Lebaran dan Makanan Nusantara


Luviana – www.konde.co

Dalam keluarga besar kami, makanan dalam tradisi lebaran tak ubahnya dengan makanan yang selalu terhidang ketika natal tiba. Jika pada natal ada kacang dan kue-kue natal, maka dalam lebaran di rumah kami, selalu tersedia ketupat, opor, rendang dan sayur.

Tak hanya memasak sendiri, namun selalu ada makanan yang dikirimkan oleh tetangga kepada kami. Di Yogyakarta tempat saya tinggal dulu, tradisi membuat dan mengirimkan makanan ini seolah selalu mengiringi tradisi dalam bersilaturahmi. Tidak peduli apapun agamanya. Pemeluk agama Kristen selalu datang ke rumah tetangga Muslim ketika lebaran tiba sambil membawa kue-kue kering. Dan tetangga yang muslim menghidangkan ketupat dan opor ayam.

Hampir semua makanan yang terhidang pada saat lebaran dipenuhi dengan rempah-rempah seperti lengkuas, kunyit, jahe, kencur, dll.

Sejarawan JJ Rizal, dalam sebuah acara TV pernah mengungkap bahwa makanan Indonesia adalah makanan yang diramu dengan berbagai bumbu. Ini menunjukkan bahwa makanan Indonesia mempunyai cita rasa yang diramu dari berbagai daerah di Indonesia, atau yang kemudian disebut makanan selera nusantara.

Makanan dalam sejarahnya memang tak pernah lepas darimana ia dihasilkan, siapa masyarakat yang meramunya dan bagaimana kemudian ia diperkenalkan pada masyarakat. Makanan tidak pernah terlahir secara tunggal, namun datang dari berbagai pengaruh yang datang ke Indonesia. Dalam perjalanannya, makanan kemudian telah mengalami perubahan jaman. Ada strategi rasa sekaligus strategi penyajian.

Opor dan sayur yang dihidangkan pada saat lebaran ini juga tak lepas dari sejarah makanan di Indonesia. Makanan yang dipenuhi dengan rempah-rempah pada saat lebaran ini menjadi bukti tentang perjalanan sebuah tradisi.

Kami meyakini bahwa makanan selalu tak bisa lepas dari jaman, ada strategi rasa, penyajian, pengiriman hingga siap untuk dihidangkan. Anak-anak muda di tempat tinggal kami makin yakin bahwa makanan bisa memperkuat persaudaraan dan nilai silaturahmi.

Walau dari sejumlah catatan kritis kemudian juga menunjukkan bagaimana makanan kemudian dikuasai oleh alat-alat kapital, kepentingan pengusaha besar dimana masyarakat penghasil makanan hanya bisa menjadi penonton saja. Perempuan yang dikenal sebagai subyek penghasil makanan kemudian hanya menjadi obyek dari pertumbuhan rantai kapitalisasi makanan.

Dalam konsep ekofeminisme, perempuan adalah orang yang berpikir keras bagaimana mengusahakan makanan dalam keluarga. Tak hanya itu, perempuan juga mengusahakan dan menanam alam sekaligus menyuburkannya.

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mencatat ketika ada satu krisis lingkungan yang hebat misalnya banjir, bencana alam atau sumber makanan yang dikuasai oleh pengusaha-pengusaha yang membuat masyarakat tersingkir dari hidupnya,  para perempuan segera mengubah jenis tanaman dan tetap berjuang untuk menghasilkannya bagi keluarga.

Khalisah Khalid dari Walhi pernah mengungkapkan bahwa pengelolaan perempuan dalam pengelolaan makanan dan sumber daya alam sudah terjadi sejak dulu kala. Para perempuan paham kapan waktu untuk menanam, kapan waktu untuk memetik dan bagaimana melakukannya ketika krisis.   Karena gerakan ekofeminisme memang mencuat ketika ada relasi yang kuat antara perempuan dan sumber daya alam.

Dari sini kami menjadi tahu satu hal, siapa orang yang selama ini selalu mengiringi dalam silaturahmi yang kami bangun? Jawabannya adalah perempuan. Karena perempuan selalu mempunyai banyak cara untuk tetap bersilaturahmi, mendatangi tetangga, mempertahankan keberagaman diantara kami, termasuk mengusahakan makanan sebagai teman dalam bersilaturahmi.


(Referensi: rahima.or.id)
(Fot0: kimcitrorejo.blogspot.co.id)