan semangat, Ibu Siti menceritakan bahwa beliau juga bertemu bapak tua itu saat aksi May Day day kemarin di patung kuda, di tempat kami para buruh perempuan dan PRT bersama-sama melakukan aksi. Namun sayangnya Bu Siti lupa nama  dari  sosok bapak tua yang umurnya di kisaran 85 tahun itu.

Bu Siti menceritakan bahwa Pak Tua itu ia  selalu datang dimana ada aksi-aksi seperti Mayday dan aksi buruh lainnya. Bu siti pernah menanyakan secara langsung layaknya seorang wartawan pada bapak tua ini.

Pak Tua itu tinggal di daerah Mampang, dan tinggal bersama istri dan anak- anaknya, salutnya kata Ibu Siti Pak Tua itu datang ke Patung Kuda berjalan kaki dari Tempat tinggalnya di Mampang Prapatan, Jakarta sampai ke patung kuda.

Pak Tua itu selalu hadir, sambil berjualan tali tas yang dibuat dari plastik, sambil dia ikut aksi. Dengan  berjualan tali tas yang terbuat dari plastik rafia atau sejenisnya dan di bentuk seperti rantai. Kreatif sekali bapak ini, demi mencari nafkah buat istri di rumah sambil semangat ikut dalam segala aksi-aksi kami.

Bapak Tua ini juga tak lupa membawa tulisan tangan yang digantung di lehernya, ia menuliskan 23 tuntutan buruh. Menurut Ibu Siti diantaranya dari 23 tuntutan itu, pak tua itu mengutarakan tentang layanan BPJS yang susah, yang dirasakannya saat di rumah sakit.

Salah satu teman kami, Sabina Santi yang penasaran dengan kelakuan Ibu Siti yang banyak berbicara dengan Pak Tua layaknya seoarang wartawan, lalu mengambil foto pak Tua itu. Karena Ibu Siti sendiripun penasaran dengan Pak Tua itu.

Semangat ya Pak Tua, siapapun nama bapak, terimakasih telah ikut berperan dan ikut aksi, semoga kalau ada aksi -aksi buruh dan PRT kita bisa ketemu. Pak Tua dan Marsinah, klop. Menjadi semangat buat saya dan teman-teman di Bulan Mei ini.


(Foto: Sabina Santi)

*Yuni Sri, aktivis di jaringan Pekerja Rumah Tangga, JALA PRT di Jakarta.