Penghargaan untuk Mayu Fentami, Perempuan Kendeng dan Aksi Kamisan



Luviana- www.Konde.co


Jakarta, Konde.co- Mayu Fentami, seorang perawat di pedalaman Kalimantan Barat yang menggiatkan radio komunitas untuk mensosialisasikan kesehatan untuk ibu dan anak, mendapatkan penghargaan SK Trimurti Award dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI)  pada 7 Agustus 2017 lalu.

Perayaan HUT AJI juga disertai dengan pemberian penghargaan SK Trimurti setiap tahun sejak tahun 2008. Penghargaan ini diberikan AJI dalam upaya mengenang dan menghormati perjuangan seorang perempuan pahlawan nasional, jurnalis perempuan sekaligus aktivis perempuan, Soerastri Karma Trimurti (SK Trimurti).

Penghargaan SK Trimurti diberikan kepada Jurnalis atau aktivis perempuan yang berperan dalam perjuangan kebebasan pers, kebebasan berekspresi, kesetaraan gender dan hak publik atas informasi; (2) Jurnalis atau aktivis perempuan yang berperan dalam perjuangan kebebasan berserikat, kampanye hak asasi manusia dan pembelaan kaum tertindas; (3) Jurnalis atau aktivis perempuan yang telah bekerja di bidangnya minimal tiga tahun serta mempunyai komitmen dan integritas yang tinggi pada profesinya tersebut

Dalam pidato penghargaannya, Mayu Fentami mengatakan bahwa ia berkomitmen untuk bekerja di wilayah Bunut Hilir, Kalimantan Barat ketika melihat banyaknya persoalan kesehatan disana, fasilitas kesehatan yang tak memadai dan banyak anak yang tak bisa membaca.

“Saya langsung mengambil ransel dan sepeda, mengajak anak-anak membaca, menggiatkan radio komunitas agar masyarakat tahu tentang pentingnya pendidikan dan kesehatan. Dunia ini sangat luas, saya ingin mengajak warga untuk menikmati fasilitas pendidikan dan kesehatan.”

Mayu Fentami adalah salah satu dari 4 Calon Penerima Penghargaan SK trimurti 2017 yang menarik perhatian dewan juri, Azriana (Ketua Komnas Perempuan); Wahyu Susilo (Migrant Care) dan Endah Lismartini (AJI Indonesia). Sulitnya medan yang dilalui dalam perjuangannya, dan dedikasinya yang tinggi untuk membuka akses masyarakat Bunut Hilir - Kalimantan Barat terhadap informasi, membuat dewan juri menjatuhkan pilihan kepada Mayu Fentami.

Dalam pandangan para juri, Mayu telah berbuat lebih dari apa yang menjadi kewajibannya sebagai seorang perawat yang ditempatkan di desa terpencil. Mayu bisa saja hanya menjadi perawat, selebihnya beristirahat. Namun, Mayu melakukan tugas lain yang tidak kalah pentingnya mengembangkan radio komunitas dan mengelola taman bacaan.

Tidak mudah bagi dewan juri untuk membuat keputusan ini. Karena selain tidak satupun dari dewan juri yang mengenal Mayu.

“Kerja-kerja penting Mayu juga sepi dari publikasi,” kata Azriana.

Media diyakini Mayu menjadi sarana efektif, untuk mengantarkan informasi kepada masyarakat Bunut Hilir yang memiliki sejumlah keterbatasan.

“Inisiatif dan dedikasi inilah yang menurut Dewan Juri layak untuk diapresiasi,” ujar Azriana.


Penghargaan Tasrif Award untuk Aksi Kendeng dan Aksi Kamisan

Sedangkan penghargaan Tasrif award dari AJI di tahun 2017 ini diberikan kepada para perempuan petani Kendeng, Jawa Tengah yang telah melakukan aksi menyelamatkan lingkungan mereka dari pembangunan pabrik semen sejak tahun 2014.

Penghargaan juga diberikan pada aksi Kamisan, pada individu-individu yang tidak pernah lelah melakukan berbagai aksi perlawanan terhadap pemerintah atas kasus yang terjadi pada keluarga, saudara yang menjadi korban pelanggaran HAM berat.

Dalam pidatonya, Sumarsih salah satu korban Hak Asasi Manusia (HAM) 1998 yang anaknya meninggal pada peristiwa Semanggi menyatakan rasa kecewanya pada pemerintah Jokowi.

“Dulu ketika mau mencalonkan diri menjadi presiden, Jokowi masuk dengan visi dan misi untuk menuntaskan pelanggaran HAM, namun 3 tahun sudah berjalan, Jokowi tetap ingkar janji,” kata Sumarsih.

Aksi kamisan di depan istana yang dilakukan para korban HAM merupakan aksi yang ke 501 hingga Bulan Agustus 2017. Aksi Kamisan sudah dilakukan sejak 18 Januari 2007.

Sedangkan perwakilan perempuan petani Kendeng, Jawa Tengah menyatakan bahwa mereka akan terus melakukan aksi untuk menyelamatkan lingkungan mereka.

“Ibu Padmi, kawan kami telah meninggal karena aksi ini, tapi kami tidak akan menyerah, kami akan tetap melakukan aksi agar anak-anak kami bisa menghirup udara segar.”


(Mayu Fetami, penerima penghargaan SK Trimurti 2017 pada acara ulangtahun Aliansi Jurnalis Independen/ AJI tahun 2017/ Foto: Luviana)