Merayakan Penerbitan Mandiri


Sica Harum- www.Konde.co

Self publishing. Banyak orang yang menerbitkan bukunya secara mandiri. Penerbitan mandiri dalam 5 tahun ini memang banyak sekali bermunculan.

Buku yang diterbitkan secara mandiri, kadang dinilai sebagian orang kurang bergengsi. Kritik utama atas buku-buku yang diterbitkan secara mandiri menurut sejumlah orang ialah akurasi konten dan kualitas naskah.

Namun dari masa ke masa, kita belajar bahwa tak sebaiknya main hajar kritik untuk buku-buku yang diterbikan secara mandiri. Indonesia mencatat Dewi Dee Lestari. Tahun 2000-an, penyanyi anggota trio Rida Sita Dewi ini menerbitkan bukunya secara mandiri. Supernova: Ksatria, Puteri & Bintang Jatuh dijual melalui kampus ke kampus, lalu ramai diperbincangkan. Kemudian, seri-seri Supernova berikutnya diakuisisi penerbit besar. Dee tak lagi menerbitkannya secara mandiri. Mungkin, karena penerbitan mandiri butuh energi tak sedikit.

Selain berkutat dengan naskah, seseorang yang menerbitkan bukunya secara mandiri juga harus mau berpromosi. Bahkan, mengongkosi produksi sendiri. Biaya cetak hingga biaya distribusi. Ini tentu tidak mudah. Ada pengarang yang tak ingin tampil di permukaan. Banyak, malah!

Bahayanya, ketika pengarang berkualitas jarang muncul ke permukaan, justru banyak penulis berkualitas biasa yang banyak tampil di akun media sosial dengan banyak pengikut langsung dipinang penerbit besar. Hasilnya, meski harus dipoles. Jadi, kalau bicara kualitas, tak zamannya lagi membuat dikotomi: yang self publishing pasti jelek dan yang berlabel penerbit mapan pasti berkualitas.

Ketika teknologi informasi dan platform social media memunculkan selebritas-selebritas baru, arus self publishing terus menderas. Laporan Nielsen Bookscan menunjukkan, bisnis penerbitan mandiri baik untuk e-book ataupun POD tumbuh sekitar 79% pada 2013 di Inggris.

Saking besarnya industri itu di Inggris, orang yang tertarik menerbitkan buku sendiri bisa membandingkan ragam servis penerbitan melalui situs writersandartists.co.uk. Persis seperti ketika Anda ingin membeli tiket pesawat dan membandingkan harganya di situs-situs semacam traveloka, tiket.com, skyscanner ataupun wego.

Adapun Amazon Amerika Serikat mencatat, sekitar 25-30% penjualan e- book mereka merupakan e-book yang diterbitkan secara mandiri.

Seseorang yang memiliki akun Twitter dengan follower puluhan ribu misalnya, tentu mudah menjual bukunya sendiri. Apalagi saat ini, internet membuka peluang pemasaran lintas geografi. Bukankah Facebook sudah lama menjadi platform social media untuk berjualan produk ataupun ajakan berjualan?

Pengarang yang rajin, bisa membuat video book trailer singkat di Youtube mengenai bukunya kemudian menyebarkan melalui akun media sosial, termasuk LinkedIn dan Google+. Foto-foto buku yang diatur dengan komposisi menarik bisa jadi iklan menggoda melalui Instagram dan Pinterest. Semuanya kadang cukup dengaan modal pulsa saja.

Memproduksi buku saat ini sudah semudah membuat kopi. Selain kemudahan berpromosi melalui media sosial, teknologi Print on Demand(POD) semakin meringankan produksi dalam skala kecil. Mau cetak 1 atau 2 buku, tidak masalah. Harga per eksemplar relatif mahal, untuk sebuah buku sekitar 200 halaman butuh Rp30.000- Rp40.000 per eksemplar.

Saya dan sejumlah kawan perempuan kemudian mempunyai usaha self publishing. Bagi kami, usaha penerbitan ini bisa kami lakukan secara mandiri, kami bisa mengatur waktu sendiri.

Dan tantangan bagi kami, tentu saja bagaimana membuat buku berkualitas dan tentu saja menarik, kredibel. Salah satunya, kami melakukannya untuk melawan dikotomi atas penerbitan mandiri seperti yang kami rintis saat ini.

(Foto/Ilustrasi: Pixabay)