Perempuan di Toko Buku Terakhir


*Almira Ananta- www.Konde.co

Dan ini adalah toko buku pertama yang aku kunjungi di tahun ini. Sudah lebih dari sebulan di tahun ini, baru 1 toko buku yang aku kunjungi. Kali ini, perasaanku serba tidak enak ketika mau masuk di kawasan ini.

Dulu, seminggu sekali aku selalu mengunjungi toko-toko buku ini. Bahkan setiap Sabtu dan Minggu, di toko merah yang selalu kukunjungi- setelah mampir membeli kue pancong. Di toko hijau setelah hujan-hujan berteduh minum kopi, di toko putih di ujung jalan yang menyimpan banyak cerita Indonesia suram di masa lalu. Jaman kolonial, orde baru.

Tapi, apa yang terjadi sekarang? Aku, teman-temanku seolah sudah melupakan toko merah, hijau, kuning, putih itu.

Ibu tua penjaga toko masih disana-sebutanku untuk ibu Reni, ia masih menyapaku tadi. Ibu Tika di toko putih yang selalu menemaniku ngobrol sambil mencari buku, terlihat duduk sambil mengantuk ketika aku datang.

“Toko buku ibu sudah sepi, nak. Tidak seperti dulu. Sekarang jamannya semua orang menggunakan internet.”

Membaca buku. Aktivitas ini sendiri sudah agak lama saya tinggalkan ketika gadget mulai muncul, menyeruak di setiap ruang, berbarengan dengan televisi yang ada di kamar, di tengah ruangan, di dalam kantor, ruang tunggu. Ini jadi membuat sulitnya beristirahat sejenak dari gadget dan TV. Teman-teman perempuan sayapun mengalami hal ini.

Informasi selalu banjir kemana-mana. Bayangkan, kita jadi kehilangan waktu tidur hanya ingin menjadi orang pertama yang bisa mengkases informasi, tidak mau kalah dari yang lain. Menyebarkan informasi dan menjadi yang pertama lalu menjadi sebuah kewajiban.

Dan membaca buku, aktivitas yang dulu selalu dilakukan dimana-mana, sambil menunggu kereta, duduk di terminal atau ketika malam datang sebelum tidur, seolah hilang ditelan bumi.

Dan ini adalah toko pertamaku di tahun ini. Sudah lama aku tidak terlibat dalam perjumpaan ini, percakapan ini. Membicarakan penulis buku, latar belakang mereka dan pasti isi bukunya. Saya kangen pada ibu tua yang menyediakan waktu untuk bercerita, ibu Tika yang selalu tergopoh membawa tangga ketika akan mengambilkan buku untukku di rak paling atas. Dan sekarang, menyaksikan nasib mereka.

Tak pernah saya bayangkan nasibnya seperti ini. Anak ibu Tika menyuruhnya menutup kios buku ini dan tinggal bersamanya. Ia tak mau melihat ibu Tika sedih memikirkan buku-bukunya yang berdebu, tak banyak yang menyentuh.

Demikian juga nasib ekonomi mereka. Mereka sedikit mendapatkan laba dari penjualan buku. Bahkan menunggui toko lalu menjadi hobi, bukanlah pekerjaan yang bisa menghasilkan laba secara ekonomi.

Sementara ibu tua yang lain juga sudah terlihat renta diantara tumpukan buku dan alat tulis usang. Apa yang bisa kulakukan? Kukumpulkan semangatku, ini tak boleh menjadi toko buku terakhir. Aku merasa bahwa aku harus berbuat sesuatu. Membantu berjualan buku melalui internet? Mungkin ini yang bisa aku lakukan untuk membantu ibu Reni, ibu Tika dan ibu lain di toko merah, hijau, kuning, putih, biru.

Aku ingin membantunya agar buku-buku ini, toko tua ini, tak lagi menjadi seonggok barang lama, gedung lama yang tak lagi disinggahi orang.

Lainnya? Aku kangen sama ibu, orang yang selalu menemani aku, mengajariku membaca hidup dari buku dan mengenalkan aku pada ibu-ibu hebat di toko buku yang sekarang ada di depanku.

(Foto/ Ilustrasi: Pixabay)

*Almira Ananta,
Blogger dan Traveller. Tinggal di Jakarta